
"Emmm.. kalau boleh tahu, aku bekerja sebagai apa?" tanya Irene yang masih merasa penasaran karena dirinya direkrut menjadi karyawan dadakan di tempat Reyhan.
"Asisten pribadi" jawab Reyhan singkat yang masih fokus menyetir.
"Asisten? bukankah gajinya lumayan besar" ujar Irene dalam hati sembari membulatkan matanya.
"Emmm.. kira-kira apa saja tugas seorang asisten pribadi?" tanya Irene lagi.
"Bisakah kau berhenti untuk bertanya? kau terlalu aktif bertanya pagi ini. Nanti kau akan paham apa tugasmu" tukas Reyhan.
"Maaf" ucap Irene singkat namun dalam hatinya mengumpat.
Tak lama kemudian mereka pun tiba didepan rumah sakit. Beberapa pegawai rumah sakit menunduk hormat saat berpapasan dengan Reyhan. Irene merasa sedikit canggung dengan suasana yang menurutnya baru.
"Ternyata begini rasanya menjadi istri seorang pria kaya" ucap Irene dalam hati.
Irene mengikuti langkah Reyhan yang hendak menuju ke ruangannya. Gadis itu melihat sosok wanita cantik bertubuh tinggi semampai bak model yang tampaknya menunggu Reyhan didepan ruangannya.
Wanita cantik itu menghampiri Reyhan sembari memegang beberapa dokumen yang ada ditangannya.
"Apa saja jadwalku hari ini" ucap Reyhan yang sedikit cuek.
Wanita itu menyebutkannya satu persatu dengan jelas dan lantang.
"Apakah yang ku suruh tadi sudah kau laksanakan?" tanya Reyhan.
"Tentu saja pak, saya sudah siapkan semuanya diruangan bapak" ucap wanita itu.
__ADS_1
Reyhan mengangguk mendengar penuturan tersebut dan langsung mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar sekertaris cantiknya itu pergi. Wanita itu pun menunduk hormat dan kemudian meninggalkan Reyhan dan Irene yang hendak memasuki ruangan.
Irene melihat gadis itu melangkah pergi. Ia cukup terkagum dengan kecantikan wanita itu, sedikitpun Irene tidak melihat kejelekan yang ada pada wanita berambut panjang terikat rapi. Bahkan jalannya pun wanita itu terlihat sangat anggun.
"Apa kau tidak akan masuk?" tanya Reyhan yang sedari tadi memperhatikan Irene yang melamun dengan mulut sedikit ternganga.
"Siapa dia? aku melihatnya bak dewi" ucap Irene kagum.
"Dia sekertarisku, jangan kau bandingkan dengan wajahmu jelas kau akan kalah banyak. Lagi pula aku menugaskanmu bekerja disini bukan untuk menilai penampilan seseorang" ujar Reyhan yang kemudian melangkah masuk terlebih dahulu.
"Lihatlah betapa menyebalkannya dirimu" tukas Irene yang kemudian masuk ke ruangan tersebut.
Reyhan menuju ke singgasananya, sedangkan Irene terlihat sedikit bingung. Perasaannya pun mulai tak enak saat Reyhan tersenyum miring.
"Itu tempat dudukmu" ucap Reyhan sembari menunjuk kursi yang tidak jauh dari tempat Reyhan.
Irene ragu-ragu menduduki kursi tersebut. Diatas meja tersebut terdapat satu buah laptop serta berbagai tumpukan novel yang tersusun diatas meja.
"Apa yang harus ku kerjakan?" tanya Irene sedikit bingung.
"Sebaiknya kau berdiam diri dulu disana" timpal Reyhan yang sibuk membuka dokumen satu persatu yang ada di meja kerjanya.
Irene menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia hanya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Tokkk.. tokk.. tokk..
Terdengar suara ketukan dari luar, Irene pun berinisiatif untuk berdiri dan membukakan pintu untuk si pengetuk. Namun belum sempat membuka pintu, seorang gadis yang tidak lain sekertaris Reyhan pun muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Reyhan.
"Aku hanya ingin membukakan pintu"
"Untuk apa? sekertarisku mempunyai tangan untuk membuka pintu tersebut. Sebaiknya kau berdiam diri ditempat dudukmu" titah Reyhan dengan wajah sedingin mungkin namun ia juga merasa geli dengan tingkah Irene barusan.
Irene pun mau tak mau mematuhi ucapan Reyhan, karena selain menyandang gelar sebagai suami, pria itu juga kini menyandang gelar sebagai bos ditempat kerja Irene.
"Semua orang sudah menunggu di ruang rapat, pak" ujar sekertaris tersebut.
"Baiklah saya akan segera kesana, kamu boleh menunggu saya diruang rapat saja" ucap Reyhan.
"Baik pak" ucap sekertaris tersebut dan kemudian berlalu.
Reyhan pun menyusun kembali dokumen tersebut. Setelah semua dirasa siap, ia pun melangkahkan kakinya untuk menghadiri rapat tersebut. Namun kakinya terhenti sejenak dan berbalik ke arah istrinya.
"Kau cukup berdiam diri disini dan jangan kemana-mana" ujar Reyhan.
"Tapi apa yang harus aku lakukan? bahkan tugasku saja aku tidak tahu" keluh Irene.
"Nanti aku akan memberikanmu tugas, untuk saat ini kau tidak perlu melakukan apapun, patuhi perintahku. Jika kau berjalan selangkah dari tempat dudukmu itu maka aku akan memotong gajimu sepuluh persen" ucap Reyhan memperingati.
"Sepuluh langkah aku melangkah maka aku tidak akan mendapati gajiku" ujar Irene sembari mendengus kesal sembari memperhatikan Reyhan yang mulai meninggalkan ruangan tersebut.
"Apalagi yang akan dia rencanakan" gumam Irene sembari memberengut.
.
__ADS_1
.
Bersambung..