Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 10


__ADS_3

"mau yang ada kuahnya atau nggak Zi" tanya Aga menoleh. "ada kak, mie ayam ato mie rebus aja. kayaknya enak banget" angguk Zivannya dari belakang membayangkan kuah panas dan pedas. Aga mengangguk tanda setuju, segera melajukan motor sport kearah penjual mie rebus Jawa.


"kita makan disini aja, kayaknya enak. rame banget" parkir motor Aga, Zivannya turun dan melepas helmetnya, melangkah menuju meja yang terlihat sepi, Aga mengikuti langkah Zivannya.


"aku pesan sebentar, kamu tunggu disini" tatap Aga setelah Zivannya duduk. Zivannya mengangguk seraya melepas tudung Hoodie nya. Aga melihat kekasihnya itu merasa kesal karena wajahnya terlihat akan semakin menarik untuk dilihat cowok lain. Aga menutup kembali tudung Hoodie Zivannya yang sedang asyik melihat ponselnya. Zivannya mendongak sejenak melihat tingkah Aga. Aga melangkah menjauh untuk memesan makanan, Zivannya kembali membuka tudung Hoodie nya.


"Zi" panggil seseorang, Zivannya mendongak menatap seorang pemuda yang menyapanya barusan.


"Soni kan, anak sastra" ingat Zivannya mengenali sesaat kemudian. Soni tersenyum lebar dan mengangguk.


"apa kabar Zi, lama nggak terlihat" kata Soni, Zivannya tersenyum mengangguk.


"baik son, kemarin nggak ikut naik" angguk Zivannya menjawab Soni.


"waktu itu naiknya barengan dengan anak-anak sastra lain Zi, mereka juga ke sumbing" kata Soni, Zivannya tersenyum mengerti.


"kapan-kapan ikut kami Zi, apa kamu mau" tanya Soni.


"tentu, jika waktunya memungkinkan untuk naik bersama, kabari aja" angguk Zivannya.


"tetapi nomormu tidak bisa dihubungi lagi Zi, apa kamu ganti nomer" kerut Soni menatap Zivannya.


"aahhh... iya lupa, kemarin ponselku sempat hilang. jadi semua kontak temen juga ikut menghilang, ini yang baru, aku jarang bertemu dengan teman-teman fakultas lain, apalagi ingat nomor mereka. maafkan aku, Son. bukannya apa-apa tapi aku benar-benar lupa dan tidak ingat nomor kalian" jelas Zivannya seraya menyodorkan nomor ponselnya.


"jeruk panasmu Zi" sodor gelas Aga setelah dekat dimeja depan Zivannya dan duduk di seberangnya.


"ahh, makasih kak. kenalkan ini Soni teman naik gunung, anak sastra, kami lost kontak karena ponselku kemarin hilang, ini kak Bagaskara" pandang Zivannya.


"halo, maaf mengganggu Zivannya bentar, tadi tidak sengaja melihat Zivannya. hanya menanyakan kenapa nomor ponselnya tidak bisa di chat lagi, karena kami sering dalam satu team saat sama-sama naik" senyum Soni menyapa Aga, Aga mengangguk mengerti.


"sudah tersimpan Zi, aku chat" perlihatkan layar ponsel Soni. Zivannya mengangguk, segera menyimpan nomor Soni.


"kalo begitu, aku pamit dulu. terimakasih sebelumnya, maaf menggangu waktu kalian" pamit Soni.


"makasih juga son, sudah mengingatkan nomor ponselku. kabari jika anak-anak akan naik" senyum Zivannya, Soni mengangguk dan membalas tersenyum.


"bentar lagi mie rebusnya datang" tatap Aga. Zivannya segera memasukkan ponselnya kedalam saku joger pants.


"udah kenal Soni lumayan lama kak, sekitar 1 tahun lebih. ceweknya anak tehnik industri, tapi nggak suka naik gunung. sering nganter saat Soni akan berangkat, jadi kami kenal dengan cukup baik" jelas Zivannya. Aga tersenyum senang dengan penjelasan Zivannya tanpa dia mengoreknya lebih jauh.


"ceweknya kenapa tidak suka naik gunung seperti cowoknya" topang dagu Aga.


"apa kamu juga ingin naik bersamaku" pandang Zivannya. Aga menggelengkan kepalanya pelan. "jika sesekali mungkin bisa, tapi jika rutin mungkin akan sedikit kesusahan" jawab Aga.

__ADS_1


"sudah tau kan jawaban atas pertanyaanmu tadi" kata Zivannya. Aga tersenyum kecil mendengar ucapan Zivannya yang selalu memberikan jawaban dengan mengajukan pertanyaan kembali.


"ya, aku paham" jawab Aga. pesanan mie rebus mereka datang. Zivannya menatap mie rebusnya yang hanya berisi bihun.


"darimana kakak tau aku suka ini" pandang Zivannya, Aga menegakkan dadanya dan menyunggingkan senyum kecil disudut bibirnya.


"apa yang tidak aku tahu mengenai mu Zivannya Fritscha" lagak Aga. Zivannya meniup sedikit kuah mie rebus yang akan dimakannya.


"aku anak terakhir dari tiga saudara, kakakku yang pertama seorang laki-laki, sudah menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki, berumur 4 dan 3 tahun. sekarang tinggal di Jawa Timur, dinas kesatuan tentara disana" cerita Aga, Zivannya mengangguk dan mendengarkan dengan seksama.


"kakakku yang kedua seorang perempuan, baru saja menikah dan belum diberi momongan, karena saat ini suaminya sedang dinas menjaga perdamaian dunia" lanjut Aga. Zivannya menatap Aga dan mengangguk mengerti.


"aku Bagaskara Triastomo, anak terakhir, baru saja mempunyai kekasih, masih belum menikah dan sebentar lagi meminta ijin untuk menikahi gadis pujaannya dan akan memiliki dua anak kembar" ujar Aga. Zivannya hanya menganggukkan kepalanya tanpa sadar sambil terus makan, Aga tersenyum tertahan melihat reaksi Zivannya yang terlihat masih tenang setelah dia menyelesaikan kalimatnya barusan.


Zivannya tersedak dan batuk-batuk sesaat setelah mencerna perkataan terakhir Aga yang melibatkan dirinya. Aga segera menyodorkan botol air mineral miliknya. Zivannya menatap mata Aga lekat yang membuatnya tersedak.


"kenapa, apa aku salah ngomong" tanya Aga memandang Zivannya sambil memakan mie rebusnya.


"aku masih belum memberimu jawaban kan... aku masih punya waktu untuk itu" geleng Zivannya tidak terima dengan kalimat Aga.


Aga melihat Zivannya lama, "kata mana yang kamu merasa keberatan, kata wanitaku... kamu mau setelah pulang nanti tanda yang aku berikan itu akan semakin banyak dan terlihat tambah kentara disemua bagian tubuhmu" tanya Aga santai. Zivannya kembali tersedak dan memukul dadanya pelan.


"ato kata dimana aku akan meminta ijin menikahi gadis pujaanku sesegera mungkin" teruskan Aga menaik turunkan alisnya menatap Zivannya yang semakin menegakkan punggung badannya yang sedang duduk.


"coba aja sayang, dalam hitungan menit aku akan dapat mengejarmu sampai dimana kamu bisa sembunyi, sia-sia aja kamu mau teriak ato menghilang seperti kemarin, hingga membuatku uring-uringan selama kamu nggak ada, sudah cukup bagiku pengalaman kehilangan dirimu" kata Aga.


"kamu nggak tahu jika selama kamu ke Malang kemarin, aku mengamatimu dari kejauhan, itu menyiksa batin dan jiwaku karena tidak bisa mendekatimu dan memelukmu erat" ucap Aga pada akhirnya tidak bisa menutupi kelakuannya saat itu kepada Zivannya.


Zivannya membuka lebar-lebar matanya mendengar pengakuan Aga barusan. "what, serius kak... sampai segitunya, kenapa aku nggak ngerasa" tanya Zivannya kaget.


"aku harus bolak-balik ke Malang saat mengintaimu dari kejauhan. melihat kamu baik-baik aja membuatku sedikit lega, tapi kesal saat ada dua orang cowok temanmu yang berinteraksi lebih banyak denganmu" jawab Aga tenang. Zivannya tertawa pelan menutup mulutnya melihat Aga, "kami satu kelompok menyelesaikan tugas selama di Malang kak, jadi harus sering bertemu dan berdiskusi selama di Malang" jawab Zivannya tidak habis pikir akan keposesifan Aga.


"tapi tidak harus selalu mengitarimu kan" pandang Aga. Zivannya menggelengkan kepalanya, "itu ada batas pengumpulan tugas kak, kita dikejar waktu untuk menyelesaikan tugas selama disana. kami bisa istirahat dan tenang saat dalam perjalanan selama di Malang, jika sudah sampai tujuan, saat malam hari kami harus begadang menyelesaikan tugas untuk esok harinya. makanya aku hari ini minta cuti dan seharian tidur karena akumulasi istirahat yang kurang. Rara aja langsung nggak masuk dua hari kuliah saking capeknya. jika kamu nggak mbangunin tadi, maka seharian tidak akan bangun" geleng kepala Zivannya.


"bisakah kamu tidak usah kerja Zi, aku yang akan menanggungmu" pandang Aga. Zivannya meletakkan sendoknya dan menatap Aga. "bisakah saat makan kita tidak membahas yang berat-berat kak, aku tidak akan bisa makan dengan kenyang dan pada akhirnya akan membuang sia-sia makanan yang Tuhan beri karena perutku akan mengeras menolak makanan jika aku tertekan" jelas Zivannya panjang. Aga menganggukkan kepalanya dan memakan mienya dengan cepat tanpa bersuara lagi. Zivannya segera melanjutkan makannya dengan tenang hingga selesai.


"ternyata makan disini juga Ga" dekat seseorang. Aga dan Zivannya segera menoleh.


"kenapa memangnya, tidak bolehkah" tanya Aga dingin tanpa menatap orang itu. Zivannya yang melihat reaksi Aga yang tidak suka akan kehadiran gadis itu hanya terdiam mengamati interaksi mereka berdua.


"heran aja, kenapa kamu kesini. setiap aku ajak keluar kamu selalu bilang tidak bisa, sibuk kerja, nggak ada waktu" duduk gadis itu disamping Aga tanpa meminta ijin. Aga menegakkan punggung badannya melihat keberanian gadis itu tanpa menatapnya dan memandang lurus wajah Zivannya yang ada didepannya.


"aku ingin makan dengan kekasihku, apa salah" tanya Aga jengah, gadis itu menoleh menyadari kehadiran Zivannya disana.

__ADS_1


"dia, sejak kapan kamu punya seseorang disampingmu" kerutnya menatap Zivannya yang terlihat masih seperti anak sekolah.


"sejak kapan kamu punya hak mencampuri kehidupan pribadiku" kata Aga semakin tidak suka.


"sejak aku memutuskan menyukaimu saat dikenalkan kedua orangtua kita dan ingin memilikimu" pandang gadis itu beralih menatap Aga yang hanya terdiam.


"kamu tidak bisa menyingkirkanku dengan hanya mengaku kamu pacaran dengannya kan Ga.. c' mon ... anak ini masih terlihat seperti anak sekolahan Ga, nggak pantas untukmu" lihat gadis itu kearah Zivannya lagi. Zivannya memandang gadis itu tenang, tanpa bermaksud membalas ucapannya barusan.


"pantas ato tidak itu bukan urusanmu, toh kami yang menjalaninya dan kita kenalan itu karena orang tua kita berpapasan saat sedang makan di restoran kala itu bukan bermaksud mengadakan pertemuan untuk kita berdua. aku ingin kamu memahami hal itu, lagipula kamu bukan siapa-siapa bagi keluargaku terutama aku" ucap Aga tegas.


"jangan merendahkan dirimu untuk mendapatkan pria yang jelas-jelas tidak menyukaimu, akan terlihat lebih menyedihkan jika kamu selalu memaksakan hal ini" kata Aga pelan tanpa bermaksud membuat malu gadis itu. gadis itu memutar bola matanya mendengar ucapan Aga yang memintanya mundur, "kenapa aku harus, toh dia juga belum menjadi istrimu. sah aja kan kalo kita bersaing secara adil" pandang gadis itu melihat Zivannya seperti melihat tidak sebanding dengannya yang berpenampilan gadis kekinian.


Aga menatap Zivannya yang terlihat tenang dan santai tidak terpancing perkataan gadis itu. "terlihat jelas sih, siapa yang masih anak sekolahan mana yang terlihat seperti tante-tante mencari hidung belang" sarkas Aga pada akhirnya. Zivannya menutup mulutnya menahan senyum ketika mendengar omongan Aga, gadis itu terdiam seketika.


"kita pergi sayang, sudah selesai kan makannya" pandang Aga kearah Zivannya yang menganggukkan kepalanya dan segera beranjak meninggalkan kursinya tanpa menoleh kebelakang.


"son, balik duluan" sapa Zivannya melewati Soni yang sedang menikmati malam bersama teman-temannya.


"Ok Zi, selamat istirahat. semoga selamat sampai rumah" angkat ibu jari Soni membalas sapaan Zivannya. Aga menganggukkan kepalanya disamping Zivannya.


"kenapa memandangku seperti itu kak, aku tidak apa-apa. bukan masalah bagiku" geleng kepala Zivannya yang melihat Aga menatapnya lama.


"aku tahu, makanya aku menyukaimu" pandang Aga. Zivannya memakai helmetnya sambil memutar bola matanya jengah dengan gombalan Aga.


"dia hanya gadis yang sudah salah menaruh hati Zi dan aku sama sekali nggak menganggapnya ada" kata Aga memakai helmetnya. Zivannya mengangguk dan segera membonceng dibelakang.


"kamu ingin kemana lagi Zi" toleh Aga sebelum mereka meninggalkan tempat itu.


"pulang kak, sudah hampir dini hari juga" jawab Zivannya. Aga menganggukkan kepalanya dan segera melajukan motor lelakinya pulang ke rumahnya.


"aku tidur disini Zi, kamu tidurlah dikamar" lepas Hoodie Aga, Zivannya mengangguk, berjalan pelan ke arah kamar tidur Aga.


"aku mengambil alas untuk tidur dan bantal" kecup Aga diubun-ubun rambut Aga menyusul Zivannya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2