
Rasya dan Aurel tengah memilih peralatan bayi untuk baby twins mereka. Mulai dari pakaian, tempat tidur, dan masih banyak banyak lagi.
Jika Rasya memilih warna yang dominan gelap, berbeda dengan Aurel yang memilih warna dominan cerah. Dan bahkan mereka pun mengalami perdebatan kecil hanya untuk pilihan mereka. Alhasil, keduanya pun membeli warna yang mereka sukai masing-masing.
Setelah memilih perabotan bayi, Rasya pun meminta pegawai ikut membantunya memasukkan semua belanjaan tersebut ke dalam mobil, yang pastinya semua barang yang didapat tanpa membayar karena tempat mereka memilih perabotan bayi tersebut tak lain merupakan pusat perbelanjaan yang tentunya milik wanita yang mengandung bayi kembar tersebut.
Rasya menatap Aurel dari kejauhan yang sedang berbincang dengan Kinan. Rasya mengalihkan pandangannya pada tembok yang berseni itu, yang tak lain hasil karya tangan dari adiknya sendiri, Reyhan.
Semenjak Reyhan menyelesaikan studinya, pria itu memilih untuk hidup di negara orang hanya untuk berkelana serta mencari pengalaman untuk beberapa tahun.
Rasya menatap lukisan tersebut dengan tersenyum. Ia sangat merindukan adiknya itu.
"Mas.." seru Aurel sembari berjalan menuju suaminya itu.
Rasya menoleh ke belakang, ia pun melebarkan senyumnya sembari berjalan menghampiri istrinya.
"Aku merindukan Reyhan setelah melihat lukisan ini" ucap pria pemilik senyum manis tersebut.
"Aku merindukannya juga mas" gumam Aurel yang juga menatap lukisan tersebut.
"Berkat dirinya, tembok yang tadinya polos kini disulap menjadi indah, jika dulu aku menatap tembok ini biasa-biasa saja, namun sekarang aku bisa merasakan emosi didalamnya. Rasa bahagia bercampur haru" ujar Aurel panjang lebar.
Rasya menatap istrinya sembari melemparkan senyumnya.
"Aku bisa merasakan cinta yang tersirat pada tembok tersebut" kalimat tersebut lolos begitu saja dari bibir Rasya.
Aurel yang tadinya menatap tembok berukuran besar tersebut, kini ia mengalihkan pandangannya dengan suaminya.
"Jika nantinya ada kehidupan kedua di antara kita, aku ingin kamu memilihnya. Untuk kehidupan saat ini aku memilih egoku, namun di kehidupan kedua nanti, aku akan memilih untuk tidak mengusik kebahagiaan adikku" ujar Rasya dengan lugas.
Aurel mngernyitkan keningnya mendengar ucapan Rasya.
"Kenapa mas berbicara seperti itu?"
"Kamu mencintaiku karena aku yang selalu ada untukmu, jika kemarin aku mengalah untuk mempertahankanmu pastinya Reyhan akan melangkah maju. Aku saja yang curang memenangkan hatimu" jelas Rasya.
"Mas percaya tidak dengan takdir? aku memilih mas karena takdir Tuhan yang mempersatukan kita, bukan karena kecurangan mas. Jadi mas tidak boleh menyalahkan diri mas seperti ini. Aku yakin, nanti akan ada wanita yang luar biasa yang akan mendampingi Reyhan" tutur Aurel dengan bijak.
"Terima kasih sayang, kamu juga wanita yang luar biasa bagiku" ujar Rasya merangkul pundak istrinya dan mengecup kening Aurel.
"Mas juga.." ucap Aurel sembari tersenyum.
Beberapa pegawai disana berdecak kagum saat melihat atasannya yang begitu romantis.
"Jiwa jombloku meronta saat melihat keduanya" gumam salah satu pegawai tersebut.
"Sama, aku juga miris melihat keduanya" ucap pegawai satunya lagi.
"Kenapa miris?"
"Ya karena aku juga jomblo yang sudah berkarat"
Keduanya pun terkekeh meratapi nasib mereka.
...****************...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kehamilan Aurel kini sudah memasuki usia 9 bulan. Alea selalu siaga menjaga Aurel disaat Rasya sedang bekerja. Irsya, ibu mertuanya pun ikut menjaga Alea menantikan kehadiran cucu pertama mereka.
Kini Alea tengah berada di rumah sakit yang merupakan milik kakek dari suaminya. Alea dan Irsya menjaga Aurel dengan sangat baik.
"Apa kamu belum merasa sakit nak? mules atau sakit di bagian pinggang?" tanya Irsya.
"Iya nak, kalau kamu ada sakit langsung bilang ke mama" ucap Alea yang merasa sedikit khawatir.
Aurel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Belum ada ma, ini jawaban dari pertanyaan mama yang ke 20 kali untuk hari ini" ucap Aurel sembari tersenyum.
Benar saja, itu adalah pertanyaan yang ke 20 kalinya yang Aurel jawab. Raut wajah khawatir ditampakkan oleh kedua wanita hebat yang menjaganya. Aurel mengembangkan senyumnya saat melihat ibu dan ibu mertuanya begitu perhatian kepadanya.
...
Di lain tempat pria yang tak hentinya menanyakan kabar wanitanya melalui pesan singkat. Raut wajah cemas terpatri di wajah tampannya.
"Cancel rapat hari ini, ada hal yang lebih penting yang harus aku urus" ucapnya pada sekertaris barunya yang dipilih langsung oleh Alviro, yaitu Johan.
Roland dikirim Alviro untuk mengurus hotel yang ada di Bali. Alviro telah mempercayakan sepenuhnya hal tersebut kepada Roland.
"Baik pak" sahut Johan patuh.
Rasya mengambil tas kerjanya, ia pun segera masuk ke dalam mobil menuju ke rumah sakit. Persetan dengan urusan kantor atau yang lainnya, karena sang istri adalah tersegalanya.
Saat berada diperjalanan, ponselnya kembali berdering. Rasya pun mengangkat panggilan dari ibu mertuanya itu.
"Nak, Aurel sekarang sudah berada di ruang bersalin. Istrimu akan melahirkan" ucap Alea dari seberang telepon.
"Rasya akan segera kesana ma" timpal Rasya.
Setelah panggilan terputus, pria itu mempercepat laju kendaraannya.
...
Setibanya disana, Rasya segera mencari tempat yang diucapkan oleh ibu mertuanya tadi. Dari jauh ia melihat kedua wanita paruh baya tengah duduk di kursi tunggu.
"Ma.." ucap Rasya menghampiri keduanya.
"Rasya.." gumam Irsya yang langsung berdiri saat melihat putra sulungnya.
Rasya mendekati pintu, tanpa aba-aba ia langsung menerobos masuk ke dalam ruang tersebut. Berkali-kali perawat memintanya untuk menunggu di luar. Namun, Rasya tidak menghiraukannya.
Dokter pun memberi isyarat pada perawat tersebut untuk membiarkan Rasya mendampingi istrinya.
Rasya menggenggam erat tangan Aurel saat istrinya itu berjuang, antara hidup dan mati hanya untuk memberikannya sebuah hadiah yang tak ternilai harganya. Buah cinta mereka, generasi penerusnya.
Rasya mengelap keringat yang membasahi kening istrinya, tanpa disadari ia pun dibanjiri oleh keringat. Rasa khawatir menyelimuti dirinya kala ia melihat betapa besarnya perjuangan istrinya hanya untuk buah cinta mereka agar dapat melihat indahnya dunia.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tangisan bayi pun terdengar. Seketika air mata Aurel pun jatuh, begitu pun juga dengan Rasya.
Suaminya itu menangis penuh haru saat melihat bayi yang masih berwarna kemerah-merahan itu.
Selang beberapa saat, Aurel kembali merasakan sakit. Rasya tak melepaskan genggaman pada istrinya itu. Sembari merapalkan doa didalam hati, berharap ibu dan bayi akan selamat.
Belum lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar lagi. Aurel terkulai lemas, ia pun mengulas senyumnya saat memandang ke arah suaminya.
...
Setelah dimandikan dan diberi pakaian lengkap, kedua perawat tersebut membawa bayi kembar yang berbeda gender. Perawat yang satunya memberikan bayi tersebut pada Rasya, dan yang satunya lagi diletakkan disamping Aurel.
Rasya menatap buah hatinya dengan berbinar. Perasaan hangat pun menjalar ke hatinya saat menatap baby twins tersebut secara bergantian.
"Yang ini jagoannya ayah dan bunda" ucap Rasya menatap bayi yang berada digendongannya.
"Dan yang itu si cantiknya ayah dan bunda" lanjutnya menatap bayi yang tengah berada di samping Aurel.
Aurel tersenyum melihat si kecil yang berada disampingnya. Belum lama kemudian, kedua orang tua mereka masuk untuk melihat cucu kembar mereka.
Alea mengambil bayi yang ada digendongan Rasya, sedangkan Irsya mencoba menggendong bayi yang ada disamping Aurel.
"Ya ampun yang ini cantik ya"
"Yang ini tampan"
__ADS_1
Ucap kedua ibunya secara bergantian.
Rasya pun duduk disamping Aurel. Mengecup singkat kening istrinya itu dikala kedua ibunya sedang asyik bersama buah hatinya dan Aurel.
"Apa kalian sudah mempersiapkan nama untuk keduanya?" tanya Irsya.
"Arden Megantara dan Aretha Meiranti" ucap Rasya dan Aurel bersamaan.
"Jangan lupa untuk menambahkan Harfin dibelakangnya, diambil dari nama belakang ayahnya" ujar Alea dengan bijak, Irsya pun mengangguk tanda menyetujui.
Belum lama kemudian, kedua kakek dari bayi tersebut datang bersamaan. Raut bahagia terpancar dari mereka dengan hadirnya sang cucu kembar.
"Terima kasih sayang, telah menjadi wanita yang luar biasa bagiku. Memberikan kebahagiaan yang tak ternilai untukku,dan melahirkan dua bayi yang sangat lucu" ucap Rasya dengan penuh ketulusan.
"Aku juga berterima kasih padamu suamiku, memberikan perhatian yang luar biasa untukku. Aku juga sangat bahagia memilikimu" gumam Aurel, ia pun mengecup punggung tangan suaminya, dan Rasya mengusap rambut istrinya itu dengan penuh cinta.
Ada beberapa manusia yang menyerah untuk mencintai, ada pula yang menyia-nyiakan cinta yang didapat, dan beberapa sebagian dari mereka mengejar cinta itu. Namun satu hal yang pasti, manusia akan merasa semuanya berarti setelah mereka kehilangan. Dan rasa sakit terganti oleh cinta yang lain. Karena cinta itu layaknya tanaman, iya akan tumbuh jika selalu disiram. ~Ryn.
.
.
.
.
.
.
.
5 tahun kemudian..
Drrrttt...
Kringgg...
Suara alarm serta getaran dari ponsel memenuhi ruang kamar tersebut. Sosok yang masih nyaman membungkus seluruh tubuhnya diselimut meraba malas ponsel yang berada di atas nakas.
"Halo.." ucap suara berat dan serak dari pria yang masih menutupi wajahnya dengan selimut tersebut.
"Pulanglah nak, sampai kapan kamu akan disana" ucap suara lembut wanita yang telah melahirkannya itu.
"Nanti ma.." sahut pria tersebut dengan malas.
"Kau masih tidur? Segera pulang! atau papa akan mengirimkan orang ke Kanada untuk memecahkan kepala bodohmu itu" teriak suara lelaki yang paling ditakutinya itu.
Pria itu langsung bangkit dari tidurnya dan langsung terduduk. Ia terkejut mendapati panggilan tersebut merupakan panggilan video bukan panggilan suara.
"Jika dalam minggu-minggu ini kau tidak pulang, papa tidak segan-segan akan menyusulmu kesana. Ingat itu Reyhan!" ucap Abizar berteriak dan kemudian mematikan sambungan video call tersebut.
Pria tersebut mendesis, ia pun mengacak rambutnya dengan kasar.
-**THE END-
Nantikan lanjutannya di SENTUH HATIKU 2**.
__ADS_1