
Zivannya menerangkan kepada nenek dan kakeknya jika kemungkinan pelaksanaan resepsi pernikahan akan dilaksanakan setelah dia selesai KKN nanti, karena waktunya yang belum pas untuk cuti mengadakan resepsi, ia juga mengundang nenek dan kakek untuk untuk menengoknya dikota tempat ia dan Aga tinggal saat ini jika mempunyai waktu nanti. Aga mengatakan bahwa kapanpun mereka mau berkunjung nanti akan siap untuk menjemput dan membawanya keliling kota. mereka mengobrol hingga tidak terasa waktu jam 1 malam, Zivannya pamit untuk tidur dulu, dan mereka pun ikut membubarkan diri beristirahat juga. Zivannya memeluk tubuh Aga dan tidur dengan nyenyak.
Zivannya dan Aga masih tertidur pulas, waktu menunjukkan pukul 5, Aga membangunkan Zivannya untuk kewajiban paginya. pagi hari, rumah om Hadi sudah mulai beraktifitas, mereka keluar dan mendapati kakek dan neneknya sudah bangun dan sedang mengobrol diruang tengah. Zivannya ikut duduk, mengatakan jika dia ingin kembali kerumahnya dan ingin menengok mamanya, kakek dan nenek mengijinkan karena memang sudah selesai acaranya dan mengingatkan untuk pamitan jika mereka akan pulang besuk. Aga menyodorkan uang dalam amplop coklat untuk membantu biaya yang dikeluarkan nenek dan kakek dalam acara tadi malam. karena bagaimanapun itu tanggung jawab mereka berdua juga. nenek dan kakek sebenarnya tidak menginginkan pemberian aga dan Zivannya, tapi kedua anak itu bersikeras agar kakek dan nenek menerimanya sebagai tanda bakti mereka kepada orang yang lebih tua. Zivannya dan Aga pergi ke rumah yang dulunya Zivannya dan mama tinggal, Zivannya dan Aga segera membersihkan rumah walau tidak terlalu kotor karena belum lama ditinggalkan, setelah membersihkan diri, Zivannya merebahkan dirinya dan kembali tidur hingga siang hari bersama Aga.
waktu cepat berlalu hingga tiba saatnya Zivannya menghadiri pernikahan Aisya dan Sony digedung yang mereka sewa untuk pernikahan, Zivannya lebih dulu pulang dengan menggunakan kereta dan Aga menyusul pas hari H saat acara pernikahan dilangsungkan.
Zivannya merapikan pakaian adat Jawa yang dipakai Aga dan menunggu kedua kakek dan neneknya selesai. Aga menatap Zivannya yang terlihat cantik dengan memakai kebaya berwarna merah hati, sanggul kecil sesuai dengan yang lainnya.
"apa aku terlihat berlebihan by, nggak cocok ya kalo make riasan" tanya Zivannya, Aga menggeleng dan menggenggam jemari Zivannya memberi kekuatan.
"kamu terlihat cantik yang, malah aku nggak rela nanti banyak yang melihatmu dan terpesona" pandang Aga, Zivannya mencium pipi Aga dan mengusapnya pelan.
"emang aku nggak kuatir kamu digoda cewek lain, lihat aja kamu terlihat ganteng banget" bisik Zivannya, Aga tersenyum lebar mengelus punggung Zivannya. akhirnya mereka menuju gedung tempat diadakannya acara, selama acara berlangsung, beberapa kali Zivannya dan Aga diminta untuk berfoto bersama beberapa teman Aisya dan Sony serta teman-teman kakek dan neneknya.
"berasa kayak artis aja by" senyum Zivannya, Aga mengusap punggung Zivannya lembut, Aga mengambilkan makanan yang Zivannya mau. mereka duduk ditepi ruangan agar tidak terlalu terlihat mencolok sembari makan makanan yang diambil Aga, mereka saling bercanda dan tertawa bersama, Farhan sesekali ikut tertawa mendengar candaan Zivannya dan Aga yang gokil, seorang gadis menghampiri mereka dan Farhan meminta ijin untuk berbincang dengan gadis itu ditempat lain, Zivannya senyum-senyum penuh arti melihat Farhan yang salah tingkah, Aga dan Zivannya tersenyum lebar.
Yuda datang bersama kedua orang tuanya, menghampiri Aga dan Zivannya yang sedang melihat orang-orang memberikan selamat kepada kedua mempelai, Yuda menunggu kedua orangtuanya untuk menikmati acara, Zivannya tersenyum lebar mendengar candaan Yuda yang selalu membalas kata-katanya.
"kapan pulang bang" tanya Yuda menatap Aga, "tadi pagi dan nanti malam langsung pulang, naik kereta. Zivannya datang lebih dulu kemarin dan nanti pulang bersama" kata Aga, Yuda mengangguk.
"ini bukan hari libur panjang jadi nggak bisa lama-lama, besuk hari senin jadi lebih ribet" senyum Aga, Yuda tersenyum mengangguk.
"kapan-kapan main kerumah da" kata Aga. "jika sempat bang, karena baru merintis usaha jadi waktunya belum banyak luangnya" senyum Yuda, Aga mengangguk.
"Zivannya bentar lagi KKN jadi rumah sepi selama satu bulan, nggak ada temennya" kata Aga, mereka tertawa dan bercanda banyak hal, hingga acara selesai Zivannya dan Aga melakukan sesi pengabadian moments bersama keluarga besar mempelai berdua, Zivannya dan Aga melakukan pemotretan berdua di booth yang sudah disediakan.
Aga seringkali dilirik dan diajak berkenalan dengan teman-teman Aisya karena terlihat tampan, Zivannya hanya tersenyum melihat Aga yang terlihat bermula masam saat cewek-cewek meminta untuk mengabadikan moment dan nomor ponselnya. Aga menggeleng dan menunjuk Zivannya sebagai istrinya, namun mereka tak percaya karena melihat Zivannya yang terlihat seperti anak sekolah untuk menikah. Aga menghembuskan nafasnya kesal menatap Zivannya yang tertawa lebar.
"senang banget yang, ngeliat aku menderita" senyum Aga, Zivannya menggeleng dan tertawa. "kan udah kubilang by, pesonamu memang luar biasa, pengantin laki-laki nya aja kalah lho sama kamu" tatap Zivannya, "kenapa nggak ada yang percaya kamu istriku sih, apa aku terlalu tua untukmu" tanya Aga, Zivannya menggeleng, menggenggam erat jemari Aga, "kau pas segalanya untukku, dilihat dari sudut manapun kamu memang terlihat tampan suamiku, makanya tidak heran jika banyak yang suka" jawab Zivannya, Aga tersenyum lebar mengusap punggung Zivannya dan memberikan pijatan lembut, Zivannya bernafas lega dengan perlakuan Aga.
"kita tunggu sampai selesai by, ini udah hampir sore" sandar bahu Zivannya dibelakang kursi. Aga menautkan jemari dan menciumi tangan Zivannya.
"sabar yang, ini belum kita lho, gimana capeknya nanti, dua kali lipat dari ini pasti" pandang Aga.
"nggak usah ada resepsi aja gimana by, nggak harus dipajang gitu kan" kata Zivannya, Aga menoleh "kalo gitu bilang sama bunda, aku nggak ikutan" kata Aga menjauh Zivannya tertawa. "ishhh.... katanya akan selalu bersama, ngomong sama bunda aja nggak berani" kata Zivannya, Aga membalikkan badan. "kamu emang berani, kemarahan ibu negara terlalu ngeri" bergidik Aga, Zivannya tertawa dan menggeleng kuat.
"Zi, ayo abadikan moments denganku" kata Yuda, Zivannya menoleh dan melihat ke arah Aga. Aga mengangguk dan tersenyum. Zivannya berdiri dibantu Aga.
__ADS_1
"kita foto bertiga dulu bang, baru nanti minta ijin untuk berdua dengan Zi" kata Yuda sopan. Aga mengangguk meraih pinggang Zivannya. mereka berpose konyol.
Zivannya menghempaskan tubuhnya kekursi dan melihat sekitar yang semakin sepi.
"kita pulang Zi" duduk Farhan. "udah selesai emangnya" tanya Zivannya menatap Farhan.
"acara intinya sudah selesai, nenek dan kakek sudah lelah, minta pulang ini jam 2.40 siang" kata Farhan. Zivannya mengangguk dan menyentuh lengan Aga yang sedang mengecek ponselnya, yang segera berdiri dan membantu Zivannya untuk berjalan menghampiri keluarga Ayahnya. mereka mengucapkan selamat kepada Aisya dan Sony, Zivannya menyelipkan amplop coklat ketangan Aisya. "selamat kak, selamat honeymoon juga, semoga samawa. maaf nanti Zi segera pulang jadi sekalian pamit jika kita tidak bertemu lagi nanti" peluk Zivannya, Aisya tersenyum, mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Aga membawa heels Zivannya agar bisa melangkah dengan nyaman.
"masa nyeker sih Zi, cantik-cantik kok nggak pake alas kaki" lihat Farhan, Zivannya nyengir memperlihatkan kakinya yang sudah memerah bagian bawahnya. mereka menungggu dipintu masuk gedung, menanti Farhan yang mengambil mobil dari tempat parkir. Zivannya masuk terlebih dahulu disusul nenek dan Aga. kakek berada disamping Farhan.
sore hari sambil beristirahat, Zivannya dan Aga berpamitan untuk pulang. "Nek, Zi dan kak Aga mau pamit pulang dulu, jika ada waktu Zi pasti menjenguk nenek dan kakek lagi" cium punggung tangan Zivannya kepada nenek dan kakeknya, mereka juga berpamitan kepada keluarga om Hadi.
"jaga diri baik-baik Zi, kamu masih punya keluarga om disini" elus kepala om Hadi, Zivannya mengangguk dan tersenyum. memakai sneakers kesayangannya, Farhan mengantar mereka berdua kestasiun.
"makasih han, salam buat temen-temen ya kalo ngumpul, ini buat beli nasi goreng kesukaanmu" pamit Zivannya.
"apaan nih Zi" kata Farhan. Zivannya melambaikan tangannya.
"makasih, ati-ati dijalan Zi, bang" lambai Farhan, Aga memberi tanda dengan ibu jarinya.
"hmmm... enak gini ya yang, kalo traveling berdua aja" kata Aga, Zivannya mengangguk. mereka duduk menunggu diperon menanti kedatangan kereta.
"by, kapan kamu dipindah tugaskan" tanya Zivannya teringat.
"satu tahun lagi kira-kira, kamu tinggal skripsi kan, aku akan lihat lokasinya apakah nanti kamu bisa tinggal disana ato tidak, tempatnya sedikit diperbatasan hanya untuk tiga tahun disana" kata Aga.
Zivannya mengangguk, aku akan menyelesaikan skripsi dengan sedikit lebih cepat by, agar dapat menyusulmu kesana" kata Zivannya.
"tempatnya pasti jauh lebih sederhana lho yang, kamu sanggup disana" tanya Aga.
"kan ada kamu disana by, lebih nyaman kalo didekatmu" kata Zivannya menggombal, Aga tergelak meraih kepala Zivannya dan mencium ubun-ubun kepalanya.
"kita akan sering berpindah kota yang, karena kepentingan negara. jika sudah. nanti akan menetap dipusat" kata Aga, Zivannya mengangguk. kereta mereka datang dan bergegas untuk mencari tempat duduk yang mereka punya.
malam yang larut membuat keduanya segera tidur, Aga sesekali terbangun dan melihat Zivannya yang tidur bersandar didinding memakai bantal dengan tudung Hoodie menutupi wajahnya, Aga membenarkan letak tidur istrinya, melihat sekeliling yang sepi karena penumpang pada tidur, sesekali petugas keamanan berjalan berkeliling mengecek keadaan para penumpang.
Aga mengelus pipi Zivannya, karena sudah sampai tujuan. "udah sampai by" kerjap mata Zivannya, Aga mengangguk dan menurunkan tas ransel Zivannya dan dirinya, aga meraih jemari Zivannya untuk membawanya keluar dari kereta.
__ADS_1
Aga menyalakan alarm mobil agar mengetahui tempat parkir mobilnya, mereka bergerak mendekat. Zivannya duduk dikursi penumpang, dan kembali tertidur, Aga tersenyum melihat istrinya tertidur karena kelelahan. Zivannya berjalan pelan untuk sampai dikamar apartementnya, melihat jam yang masih menunjukkan pukul 3 dinihari, mereka kembali tidur hingga pagi menjelang.
"by, mau dinas nggak" tanya Zivannya menggoyang jemari Aga, Aga membuka matanya dan melihat Zivannya yang sudah rapi mengenakan jeans dan t-shirt dan kemeja. Aga duduk sebentar dan membersihkan dirinya.
Zivannya membantu Aga memakai baju seragam dan menyiapkan keperluan lainnya, Aga mengunyah roti yang dibakar Zivannya barusan.
"by, ijin naik motor lakimu ya, biar cepet sampai, kalo naik mobil, jelas macet, hubby pake motor gede aja. nanti kalo sempat aku samperin ke kesatuan. pulangnya mungkin agak telat karena sudah masuk mata kuliah berat" kata Zivannya meminum air mineral. Aga mengangguk.
"ayo berangkat, jangan lupa pakai Hoodie agar tidak masuk angin" kata Aga, Zivannya mengambil Hoodie Aga yang sudah diletakkan dilengan sofa, Aga memakai jaket kulitnya.
mereka bergegas keluar dan menuju basement, Zivannya berpamitan sebelum meninggalkan Aga yang berada dibelakangnya. Zivannya memarkir motornya disebelah Dimas yang baru saja datang.
"aishhh.... tumben nih pake motor laki" tawa Dimas, Zivannya nyengir melepas Hoodie dan memasukkannya ke tas ranselnya.
"pake laki terus nanti, motorku kan sudah dijual. adanya ini dan moge" angguk Zivannya menepuk bahu Dimas.
"weeeissss.... jadi anak klub motor nih..." tergelak Dimas menggoda Zivannya yang tertawa.
"seru banget sih kalian. mobilmu kok nggak ada Zi" datang Rara menjejeri langkah mereka berdua.
"jadi anak motor dia Sekarang Ra, naik motor laki" kata Dimas, Rara menoleh dan melihat Zivannya.
"itu karena nggak ada motor matic lagi Ra, punya kak aga cuman motor laki dan gede. mobil kecil dan gede" hembus nafas Zivannya.
"dia nawarin buat beli motor selama aku kuliah. buat apa coba, cuman tinggal setahun doang. katanya juga setahun lagi dia akan dipindah tugaskan diperbatasan. jadi kemungkinan kendaraan juga akan dijual kan" kata Zivannya, Rara menoleh terkejut.
"serius kamu Zi, kok baru bilang sekarang" tanya Rara.
"kemarin waktu nunggu kereta pulang kesini, kak Aga baru bilang. kemarin dijakarta dia belum tau penugasannya dimana" jawab Zivannya kalem, duduk dikursi disamping Rara.
"trus kamu sendirian diapartement dong" tanya Rara.
"kayaknya mau pindah dirumah keluarganya yang ada disini Ra" jawab Zivannya.
"siapa ya pemuda misterius itu... tunggu kelanjutannya readers...
luv.... luv.... luv ..... all readers. dukung terus karyaku ini....
__ADS_1
terimakasih.....