
Reyhan memberhentikan mobilnya tepat di halaman rumahnya. Ia pun segera turun dari mobilnya. Namun belum lama kemudian, kedua keponakan kembarnya berlarian menghampirinya.
"Hei jangan berlari nanti kau terjatuh" ucap Reyhan.
"Om.. om.. yang dibilang ayah itu benar ya?" tanya Aretha.
Kening Reyhan mengkerut, ia sedikit bingung dengan apa yang baru diucapkan oleh keponakannya itu.
"Apa yang dikatakan ayahmu?" tanya Reyhan.
"Kita punya tante baru" celetuk Arden.
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya, kemudian membawa kedua keponakannya itu masuk ke dalam rumah.
"Bahkan kedua bocah ini pun tahu" gumam Reyhan seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
...
"Nak.. kamu sudah pulang. Bagaimana? apakah design undangannya bagus? lihatlah pilihan mama tidak akan salah" ujar Irsya yang tampak kegirangan sembari menunjukkan undangan lainnya.
"Iya bagus ma.." jawab Reyhan tampak malas.
"Tapi kenapa kamu sepertinya tidak bersemangat seperti itu?"
"Reyhan sangat terkejut dengan kejutan yang mama kirim. Dan hari ini Reyhan juga mendapat banyak sekali ucapan dari rekan kerja. Dan Irene sama terkejutnya dengan Reyhan yang baru saja tahu bahwa dirinya akan menikah" jelas Reyhan.
"Apakah Mama terlalu cepat mengambil langkah? mama hanya ingin kamu menikah. Apalagi usiamu itu sudah tidak muda lagi" gumam Irsya sedikit murung.
Melihat mamanya terlihat sedih membuat Reyhan semakin merasa bersalah. Ia pun segera menghampiri ibunya itu dan memeluk wanita yang sudah melahirkannya.
"Ma.. Reyhan juga sangat senang dengan pernikahan ini. Dan terimakasih atas kejutannya" ucap Reyhan sembari menenangkan ibunya.
"Mama berharap banyak dengan pernikahan kamu nak" lirih Irsya.
...----------------...
Di lain tempat Irene berbaring di atas kasurnya sembari memegang undangan yang diberikan oleh Reyhan tadi. Pandangannya tak lepas dari kertas yang bertuliskan namanya itu.
"Haruskah aku bahagia? atau bersedih? disisi lain aku merasa senang bukan karena dicintai lelaki yang akan menjadi suamiku nanti melainkan aku mendapatkan sebuah keluarga yang aku impikan selama ini. Tapi bagaimana dengannya? Tuluskah dia menerimaku menjadi pendamping hidupnya?" gumam Irene dengan perasaan yang berkecamuk.
__ADS_1
Wanita itu bangkit dari tempat tidurnya. Membuka jendelanya untuk menatap keluar. Malam itu hujan turun dengan sangat derasnya.
Terngiang jelas dalam ingatan Irene saat itu, dimana wanita itu ditelantarkan oleh manusia yang tak bertanggung jawab. Yang mengadopsinya hanya untuk memberikan uang kepada para manusia pemalas.
Rasa nyilu bekas cambukan kala itu masih terasa. Gadis kecil yang malang itu harus menerima beban hidup yang begitu berat, hingga akhirnya ia harus mengemis kesana kemari hanya untuk mengisi perut-perut manusia laknat itu.
"Akhhh.." teriak Irene sembari menutup kedua telinganya.
Hujan mengingatkannya pada semua kenangan buruk yang ia alami. Trauma yang amat mendalam ia rasakan kembali bersamaan dengan turunnya hujan. Dimana ia mampu bebas dari lumpur namun saat itu juga ia jatuh ke lubang yang amat dalam.
"Aku.. aku tidak bisa menikah dengannya" ujar Irene sembari menangis tersedu.
Kenangan kelam yang ia tutup rapat-rapat, kini seolah kembali terjadi. Bersamaan dengan turunnya hujan yang mengingatkan bahwa dirinya adalah manusia sampah yang tidak pantas untuk menikah dengan pria seperti Reyhan.
Sekilas Irene terlihat gadis yang kuat dan ceria, namun sesungguhnya tak lain bahwa ia gadis yang amat rapuh.
...----------------...
Irene bangun saat sinar mentari menerpa dirinya. Ia baru sadar jika dirinya tertidur masih dengan posisi duduk sembari memeluk lututnya. Irene mencoba bangun dengan kepala yang sedikit terasa pusing.
Ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu Irene pun bersiap untuk berangkat bekerja.
...
"Apakah kau sakit?" tanya wanita itu.
"Oh tidak, aku hanya sedikit tidak enak badan saja" sahut Irene.
"Apa kau sudah minum obat?" tanyanya lagi.
"Sudah.." ujar Irene sembari mengulas senyumnya.
Belum lama kemudian David pun datang menghampiri Irene. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menjabat Irene.
Irene yang awalnya tidak tahu apa-apa membalas jabatan tangan dari atasannya itu.
"Saya ingin mengucapkan selamat terlebih dulu untuk pernikahanmu" ujar David.
Irene sedikit tercengang sembari mengedipkan matanya beberapa kali. Sontak saja karyawan yang mendengar ucapan dari David tersebut segera memberikan ucapan selamat pada Irene.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin undangan itu tersebar dengan begitu cepatnya" batin Irene.
Belum lama kemudian, Irene merasakan mual yang amat luar biasa.
Uwekk.. uwekk..
Irene sembari memegangi mulutnya segera menuju ke kamar mandi. Beberapa orang terlihat berpandang-pandangan, dan David pun ikut bingung.
"Apakah dia sedang sakit? aku melihat wajahnya agak pucat" gumam David.
"Apa jangan-jangan dia sedang.." ucapan salah satu karyawan David terputus kemudian memegangi perutnya.
"Maksudmu Irene hamil?" ujar David sedikit terkejut.
Karyawan itu pun mengangguk tanda mengiyakan ucapan David.
Irene yang keluar dari kamar mandi segera kembali ke tempatnya tadi. Ia melihat beberapa orang disana memandangnya dengan tatapan aneh. David pun juga begitu.
"Ada apa?" tanya Irene bingung.
"Irene apakah kau hamil?" ucap David spontan.
"Selamat ya Irene akan menjadi calon ibu" seru karyawan yang lainnya berjingkrak kegirangan.
"Ha..hamil?! aku tidak hamil" kilah Irene.
Namun karyawan lainnya tetap memberikan selamat dengan Irene.
"Astaga Tuhan.. kesalahpahaman apalagi ini" batin Irene
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa dukungannya berupa like, komen, dan vote.
__ADS_1
Salam manis dari author remahan rengginang🖤