
Roland memberhentikan mobilnya tepat didepan kediaman Alviro. Ia melirik sahabatnya itu yang masih bungkam seribu bahasa.
"serem amat lihat tampang lo kayak depkolektor" ujar Roland.
Alviro pun tak menghiraukan ucapan Roland.
"lo gak mampir dulu?"tanya Alviro.
"gak bos, gue kan lagi jam kerja takutnya gaji gue dipotong lagi" ujar Roland.
"bagus kalau lo sadar" tukas Alviro kemudian langsung menuju rumahnya.
Sedangkan Roland langsung melajukan mobilnya kembali ke kantor.
.
.
.
.
.
Malam pun tiba, Abizar baru saja keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tettt. .
Bel rumahnya berbunyi. Abizar pun langsung membukakan pintu, dilihatnya Roland yang sudah berdiri tepat didepan pintu rumahnya.
"iseng amat lo, udah tau passwordnya apa bukannya langsung masuk aja" ujar Roland.
"sengaja bang biar lo olahraga dikit" timpal Roland menduduki sofa yang berada di ruang tamu.
"bang, si Alviro udah pulang" sambung Roland.
"bagus, kirain bakalan disana terus" ucap Abizar sambil meraih remote tv dan mencari chanel yang hendak ia tonton
"tapi dia gak sendiri, dia bareng sama Alea bang" ujar Roland.
Tiba-tiba saja remote tersebut terlepas dari genggaman Abizar, entah mengapa perasaan takut mulai menyelimuti dirinya.
"bang. . lo kenapa?" tanya Roland yang sadar dengan perubahan sikap abangnya itu.
"gue ke kamar dulu, lo nonton aja sendiri" ucap Abizar tergesa-gesa kemudian meninggalkan Roland.
"tolong bang jangan ulangi kebodohan kemarin, lupain Alea karena lo udah punya mbak Irsya" gumam Roland penuh harap.
Abizar terlihat gusar didalam kamarnya. Kemunculan Alea membuatnya takut untuk berhadapan dengan wanita itu, bukan karena ia masih mempunyai rasa pada Alea melainkan ia masih diselimuti rasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Arfan waktu itu karena kecerobohannya.
Drrrtttt. . .
Ponsel Abizar bergetar, dilihatnya si pemanggil yang tidak lain adalah Irsya.
Abizar pun meletakkan ponselnya kembali tanpa menjawab panggilan dari Irsya.
.
.
.
.
Alviro duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya serta Alea. Ia sengaja makan malam dirumah orang tuanya sekalian dengan modus ingin bertemu dengan Alea.
Entah mengapa Alviro semakin gila jika jauh dari Alea.
"besok malam kita antar Alea pulang kerumah mamanya" ucap Regita.
"biar Al aja ma, mama sama papa gak usah repot-repot" ujar Alviro.
"mama kamu pengen bicarain masalah pernikahan kamu dan Alea" timpal Reksa.
"yang bener pa? ma?" tanya Alviro tampak bersemangat.
"iya Al" jawab Regita.
"kenapa gak malam ini aja ma" tukas Alviro.
"malam ini Alea kan nginep disini sayang gak sabaran amat sih" ujar Regita seraya melototi Alviro.
Alviro pun langsung menciut.
__ADS_1
"habiskan makanannya sayang" ucap Regita pada Alea.
"iya ma" ujar Alea.
Mereka pun sibuk dengan makanannya masing-masing
.
.
.
.
Alviro melihat Alea yang sedang duduk di sebuah ayunan yang berada dihalaman rumah orang tuanya.
Alviro pun tersenyum melihat Alea yang tampak fokus menatap bintang-bintang yang ada dilangit.
Alviro pun mendekati Alea dan duduk disamping Alea.
"mas Al" gumam Alea yang baru saja menyadari keberadaan Alviro.
"Leah kamu tau apa persamaan kamu sama bintang?" ucap Alviro.
Alea menggelengkan kepalanya.
"sama-sama bersinar" ujar Alviro.
"apaan sih mas" tukas Alea tersipu malu.
"kalau perbedaan kamu sama bintang tau gak?" tanya Alviro lagi.
"emang apa?" tanya Alea balik.
"kalau bintang adanya di langit, kalau kamu adanya dihatiku" ujar Alviro.
Alea pun terkekeh mendengarkan gombalan ala Alviro.
"Leah, mama Arini itu orangnya galak nggak?" tanya Alviro lagi.
"nggak kok, malahan baik banget" timpal Alea.
"aku takut nanti gak direstui sama mama Arini karena aku dulunya nyakitin kamu" ujar Alviro dengan ekspresi murung.
"aku janji Leah, aku gak akan nyakitin kamu lagi. aku benar-benar ingin menjalani hidup bersama kamu, sampai rambut kita sama-sama memutih, sampai maut yang memisahkan" ujar Alviro tulus.
Alea menatap ke dalam manik mata Alviro, ia tidak menemukan kebohongan disana.
"iya mas aku percaya dan aku juga ingin seperti itu" ucap Alea.
Alviro meraih tangan Alea dan menggenggamnya dengan erat.
"makasih udah kasih aku kesempatan Leah, aku janji gak akan pernah melepaskan kamu lagi" ujar Alviro.
Alea pun tersenyum mendengar penuturan Alviro.
"oh ya, aku penasaran sama mama Arini, gimana ceritanya kamu bisa dijadikan anak angkat oleh mama Arini?"
"dulu aku pernah hampir menikah dengan seorang pria yang bernama Arfan sepupunya Steve. Arfan adalah anak satu-satunya dari mama Arini.
Waktu itu kami hampir saja melangsungkan pernikahan kami, namun takdir berkata lain. Arfan menghadap sang pencipta tepat dihari pernikahan kami. Mama Arini sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, maka dari itu dia ingin aku menggantikan posisi Arfan dan menjadi anak angkatnya" terang Alea panjang lebar.
"aku kayak pernah lihat mama Arini sebelumnya tapi aku lupa dimana" ujar Alviro yang tampak mengingat-ingat.
"mungkin perasaan kamu aja mas" ucap Alea seraya menutup mulutnya karena mulai mengantuk.
"iya mungkin. ya udah kamu tidur sana aku juga mau pulang soalnya besok mau kerja" ujar Alviro seraya melirik jam tangannya.
Alea dan Alviro langsung beranjak dari tempat duduknya. Alea yang langsung menuju ke kamar dan Alviro yang langsung berpamitan pulang dengan kedua orang tuanya.
πππππππππππππππ
Keesokan harinya, Alviro tampak segar datang ke kantornya. Hari ini ia kembali menghandle semua urusan kantor.
Alviro pun memasuki kantornya dengan sapaan yang ditunjukan semua karyawan saat berpapasan dengannya.
"selamat pagi pak Alviro" sapa Melly.
Alviro membalas sapaan Melly tersebut dengan senyuman dan langsung menuju ruangannya.
"gak usah genit!!" tukas Roland yang sedari tadi memperhatikan Melly.
"ihhh apaan sih babe aku tuh cuma menerapkan sikap ramah tamah aku aja, cintaku gak akan berpaling dari kamu kok" ujar Melly.
__ADS_1
"awas aja kalau genit-genit ya" ucap Roland yang kemudian melirik kanan kiri yang tampak terlihat sepi lalu mencubit gemas pipi Melly kemudian melarikan diri.
"ihhh. . awas aja nanti" ujar Melly seraya mengusap pipinya.
.
.
.
.
.
Alviro yang masih terpaku menatap layar monitornya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia pun langsung meraih ponselnya tersebut.
"ada apa ma?" tanya Alviro.
"nanti kamu gak usah cari makan diluar ya, mama udah anterin kamu makanan" ujar Regita dari seberang telepon.
"gak usah repot-repot ma, aku bisa makan diluar kok" timpal Alviro.
"Alea yang anterin makan siang ke kantor" ucap Regita.
"oh ya udah kalau gitu gak apalah ma ngerepotin" ujar Alviro seraya terkekeh.
"dasar kamu ya! udah kamu lanjutin gih kerjaan kamu" tukas Regita seraya mematikan panggilan teleponnya.
.
.
.
.
.
"maaf mbak, pak Alvironya ada?"
Melly melihat seksama perempuan tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"ini baru namanya barbie berjalan" ujar Melly dalam hati dan mulut yang sedikit ternganga
"mbak. .hello. ."
"Alea. ." panggil Roland.
"eh. .Roland, Alvironya ada?" tanya Alea lagi.
"ada kok, masuk aja" timpal Roland.
"ya udah aku kesana dulu ya Land" ucap Alea yang langsung menyeret kakinya menuju ke ruangan Alviro.
Melly yang masih memperhatikan Alea dengan mulut yang sedikit ternganga. Roland pun reflek mengatupkan rahang Melly yang dikira sedikit melorot.
"nanti dimasukin laler" ujar Roland.
"kamu kenal dia babe?" tanya Melly.
"kenal, dia calon istrinya pak Alviro" timpal Roland.
"wihhh gila. . cantik banget" ujar Melly.
"tapi bagiku cantikan kamu kok" ucap Roland tepat didekat telinga Melly dan melangkah pergi.
Pipi Melly pun langsung memerah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kekasihnya itu.
"hmmm si bebeb mah pinter banget bikin aku serasa terbang" ujar Melly yang malu-malu kucing, kemudian menyeret kakinya kembali ke meja kerjanya.
.
.
.
Terimakasih sudah membacaπ. tinggalkan jejak kalian yah say dengan cara like, vote dan komen.
salam manis RPSπ
__ADS_1