
Di Kantin
Vanesha bersama Dito dan David nampak sedang berbincang-bincang. Dari kejauhan, tampak sosok Reyhan yang hendak menghampiri teman-temannya itu.
Vanesha yang tanpa sengaja melihat Reyhan menuju ke arahnya, membuat wanita berwajah imut tersebut langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Mau kemana Lo?" tanya Dito.
"Ada urusan" timpal Vanesha singkat.
Reyhan yang baru saja sampai, menarik tempat duduk yang ada di dekat David. Dito mengerti alasan mengapa Vanesha pergi karena adanya Reyhan.
"Woy Vanesha! dompet Lo jatuh" ujar Dito yang iseng mengerjai wanita bertubuh mungil tersebut.
"Ehh.. mana?" ucap Vanesha panik dan langsung berbalik.
Dito pun langsung terkekeh melihat tingkah konyol gadis tersebut. Vanesha yang sadar bahwa dirinya dipermainkan oleh Dito, langsung mengepalkan tangannya.
Namun, ketika pandangannya bertemu dengan sepupunya itu, Vanesha langsung membuang muka.
"Marahan nih, Lo jangan mau bro kalau si Vanesha minta tolong ke Lo lagi" ejek Dito berbicara pada Reyhan.
Reyhan tak membalas sepatah kata pun.
"Apaan sih Lo" geram Vanesha kesal dan kemudian pergi dari tempat tersebut.
Reyhan pun menyaksikan kepergian sepupunya itu dengan tatapan kecewa.
"Lebih baik Lo minta maaf sama Vanesha dan juga sama cewek yang udah Lo sakitin bro" tutur Dito seraya menepuk pundak sahabatnya itu.
Sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari nasihat yang disampaikan oleh Dito.
"Gue mau nyari kontrakan bro" satu kalimat tersebut lolos begitu saja dari bibir Reyhan.
"Coba tanya si David, babenya kan juragan kontrakan" timpal Dito.
"Siapa yang mau ngontrak?" tanya David.
"Iya bro, Lo nyari kontrakan buat siapa?" ujar Dito yang ikut bertanya.
"Gue.. Gue yang mau ngontrak" timpal Reyhan.
"Kenapa? bukannya Lo tinggal sama orang tua" tukas David.
"Gue cuma mau belajar mandiri bro, tanpa harus bergantung ke orang tua" tutur Reyhan
Kedua temannya pun mengangguk paham.
"Gue dukung Lo bro" ujar Dito menyemangati.
"Lo kasih diskonan ama si Reyhan" lanjut Dito yang berbicara pada David.
"Tenang, gue nggak bakalan pungut biaya kalau buat temen gue. Reyhan juga udah banyak ngebantu gue"ucap David panjang lebar.
"Untul biaya sewa, gue akan bayar Vid. Tapi gue minta waktu buat nyari kerja paruh waktu" ujar Reyhan.
"Gue nggak minta buat bayaran Lo bro, tapi gue cuma mau Lo nyaman tinggal disana" ucap David tulus.
"Thanks bro, tapi gue bakalan usahain buat bayar sewa. Gue janji" tukas Reyhan kekeh.
David pun langsung merangkul pundak sahabatnya itu.
"It's okay bro.." ucap David menepuk pelan pundak Reyhan.
__ADS_1
❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇
I'm sorry but
Don't wanna talk, I need a moment before I go...
Penggalan lagu Alan Walker tersebut merupakan nada dering ponsel Aurel. Aurel yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung bergegas mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo.." ucap Aurel.
"Halo sayang" ujar suara dari seberang telepon.
Aurel pun terkekeh saat kekasihnya itu memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Kenapa kamu tiba-tiba ketawa?" tanya Rasya yang tampak sedikit bingung.
"Nggak apa-apa" ujar Aurel sedikit menahan tawanya.
"Kamu sedang apa?"
"Seperti biasa, hidup dan bernafas" jawab Aurel seraya duduk didepan meja riasnya.
"Bernafas untukku?" tanya Rasya lagi.
Kalimat tersebut sukses membuat Aurel bungkam.
"Aku merindukanmu" ucap Rasya tiba-tiba.
Aurel pun tak membalas ucapan Rasya.
"Maukah kau menemaniku mencari udara segar?" tanya Rasya.
"Hmmm.." timpal Aurel mengiyakan ucapan kekasihnya itu.
Aurel kembali melihat dirinya di cermin. Ia pun menatap bayangan dirinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aurel, kamu sangat kacau" kata tersebut lolos begitu saja dari bibir sensualnya.
🌹🌹🌹
Tettt...Tett...
Rasya berulang kali menekan tombol rumah Aurel. Bi Inem pun muncul membukakan pintu untuk dirinya.
"Silahkan masuk den" ucap Bi Inem.
Rasya menimpalinya dengan sebuah anggukan seraya tersenyum. Belum lama kemudian, sosok yang hendak ditemuinya pun muncul.
"Ayo kita berangkat" ajak Aurel.
"Sebentar, aku harus izin sama Om dan Tante dulu" tukas Rasya.
"Papa sama Mama udah tidur, mereka kecapekan soalnya tadi sore baru sampai rumah" tutur Aurel.
"Oh, baiklah kita berangkat sekarang" ujar Rasya menyeret kakinya mengikuti langkah Aurel.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan menyusuri jalanan.
Di dalam mobil, keduanya pun hanya diam. Aurel sibuk memandang keluar sedangkan Rasya fokus mengemudi.
"Kita mau kemana?" tanya Aurel membuka suara.
"Sepertinya ada pasar malam di daerah sini" timpal Rasya.
__ADS_1
"Benarkah? aku sudah lama tidak mengunjungi pasar malam" ucap Aurel tampak antusias.
Rasya pun tersenyum penuh bangga melihat kekasihnya itu tampak bahagia. Rasya tahu jika Aurel belum bisa membalas perasaannya. Hanya saja ia ingin bersikap bodoh selamanya agar Aurel tetap berada didekatnya. Setidaknya Aurel telah membuka peluang untuk Rasya dapat merebut hatinya. Meskipun harus melewati usaha keras serta kesabaran.

Belum lama kemudian, mereka pun tiba disana. Tempat tersebut amat ramai dikunjungi. Tampak kemerlap lampu, komedi putar, bahkan wahana permainan lainnya terlihat disana.
"Aku serasa mimpi bisa berkunjung kesini lagi" ujar Aurel dengan mata yang berbinar.
"Apakah kamu senang?" tanya Rasya.
Aurel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Ayo kita kesana, aku ingin menaiki komedi putar itu" ucap Aurel yang langsung menarik tangan Rasya.
Setelah mengantri cukup panjang untuk menunggu karcis, akhirnya mereka pun menaiki komedi putar tersebut.
Aurel yang tampak sibuk melihat-lihat keluar dengan perasaan membuncah, namun berbeda halnya dengan Rasya. Ia mati-matian menahan rasa pusing serta mengeluarkan keringat dingin.
Namun disaat Aurel menanyainya, dengan hebatnya ia mengaku baik-baik saja. Dan ternyata benar adanya apa yang sering kali diucapkan oleh banyak orang. Cinta dapat mengubah manusia bak kehilangan akal sehat. 5 tahun ia duduk di fakultas kedokteran, 1 tahun internsip dan 3 tahun pendidikan DLP. 9 tahun ia lalui hanya demi title seorang dokter dan menjadi bodoh seketika saat ia mengenal apa itu cinta.
Rasya merasa lega saat komedi putar terhenti. Ia pun cepat-cepat menuruni wahana yang dianggapnya dapat membunuhnya itu.
Aurel pun menggandeng tangan Rasya kembali seraya melihat-lihat wahana lainnya. Dalam hati Rasya berdoa supaya Aurel tidak mengajaknya ke tempat yang lebih gila lagi. Namun, tampaknya doanya tidak dikalbulkan oleh yang Maha Kuasa saat itu.
Bagaimana tidak? Aurel menarik Rasya untuk memasuki rumah hantu. Jika yang tadi membuat keringat dinginnya mengucur, kali ini Aurel membuatnya terkena spot jantung.
Setelah berhasil keluar dari rumah hantu tersebut, Aurel mengajak Rasya mencicipi aneka jajanan yang ada disana. Dan satu hal yang menjadi keharusan bagi Aurel saat menginjakkan kakinya disini, yaitu permen kapas.
" Apa rasanya begitu enak?" tanya Rasya yang merasa teralihkan oleh permen kapas yang sedang dinikmati Aurel.
"Hmmm.. Enak, apa kamu mau coba?" tanya Aurel.
Rasya pun mengangguk.
Aurel langsung mengarahkan permen kapas tersebut ke mulut Rasya.
"Manis... tapi lebih manisan kamu" ujar Rasya.
Aurel pun tertawa saat mendengar penuturan dari Rasya.
"Pandai ngegombal kamu, coba aku mau dengar dari kamu kata-kata yang pernah kamu tulis di kartu ucapan itu" tukas Aurel.
"Aku lupa, udah yuk kita pulang" ucap Rasya seraya mengacak-acak rambut Aurel.
Aurel pun memberengut kesal karena rambutnya menjadi berantakan. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan kembali menuju rumah.
.
.
Bersambung..
Terimakasih sudah membaca storyku yang masih belum jelas 😌.
jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya 🤗
salam manis Ryn
__ADS_1