Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 13. Calon Istri


__ADS_3

Reyhan melirik jam tangannya. Ia pun segera bersiap membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Namun seperti biasa, ketika berada di lift ia pun kembali bertemu dengan lelaki yang selalu menatapnya dengan sinis. Siapa lagi jika bukan Hartono, yang tak lain adalah salah satu pemegang saham yang tidak setuju dengan kedudukan Reyhan.


Jika di hari biasanya Reyhan menyapanya, namun kini ia sengaja tak memberikan senyuman ramah seperti dulu yang pernah ia lakukan. Baginya sikap ramah dan santun itu patutnya ditunjukkan pada seseorang yang menghargai kita, bukan dengan orang yang membenci dirinya.


Tingg..


Pintu lift pun terbuka, pria tua itu melangkahkan kakinya terlebih dahulu dan Reyhan hanya memandangnya sekejap dan kemudian ikut keluar dari lift tersebut menuju ke parkiran.


.


.


.


Setelah tiba dirumahnya, Reyhan pun turun dari mobil. Baru saja ia hendak melangkah tiba-tiba langkahnya terhenti.


Dia.. wanita dari masa lalu tampak tengah menggendong Aretha yang tampak masih terlelap dalam tidurnya.


Saat Aurel bertemu pandang dengannya, Aurel pun juga menghentikan langkahnya sejenak. Namun karena mengingat saat ini ia tengah menggendong tubuh Aretha yang sudah lumayan berat, ia pun segera membuka pintu mobilnya.


Reyhan yang melihat Aurel sedikit kesusahan membuka pintu tersebut dengan segera ia berlari ke arah wanita tersebut dan membukakan pintu mobil tersebut.


"Terimakasih" ucap Aurel singkat sembari tersenyum. Senyum yang masih saja meracuni pikirannya. Senyum yang mampu mengalihkan dunianya seketika.


Belum lama kemudian Reyhan pun tersadar dari lamunannya.


"Biar aku saja yang menggendong Arden" ujar Reyhan yang bergegas masuk.


Belum lama kemudian, ia pun keluar dengan menggendong keponakannya itu dan meletakkannya di bangku belakang tepat disebelah Aretha.


"Maaf telah merepotkanmu" ucap Aurel.


Reyhan pun menggeleng.


"Dimana Abang?" tanya pria itu.


"Mas Rasya belum pulang kerja" timpal Aurel pelan.


Setelah itu keheningan pun tercipta diantara keduanya. Reyhan yang sedikit menendang-nendang rerumputan halaman sementara Aurel memandang ke arah yang berbeda. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada kecanggungan yang tercipta diantara keduanya.


"Aku pamit pulang dulu" ucap Aurel pelan.

__ADS_1


Reyhan pun hanya menganggukkan kepalanya.


Namun saat Aurel hendak menutup pintu mobilnya, dengan cepat Reyhan menahan pintu tersebut. Aurel sempat tertegun dengan tingkah Reyhan.


"Apa kau bahagia dengan hidupmu saat ini?" tanya Reyhan


Aurel pun tersenyum sekilas menimpali ucapan Reyhan.


"Aku sudah bahagia dan sekarang kamu juga harus bahagia" ucapnya yang masih tersenyum manis.


Sesaat kemudian tangan Reyhan pun melepaskan pegangannya di pintu mobil dan membiarkan wanita masa lalunya pergi dari hadapannya.


Ucapan Aurel bak cambuk baginya. Dia sudah bahagia, dan Reyhan tidak berhak mengusik kebahagiaan wanita itu.


...****************...


David dan Dito tampak bertukar pandang disebuah resto yang tak lain milik David. David, Reyhan, dan Dito memasang janji untuk bertemu di tempat tersebut.


Namun kehadiran Vanesha ditengah-tengah mereka membuat David sedikit bingung, karena biasanya pembicaraan mereka tidak melenceng dari pandangan mereka tentang para gadis. Tapi nampaknya pembahasa. itu tertunda karena satpam Dito tengah berjaga disebelahnya.


"Lama sekali Reyhan" keluh wanita berbadan dua itu seraya menyesap jus mangganya.


Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu kedatangannya pun menampakkan batang hidungnya.


Saat Reyhan melihat ada Vanesha bersama Dito, ia pun menghembuskan nafasnya.


"Ada apa denganmu?" tanya Vanesha menatap tak suka.


Reyhan hanya menelengkan kepalanya.


"Sekarang apa yang ingin kalian diskusikan" ucap Vanesha lagi sembari melipat tangannya didepan. Dito dan David hanya terdiam tanpa kata.


"Kau tidak perlu tahu, ini pembahasan tentang para pria" ujar Reyhan sedikit berbisik namun cukup jelas terdengar.


Vanesha mendecih mendengar ucapan dari Reyhan.


Makanan yang mereka pesan pun datang, seorang wanita dengan tersenyum ramah meletakkan makanan pesanan tersebut satu persatu di atas meja.


Namun saat mata seorang pelayan tersebut bertemu pandang, Reyhan sedikit terkejut.


"Kau.." ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Apa kalian saling kenal?" tanya David yang sedikit menelisik.


"Tidak.."


"Iya.."


Jawaban yang tidak sinkron dari kedua belah pihak tersebut membuat kening David berkerut.


"Bukankah dulu dia berkata untuk berlaku tidak saling mengenal di luar, tapi kenapa dia menjawab demikian" gumam Irene dalam hati.


"Sepertinya kau mempunyai seorang penggemar Irene" ucap David menaikan alisnya naik turun.


"Oh, tidak mungkin" ujar Irene mengelak.


"Anggap saja seperti itu" tukas Reyhan sembari menunjukkan seringaiannya.


"Skenario apa lagi yang ia ciptakan" ujar Irene dalam hati.


"Dia merupakan karyawan baru disini. Irene bekerja baru 3 hari" jelas David.


Tatapan Reyhan yang sedari menatap Irene membuat wanita itu sedikit risih. Reyhan menatapnya dengan lekat membuat wanita itu sesekali melemparkan pandangannya ke arah lain.


"Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Irene sedikit gugup.


"Kau mau kemana, calon istriku" seru Reyhan yang membuat beberapa pasang mata mengarah kepada Irene.


Irene pun menghentikan langkahnya, kalimat Reyhan mampu membuatnya ternganga. Bukan hanya dirinya, bahkan teman satu meja dengannya pun tampak terkejut saat mendengar ucapan Reyhan tadi.


.


.


.


Bersambung..




Jangan lupa dukungannya dalam bentuk like, komen, dan vote seikhlasnya.

__ADS_1


__ADS_2