
Sore ini Irene dan Reyhan berada di supermarket. Reyhan yang tengah mendorong troli yang berisikan belanjaan, sedangkan Irene tengah memilih daging yang ada ditangannya. Sembari melihat label harga yang ada pada daging tersebut.
Reyhan langsung mengambil beberapa daging dengan harga yang lebih tinggi dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan mereka.
"Hei bukankah itu sangat mahal" ucap Irene.
"Jika kau memilih belanjaanmu berdasarkan harga yang rendah, maka kau tidak akan pernah mendapatkan bahan yang berkualitas" ujar Reyhan kembali mendorong troli tersebut.
"Setidaknya mereka sama-sama daging, lagi pula kau harus lebih berhemat sedikit" gumam Irene yang kemudian menyusul langkah Reyhan.
Setelah cukup lama berkeliling, keduanya pun menuju ke meja kasir dan melakukan transaksi pembayaran.
...
"Apa kau sudah mengabari papa bahwa kita akan ke sana?" tanya Irene.
"Tentu saja, semuanya telah ku persiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan apapun" sahut Reyhan yang masih fokus mengemudi.
Tak lama kemudian, keduanya pun memasuki pekarangan rumah Surya. Reyhan pun memberhentikan mobilnya. Dilihatnya mertua serta kakak iparnya tengah menyambut kedatangannya.
Irene mengedarkan pandangannya, melihat-lihat sekitar rumah Papanya itu. Ini adalah pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah orang tuanya.
"Ayo masuk nak" ajak Surya.
Irene pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.
...
Keempat orang tersebut kini tengah berada di belakang halaman rumah Surya. Halaman luas nan asri dan memiliki sebuah kolam ikan.
__ADS_1
Irene dan papanya tengah memanggang daging yang dibelinya tadi untuk dibuat barbeque, sementara Reyhan dan Arya berbincang sembari menata meja.
"Besok kami akan berangkat ke luar kota, apakah kau mau ikut?" tanya Reyhan.
"Banyak hal lain yang aku urus. Lagi pula untuk apa? hanya menjadi tameng untuk menyaksikan kalian bermesraan?" ketus Arya.
"Tidak hanya berdua, sekertarisku akan ikut bersama kami" jelas Reyhan.
"Apakah sekertarismu cantik?" tanya Arya pada Reyhan.
Irene yang sempat menangkap pertanyaan dari abangnya itu segera memasang telinga untuk mendengar jawaban dari Reyhan.
"Tentu saja cantik, jika aku memberi nilai untuknya dia mendapat angka delapan dariku" ujar Reyhan sembari menyipitkan matanya.
Mendengar jawaban dari Reyhan tentu Irene sangat kesal. Ia pun membalik daging panggangannya itu dengan sedikit kasar.
"Dasar menyebalkan" ketus Irene kesal.
...
Mereka berempat tengah menikmati barbeque yang telah tersaji. Irene memakan barbeque tersebut dengan lahap sembari menatap tajam ke arah Reyhan. Tentu saja gadis itu marah karena merasa cemburu.
Irene tanpa sadar telah meninggalkan bekas noda saus di sudut bibirnya. Arya melihat tersebut langsung mengambil tisue untuk menyeka sudut bibir adiknya itu. Namun Reyhan meraih tisue ditangan Arya dan menyeka noda saus di bibir istrinya itu.
Irene menatap tajam ke arah Reyhan. Pria itu pun sedikit bingung karena Irene terlihat marah padanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Reyhan sedikit ragu.
Irene pun dengan sengaja menaruh kembali saus diujung bibirnya. Ia pun mengambil tissue dan kemudian mengelapnya sendiri.
__ADS_1
"Apa itu? menggelikan sekali" ujar Arya melihat raut wajah Irene yang kesal.
Reyhan saling bertatapan dengan Arya, seolah bertanya apa yang membuat gadis itu kesal. Tampaknya Arya tak mengetahuinya begitu pula dengan Reyhan.
Keduanya pun mengalihkan pandangannya pada Surya. Pria tua itu hanya menelengkan kepalanya seolah tak tahu apa yang terjadi pada Irene sebelumnya.
...
Reyhan dan Irene menuju perjalan pulang. Jika biasanya gadis itu sangat berisik, kini Irene lebih pendiam. Reyhan mengusap tengkuknya mencoba berfikir ia melakukan kesalahan apa pada gadis itu, namun tetap saja pria itu tidak menemukan alasannya.
"Aku masih sedikit bingung, apa aku melakukan kesalahan padamu?" tanya Reyhan menelisik.
"Fokus saja menyetir" ucap Irene singkat jelas dan padat.
Reyhan pun menepikan mobilnya, mencoba berbicara baik-baik dengan Irene.
"Kesalahanku dimana? katakan padaku" tanya Reyhan dengan nada selembut mungkin.
Lama Reyhan menunggu jawaban dari Irene, namun gadis itu tetap bungkam. Ia pun menghembuskan nafasnya dengan kasar dan kembali melajukan mobilnya.
"Besok kau saja yang pergi ke luar kota, aku tidak ikut" ujarnya yang masih merajuk.
"Baiklah" timpal Reyhan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...