Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 15. Pengusir Hantu


__ADS_3

Reyhan menepikan mobilnya didepan kontrakan Irene. Ia mengalihkan pandangannya ke samping dan mendapati wanita yang ada disebelahnya itu tengah tertidur pulas seraya mulut sedikit ternganga.


Reyhan mengambil ponsel didalam sakunya, dan dengan sengaja memotret Irene dengan pose yang tidak mengenakkan seperti itu.


"Cukup mengerikan" gumam Reyhan.


"Mungkin bagus untuk dijadikan pengusir hantu" lanjutnya lagi yang kemudian memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam sakunya.


Reyhan melihat Irene dengan seksama kemudian menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah gadis yang tidak ada kesan anggunnya sama sekali.


"Kau seperti kerbau yang sedang tertidur" ucap Reyhan lagi.


Pria itu pun menekan klakson dengan lumayan lama hingga menimbulkan suara yang begitu keras.


Seketika Irene terlonjak kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Hei hentikan apa kau sudah tidak waras?" ketus Irene.


"Cara ampuh untuk membangunkan kerbau yang sedang tertidur" ujar Reyhan sembari tersenyum miring.


Irene hanya melemparkan tatapan membunuh pada Reyhan sembari mengelap air liur yang ada di sudut bibirnya akibat posisi tidur sembari ternganga.


"Hei kau jorok sekali, setidaknya gunakan tissue" ucap Reyhan sembari melihat Irene dengan tatapan sedikit ngeri.


Irene pun hanya tersenyum nakal, kemudian ia pun sedikit mendekat dengan Reyhan. Melihat Irene yang semakin mendekat membuat Reyhan sedikit menjauh.


Namun Irene segera menarik lengan baju Reyhan, ia pun mengucapkan terimakasih dengan sedikit berbisik. Dan kemudian mengelapkan sisa air liur tadi yang ada disudut bibirnya ke baju Reyhan.


Setelah melakukan hal tersebut, Irene bergegas turun dari mobil.


"Hei apa kau sudah gila?!" teriak Reyhan yang kemudian keluar dari mobilnya.


Irene yang sudah berlari kencang dan masuk ke dalam kontrakannya membuat Reyhan menghentikan pengejarannya. Ia pun kembali memasuki mobilnya dan mengelap lengan bajunya tersebut menggunakan tissue yang ada di mobil.


"Wanita gila, sinting, apa dia tidak tahu harga kemejaku lebih mahal dari gaji sebulan yang dia peroleh" oceh Reyhan yang mengelap lengan bajunya dengan beberapa tissue.


Reyhan yang tampak kesal pun melemparkan kotak tissue ke sembarang tempat, dan ia pun melajukan mobilnya dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


...****************...


Arden dan Aretha tengah mengerjakan tugas sekolah. Arden yang tampak dengan mudah mengerjakan tugas tersebut, berbanding terbalik dengan Aretha yang tampak berfikir keras namun tak menemukan jawabannya.


"Den coba lihat itu" ucap Aretha yang menunjuk ke arah jendela.


Arden dengan sigap menutup buku tugasnya, karena ia sudah paham betul salah satu trik dari saudara kembarnya untuk mencontek jawaban miliknya.

__ADS_1


"Dasar pelit" ucap Aretha.


Belum lama kemudian, Aurel pun masuk ke dalam kamar anaknya sembari membawa nampan yang berisi dua gelas susu.


"Bunda.. bunda.. Retha mau nyontek jawaban Arden" ucap jagoan kecil pasangan Rasya dan Aurel


"Mencontek adalah perbuatan yang tidak terpuji, jadi jangan lakukan itu" ujar Aurel memperingati.


"Coba sini bunda lihat" lanjut Aurel memperhatikan tugas kedua anaknya tersebut.


Dilihatnya Arden yang sudah menyelesaikan tugas sekolahnya dengan jawaban yang tepat sedangkan Aretha yang belum sama sekali menjawab tugas tersebut.


"Arden pintar ia mengerjakan semua soalnya dengan benar, akan tetapi Aretha.." ucapan Aurel terhenti dan hanya menggelengkan kepalanya saja saat menatap putrinya itu.


Aretha hanya tertunduk diam.


"Apa yang kamu lakukan di sekolah nak, lain kali saat guru menjelaskan harusnya kamu memperhatikan" lanjut sang bunda.


"Retha di sekolah main barbie-barbiean bunda, Retha bawa Barbie ke sekolah" ujar Arden sembari menunjuk tas saudara kembarnya tersebut.


Aurel langsung menggeledah tas putrinya itu, dan benar saja ia menemukan tiga buah boneka Barbie ada didalam tas tersebut.


"Untuk sementara bunda sita dulu mainanmu" ucap Aurel.


"Iya bunda" ucap Arden seraya menganggukkan kepalanya.


Aurel pun mengusap rambut kedua anaknya dengan penuh sayang, kemudian ia pun melangkah keluar sembari membawa mainan milik Aretha.


Aretha mencebikkan bibirnya sembari menitikkan air mata tanpa mengeluarkan suara tangis saat melihat mainannya tersebut disita oleh ibunya.


"Udah-udah jangan nangis, aku ajarin ya" ucap Arden sembari mengusap air mata saudara kembarnya itu.


Aretha pun yang masih dalam keadaan merajuk segera menepis tangan Arden.


"punyaku buat kamu, tapi janji jangan nangis lagi" bujuk Arden lagi sembari menunjuk gelas susu.


Aretha pun langsung diam dan mengambil jatah susu milik Arden dan menghabiskannya hingga tandas. Kemudian ia beralih ke segelas susu yang merupakan jatahnya dan menghabiskannya.


"Makasih" Aretha sembari menghapus jejak susu yang tertinggal di bibir bagian atas.


Arden pun hanya mengangguk seraya mengelus puncak kepala adik yang berjarak lima menit darinya.


...****************...


Irene melakukan aktivitas seperti biasanya. Ia pun berjalan memasuki tempat kerja yang tak lain merupakan resto milik David.

__ADS_1


Irene melemparkan senyum ramahnya kepada setiap karyawan yang juga bekerja disana. Irene merasa beruntung saat di pekerjakan ditempat yang membuatnya merasa nyaman sedari awal bekerja ditempat tersebut.


Jika kebanyakan di tempat kerja lain karyawan lama selalu memberikan banyak tugas untuk karyawan yang masih training. Namun beda dengan disini.


Irene memberhentikan langkahnya saat ia berada tepat didepan loker. Mengganti pakaiannya dengan seragam resto.


Saat ia hendak menuju ke dapur resto, David pun menghadangnya dari depan pintu.


"A..ada apa pak?" ucap Irene sedikit gugup saat berhadapan dengan pemilik resto langsung.


"Kamu saya pindahkan ke bagian kasir" ujar David seraya menyunggingkan senyumnya.


"Ta..tapi pak.."


"Aku tidak ingin calon istri dari sahabatku terlalu lelah bekerja denganku. Dulu Reyhan banyak membantuku dan kini saatnya aku yang membalas kebaikannya melalui kamu" jelas David.


"Tapi kan pak saya cuma.."


"Saya tidak terima penolakan dari kamu, dan sekarang kamu yang mengisi posisi tersebut" ujar David yang tak mau kalah.


"Terimakasih pak" ucap Irene sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak usah sungkan, kamu calon istri Reyhan dan Reyhan itu sahabat saya. Kalau di luar kamu tidak usah panggil saya pak, panggil saja David tapi kalau di tempat kerja kamu boleh memanggil saya dengan sebutan tadi" tutur David.


"Baik pak"


"Ya sudah kalau begitu selamat bekerja" ujar David sembari melangkahkan kakinya.


Irene pun kembali melanjutkan pekerjaannya, namun kali ini Reyhan lagi-lagi menolongnya. Karena Reyhan Irene tetap bisa tinggal dikontrakkan itu, karena Reyhan Irene juga dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga walaupun cuma bersandiwara menjadi kekasihnya, karena Reyhan juga lah Irene mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu lelah seperti di dapur resto.


"Apakah aku terlalu serakah dengan semua ini? dan apakah aku juga harus merenggut masa depannya?" pertanyaan demi pertanyaan kini bermunculan di benak Irene.


"Setidaknya ia menikahi wanita yang dicintainya dan aku seharusnya tidak melangkah sejauh ini karena dia terlalu banyak berbuat kebaikan yang tak mungkin bisa aku balas. Setidaknya aku mengembalikan salah satu dari semua itu" Gumam Irene pelan.


.


.


.


Bersambung..



__ADS_1


__ADS_2