Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 62. Pernikahan Arya


__ADS_3

Irene memandang dirinya lewat pantulan cermin. Ia pun menghembuskan nafasnya dengan kasar saat mencoba baju yang sudah tidak muat lagi.


"Ada apa? mengapa wajahmu tampak tidak bersemangat?" tanya Reyhan.


"Lihatlah, pa. Aku bahkan baru saja membeli baju ini seminggu yang lalu. Dan sekarang baju ini tidak muat lagi" ujar Irene setengah kesal.


"Sayang, pakai baju yang muat saja. Kau akan terlihat cantik dengan memakai apapun" bujuk Reyhan supaya istrinya itu tidak kesal.


"Baju daster? hanya itu yang muat ditubuhku saat ini. Apakah aku harus mengenakan baju itu dipesta pernikahan abangku?" ketus Irene.


Reyhan mencoba menahan tawanya sekuat tenaga. Melihat perubahan bentuk badan istrinya itu terbilang cukup drastis. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini ***** makan istrinya itu sudah tak terkontrol lagi. Kadang Reyhan sempat berfikir, apakah Irene lupa bahwa dirinya baru saja makan?


Namun saat melihat istrinya itu lebih berisi serta pipinya yang mulai chubby, membuat gadis itu terlihat sangat menggemaskan.


"Tunggu sebentar" ucap Reyhan melangkah mendekati lemari yang terletak disebelah lemari pakaian Irene.


Pria itu pun membuka lemari tersebut. Mata Irene pun membulat sempurna saat melihat pakaian-pakaian wanita yang cantik dengan size yang besar.


"Kapan kau menyiapkan ini semua, sayang?" tanya Irene yang langsung mendekati lemari tersebut. Gadis itu memilah satu persatu pakaian yang ada disana, dan segera bercermin mencocokkan baju dengan tubuhnya.


"Sudah cukup lama, karena aku tahu jika suatu saat berat badanmu akan semakin bertambah" goda Reyhan.


Irene pun menggertakan giginya sembari menatapnya dengan tatapan tajam.


"Tapi tetap saja, ku tercantik dimuka bumi ini" ujar Reyhan yang mencoba membuat istrinya itu tak marah.


Pujilah jika kau ingin selamat, hanya slogan itu yang ada dipikiran Reyhan. Karena jika ia merusak mood istrinya saat itu juga, bisa-bisa keduanya tidak akan jadi menghadiri pesta abang iparnya.


Semenjak kehamilannya, Irene mudah sekali badmood. Maka dari itu Reyhan sedikit berhati-hati menjaga lisannya saat ini. Karena pria itu pun juga mengerti, bahwa ini adalah bawaan dari juniornya yang saat ini tengah bersemayam didalam rahim istrinya itu.


Setelah menghabiskan 20 menit di meja rias, akhirnya bumil cantik itu pun keluar dari kamarnya. Riasan wajah yang natural namun elegan itu membuat Reyhan terkesima.


"Haruskah aku katakan bahwa istriku ini adalah titisan dewi khayangan" ucap Reyhan yang tak melepaskan pandangannya dari wajah istrinya itu.


Irene pun menyelipkan rambutnya ke telinga sembari menampakkan semburat merah dipipi gembulnya. Kata-kata Reyhan tadi membuat Irene tersipu malu.


"Ayo kita berangkat" ujar Irene.


Keduanya pun bergegas memasuki mobil untuk menghadiri pesta pernikahan sang kakak dan sekertarisnya.


....

__ADS_1


Sesampainya disana, Reyhan tak sedikitpun melepaskan Irene. Sedari tadi pria itu menggenggam tangan istrinya dan tak mau melepaskannya.


"Sayang, tidakkah ini berlebihan? telapak tanganku berkeringat" bisik Irene.


"Maafkan aku, sayang" ucap pria itu yang langsung melepaskan genggaman tangan tersebut.


"Lihatlah, tanganku sampai basah" gumam Irene sembari mengelap tangannya menggunakan tisue.


"Aku hanya tidak ingin ada pria lain melirikmu, karena kau sangat cantik hari ini" jelas Reyhan.


"Alasanmu saja, apakah kemarin-kemarin aku tidak cantik" gumam Irene yang tak didengar oleh Reyhan karena suaminya itu menghampiri Arya. Melihat suaminya telah lepas darinya, Irene pun menghampiri sang papa yang berada tak jauh dari Arya.


"Papa .."ucap Irene yang segera memeluk sang papa.


"Wah anak papa cantik sekali hari ini"


"Kan papanya juga tampan" timpal Irene.


Mendengar jawaban anak bungsunya itu, membuat Surya mengembangkan senyumnya.


"Papa sangat bersyukur, akhirnya abangmu bangun dari keterpurukannya. Papa sudah hampir putus asa saat menghadapi kekacauan yang diperbuat abangmu itu. Namun sejak pertemuan kita, abangmu perlahan berubah, mungkin ia berfikir bahwa perasaan sayangnya padamu itu karena adanya ikatan bahwa kalian bersaudara" ucap Surya dengan mata yang memerah saat menceritakan tentang anak sulungnya itu.


"Papa harus berterima kasih pada suamiku, karena dialah yang menjodohkan abang dengan sekertarisnya yang cantik" ucap Irene terkekeh geli.


"Baik pa .."


Tak lama kemudian, Mertua serta kakak ipar Irene pun tiba. Di tengah kerumunan banyak orang, Irene melambaikan tangannya pada Aurel yang tengah menatapnya.


Surya maupun Irene menyambut kedatangan keluarga dari suaminya itu.


"Maaf kami sedikit terlambat" ucap Aurel yang tengah menggendong Azriel.


"Tidak apa-apa kak, lagi pula acaranya belum dimulai" timpal Irene.


Keduanya pun berbincang-bincang, sedangkan Rasya menghampiri sang adik bersama dengan pengantin pria.


....


Akad pun usai dilaksanakan, dan langsung disambung dengan resepsi. Arya dengan gagahnya mengenakan jas berwarna putih, sedangkan Rania tampak sangat cantik dengan balutan gaun pengantin. Keduanya pun tampak bahagia setelah sah menjadi suami istri.


Reyhan sedari tadi mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


"Bang, apakah kau melihat istriku?" tanyanya pada Rasya.


"Bukankah dia sedari tadi bersamamu" timpal Rasya.


"Aku kehilangannya saat aku sibuk berbincang dengan rekan kerja yang juga hadir disini" jelas Reyhan.


Pria itu pun kembali mencari keberadaan istrinya itu.


Namun tak lama kemudian, matanya menangkap sosok wanita dengan tubuh yang berisi tengah menikmati beberapa hidangan yang ada di meja saji.


Siapa lagi jika bukan istri tercintanya. Reyhan menatapnya dari kejauhan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya yang melahap satu persatu hidangan yang ada disana.


Reyhan pun menghampiri Irene tanpa sepengetahuannya. Saat Irene tengah memasukkan cake ke dalam mulutnya, Reyhan mengelus Surai panjang istrinya itu.


Irene pun terkejut, menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik badan menatap ke arah suaminya yang berada dibelakangnya.


Reyhan tersenyum, kemudian mengelap sisa cream yang ada disudut bibir Irene.


"Maafkan aku sayang, aku merasa lapar saat melihat semua ini" ucap Irene memperlihatkan deretan giginya.


Reyhan tak menjawab sedikitpun, pria itu hanya mengangguk.


"Kau pasti sangat malu membawaku kesini. Bagaimana pun juga disini banyak rekan kerjamu" ujar gadis itu.


"Siapa yang malu? aku? oh tidak, sayang. Aku tidak merasa malu sedikitpun membawamu. Justru sebaliknya, aku sangat senang melihatmu makan dengan lahap dari pada melihatmu sakit" sahut Reyhan dengan tulus, tangannya masih setia mengusap puncak kepala istrinya itu.


Irene pun mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Reyhan. Benar yang dikatakan papanya tadi. Suaminya itu adalah pria yang sangat baik.


"Setelah pulang nanti, apakah kau ingin makan es krim, istriku?" tawar Reyhan.


Irene pun mengangguk dengan penuh semangat.


"Baiklah kalau begitu, habiskan cake yang ada dipiringmu" titah Reyhan sembari mencubit pipi gembul istrinya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️


__ADS_2