Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 11. Keserakahan Irene


__ADS_3

Irene mengulas senyumnya sembari mengantar kepergian ibu kost. Meskipun didalam hatinya ia merasa amatlah kesal dengan semua ucapan wanita bertubuh gempal tersebut.


"Apakah kau tidak akan menyuruh kami untuk masuk?" sindir Reyhan setengah berbisik.


Lelaki yang satu ini juga membuat suasana hatinya tidak baik. Ingin rasanya Irene memukul wajah tampan itu dengan godam.


"Mari masuk" ucap Irene yang tak hentinya membingkai senyumnya.


Setelah memmutar kuncinya dan ia pun memegang kenop pintu, beberapa saat kemudia ia sadar bahwa kondisi rumahnya bak kapal pecah.


"Tunggu lima menit" ucap Irene sedikit gusar sembari merentangkan tangannya didepan.


Tanpa persetujuan tamu diluar, Irene segera masuk dan menutup pintunya. Dengan sedikit tergesa-gesa ia meraih pakaian kotornya yang berserakan di kursi. Dan menuju ke meja yang penuh dengan kemasan camilan serta mangkuk-mangkuk mie. Ia pun kemudian meraih jemuran pakaian dalamnya yang tak jauh dari tempat tidurnya dan semua pakaian itu diletakkan sembarang di kolong kasur.


Setelah semuanya dirasa sudah rapi dan tidak ada lagi yang tertinggal, Irene kembali membuka pintunya dan mempersilahkan orang-orang yang sedari tadi menunggunya untuk masuk ke dalam.


"Maaf om, tante menunggu lama" ujarnya.


"Oh tidak apa-apa sayang" timpal Irsya.


"Silahkan duduk om, tante" ucap Irene ramah. Keduanya pun duduk di kursi serba guna itu. Yang lebih tepatnya digunakan untuk meja makan.


Seketika pandangan Irene mengarah ke Reyhan yang berdiri.


"Kau juga silahkan duduk, sayang" ucapnya sedikit menekankan kata sayang tersebut.


Reyhan melirik Irene sembari memberi isyarat bahwa ada sesuatu di kursi tersebut yang tidak bisa ia duduki.


Irene yang awalnya tidak mengerti, namun saat ia mengarahkan pandangannya ke kursi tersebut, seketika wajahnya langsung pucat. Pakaian dalam yang tadinya dibawanya ternyata tercecer dan ada di kursi tersebut. Dengan sigap Irene pun mengambil bra yang tampak tersangkut disana.


Dengan berjalan sedikit mundur, Irene menyembunyikan tangannya yang tengah menggenggam pakaian dalamnya itu. Dengan perlahan ia membuka lemarinya dan melemparkan bra-nya itu ke dalam lemari.


Kedua orang tua Reyhan tampaknya tak menyadari gerak-gerik Irene karena keduanya tampak tengah mengotak-atik ponselnya masing-masing.

__ADS_1


Sementara Reyhan hanya menggelengkan kepalanya.


"Sungguh memalukan sekali" gumam Irene.


Belum lama kemudian, gadis itu kembali menghampiri keluarga Reyhan sembari menyuguhkan teh serta camilan


"Silahkan diminum om, tante" tawar Irene.


"Tidak usah repot-repot nak Irene" ucap Abizar.


"Tidak apa-apa om" timpal Irene.


"Inilah tempat saya tinggal om, tante. Kontrakan saya berukuran sangat kecil" sambung Irene.


"Om dan tante mencari menantu tidak diukur dari segi materi sayang" tukas Irsya sembari terkekeh dan ucapannya tak lepas dari masalah calon menantu.


Irene hanya menimpali ucapan Irsya dengan tersenyum. Sekilas ia melirik ke arah Reyhan yang tampaknya sangat santai menghadapi situasi yang runyam seperti ini.


"Tujuan kami kesini sebenarnya ingin bertemu dengan kedua orang tua dari nak Irene" kini Abizarlah yang membuka suara.


"Saya tidak mempunyai keluarga" ucap Irene, tatapan sendu pun terlihat dari manik matanya.


Seketika ada perasaan aneh dari diri Reyhan saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh gadis yang ada disampingnya saat ini. Entah itu rasa kasihan terhadap gadis tersebut atau apa Reyhan pun tidak mengetahuinya.


"Maafkan kami sayang, sungguh kami tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu" ucap Irsya sembari menggenggam jemari Irene yang sedikit terkepal. Dari ekspresi wajah gadis yang ada dihadapannya, Irsya dapat menebak bahwa Irene menyimpan luka yang amat mendalam.


"Tidak apa-apa om, tante" ucap Irene yang kembali memamerkan deretan gigi putihnya.


Irsya tersenyum sembari mengusap punggung tangan Irene. Saat mendapat perlakuan seperti ini, ada sebuah kehangatan yang menjalar hati Irene. Sentuhan lembut dari wanita tua yang ada didepannya ini bak sentuhan kasih seorang ibu yang tak pernah didapatkannya.


"Niat kami kesini untuk memintamu menjadi pendamping Reyhan, menikahlah dengannya" ujar Irsya yang tak hentinya mengulas senyumnya.


Seketika ada rasa keserakahan dalam diri Irene. Bukan karena Reyhan lahir dari keluarga yang berada, melainkan ia ingin merasakan sebuah kehangatan dari keluarga.

__ADS_1


Tess..


Tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Irene. Ia memandang ke arah Reyhan sekilas yang tampak sibuk mengisyaratkan untuk menolak.


"Jangan menangis sayang, tante sungguh tidak ingin memaksamu. Jika kamu keberatan dengan keinginan kami, tidak apa-apa kalau kamu memilih menolaknya" ucap Irsya menghampiri Irene dan menghapus air mata gadis itu.


Irsya pun menepuk-nepuk pundak Irene menenangkan gadis itu. Dan hal tersebut membuat Irene semakin nyaman.


"Saya bersedia menikah dengan Reyhan" kalimat yang tak terduga lolos begitu saja dari mulut Irene.


Dengan mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Irene, tentu saja membuat pasangan tua itu tersenyum bahagia.


Namun berbeda dengan Reyhan, ucapan yang dilontarkan oleh Irene membuat pria itu naik pitam. Ia mengepal tangannya dengan erat mencoba untuk mengontrol emosinya.


"Apa dia sudah gila" ujar Reyhan dalam hati.


Irene mengarahkan pandangannya pada Reyhan. Rahang pria itu mengeras menandakan bahwa pria itu marah besar dengan ucapannya barusan.


"Maafkan aku, biarkan aku serakah untuk kali ini" batin Irene.


.


.


.


Bersambung..




Jangan lupa untuk like komen dan vote seikhlasnya 🤗

__ADS_1


salam manis Ryn ❤


__ADS_2