
Pagi ini, Aurel bersuap-siap hendak berangkat ke tempat kerjanya. Ia pun hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya tersebut saat melihat seorang pria yang seusia dengan papanya itu tampak mondar-mandir di depan gerbang rumahnya.
Aurel pun langsung menghampiri pria tersebut.
"Bapak cari siapa?" tanya Aurel
"Maaf sebelumnya, saya mau tanya. Apakah benar ini kediamannya Bapak Alviro Dirgantara?" tanya pria tersebut.
"Iya benar Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aurel lagi.
"Bisakah saya bertemu dengan beliau? ada hal penting yang ingin saya bicarakan" tutur pria tersebut.
"Maaf pak, untuk saat ini Papa saya sedang berada di luar kota dan besok ia baru pulang" jelas Aurel.
"Oh baiklah, kalau begitu saya akan menemuinya di lain waktu saja" ucapnya sembari tersenyum.
Kemudian pria tersebut menyeret kakinya untuk pergi dari tempat itu, namun belum lama kemudian Aurel pun memanggilnya lagi.
"Tunggu sebentar Pak" cegah Aurel.
Pria tersebut menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap Aurel.
"Kalau boleh tau, nama Bapak siapa? biar saya kasih tahu Papa saya kalau udah pulang" ujar Aurel.
"Kalau begitu saya akan bertanya sebaliknya nak. Apakah kamu mengenal wanita yang bernama Clara?" tanya pria tersebut.
Aurel pun menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala.
"Sebut saja Clara saat kamu menjelaskannya dengan Papamu nanti" ujar lelaki tersebut kemudian tersenyum sinis. Ia pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Ternyata kamu tidak menepatinya, Alviro" gumam pria tersebut.
Sedangkan Aurel memasang wajah yang bingung. Entah apa yang baru saja pria tadi ucapkan membuatnya semakin bingung.
Drrrtttt...
Lamunannya seketika buyar saat ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Ia pun langsung mengusap layar ponselnya tersebut.
"Ada apa Kinan?" tanya Aurel.
"Ada salah satu pelanggan yang membuat keributan Bu" ucap suara dari seberang telepon yang tidak lain merupakan staf yang bekerja di Shopie Apparel.
Aurel pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Baiklah saya akan segera kesana" ucap Aurel yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Aurel bergegas masuk ke dalam mobilnya dan menuju jalanan.
.
__ADS_1
.
.
Aurel memarkirkan mobilnya, ia pun langsung masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang dikelolanya saat ini.
Aurel tercengang saat melihat siapa tukang pembuat onar di tempat ia mengais pundi rupiah itu.
"Siska.." gumam Aurel yang tampak frustasi dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Siska memegang 10 setelan wanita serta aksesoris berupa jam tangan yang ada ditangannya saat ini.
"Apa yang dilakukan oleh wanita ini?" tanya Aurel pada salah satu stafnya.
"Dia bilang kalau Ibu membebaskan dia mengambil apa saja dan memberikannya secara cuma-cuma" ujar salah satu staf tersebut.
Siska pun mendongakkan wajahnya seolah menagih apa yang diucapkan oleh Aurel waktu itu.
Damn!
Rasanya Aurel hendak meratakan wajah wanita ini dengan alat berat.
"Gue cuma nagih tawaran yang kemarin" ujarnya penuh percaya diri.
"Oh.." jawab Aurel singkat sembari tersenyum. Namun dalam hatinya ia sangat kesal pada wanita yang ada dihadapannya saat ini, rasanya ia ingin mencekik wanita tersebut.
Pegawai yang ada disana pun tampak terkejut saat mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut atasannya itu.
Bagaimana tidak?
Barang yang berada ditangan wanita tersebut merupakan merk ternama dan harganya pun mencapai ratusan juta.
"Tunggu apa lagi, bungkus sekarang!" perintah Aurel.
"Dan buat kakak kelas gue yang cantik, kurang afdol kalau cuma singgah tanpa minum teh. mari ikut ke ruangan gue" ajak Aurel dengan nada yang penuh penekanan.
Siska pun mengikuti langkah Aurel menuju ruangannya.
Sesampainya disana, Aurel langsung mempersilahkan Siska duduk dan menyuguhkan secangkir teh yang ia buat.
"Tenang, gue nggak masukin obat pencahar didalam teh itu" ucap Aurel yang melihat Siska tampak ragu-ragu menyesap teh tersebut.
"Iya siapa tahu aja, Lo dendam sama gue setelah ini"ujar Siska.
"Tenang aja kakak kelas, gue kalau mau balas dendam dengan cara yang lebih cantik yang tentunya langsung buat Lo sadar" timpal Aurel seraya melipat kedua tangannya.
"Maksudnya?"tanya Siska yang tampak bingung.
Belum lama kemudian..
__ADS_1
"Siska.." seru lelaki dengan nada tinggi.
"Johan.." gumam Siska bergetar.
"Pulang kamu sekarang!" ujar Johan yang sedikit menarik istrinya itu.
Siska pun menatap Aurel dengan tatapan penuh kebencian, sedangkan Aurel hanya membalas dengan tersenyum sinis.
"Maafkan tingkah istri saya Aurel" ucap Johan tertunduk malu.
Tentu saja ia malu dengan kejadian tersebut. Bagaimana tidak? Saat Aurel tidak membalas cintanya semasa putih abu-abu, dengan lantangnya Ia menyumpahi Aurel dengan berkata "Apapun yang ia lakukan kelak, tentu saja akan selalu membawanya ke garis kemiskinan" Seolah wanita itu selalu sial di masa yang akan datang.
Namun, kini bak menjilat ludah di tanah. Sumpah serapahnya itu berbalik pada dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa Johan, aku yang telah mengundangnya kesini kemarin" ucap Aurel seraya tersenyum.
Johan hanya tertunduk tak ada keberanian sedikitpun untuk menatap Aurel. Siska yang geram melihat Johan bertingkah demikian langsung menariknya keluar.
"Ayo pulang!" ujar Siska.
Ia pun membawa barang-barang yang diambilnya tadi.
"Letakkan semua barang-barang itu!" ujar Johan tegas.
Siska pun tak mengindahkan ucapan suaminya itu, ia tetap bersikeras membawa semua barang-barang tersebut.
"Aurel, aku akan membayarnya nanti" ucap Johan.
"Tidak apa Johan, anggap saja itu kado pernikahan dariku" tukas Aurel.
Johan pun bungkam. Belum lama kemudian suara sang istri berteriak memanggilnya untuk pulang. Johan pun berpamitan dengan Aurel dan mengucapkan terimakasih.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk like, komen, dan votenya ya sayang-sayangku 😘.
Di part ini aku munculin lagi nama Clara, cuma nama bukan orangnya ya😅 yang udah pernah baca novel Jangan Pergi, pasti udah nggak asing lagi dengan sosok ini😂
salam manis Ryn
__ADS_1