
Alviro yang tampak sibuk berbincang dengan seorang arsitek dilapangan. Akhir-akhir ini ia disibukkan dengan mengawasi proyek yang sedang digarapnya dan langsung terjun ke lapangan.
Hal tersebut membuatnya jarang sekali bertemu dengan Alea, meskipun ia amat merindukan gadis itu namun ia juga harus konsisten dengan pekerjaannya, apalagi mengingat waktu yang dimilikinya tinggal satu minggu disini.
Drrrtttt. . .
Ponsel Alviro bergetar, dilihatnya panggilan masuk dari sang mama. Alviro pun langsung mengusap layar ponselnya menjawab panggilan dari sang mama tersebut.
"halo ma. ."
"bagaimana kabar kamu disana Al? kenapa kamu jarang sekali mengabari mama?" tanya suara diseberang telepon.
"maaf ma, Al terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Kabar Al disini baik, bagaimana kabar mama sama papa disana?" tanya Alviro balik.
"baik sayang, kamu jaga kesehatan disana ya sayang, pulangnya jangan lupa bawa calon istri soalnya mama sama papa kamu udah pengen banget nimang cucu" ujar Regita seraya terkekeh.
"iya ma, Al juga lagi memperjuangkan cinta Al disini, doain semoga Al bisa berjodoh dengannya" ucap Alviro.
"berarti anak mama udah nemuin wanita yang cocok nih, iya sayang mama bakalan doain yang terbaik untuk kamu" ujar Regita.
Alviro pun langsung memutuskan sambungan teleponnya seraya tersenyum.
Entah mengapa ia tiba-tiba saja merindukan sosok Alea, karena sudah hampis satu minggu ini ia tidak mengusik Alea sama sekali.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Abizar menepikan mobilnya, ia melangkah gontai seraya membawa sebuket bunga. Abizar pun menghentikan langkahnya tepat didepan pusara Arfan.
Ia pun berjongkok disamping makam sahabatnya itu.
"maafin gue bro, gue gak tau kalau orang itu adalah lo" ujar Arfan dengan mata yang mulai memerah.
"gue. . gue. . terlalu ceroboh waktu itu nyeberang gak nengok kanan kiri, gue terlalu dibutakan oleh lesedihan gue" lanjut Abizar dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
"andaikan kemarin gue lebih hati-hati mungkin sekarang lo udah hidup bahagia Fan"
Abizar pun meletakkan bunga yang dibawanya tadi ke makam Arfan. Abizar menatap nisan Arfan seraya mengusapnya.
"sekali lagi gue minta maaf bro, dan gue janji akan
hidup dengan baik" ujar Abizar.
Abizar beranjak meninggalkan makam sahabatnya itu dengan perasaan sedih yang mendalam. Abizar akan memenuhi janjinya untuk menjalani hidup dengan baik.
.
.
.
.
Roland bergegas memasuki restoran yang tak jauh dari kantor, ia memilih mengisi jam makan siangnya untuk menikmati menu yang ada di restoran tersebut dan tentunya kali ini ia tidak akan makan sendiri lagi, karena ia sudah memiliki tambatan hati.
__ADS_1
Dilihatnya wanita yang sudah resmi menjadi pacarnya satu minggu ini tengah duduk sembari menunggu kedatangannya.
"hay Melmel" ucap Roland seraya menarik kursi.
"hay Roro" sahut Melly.
"emangnya pas jadian aku minta dibuatin seribu candi ya sama kamu Mel" ujar Roland.
"gak sih, lagian kamu duluan yang panggil aku Melmel" sahut Melly.
"iya juga sih, tapi kan unik aja gitu sayang gereget gitu pas manggilnya tapi kalau nama aku dipanggil gitu gak cocok sayang" ucap Roland.
"ya siapa suruh punya nama jelek" ejek Melly.
Roland pun langsung mencubit pipi Melly karena gemas.
"ihhh. . sakit Roro" ucap Melly seraya memegang pipinya.
"please call me honey no Roro, kalau kamu masih aja manggilnya Roro aku gak segan-segan cium kamu walaupun tempatnya rame" ujar Roland.
"hey Roro, ya udah nih cium" tukas Melly seraya memajukan bibirnya.
Roland pun langsung menciut, entah kenapa wanita yang ada dihadapannya ini selalu membuatnya ekstra berhati-hati.
"manusia yang bucinnya sampai mendarah daging " ujar wanita yang duduk tepat di belakang kursi Roland dan Melly.
Roland dan Melly pun langsung menoleh ke arah wanita tersebut.
"Tara. ." gumam Roland.
Roland pun tidak menjawab sama sekali.
"masih hidup lo !! kemarin lo ngomong gak bisa hidup tanpa gue" tukas Tara sinis.
"hati-hati mbak pacaran sama dia, dia itu playboy" ujar Tara pada Melly.
Roland hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mulut yang biasanya nyinyir kini seolah terkunci.
Melly pun langsung beranjak dari kursinya dan menarik tangan Roland kemudian menuju meja tempat Tara berada.
"emangnya kenapa kalau dia seorang playboy? manusia bisa aja berubah menjadi lebih baik, setidaknya saya memberinya kesempatan untuk dia supaya dia bisa menjadi lebih baik untuk saya, dan sejauh ini saya baik-baik saja" sahut Melly tegas
"ayo sayang kita cari makan ditempat lain aja" ujar Melly seraya merangkul lengan Roland dan berjalan keluar.
Roland sungguh benar-benar merasa terharu dengan jawaban Melly. Sesampainya diluar, Roland langsung memeluk Melly. Ia merasa beruntung mendapatkan wanita seperti Melly.
"sayang. . malu dilihat orang" ujar Melly yang berusaha melepaskan pelukannya.
"biarin. . anggap aja ini hukuman kamu yang tadi" ujar Roland seraya melepaskan pelukannya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Alea sepulang dari pemotretan langsung membersihkan dirinya. Setelah keluar dari kamar mandi, ia pun mengenakan baju dan langsung menuju ke sofa seraya menghidupkan televisi.
Tettt. .tettt. .
Alea pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu.
Dilihatnya Alviro yang melambaikan tangannya sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"mau apa?" tanya Alea.
Alviro mengabaikan pertanyaan Alea dan langsung memasuki apartemen Alea.
"setidaknya kamu izinkan tamu untuk masuk sebelum menanyai hal apapun" ujar Alviro
Alea pun langsung mendengus kesal.
"sekarang aku tanya kamu mau apa!?" ujar Alea ketus.
"aku mau kamu Leah" ujar Alviro
"apa??" tanya Alea yang kaget mendengar penuturan Alviro.
"aku mau makan masakan kamu Leah" Alviro mengulangi ucapannya namun ditambahkan beberapa kata.
"aku gak masak, bahan makanan dikulkas juga sudah habis" tutur Alea.
" ya udah kita belanja di supermarket, aku anterin, aku belanjain, terus kamu masakin makanan untuk makan malam aku" ujar Alviro menaik turunkan alisnya.
Alea tak bergeming, ia masih setia duduk sambil menonton televisi tanpa menghiraukan keberadaan Alviro.
Alviro yang melihat Alea mengacuhkannya langsung berdiri didepan televisi tersebut untuk menghalangi Alea menonton.
"minggir" teriak Alea.
"ayolah Leah, apa kamu tega memperlakukan aku yang kelaparan" ujar Alviro.
"kamu tinggal delivery aja kok repot" ucap Alea ketus.
"aku mau kamu masakin makanan buat aku Leah, ayolah Leah" tukas Alviro.
Alea merasa benar-benar kesal dibuat oleh Alviro, entah mengapa rasanya ia hendak membunuh Alviro saat ini juga, namun diluar kesadarannya, Alea pun mengiyakan permintaan Alviro.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like,komen dan vote nya yah.
__ADS_1
Maafkan author yang baru up dikarenakan beberapa hari kemarin author sakit.
salam manis RPS😊