Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 12


__ADS_3

Vanesha yang sedang duduk santai di kantin, seraya menghisap boba yang dipesannya tadi. Ia pun mengotak-atik ponselnya.


"Tumben sendirian, Reyhan mana? biasanya Lo berdua kayak prangko nempel terus" tanya Dito yang baru saja datang. Ia pun langsung menarik kursi yang ada dihadapannya.


Vanesha hanya mengendikkan bahunya mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu keberadaan pria tersebut.


"Lo masih marah sama Reyhan gara-gara kemarin?" tanya Dito lagi.


Vanesha bungkam tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dito.


"Oh ya, kenapa Lo nelpon gue semalem? sorry gue ketiduran" ujarnya lagi.


"Lo sih nggak angkat telepon dari gue, terpaksa gue minta tolong sama Reyhan semalem. Padahal gue masih marahan sama dia" ujar Vanesha memberengut kesal.


"Emang Lo minta tolong apa?" tanya Dito yang tampak penasaran.


"Ngusir kecoak yang hinggap diatas mobil gue pas gue lagi jalan keluar" ketus Vanesha.


Dito pun terkekeh


"Terus Lo nggak jadi marahan sama Reyhan?" Dito kembali bertanya.


"Semalem marahannya dipending, hari ini dilanjut lagi marahnya" ujar Vanesha.


Dito pun kembali tertawa, kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Dasar tukang ngambek" ujar Dito seraya mengacak rambut Vanesha.


"Ya udah, gue cabut dulu mau nyamperin si David" lanjutnya yang kemudian melenggang pergi.


Vanesha membeku seketika.


Deggg... Deggg.. Deggg...


Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berpacu dengan cepat.


"Duh kok gue deg-degan ya. Lagian tuh anak nggak tahu apa kalau cewek perasaannya bisa kacau pas udah diacak-acak rambutnya" gerutu Vanesha seraya merapikan poninya.


.


.


.

__ADS_1


Di lain tempat, Reyhan yang mengurung diri di kamarnya. Ia sibuk membuat sketsa wajah namun dengan fikiran yang berkecamuk. Sesaat kemudian, ia pun meremuk kertas yang digambar ya tadi dan mengulangnya kembali.


Hal tersebut berulang kali ia lakukan. Bahkan sampah kertas yang ia remuk sedari tadi sudah berserakan memenuhi ruangan tersebut.


"Arghhhh.." ia pun yang sudah tampak terlihat geram menyingkirkan semua alat tulis yang ada di atas mejanya.


Belum lama kemudian pintu pun terketuk.


"Reyhan.. ada apa nak? kenapa kamu mengurung diri seperti ini. Kamu nggak pergi ke kampus?" teriak Irsya dari luar.


"Maafin Reyhan Ma, Reyhan mau sendiri dulu" ujarnya pada wanita yang melahirkannya itu.


Perlahan, sang mama pun menyeret kakinya menjauh. Ia memberikan ruang pada putra bungsunya itu untuk menjernihkan fikirannya.


Reyhan mengambil sketsa wajah yang setengah jadi jatuh tepat didepan kakinya.


"Pembohong besar! Bagaimana mungkin kau dengan mudahnya melupakanku. Aku hanya ingin kau menunggu sebentar lagi, bukankah selama ini kau telah menungguku bertahun-tahun" gumam Reyhan yang kemudian merobek kertas tersebut dan meremuknya. Kemudian dilemparkannya ke dalam kotak sampah.


.


.


.


Pagi ini dengan mengenakan kaos, celana training, serta handuk kecil yang dikalungkan dilehernya Aurel melakukan jogging dengan berkeliling di tempat biasanya. Ia pun merasa lelah dan kemudian duduk di bangku panjang yang terletak didepan sebuah butik. Ia menenggak air mineral yang dibelinya tadi.


"Siska.." gumam Aurel.


Tentu saja ia amat mengenal wanita ini. Bagaimana tidak? wanita yang merupakan kakak kelasnya ini dulunya sangat iri dengan Aurel karena sempat ditaksir oleh Johan, lelaki terpopuler disekolahnya semasa putih abu-abu.


"Wahh.. jadi benar ini Lo" ucap wanita tersebut yang kemudian mengambil tempat yang tidak jauh dari Aurel.


"Maaf, gue bau keringat" ujar Aurel yang sedikit menggeser posisi tempat duduknya.


"Haha.. gue nggak pernah nyangka bakalan ketemu Lo disini. Gimana kabar Lo? oh ya, Lo udah nikah belum? gue tebak pasti belum kan" tukas Siska dengan pertanyaan bergilir.


Aurel pun hanya nyengir kuda. Namun dalam hatinya mengumpat wanita yang ada dihadapannya saat ini.


"Gue udah nikah 3 tahun yang lalu, dan Lo mau tahu siapa suami gue? Johan Aditama, yang dulu pernah Lo kejar-kejar" tutur Siska.


"Hahaha.." Aurel pun tertawa terpaksa.


"Gak penting banget suami Lo siapa, lagian gue nggak pernah ngejar cowok itu" ujar Aurel dalam hati.

__ADS_1


"Oh ya, sekarang Lo kerja apa?" tanya Siska.


"Emmm gue.."


"Halahh, Lo pasti nganggur ya sekarang. Kelihatannya santai banget hidup Lo" ujar Siska yang langsung memotong ucapan Aurel.


"Hahaha iya gue santai" timpal Aurel.


"Ya Tuhan, nih orang emaknya pas hamilin dia ngidamnya menelann toa apa ya, berisik banget heran gue" batin Aurel.


"Gue sekarang punya butik, dan ini butik gue" ujar Siska seraya menunjuk gedung tersebut.


"Dan sekarang Johan juga udah kerja di perusahaan besar, Dirgantara group dan tentunya gaji disana cukup tinggi" ucap wanita tersebut.


Aurel terkekeh geli,saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh wanita yang ada dihadapannya ini.


"Oh iya, ini kartu nama gue. Kalau Lo butuh bantuan gue semacam cari pekerjaan gitu. Nanti biar gue suruh suami gue masukin Lo diperusahaan tersebut" ujar Siska menyombongkan dirinya.


"Oke makasih ya" ucap Aurel.


"Oh ya sebentar, gue juga punya kartu nama" Aurel pun mengeluarkan dompet mininya yang hanya dibawa saat ia sedang keluar tanpa menggunakan tas.


Aurel pun menyodorkan kartu namanya kepada Siska. Siska pun membelalakkan matanya seketika saat membaca nama lengkap Aurel dikartu yang dipegangnya.


Aurel kembali membuka botol air minumnya dan menenggaknya seraya melirik ekspresi terkejut dari wajah kakak kelasnya itu.


"Duh, terpaksa deh Lo tahu nama asli gue. Oh ya, hubungi gue kalau suatu saat suami Lo minta kenaikan gaji. Biar gue ngomong langsung sama papa. Dan satu lagi, kalau Lo belanja di Shopie Apparel, hubungi gue juga. bakalan gue kasih secara cuma-cuma buat Lo" ujar Aurel yang membuat lawan bicaranya itu bungkam seketika.


Aurel pun beranjak dari tempat duduknya, sedangkan Siska menggeram kesal.


"Wanita aneh" gumam Aurel yang kemudian melanjutkan larinya.


Sedari dulu memang banyak yang tidak mengetahui jika Aurel merupakan anak emas dari orang berada. Dari segi penampilan semasa ia sekolah, Aurel hanya biasa-biasa saja. Berangkat sekolah, ia lebih memilih naik ojek online atau dibonceng oleh temannya dibandingkan diantar menggunakan mobil pribadi.


.


.




Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca jangan lupa untuk like, komen, dan votenya ya sayang-sayangku 😘


salam manis Ryn


__ADS_2