Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 33. Asisten Pribadi


__ADS_3

Irene menunggu Reyhan diruanganya. Gadis itu merasa sedikit bosan, ia pun memilih salah satu buku yang berada diatas mejanya. Satu persatu Irene membuka lembaran buku tersebut.


Tak terasa satu jam pun telah berlalu. Terdengar suara kenop pintu membuat Irene mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


Bak manusia yang tanpa dosa Reyhan hanya melewati Irene tanpa memandang ke arah gadis itu. Irene hanya meniup anak rambut yang jatuh dikeningnya, melampiaskan rasa kesalnya.


"Buatkan aku secangkir kopi" titah Reyhan.


"Kau buat saja sendiri, sepuluh langkah aku berjalan maka gajiku akan hangus" ketus Irene.


"Apakah begini cara kau bekerja?"


"Tsk.. baiklah". ujar Irene


"Jangan terlalu manis" ujar Reyhan memperingatkan.


"Siapa? aku?" tanya Irene dengan polosnya.


"Aku membicarakan kopiku, bukan dirimu" ujar Reyhan.


Irene pun kembali melanjutkan langkahnya keluar ruangan. Setelah kepergian istrinya itu, Reyhan hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat kelakuan Irene.


Setelah bertanya pada beberapa pegawai, Irene pun akhirnya sampai di pantry. Ia pun segera membuat kopi untuk Reyhan. Seusai membuat kopi, ia pun segera keluar dari pantry. Beberapa pegawai disana memandang aneh Irene.


"Maaf Bu, ini tugas saya" ucap sang OB yang langsung melepaskan sapunya dan menghampiri Irene.


"Tidak apa-apa lanjutkan saja tugasmu, membuat secangkir kopi untuk suami saya juga merupakan kewajiban saya" jelas Irene sembari tersenyum.

__ADS_1


Beberapa pegawai disana pun memandang kagum Irene dan menilai Irene adalah seorang istri yang baik. Namun siapa sangka satu langkah ia melaksanakan tugas dari Reyhan, pundi-pundi rupiah pun akan menjadi bayarannya.


Irene pun melenggang bersama dengan secangkir kopi ditangannya, yang beberapa orang menilainya tugas mulia tanpa mereka ketahui semua itu demi rupiah.


"Mengapa kau lama sekali" suara berat itu langsung menyapa Irene disaat ia baru saja memasuki ruangan.


"Kau pikir jarak dari ruangan ke pantrymu itu dekat? bahkan tempat tersebut letaknya paling ujung " gerutu Irene kesal sembari meletakkan kopi tersebut.


"Baiklah, besok aku akan membelikanmu sepeda agar tidak terlalu lama untuk berjalan menuju pantry" ujar Reyhan dengan santainya sembari menyeruput kopinya.


"Dasar manusia tidak waras" gerutu Irene.


"Lumayan" ucap Reyhan memberikan penilaian terhadap rasa kopi buatan Irene tersebut.


"Lantas apa yang harus aku kerjakan?" tanya Irene setengah merajuk.


Reyhan meregangkan tubuhnya, ia pun sedikit memijat bahunya menggunakan sebelah tangannya.


"Apa aku tidak salah dengar?" ujar Irene memastikan.


"Cepatlah! ini salah satu tugasmu sebagai asisten pribadi" perintah Reyhan.


Irene tetap bergeming ditempatnya sembari mencebikkan bibirnya.


"Baiklah jika kau tidak ingin melakukannya, aku akan menganggap kinerjamu kurang baik dan.." ucapan Reyhan terputus karena Irene segera menghampirinya dan memijat bahunya.


Reyhan tersenyum penuh kemenangan saat Irene melakukan apa yang ia perintahkan. Melihat hal tersebut Irene dengan sengaja menekan kuat pijatan pada bahu Reyhan membuat pria itu mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Apa kau ingin membunuhku?!" tukas Reyhan.


"Anggap saja seperti itu" jawab Irene dengan entengnya.


Pertengkaran kecil itu pun terhenti saat sekertaris Reyhan memasuki ruangan. Irene yang segera melepas tangannya dari bahu Reyhan, namun dengan segera pria itu menarik tangan Irene kembali dan meletakkannya lagi dibahunya.


"Hehe sepertinya kau sangat lelah suamiku" ucap Irene sembari tersenyum manis membuat Reyhan sedikit menganga karena tingkah istrinya itu.


Reyhan pun berinisiatif untuk mengerjai Irene.


"Tentu saja istriku, kau tahu semalam kau terlalu bergairah hingga membuatku kelelahan" ujar Reyhan tanpa dosa didepan sekertarisnya itu.


Irene pun langsung menepuk pundak Reyhan dan kemudian memegang pipinya yang mulai memerah karena menahan malu. Sedangkan sekertaris Reyhan terlihat menahan tawanya.


"Ini ada paketan untuk bapak" ucap sekertaris tersebut sembari menyerahkan amplop berwarna coklat tersebut.


Reyhan pun menerima amplop coklat tersebut, saat membuka amplop itu Reyhan pun paham siapa pengirim paket tersebut.


"Terimakasih, silahkan kembali ke meja kerjamu" ucap Reyhan.


Reyhan kembali melirik amplop berwarna cokelat tersebut, pria itu mengurungkan niatnya membuka paket yang baru saja diterimanya.


.


.


__ADS_1



Bersambung..


__ADS_2