
Irene membuka matanya perlahan, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, keduanya pun terridur sangat pulas. Saat tersadar bahwa kini posisinya sedikit intim dengan suaminya itu, ia merasa sedikit gugup.
Sungguh ia belum terbiasa akan hal ini.
"Selamat pagi, Istriku" ucap suara berat sedikit serak.
"Pagi" timpal Irene seadanya.
"Mengapa tiba-tiba pipimu merah?" tanya Reyhan memperhatikan wajah Irene.
"Benarkah?" tanya Irene sembari memegangi pipinya.
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya, membawa gadis itu sedikit menempel padanya.
"Aku.. memmbersihkan diriku dulu" ucap irene sedikit gugup.
Ia pun bangkit dari tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Reyhan kembali tenggelam dalam selimutnya, badannya masih terasa lelah karena menyetir dalam waktu yang cukup lama.
...****************...
Sore itu, Reyhan dan Irene tengah berkeliling di sebuah toko yang menyediakan perlengkapan bayi.
Irene tampak memilah baju bayi yang tampak lucu-lucu tersebut. Terkadang keduanya pun berdebat karena berbeda pendapat baju yang cocok yang akan dihadiahkan untuk keponakannya yang baru lahir.
"Keduanya tampak cocok" ucap wanita paruh baya yang menyaksikan perdebatan mereka.
Reyhan dan Irene pun mengulas senyumnya.
"Kalian sudah mempersiapkannya begitu matang, sudah hamil berapa bulan?" tanyanya lagi.
Baik Reyhan maupun Irene tercengang saat mendengar pertanyaan wanita lawan bicaranya itu.
"Saya ti.." ucapan Irene pun segera dipotong oleh Reyhan.
"Alhamdulillah sudah enam bulan, Bu. Minta do'anya supaya istri saya lancar sampai persalinan nanti" ujar Reyhan sembari mengusap perut Irene.
Irene membelalakan matanya saat mendengar penuturan suaminya itu.
"Apa? enam bulan? apakah dia sudah tidak waras? sebuncit itu kah diriku?" berbagai pertanyaan melintas di kepala Irene.
Namun gadis itu tak berani berucap apapun. Biarlah dia menikmati skenario yang sedang dibuat oleh suaminya itu.
"Semoga ibu dan anak sehat selalu" ucap wanita paruh baya tersebut. Tak lama kemudian, ia pun berlalu meninggalkan Reyhan dan Irene yang masih mematung.
__ADS_1
"Hfffttt... sepertinya aku harus berusaha keras untuk menurunkan berat badanku" gumam Irene sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku hanya bergurau, istriku" timpal Reyhan sembari mengusap surai hitam milik istrinya itu.
"Tapi sepertinya ibu itu benar-benar mempercayainya" keluh Irene, gadis itu memanyunkan bibirnya membuat Reyhan semakin gemas.
"Kalau begitu aku akan membantumu untuk membakar kalori" ujar Reyhan.
"Benarkah?"
"Hmmm ..." timpal pria itu.
....
Kedua pasutri itu tiba di kediaman Rasya. Mereka tentu saja disambut oleh si gembar nan berisik yang sedari tadi menunggu kedatangan om dan tantenya itu.
"Om Han, Tante Irene.." panggil kedua anak itu yang kemudian menghambur ke pelukan om dan tantenya masing-masing.
Arden yang berlarian dan berhambur ke pelukan Reyhan, sedangkan Aretha berlari ke arah Irene.
"Om ayo liat adek Azril" ucap Arden sembari menarik tangan Reyhan.
Setelah menurunkan beberapa perlengkapan bayi yang memenuhi bagasi mobilnya, Reyhan pun memanggil asisten rumah tangga yang bekerja disana untuk membawa barang tersebut ke dalam. Sementara pria itu harus mengikuti langkah Arden yang sedari tadi menarik tangannya.
Aretha mengajak Irene untuk melihat adik kecilnya itu. Namun dirinya tak seantusias Arden. Irene yang menyadari hal tersebut langsung bertanya pada keponakan cantiknya itu.
"Arden tidak akan bermain denganku lagi, Tante. Dia pasti menghabiskan waktunya untuk adik Azril, Retha maunya adik perempuan" ucap gadis kecil tersebut.
"Sayang.. Arden tidak akan seperti itu, nantinya pasti tetap akan bermain dengan Retha. Azril masih terlalu kecil untuk diajak main" jelas Irene.
"Tapi Tante, Retha mau adik perempuan buat nanti diajak main bedak-bedakan" jawaban Aretha tersebut membuat Irene mengembangkan senyumnya.
"Nanti Aretha pasti akan mendapatkan adik perempuan" bujuk Irene.
"Benarkah Tante?"
"Hmmm.." timpal Irene.
Setelah mendengar penjelasan dari Irene, Aretha pun kembali bersemangat lagi. Gadis itu pun membawa tantenya ke dalam rumah.
...
"Ehmmm" Rasya yang berdeham tiba-tiba.
"Uhukkk.." Tak lama kemudian suara batuk bersahutan dari Irsya maupun Abizar.
__ADS_1
Pasalnya, kini yang ada dihadapannya adalah sepasang suami istri yang tengah bergantian menggendong bayi. Sesekali Irene berkomentar bahwa Reyhan tak menggendong bayi dengan benar, sebaliknya saat bayi tersebut berada digendongan Irene, Reyhan yang berkomentar bahwa bayi itu tak ingin Irene menggendongnya.
"Hei.. kalian berdua, jangan merebutkan anakku. Jika kalian ingin, buat saja sana" satu kalimat yang dikeluarkan Rasya namun memiliki sejuta sindiran untuk keduanya.
Reyhan pun melirik ke arah abangnya itu, tatapan seakan ingin membanting tubuh abangnya itu saat ini juga.
"Ckck.. lihatlah dia dengan begitu sombongnya" ucap Reyhan berdecak kesal.
Reyhan pun melangkahkan kakinya untuk ikut bergabung duduk disebelah Rasya. Sesekali Irene melirik ke arah suaminya itu, kemudian mengalihkan pandangannya pada Azril yang ada digendongannya.
"Aku belum begitu sempurna menjadi seorang istri yang baik. Jangankan memberikannya keturunan, bahkan suamiku belum pernah mendapatkan haknya sampai saat ini" gumamnya didalam hati.
Aurel melirik ke arah Irene, dari sorot mata yang dipancarkan oleh adik iparnya itu, ia tahu apa yang dipikirkan oleh Irene. Aurel bahkan sesekali melemparkan tatapan tajam ke arah Rasya karena sudah berbicara keterlaluan.
"Tidak usah dipikirkan ucapan mas Rasya, terkadang dia memang menyebalkan saat berbicara asal" jelas Aurel mencoba mengajak Irene berbicara.
"Tidak apa-apa kak, lagi pula aku tidak tersinggung dengan ucapan bang Rasya, aku tahu dia hanya bercanda" tutur Irene sembari mengembangkan senyumnya.
Setelah dirasa hari sudah cukup malam, keduanya pun berpamitan untuk pulang. Sesekali Reyhan tampak mengecek ponselnya dan berbalas pesan. Namun Irene tak menanyakannya karena yang ia tahu pasti hal tersebut berurusan dengan kantor.
Irene pun masuk ke dalam mobil terlebih dulu, kemudian disusul oleh Reyhan.
Diperjalanan, keduanya pun tak ada percakapan. Hanya mendengarkan musik sembari melihat ke arah jalanan. Namun Irene masih berpikir tentang hal tadi, hal yang membuatnya belum bisa dikatakan menjadi istri yang baik.
Setelah cukup lama tenggelam dalam lamunannya, tak terasa mobil pun sudah sampai di pekarangan rumah. Seperti biasa, Reyhan pasti akan membawanya sampai masuk ke dalam garasi.
Irene turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Reyhan tentu saja mengerti apa yang membuat Irene mendadak menjadi pendiam seperti itu. Namun memang benar terkadang candaan dapat menorehkan luka yang mendalam bagi seseorang.
"Semoga saja nanti kau akan menyukainya" gumam Reyhan yang kemudian menyusul langkah istrinya itu.
...
Irene melangkahkan kakinya hendak memasuki kamarnya. Namun gadis itu mengernyitkan keningnya saat mendapati lampu dikamar tersebut dalam keadaan mati.
Ia pun memanggil segera memnanggil Reyhan, memberitahukan pada suaminya itu bahwa lampu di kamar tersebut rusak.
Reyhan tersenyum sekilas, kemudian pria itu mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Reyhan bertepuk tangan sebanyak dua kali.
Seketika membuat Irene membelalakan matanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...