Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 16


__ADS_3

Pagi ini, Aurel merasa sangat senang karena dapat menikmati sarapan bersama keluarganya lagi. Jika kemarin hari-hari yang ia lewati terasa sepi, kini rasa sepi itu tergantikan dengan suara teriakan sang mama yang selalu saja mengomel dengan segala kekonyolan yang papanya perbuat.


"Sayang, kamu lihat nggak jam tangan yang biasa aku pakai?" ujar Alviro seraya mencari benda tersebut.


"Nggak tahu aku mas, bukannya kemarin kamu pakai" timpal Alea.


"Iya kemarin masih aku pakai, tapi aku lepas pas.." belum lama kemudian Alviro pun menepuk keningnya.


"Kenapa mas?"


"Aku lepas dikamar mandi hotel kemarin pas aku cuci tangan" ujar Alviro yang baru saja sadar.


"Kenapa kamu lepas? bukankah itu jam anti air" tukas Alea.


"Aku lupa sayang"


"Sepertinya kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter. Aku takut kelak kamu juga lupa bahwa aku adalah istrimu" ucap Alea dengan ada yang penuh penekanan.


"Sayang, apakah kamu sedang menyumpahiku terkena alzheimer?" tukas Alviro.


Alea pun tidak menghiraukan ucapan suaminya itu. Ia sibuk menata meja makan untuk sarapan bersama.


"Pagi Ma.. Pa.." sapa Aurel.


"Pagi juga sayang" timpal Mamanya.


"Pagi juga putri kesayangan papa" ujar Papanya.


Mereka pun mengambil tempat duduk di kursi masing-masing.


"Bagaimana hari yang kamu lalui tanpa kami nak?" tanya Alviro seraya menyantap sarapannya.


"Sepi sekali Pa, biasanya Aurel bangun selalu dengar celotehan Mama" timpal Aurel.


Alea yang mendengar ucapan putrinya itu langsung terkekeh.


"Celotehan khas Mama" ucap Alea seraya tersenyum.


"Oh iya Pa, Aurel hampir lupa. Kemarin ada orang yang cari Papa" tutur Aurel.


"Siapa nak?" tanya Alviro.


"Apakah seorang polisi?" Alea yang menyerobot ucapan keduanya.


"Ayolah sayang, aku tidak melakukan tindakan kriminal" timpal Alviro.


"Aku juga kurang tahu pa siapa pria itu"ujar Aurel.


"Tapi dia bilang sebut saja nama Clara" lanjut Aurel.


Tinggg...


Tanpa sadar Alviro pun menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Sementara Alea langsung membeku mendengar apa yang baru saja dibicarakan oleh putri semata wayangnya itu.


"Siapa Clara pa? bapak itu juga menanyaiku apakah aku mengenal wanita itu" ujar Aurel seraya memandang ekspresi kedua orang tuanya.


"Habiskan makananmu nak, setelah itu berangkatlah. Banyak kerjaan yang harus kamu urus" ujar Alviro dengan nada dingin.


"Tapi.. pa, Papa belum jawab pertanyaan Aurel" ucap Aurel tampak mengamati ekspresi kedua orangtuanya itu.


"Tidak ada yang perlu dijawab! Habiskan makananmu!" tukas Alea dengan nada yang tinggi namun sesaat kemudian bibirnya bergetar.


Aurel tertegun, dalam situasi ini ia dengan segera menghabiskan makanannya. Aurel pun langsung beranjak dan berpamitan dengan kedua orang tuanya.


Alea yang memperhatikan Aurel yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Perasaan marah dan takut kembali menghantui Alea.

__ADS_1


"Hal yang paling ku takuti adalah membuat Aurel kecewa, dan aku tidak ingin ia mengetahui semua yang terjadi dimasa lalu" ucap Alea yang kemudian pergi meninggalkan Alviro.


Alviro hanya bungkam bak kehabisan kata-kata. Ia pun mengusap wajahnya dengan frustasi.


.


.


.


Di mobil


Aurel masih memikirkan hal yang baru saja terjadi. Entah mengapa pemilik nama tersebut seolah haram disebutkan di depan keluarganya.


Siapa wanita pemilik nama itu?


Ada apa dengan sosok tersebut?


Apa yang sebenarnya terjadi?


Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Aurel mengingat ekspresi yang ditunjukkan oleh kedua orangtuanya itu membuat ia menjadi frustasi akan rasa penasarannya.


Aurel menepikan mobilnya, tentu saja hal yang dialaminya barusan tidak dapat membuatnya mengemudi dengan tenang. Ia mencari ponsel di tasnya. Kini ia tahu, pada siapa seharusnya ia bertanya.


"Halo.." ucap suara dari seberang telepon.


"Halo Om Roland.."


"Ada apa Aurel?" tanya Roland.


"Om pernah cerita dulu, kalau Om sudah berteman lama dengan Papa" tutur Aurel.


"Iya benar, emangnya ada apa?"


"Emmm.. gini om, Aurel mau tanya. Om tau nggak wanita yang bernama Clara?" tanya Aurel sedikit ragu.


"Om.. apa Om mendengarkanku" panggil Aurel.


"Ya Aurel, untuk masalah itu lebih baik Aurel tanyakan sendiri pada Papa ya. Om nggak punya wewenang untuk ngasih informasi ke Aurel" ujar Roland yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Halo Om.. Ommm.." Aurel yang baru saja sadar Roland mematikan teleponnya. Ia pun langsung melempar ponselnya ke bangku penumpang.


"Shit?!" umpat Aurel kesal. Kemudian ia langsung memacu mobilnya membelah jalanan.


.


.


.


"Bagaimana dia bisa tahu Clara?" ujar Roland bermonolog.


"Andai aku mengatakan yang sebenarnya, tentunya gajiku yang akan menjadi sasarannya" lanjutnya.


Belum lama kemudian, Alviro pun tiba di kantor. Dengan segera, Roland menghampirinya.


"Selamat pagi pak" sapa Roland seraya tersenyum.


Alviro hanya mengangguk dan kemudian berlalu.


"Kenapa hawanya rada-rada nggak enak ya" ujar Roland dalam hati.


"Bos, tadi si Aurel barusan telepon. Dia nanyain soal.. Clara" ucap Roland sedikit ragu-ragu.


Alviro pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia kemudian membalikkan badannya menghadap Roland.

__ADS_1


"Kalau dia masih tanya, bilang aja nggak tahu. Dan Aurel nggak harus tahu tentang hal itu" titah Alviro yang kemudian masuk ke dalam ruangannya. Dan Roland menuju ke meja kerjanya.


 


❇❇❇


 


Reyhan mengemasi barang-barangnya. Belum lama kemudian Irsya pun menghampiri putra bungsunya itu.


"Nak, haruskah kamu pindah?" ujar sang Mama dengan lesu.


"Iya ma, Reyhan mau jadi anak yang mandiri tanpa harus bergantung dengan papa dan mama" jelas Reyhan.


"Mama akan sering ke sana buat nengok kamu" ujar Irsya.


Reyhan pun keluar membawa tas yang berisi barang-barangnya. Irsya yang mengikuti langkah Reyhan dengan raut wajah sedih.


Abizar duduk seraya menunggu Reyhan di ruang tengah.


"Pa.."


"Pergilah jika itu maumu" ujar Abizar dengan rahang yang mengeras, mewakili perasaanya yang sedikit kecewa dengan keputusan putranya itu.


"Bawa ini bersamamu" ujar Abizar yang bangkit dari tempat duduknya dan memberikan sebuah kunci motor yang sering dibawa oleh Reyhan.


"Tapi Pa.."


"Jika kamu menolak, Papa akan memberikanmu mobil" ujar Abizar dengan intonasi tinggi.


"Reyhan bawa motor ini saja Pa" ucap Reyhan.


Awalnya Reyhan tidak ingin membawa motor tersebut bersamanya. Namun, saat sang Papa menawarkan yang lebih lagi, mau tak mau ia pun harus membawa kendaraan tersebut bersamanya.


"Ma.. Pa.. Reyhan berangkat dulu" ujar Reyhan yang kemudian mengecup punggung tangan kedua orangtuanya.


"Hati-hati ya nak, jaga kesehatan" pesan Irsya.


"Iya ma" timpal Reyhan


"Bang.." Reyhan pun menghampiri Rasya.


"Biar gue antar, Han" ujar Rasya.


"Nggak usah bang" sahut Reyhan.


Rasya pun merangkul adiknya itu. Walaupun terkadang diantara mereka adu argumen, namun ia tetap menyayangi Reyhan.


"Telepon Gue kalo lo udah sampai" tukas Rasya.


Reyhan menimpalinya dengan sebuah anggukan. Ia pun langsung mengendarai sepeda motornya menuju tempat yang akan ditinggalinya nanti.


.


.




Bersambung...


Uwwuu ketemu lagi kita😘


Jangan lupa ya untuk selalu meninggalkan jejaknya votenya juga ya biar tambah mahir😂

__ADS_1


Yang belum tekan bintang lima, dipojokan klik ya ampe penuh dah biar makin yuhuuu😆


sampai jumpa di chapter selanjutnya😘


__ADS_2