
Huekkk..Hueekkk...
Irene memuntahkan semua makanan yang ada diperutnya pagi ini. Gadis itu terkulai lemas, tubuhnya seakan tidak bertenaga lagi.
"Istriku, sebaiknya kau istirahat saja" ucap Reyhan yang langsung membopong tubuh istrinya itu ke atas kasur.
"Maaf ya sayang, aku tidak bisa ikut ke kantor denganmu" ujar Irene.
"Aku sebenarnya tidak ingin mempekerjakanmu, tetapi melihatmu merasa bosan dirumah, aku berinisiatif membawamu ke kantor. Tapi untuk seterusnya kau lebih baik di rumah saja" perintah Reyhan.
Pria itu menekan kontak yang ada di ponselnya. Memanggil salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit miliknya itu.
"Dokter Mira, begini dok.. bisakah anda ke rumah saya sebentar? saya ingin meminta anda memeriksa istri saya" ujar Reyhan.
"Baik..baik saya tunggu" ucapnya lagi yang kemudian memutuskan panggilan teleponnya.
Reyhan duduk di sisi tempat tidur. Di usapnya surai hitam milik istrinya itu.
"Kenapa harus kau yang sakit, biar aku saja yang merasakannya" ucap Reyhan tulus.
"Sayang, aku sakit itu wajar. mungkin karena aku masuk angin atau kelelahan setelah perjalanan kemarin" jelas Irene.
"Aku tidak ingin melihat kau sakit seperti ini" ujar Reyhan yang beralih membingkai wajah istrinya.
Irene tersenyum saat merasakan ketulusan dari suaminya itu.
"Lebih baik sekarang kau berangkat ke kantor" titah Irene.
"Tidak... Aku ingin menemanimu saja" timpal Reyhan.
"Selain diriku, pekerjaanmu juga tanggung jawabmu. Kau bahkan kemarin mengambil cuti hampir dua bulan lamanya, dan sekarang sudah saatnya untuk masuk kerja" ujar Irene menasihati suaminya itu.
"Tapi sayang .."
"Tidak ada tapi-tapian, aku disini baik-baik saja. Lagi pula ada Bik Lastri yang menemaniku, jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Irene panjang lebar.
"Baiklah kalau begitu, kabari aku setelah ini" ujar Reyhan.
Irene pun menganggukkan kepalanya sembari menarik segaris senyum diwajah yang sedikit pucat. Irene menatap punggung Reyhan yang semakin mengecil dan menghilang dari pandangannya.
Irene mencoba bangkit dari tidurnya meskipun dengan kondisi tubuh yang masih sedikit lemas. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi. Mengambil benda pipih didalam gelas yang sudah berisi air urinenya itu.
Saat melihat benda pipih tersebut menunjukkan dua garis, Irene pun menangis bahagia. Rasa mual yang sedari tadi mengganggunya tak terasa saat melihat hasil tespek tadi.
Tangan gadis itu tergerak mengelus perut yang masih rata.
"Terima kasih karena sudah hadir di antara kami, nak" ucap Irene berbicara pada calon bayinya. Gadis itu tak henti-hentinya meneteskan air mata bahagia.
__ADS_1
Ia diam-diam mengecek kehamilannya dengan tespek tanpa sepengetahuan Reyhan. Jika positif, anggap saja sebagai kejutan Reyhan atas kerja kerasnya kemarin.
Lamunan Irene buyar saat suara ketukan dari pintu kamarnya. Gadis itu pun segera kembali ke tempat tidurnya.
...
Dokter memeriksa kondisi Irene, berbagai keluhan pun disampaikan oleh gadis tersebut.
"Selamat.." belum selesai dokter berbicara, Irene langsung menyela perkataannya.
"Saya hamil kan dok" celetuk Irene.
Dokter tersebut tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Dok .. bisakah rahasiakan ini pada suami saya? saya ingin memberikan sebuah kejutan untuknya" ujar Irene.
"Baiklah, tapi anda harus tetap menjaga pola makan anda serta banyak-banyak mengkonsumsi makanan yang bernutrisi supaya ibu dan anak tetap sehat" jelas dokter itu dengan sangat ramah.
Irene mengangguk paham dengan semua ucapan dari dokter tersebut. Setelah memeriksa kondisi Irene, dokter Mira pun langsung berpamitan untuk pulang.
Setelah kepergian dokter tadi, Irene menatap langit-langit kamarnya. Sesekali ia tersenyum sembari mengelus perutnya.
"Sehat selalu ya nak" gumam Irene.
...****************...
Reyhan sebenarnya sedikit kesal dengan dokter yang disuruh memeriksakan kondisi istrinya tadi. Ia bahkan tidak memberitahukan apa diagnosa atas penyakit Irene.
Dengan derap seribu langkah, Reyhan pun tiba di kamarnya. Dilihatnya Irene yang tengah asyik menonton televisi di kamarnya.
"Kau sudah pulang, suamiku" ujar Irene menatap suaminya.
"Kau tidak apa-apa, sayang? apakah kau masih mual? kepalamu masih pusing?" beribu pertanyaan dilontarkan pada istri tercintanya itu.
Irene mengembangkan senyumnya, sungguh ia merasa berdosa sekali karena sudah membiarkan suaminya itu merasa khawatir atas dirinya.
"Aku sudah tidak apa-apa sayang" timpal Irene.
"Bisakah kau tutup matamu sebentar, suamiku?" sambung gadis itu lagi.
"Untuk apa?"
"Tutup saja matamu sebentar" ucap Irene.
"Sebaiknya tidak usah menutup mata segala, bukankah kita sudah sering melakukannya dalam keadaan mata terbuka" gumam Reyhan dalam hati. Tentu saja pikiran mesum sudah memenuhi otaknya sekarang.
Reyhan pun menutup matanya. Irene tampak mengambil sesuatu dari dalam laci nakas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Buka sekarang" titah Irene.
"Apakah bukan seperti yang ku pikirkan" gumam Reyhan dalam hati sembari mengernyitkan keningnya.
Perlahan Reyhan pun membuka matanya. Dilihatnya Irene tengah memperlihatkan sesuatu, sebuah tes kehamilan yang menampakkan garis dua tersebut.
"Istriku, ini..." Reyhan tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi, pria itu langsung menyambar benda tersebut sembari memperhatikannya dengan seksama.
"Iya sayang, aku hamil" ucap Irene seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Reyhan menangis sejadi-jadinya, keinginannya kini akhirnya terwujud sudah. Penantian panjang selama ini, akhirnya terbayar dengan kabar baik dari istrinya itu.
"Aku akan menjadi seorang ayah" ujar Reyhan sembari mengusap air matanya.
Ia pun bergeser sedikit ke arah lampu tidur, mencoba menerawang benda pipih yang ada ditangannya.
"Ini nyata kan? ini asli kan?" ucap Reyhan memperhatikan benda yang ada ditangannya.
"Iya sayang, dokter Mira juga mengatakan bahwa diriku tengah mengandung"jelas Irene terkekeh saat melihat kelakuan suaminya.
"Bik Lastri .. Bik Lastri..." seru Reyhan.
Dengan berlarian, Bik Lastri pun menghampiri tuannya itu. Mungkin ada sesuatu darurat atau ada yang belum terselesaikan dari pekerjaannya hingga tuan mudanya itu berteriak begitu kerasnya.
"Ada apa tuan?" tanya Bik Lastri dengan tersengal.
"Lihatlah Bik, istriku hamil. Dan aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah" ucapnya dengan antusias.
"Hfffttt.. bibi kira ada apa tuan. Bibi sudah mengetahuinya dari tadi siang dari nyonya. Selamat ya tuan dan nyonya sebentar lagi akan menjadi orang tua" ujar Bik Lastri.
"Terima kasih ya Bik" ucap Irene, sedangkan Reyhan masih sibuk dengan benda yang ada di tangannya.
"Sebentar, aku harus memberitahukan kabar baik ini pada mama dan yang lainnya" ujar Reyhan seraya meraba ponselnya disaku.
Baru saja ia hendak menekan tombol dial, tiba-tiba saja ponselnya itu terlepas dari tangannya.
"Sayang, bersabarlah sedikit. Jangan terburu-buru seperti itu " ucap Irene.
"Tidak sayang, ini kabar gembira. Aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan pada yang lainnya" ucap Reyhan yang kembali menempelkan ponselnya ke telinganya.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️