
Zivannya tertidur disamping Langit yang mengusap kepalanya sambil menonton TV, Langit melihat ponselnya. "hallo bu" salam Langit.
"iya, di Surabaya, besuk Langit pulang, bawa Zivannya" jawab Langit.
"dia tertidur setelah sampai" jawab Langit.
"tidak, Langit sudah ada di Surabaya. dia tidak tahu" jawab Langit. "baiklah, sampai jumpa besuk ibu" senyum Langit menatap Zivannya yang terlihat tenang dalam tidurnya.
Langit mengusap pipi Zivannya yang terlihat lebih tirus, "tidurlah dengan nyenyak my lovely girl" elus pipi Langit memejamkan matanya sambil duduk dengan kaki lurus kedepan. Mentari melintas melihat mereka berdua yang tertidur, bunda tersenyum melihat mereka berdua. "biarin kak, sana tidur aja. nanti jika abang datang bunda kasih tau" kata bunda, mentari mengangguk dan tertidur disamping Zivannya.
waktu menunjukkan jam 10 malam. Langit mengusap rambut Zivannya lembut. "yang..." ucap Langit. Zivannya membuka matanya, melihat Langit yang sudah memakai pakaian hitam. "kakak mau kemana, jam berapa sekarang" tanya Zivannya mengerjapkan matanya.
"jam 10 malam, kita mau touring sebentar" kata Langit. Zivannya menutup matanya sesaat, duduk bersandar ditembok. "yang lain kemana" tanya Zivannya.
"Abang dan kak mentari menunggu didepan. kita menunggumu" usap kepala Langit.
"baiklah, aku ke kamar mandi dulu" angguk Zivannya beranjak dari tidurnya. Langit menyodorkan jeans hitam Zivannya dan jaket hitam miliknya. "pake ini Zi, udara dingin" kata Langit, Zivannya meraihnya dan memakainya dikamar mandi.
"kita mau kemana" tanya Zivannya memakai sepatu bootnya. langit mengikat rambut Zivannya ekor kuda dan memakai helmetnya. "kita akan rendevous malam, bukankah kamu yang bilang tadi sama bunda kan" buka visor Langit. mentari memberi tanda dengan ibu jarinya yang sudah berada diatas motor sport dengan matahari. Langit naik keatas motor matic besar dan menunggu Zivannya untuk naik. Zivannya naik kebelakang Langit, motor segera melaju membelah malam.
Zivannya menatap lampu yang terang benderang sepanjang jalanan Surabaya, motor melaju agak kencang karena mendekati tengah malam, Zivannya membuka visornya untuk melihat lebih jelas suasana kota malam hari.
__ADS_1
"excited, yang" seru Langit. Zivannya memberi tanda dengan jarinya. "mau makan dulu nggak" tanya Langit, Zivannya melambaikan tangannya. Langit melajukan motornya lebih kencang, Zivannya merapatkan tubuhnya dengan Langit.
"kita akan keluar dari Surabaya sedikit" kata Langit, Zivannya mengangguk. motor melaju dengan tenang, Langit didepan dan matahari dibelakang, selama tiga jam perjalanan mereka tiba disebuah rumah yang tidak terlalu besar. Langit mematikan motor dihalaman depan, Matahari masuk dan parkir disampingnya. Zivannya turun dan melepas pengaman helmet nya. Langit berjalan dan memberi isyarat dengan tubuhnya agar matahari mengikutinya, Langit meraih jemari Zivannya mendekati pintu, membantu Zivannya untuk melepas helmetnya dan menaruh di kursi panjang depan rumah bersama dengan helmet lainnya, Langit mengetuk pintu, tidak berapa lama seseorang membukakan pintu, perempuan itu tertegun melihat kedatangan Langit yang tiba-tiba. tersenyum dan menerima pelukan hangat anak laki-laki yang dibesarkannya. Langit mencium punggung tangannya. "apa kabar bu, sehatkan" senyum langit mencium kedua pipi ibunya , ibu itu mengusap punggung badan langit. "sehatkan nak" senyum ibu, Langit mengangguk dan tersenyum.
"ibu, aku ingin mengenalkan ini Zivannya. gadis yang kuceritakan" senyum Langit. ibu mengusap wajah Zivannya tersenyum memeluknya erat. Zivannya tersenyum dan mencium punggung tangan ibu Langit. "saya Zivannya, ibu" senyum Zivannya. "ini kedua kakak saya, abang matahari dan kakak Mentari" perkenalkan Zivannya. mentari dan matahari bergantian menyalami punggung tangan ibu Langit.
"ayo, silahkan masuk. anggap rumah sendiri" senyum ibu Langit menggeser tubuhnya agar tamunya bisa masuk. Langit meletakkan tas ranselnya dikarpet ruang tengah. "sama seperti rumah mama kak" senyum Zivannya. mentari mengangguk dan tersenyum.
"tidak usah repot-repot ibu, kami sudah makan dan minum dalam perjalanan tadi, maafkan kami datang terlalu malam. karena kak Langit tidak memberitahu jika akan berkunjung kesini" kata Zivannya meraih tangan ibu Langit dan membawanya untuk duduk menemani mereka. ibu Langit tersenyum dan duduk menemani mereka. "katanya pulangnya besuk" tanya ibu langit. "Zi mau melihat kota dimalam hari Bu, sekalian aja aku bawa kesini" senyum Langit.
"besuk pagi bisa melihat sunset disini dan bisa ke air terjun" angguk ibu, mereka terlihat antusias. "ishhh... kalo denger air aja langsung ijo" lihat Langit, mereka tertawa. "ah iya, aku lupa memperkenalkan dengan lengkap siapa ibuku" kata Langit duduk dengan tegap. "perkenalkan nama ibu ku adalah Danti Handayani, beliau adalah seorang guru sekolah dasar, ibu yang membawaku pulang saat ada seorang ibu lain yang membuangku ditempat sampah. ibu yang kehilangan anaknya dan suaminya dalam kecelakaan. ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk membesarkan anak orang lain yang tidak diharapkan" kata Langit, Zivannya terkejut dan menatap kedua kakaknya bergantian.
"biasa aja Zi, aku tidak merasa terbuang. aku malah bersyukur masih diberi kesempatan kedua oleh Tuhan mempunyai ibu yang lebih baik dari ibu yang tidak mengharapkan kehadiranku di dunia" kata Langit tersenyum. "aku bisa berdamai dengan semuanya, karena aku punya ibu yang luar biasa sabar dan dekat dengan Tuhan, dari beliau aku belajar banyak untuk ikhlas" senyum Langit menatap Zivannya. Zivannya menyandarkan badannya ketembok merasa perjalanan hidup dirinya tidak ada apa-apa nya dengan perjalanan hidup Langit dan ibunya.
"maafkan aku kak, aku tidak tahu apapun mengenai dirimu" kata Zivannya. "karena aku tidak memberitahu siapapun mengenai diriku sebelumnya. kecuali kedua orang tuamu sekarang, saat aku ingin mendekatimu dan meminta ijin melamarmu" jawab Langit. Zivannya memejamkan matanya lemas.
"dek" sentuh Mentari. "aku baik-baik aja kak, kita tidur aja sekarang. besuk kita akan melihat pemandangan disini bukan. ibu kak Langit juga butuh istirahat. ini sudah terlalu larut malam" kata Zivannya memandang kakaknya, mentari dan Matahari mengangguk, langit memberikan peralatan tidur untuk mereka diruang tengah sambil menonton TV.
"kalian tidurlah dulu, besuk pagi akan ibu bangunkan untuk menikmati pemandangan alam yang menakjubkan" senyum ibu Danti, Zivannya tersenyum dan merebahkan dirinya disamping tembok. Langit menyentuh bahu Zivannya pelan.
"biarkan aku tidur kak, kamu juga harus istirahat" kata Zivannya menutup mukanya dengan jaket yang tadi dipakainya. Langit memandang Zivannya dalam diam, menggenggam jemari tangan Zivannya dan tertidur. ibu membangunkan Langit untuk melaksanakan kewajiban paginya. Langit duduk dan menatap ruangan yang masih seperti semula, Zivannya masih terlelap dalam tidurnya. "Zi sedang tidak melaksanakan kewajiban bu" anjak Langit membangunkan Matahari. Zivannya mengerjapkan matanya, melihat sekelilingnya sudah tidak ada ketiga orang yang tadi malam bersamanya. ibu Langit melintas, "udah bangun nak Zi, mereka sedang ada diluar halaman" senyum ibu Danti. Zivannya mengangguk dan menanyakan dimana kamar mandinya. ibu memberi tahu letaknya, Zivannya mengangguk dan mengambil pakaian didalam tas ransel Langit.
__ADS_1
"dah bangun, yang" tanya Langit masuk kedalam rumah. Zivannya menoleh dan mengangguk. "mau mandi" tanya Langit, Zivannya mengangguk dan mengikat rambutnya model bun. Langit membantu Zivannya mengeluarkan beberapa baju Zivannya. "siapa yang membantu mengepak baju ku kak" lihat Zivannya, "bunda" jawab Langit. Zivannya tersenyum dan melangkah ke kamar mandi. mentari duduk dan menatap kedepan. "it's beautiful kan Zi" kata Mentari. Zivannya mengangguk dan menghirup kopi hitamnya. "kenapa mereka berdua harus lari pagi" toleh Zivannya, mentari menghembuskan nafasnya, "welcome to the army" toleh Mentari, mereka tersenyum lebar. "tebar pesona dong dua cowok itu" celutuk Zivannya, "hmmm... "angguk-angguk Mentari. "keliling kampung yuk kak, dari pada bengong" anjak Zivannya, "yuk ah... liat pemandangan cowok dipagi hari" kata Mentari. Zivannya masuk dan memakai Hoodie. "ibu Danti, kita mau keliling kampung dulu, kak langit dan bang Matahari baru lari pagi" senyum Zivannya pamitan kepada ibu Danti. "ibu mau kemana" tanya Zivannya melihat ibu Danti yang sudah rapi. "mau mengajar nak, apa mau ikut" tanya ibu Danti. "bolehkah, kami akan mengantar ibu ke sekolah" angguk Zivannya antusias. "kak, mau kesekolah Bu Danti nggak" keluar Zivannya. "mau mengajar, ibu belum pensiun" kaget mentari. "belum nak, masih diperbantukan selama ibu masih sanggup" senyum ibu Danti. "aahh... begitu Bu. kita akan bersama ibu berarti hari ini" kata Mentari. "baiklah, pasti anak-anak akan senang melihat kalian nanti" senyum ibu Danti. Zivannya mengerutkan keningnya sesaat. mereka keluar dari rumah. "hampir jam 7 pagi, kita harus bergegas bukan" lihat ponsel mentari, Zivannya mengangguk dan menunggu ibu Danti untuk membonceng dibelakang. motor melaju dengan pelan menuju kesekolah yang jaraknya hanya 15 menit dari rumah.
"ibu, biasanya naik apa kalo mengajar kesekolah" tanya Zivannya. "jalan kaki nak, lebih nyaman. karena tidak bisa naik motor. hanya butuh waktu 30 menit saja, jika ada Langit maka dia yang akan mengantar dan menjemput ibu disekolah" jawab Zivannya. "mama saya dulu juga mengajar di sekolah menengah, bu" kata Zivannya. "iya, Langit sudah menceritakan semuanya kepada ibu" kata ibu Danti.
"aahh... begitu rupanya. maafkan saya yang tidak tahu banyak dengan kehidupan kak Langit sebelumnya bu" tunduk Zivannya sedikit. "tidak apa nak, ibu tahu Langit terlalu memaksamu bukan, ibu tahu berapa beratnya beban yang kamu tanggung" senyum ibu Danti menyentuh bahu Zhivannya. tiba disekolah, Zivannya memarkir motor dideretan sepeda motor lainnya, mentari berada disamping Zivannya.
"kayaknya kita jadi orang aneh disini dek" bisik mentari, Zivannya tertawa pelan. "biasa kak, karena kita asing disini" angguk Zivannya, berjalan disisi mentari. "nak, ibu akan masuk untuk mengajar, kalian boleh kemana saja. keliling sekolah kalo kalian mau" kata ibu Danti, Zivannya mengangguk. mentari dan Zivannya berjalan di dalam sekolah melihat keadaan sekolah tempat ibu Danti mengajar.
ponsel Zivannya bergetar, Zivannya memperlihatkan nama Langit. mentari memutar bola matanya jengah, "biarin aja dek, biar mereka nyariin" kata mentari. Zivannya segera mematikan daya ponselnya, begitu juga dengan Mentari. "belum ada yang jualan dek" lihat Mentari. "kakak lapar" tanya Zhivannya, mentari mengangguk mencari penjual makanan.
"apa yang kakak mau" tanya Zivannya, "yang ada aja dek, kan nggak lucu nyari junk food disini" pandang mentari kesal melihat adiknya yang telat mikir. Zivannya tertawa lebar, "bukan gitu kak, mau berat apa ringan. tuh disana ada yang jual soto. jika mau makanan kecil ada yang jual didepan sekolah" tunjuk Zivannya, mentari menoleh dengan cepat dan tertawa lebar, "ngomong yang jelas dong dek, isshhh... kakak udah mikir kamu yang telat" tawa mentari menarik tangan Zivannya menuju tukang soto.
"dua bang" duduk Mentari dibangku yang kosong, "minumnya apa mbak" tanya tukang soto. "jeruk panas sama es jeruk" jawab Zivannya. "darimana mbak" tanya tukang soto memberikan mangkuk yang berisi soto. "dari tadi bang, disekolah situ" senyum Zivannya. bang soto tertawa mendengar candaan Zivannya, "nganter ibu Danti ngajar bang" makan Mentari.
"ooh... ibu Danti, yang anaknya abdi negara itu, masih muda dan ganteng" tanya tukang soto. "masa bang, nanti kenalan biar tau ganteng ato nggak" angguk Zivannya. "lha tadi nganter ibu Danti, berarti kenal anaknya dong" duduk tukang soto, Zivannya menggeleng. "nggak bang" senyum Zivannya. "Bu Danti puteranya cuman satu, anaknya baik banget. nurut sama ibunya. banyak yang pingin kenalan" tawa tukang soto. Zivannya tersenyum meminum jeruk hangatnya. "jam segini mulai rame nih tukang sotonya" lihat Mentari. Zivannya melihat orang-orang yang berdatangan mau makan. "sebegitu terkenalnya Langit dan ibunya" kata Mentari, karena kota kecil kan kak, sama kayak kampung Zi kan" pandang Zivannya, "he em... jadi tambah satu destinasi pulang selain Jakarta" senyum Mentari.
"bunda kalo diajak kesini pasti seneng banget, pingin kesini kalo kita abadikan moments" pandang Mentari, Zivannya mengangguk. "pasti kak" jawab Zivannya.
"kakak tau kehidupan Langit" tanya Zivannya, mentari menggeleng, "tidak dek, bunda dan ayah tidak bilang mengenai hal itu, kakak hanya merasa dia orang yang berbeda dari yang lain, ternyata benar" jawab Mentari, sebuah motor berhenti didepan mereka. "kenapa ponselnya pada mati" pandang matahari menatap keduanya. "masa sih, yang" rogoh Mentari disaku Jeansnya, Zivannya meraih ponselnya. "mati" perlihatkan Zivannya memperlihatkan ponselnya dan menyalakannya lagi.
hai... hai .. hai ... all readers dukung terus karyaku ya biar bisa selalu update. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv...luv...luv... all readers sekebon pisang goreng. selamat menikmati hari ini dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan, penuhi hati dan pikiran dengan hal positif all readers...
terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku...