
Alviro membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan dari mamanya tadi. Baru kali ini Alviro merasakan kemarahan dari sang mama, selama ini kesalahan apapun yang Alviro perbuat Regita tidak pernah melayangkan tangannya namun kali ini tampaknya sang mama benar-benar kecewa dengan keputusannya.
Regita langsung menuju ke rumah Alea. Ia merasa sangat bersalah karena permintaan konyolnya kepada Alea sehingga Alea harus menanggung semuanya. Regita cukup mengetahui sifat Alea, selama ini Alea pasti menyembunyikan kepedihannya dan bersikap seolah-olah rumah tangganya dalam keadaan baik-baik saja.
Regita mengetuk pintu rumah Alea, dilihatnya Alea yang keluar membukakan pintu dengan mata yang agak bengkak karena menangis.
Regita pun langsung menghambur kepelukan Alea tanpa permisi. Baginya semua penderitaan Alea saat ini adalah kesalahannya tanpa sadar ia pun telah menghancurkan masa depan Alea.
"maafin mama sayang, mama gak tau kalau selama ini kamu menderita karena ulah mama, tolong maafin mama" ujar Regita seraya menangis.
"ma. . mama gak salah ma, ini semua murni kesalahan Alea ma. Alea telah gagal menjadi istri yang baik bagi mas Al" tukas Alea yang juga menitikkan air mata sambil menepuk-nepuk belakang Regita untuk menenangkannya.
"andaikan saja mama gak minta kamu menikah dengan Alviro, pasti kamu sudah berbahagia dengan lelaki pilihanmu nak" ucap Regita.
"ma. . Alea tau semua yang mama lakuin itu hal yang terbaik untuk Alea, Alea juga tau apa alasan mama menjodohkan Alea dengan mas Al" tukas Alea
"jadi kamu udah tau semuanya?" tanya Regita tampak terkejut.
"tentu ma, bukankah salah satu foto mas Al waktu masih SD mama pajang diruang tengah" ujar Alea
Regita pun tampaknya baru menyadari kebodohannya itu.
"apakah Alviro mengetahui siapa kamu sebenarnya Leah?" tanya Regita lagi.
Alea menggelengkan kepalanya.
"Alea tidak pernah menceritakannya dengan mas Al. Alea hanya ingin Alviro tulus mencintai Alea tanpa mengetahui siapa Alea sebenarnya ma. Namun sepertinya takdir berkata lain ma, mas Al bukanlah jodoh Alea" ucap Alea lirih air mata pun lolos dari pelupuk matanya
Regita langsung menggenggam tangan Alea dan menghapus air mata Alea. Alea pun merasakan kasih sayang Regita yang begitu besar kepadanya. Alea sangat bersyukur karena telah mempertemukannya dengan sosok wanita yang hangat seperti Regita.
"mulai sekarang lakukanlah apa yang membuatmu senang nak, dirimu itu berharga dan kamu berhak untuk bahagia" ujar Regita.
mendengar kalimat yang dilontarkan Regita membuat Alea menangis sejadi-jadinya. Alea berhambur kepelukan Regita dan menangis dipelukan mama mertuanya itu.
"terimakasih ma. terimakasih untuk semuanya" ujar Alea sesegukan.
__ADS_1
"kamu tidak perlu seperti itu sayang, mama sudah menganggapmu seperti anak mama sendiri" ucap Regita.
Alviro mengernyitkan keningnya karena sinar matahari yang menerpa wajahnya melalui cela jendela kamarnya.
Ia beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi.
Alviro tampak menikmati pancuran air dari shower membasahi setiap inci tubuhnya. Ia mencoba untuk tetap bersikap tenang meskipun fikirannya tampak kacau.
Alviro pun bergegas menyelesaikan mandinya.
Alviro yang sudah tampak rapi dengan setelan kantornya.
"mas, sarapan dulu aku udah buatin sarapan untuk kamu"
Alviro pun mengarahkan pandangannya ke dapur.
Ia teringat sapaan Alea bersama dengan senyum terbaik yang setiap paginya memaksa untuk sarapan sebelum ia berangkat bekerja, namun sekarang tidak ada lagi sapaan yang selalu didengarnya setiap pagi, tidak akan ada lagi senyum terbaik yang diperlihatkan Alea kepadanya.
pandangan Alviro mulai mengabur, ia mendongakkan kepalanya menahan air matanya jatuh.
Alea berangkat bekerja dengan berjalan kaki. Kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat ia mencari rupiah.
sesampainya di tempat kerja, dilihatnya Tiara yang sudah berada disana terlebih dahulu.
"tumben jalan kaki" ujar Tiara yang tampak heran karena yang ia tau tempat tinggal Alea lumayan jauh.
"aku dan suamiku menginap dirumah yang dulu aku tinggali" ujar Alea berbohong.
Tentu saja temannya yang satu ini tidak mengetahui keretakan rumah tangga Alea. Alea adalah pribadi yang tertutup.
Tiara pun ber oh ria tanda nengerti.
Roland yang berada dilantai 4 hendak menuju ke lantai 8.
ia berdiri di depan lift.
__ADS_1
Tinggg. .
lift pun terbuka, ia tak menyangka akan bertemu dengan Clara seperti ini.
Roland pun langsung memasuki lift yang hanya ada Clara disana.
Roland menopang dagunya seraya memperhatikan Clara dari atas sampai ke bawah.
"apa lo liat-liat" bentak Clara.
"lo makin subur ya semenjak bunting, kayaknya lo bahagia banget ya sekarang" ejek Roland.
"bukan urusan lo" tukas Clara.
"kenapa lo gak cari aja cowok yang udah ngapa-ngapain lo? malah lo minta pertanggungjawaban ke Alviro" ujar Roland sembari tersenyum remeh.
"ehhh lo punya mulut dijaga ya kalo ngomong" Clara yang mulai tersulut emosi sambil menghentak kaki kirinya.
pintu lift pun terbuka namun Roland masih sempat memberikan ejekan kepada Clara
"duhhh ibuk bunting jangan kebanyakan gerak, nanti keguguran gak jadi nikah lo sama Alviro.
Upppsss. . aduh kenapa mulut gue kalo ngomong selalu bener ya" Ujar Roland sembari menutup mulutnya dengan gerakan gemulai seperti waria.
Roland pun meninggalkan Clara yang amarahnya semakin memuncak.
"brengsek" umpat Clara menggeram kesal.
Terimakasih sudah membaca sejauh ini, jangan lelah ya untuk kepoin ceritanya.
jangan lupa like dan komennya 😁.
see you in the next episode😉
salam manis RPS😊
__ADS_1