Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 42


__ADS_3

Aurel memandang dirinya di cermin. Gaun pengantin yang mewah sangat cocok melekat di tubuh indahnya. Ia pun mengulas senyumnya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Saat gorden yang terletak bersebrangan terbuka, Dilihatnya lelaki yang akan menjadi suaminya dalam hitungan hari.


Pria itu tengah mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu membuat lelaki itu semakin tampan di mata Aurel.


Pandangan mereka bertemu, masing-masing dari mereka saling menatap. Rasya pun tak bisa menyembunyikan rasa takjub pada wanita yang juga menatapnya. Jika ada yang bertanya siapa wanita tercantik sejagad raya? jawabannya adalah Aurel, wanita yang sebentar lagi menjadi milik pria itu seutuhnya.


"Ehemm.." Alea tiba-tiba saja berdehem saat melihat keduanya saling memandang, dengan mengabaikan keberadaan wanita tua yang kini berada di tengah-tengah mereka.


Rasya yang baru saja tersadar hanya mengusap tengkuknya, sedangkan Aurel menunduk malu.


"Ini udah cocok untuk kalian, untuk hari ini cukup disini saja dulu. Lagian kalian juga akan bekerja" ucap Alea yang melangkahkan kakinya menunggu keduanya di depan.


...


Setelah berganti ke pakaian semula, Aurel dan Rasya menghampiri mamanya yang sudah menunggu diparkiran. Setelah berpamitan, Rasya langsung memasuki mobilnya dan langsung menuju kliniknya. Sedangkan Aurel mengantarkan mamanya pulang terlebih dahulu dan langsung pergi ke tempat kerjanya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Keesokkan harinya


Aurel baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Diliriknya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Belum lama kemudian notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi. Aurel langsung mengusap layar pipih itu.


Aku menunggumu di parkiran.


Pesan singkat yang dikirimkan oleh Rasya sukses membuat kening Aurel berkerut. Aurel pun langsung bergegas turun. Dilihatnya Rasya dari kejauhan sudah melambaikan tangannya.


"Ada apa?" tanya Aurel seraya menghampiri Rasya.


"Apakah aku tidak boleh menemui calon istriku?" ujar Rasya.


"Bukan begitu"

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu pulang bersama" ucap Rasya.


"Tapi aku bawa mobil" ujar Aurel.


"Aku akan mengantarmu dengan cara yang berbeda" ucap Rasya seraya menduduki sepeda motor yang baru dibelinya.


"Ini..?"


"Aku membelinya kemarin, ada yang mengatakan bahwa menaiki ini akan terlihat lebih romantis" ujar Rasya.


"Romantis?" Aurel sedikit ambigu dengan ucapan Rasya barusan.


"Berarti kemarin-kemarin aku dengan ojol itu bisa dikategorikan romantis" batin Aurel.


"Sayang, kenapa kamu diam. Apakah kamu keberatan jika aku mengantarmu pulang dengan hanya menaiki motor?" tanya Rasya.


"Aku tidak keberatan, sungguh. Hanya saja aku sedikit bingung definisi romantis saat kamu mengaitkannya dengan sepeda motor" ucap Aurel.


Rasya menelengkan kepalanya,memberi aba-aba pada gadis itu untuk segera naik. Aurel pun langsung menaiki motor yang dikendarai oleh Rasya.


Belum lama kemudian Rasya merasa ada sesuatu yang keras yang menempel di punggungnya, membatasi jarak diantara keduanya. Dan sungguh hal tersebut sangat tidak nyaman bagi Rasya.


"Apakah kamu bisa meletakkan tas mu disamping saja?" tanya Rasya.


"Apa? aku tidak begitu jelas mendengarnya" ucap Aurel yang mendengar penuturan Rasya hanya mengudara saja saat pria itu mengendarai motor tersebut.


Rasya tidak membalas ucapan Aurel, mereka menyusuri jalanan malam tanpa bersuara sedikit pun. Malam ini keduanya jauh dari kata yang dikategorikan romantis. Sebelumnya yang dibayangkan Rasya adalah menyusuri jalanan sembari Aurel melingkarkan tangan dipinggangnya, namun kenyataannya mereka berdua layaknya tukang ojek dan penumpangnya.


Jangankan untuk melingkarkan tangannya, jarak keduanya pun terhalang oleh tas yang diletakkan Aurel pembatas jarak mereka berdua. Meskipun begitu, Rasya sedikit memahami karena bagaimanapun juga pria itu tahu jika dia dia adalah pacar pertama sekaligus terakhir dari gadis yang kini bersamanya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Diruang tengah, Roland dan Melly tampak asyik menonton sebuah drama action. Belum lama kemudian, Vanesha bergabung bersama kedua orang tuanya seraya memeluk toples yang berisi cookies, dan mulutnya yang masih mengunyah cookies tersebut. Vanesha duduk disamping Melly.


"Nes.. kamu ada main lagi ke apotik yang kemarin?" tanya Roland.


"Udahlah pa, papa selalu nyuruh Vanesh kesana buat nemuin yang namanya Totok itu kan" ujar Vanesha memberengut.


"Namanya bukan Toto, papa lupa namanya siapa kemarin. Dia anaknya baik, papa setuju kalau kamu dengan pemuda yang seperti itu" ujar Roland.


"Ayolah pa, berapa kali lagi Vanesh bilang kalau Vanesh itu udah punya pacar" tukas Vanesha.


"Papa kurang yakin dia anak yang baik, pergaulan sekarang juga agak horor. Papa takut saja jika nantinya kamu merugi" tutur Roland.


"Ya udah nanti aku kenalin orangnya ke papa, biar papa nilai sendiri pacar aku baik apa nggaknya" ucap Vanesha


"Aduh.. jangan berisik dulu. Mama mau fokus nonton si ganteng ini" ujar Melly.


"Ganteng apanya? jauh gantengan papa" ucap Roland yang penuh percaya diri.


Melly yang mendengar hal tersebut langsung mencebikkan bibirnya, sementara Vanesha hanya memutar bola matanya mendengar ucapan papanya.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, dan vote yak gengs. Biar aku tambah semangat up nya.


salam manis Ryn ❤

__ADS_1


__ADS_2