
Zivannya segera terlelap saking lelahnya, pulang kerumah kali ini telah mengangkat beban hatinya terhadap perlakuan Bima dan keluarganya, membuatnya menjadi lebih ringan. Tuhan menunjukkan jalannya semenjak dia mengikhlaskan hatinya. tidak ada lagi keinginan selain membahagiakan mamanya.
hari berganti
"Zi, kamu belum bangun" ketuk pintu mama beberapa kali namun tidak ada tanda-tanda pergerakan Zivannya.
"ini udah jam sepuluh pagi Zi, kamu belum bertemu nenek papa" ketuk mama Zivannya agak keras.
"harus sekarang ma" buka pintu Zivannya malas. mama mengangguk dan berlalu, Zivannya keluar kamar dan membersihkan dirinya dikamar mandi satu-satunya dirumahnya.
"nenek berkunjung kerumah om mu" sodor teh mama, saat Zivannya melintas setelah dari kamar mandi.
"Zivannya malas bertemu mereka ma" geleng Zivannya duduk sambil menekuk kaki kirinya dikursi dan menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi.
"tidak baik begitu Zi, tidak apa-apa, biarkan apa yang menjadi pemikiran mereka. bagaimanapun mereka adalah keluarga papamu, mama sudah ikhlas menerima apa yang terjadi" geleng mama mengelus punggung Zivannya.
"iya, mereka adalah keluarga yang menutup mata melihat kita dihina dan dicaci ma, keluarga yang hanya memandang kita rendah seperti lalat yang dikira mengemis minta bantuan" senyum sinis Zivannya mengusap airmatanya, mama memeluk Zivannya erat dari belakang dan mengecup ubun-ubun kepala Zivannya berulangkali.
"nyatanya kan tidak, kita tidak pernah mengganggu mereka, kita juga harus bersyukur mereka tidak membebani hidup kita juga. itu sudah banyak membantu kita kan" nasehat mama Zivannya. mereka selalu saling menguatkan satu sama lain, sejak di bangku sekolah pertama papa Zivannya meninggal dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara. semenjak itu pula keluarga papanya secara tidak langsung menganggap keberadaan mama dan Zivannya tidak ada. walau satu kota tapi mereka terkesan menutup mata melihat keadaan Zivannya dan mamanya.
Zivannya tidak mengatakan apapun dengan perlakuan keluarga papanya karena tahu pernikahan kedua orangtuanya tidak mendapat restu dari keluarga papanya, makanya dirinya tidak pernah berkunjung ataupun berusaha dekat dengan keluarga papanya, hanya saat lebaran, mama dan Zivannya berkunjung kerumah keluarga nenek papanya, itupun tidak lama hanya sekedar menyambung silaturahim. hanya karena mamanya orang biasa, bukan dari keluarga berada dan menjadi seorang pengajar disekolah pertama dianggap tidak berharga, namun papanya mencintai mamanya dengan tulus, itulah makanya Zivannya selalu tahu menempatkan dirinya dimana dia berpijak.
Zivannya menangis dalam pelukan mamanya mengingat beban hidup yang harus mereka pikul selama ini, hanya mereka berdua yang saling menguatkan satu sama lain. hanya mereka berdua yang tahu bagaimana jatuh dan bangunnya kehidupan setelah papa meninggalkan mereka selamanya.
"nggak usah sedih Zi, ikhlaskan hati dan pikiranmu. kita sudah melewati begitu banyak cobaan dalam hidup, tapi Tuhan selalu melindungi kita dengan caranya sendiri. kamu kebanggaan papa dan mamamu, jangan buat pengorbanan papamu membela tanah air menjadi sia-sia saat ini" usap bahu mama Zivannya yang juga menghapus air matanya pelan-pelan. Zivannya berbalik memeluk pinggang mamanya dan menangis sejadi-jadinya mengingat perlakuan tidak menyenangkan keluarga papanya sejak dulu, namun mama selalu mengajarinya untuk tidak membalas perlakuan tidak menyenangkan itu.
"hanya dengan memohon ampunan dan perlindungan Tuhan, kita dapat melewati semuanya dengan hati ikhlas Zi" pesan itu yang selalu mamanya berikan jika Zivannya sedang terpuruk dan merasa sakit hati.
"sudah, cuci mukamu lagi dan sarapan. jangan selalu bersedih dengan mengingat masa lalu. air matamu terlalu berharga untuk kamu keluarkan" senyum mama menangkup kedua pipi Zivannya yang segera mengangguk dan beranjak untuk membasuh mukanya.
mama menekan dadanya yang terasa sakit belakangan ini, segera duduk dan menarik nafas panjang agar sesak didadanya sedikit berkurang. Zivannya keluar dari kamar mandi, mama segera menoleh dan tersenyum menatap anak gadisnya yang lebih mirip dengan papanya daripada dirinya.
"makanlah dulu Zi, setelah itu ke peristirahatan terakhir papamu dan adikmu baru kerumah om mu" pandang mama Zivannya. Zivannya mengangguk dan menyiapkan segala sesuatu sendiri untuk makan.
"mama sudah makan" pandang Zivannya, mama Zivannya mengangguk tersenyum.
"ini udah jam berapa Zi, kamu telat bangunnya, setelah kewajiban pagi tidur lagi sih" pandang mama Zivannya. Zivannya tersenyum memakan sarapannya.
"mama ikut kesana" tanya Zivannya, mama menggeleng.
"kamu aja yang kesana, mama kemarin dulu udah ketemu, besuk aja jika acaranya berlangsung. hari ini mama pingin ke beberapa orang mengurus sesuatu" kata Mama. Zivannya mengangguk.
"Zi antar nggak" tanya Zivannya, mama menggeleng.
"sekitar aja Zi, nggak usah lebay deh. kamu naik motor mama aja kesana" senyum mama. Zivannya tersenyum melihat mamanya.
"Zi berangkat dulu ma, ke tempat papa dan adek lalu langsung ketempat om" pamit Zivannya memeluk mamanya erat.
__ADS_1
"iya, sudah sana berangkat, jangan malam-malam pulangnya, besuk ada acara yang harus dihadiri" kata mama. Zivannya menaikkan ibu jarinya tanda Ok.
Zivannya segera meluncur ke pemakaman umum yang terletak diujung desa, dimana papa dan adiknya dimakamkan bersebelahan. Zivannya membeli sekantong bunga tabur segar untuk makam kedua orang yang sangat dicintainya. berdoa dengan khusyuk selama beberapa saat hingga dirinya merasa lebih tenang. hingga pada akhirnya dirinya sudah sampai dirumah keluarga papanya.
"ah... Zi udah datang. ayo masuk, nenek sudah menunggumu" senyum om menyambut kedatangan Zivannya. satu-satunya orang dari keluarga papanya yang bersikap baik padanya selama ini, tidak memperlakukan Zivannya dengan acuh. Zivannya mencium tangan om nya hormat, mereka berdua masuk dan mengitari ruang tamu untuk sampai keruang tengah yang lebar. dilihatnya nenek dan kakeknya sedang mengobrol dengan Tante dan kedua anak om nya yang usianya tidak berbeda jauh dengannya.
"siang nek, kek" sapa Zivannya mendekat dan mencium kedua tangan orangtua papanya.
"ah, Zi sudah datang. bagaimana kabarmu" senyum kakek mengelus rambut Zi.
"baik kek, terimakasih atas doanya" senyum Zivannya. nenek menatap Zivannya sesaat dan tersenyum.
"kamu tambah tinggi ya Zi" pandang nenek. Zivannya tersenyum mengangguk.
"masih suka naik gunung Zi" tanya om duduk disebelah kakek. Zivannya mengerutkan keningnya sesaat, karena merasa orang rumah tidak ada yang tau aktifitasnya selama menjadi mahasiswa.
"aku yang memberitahu papa, jika kamu sering naik gunung, lihat dari akun media sosialmu" kata Aisya anak dari omnya namun lebih tua darinya satu tahun sedangkan adiknya laki-laki kuliah, berbeda satu tahun dari Zivannya.
Zivannya mengangguk tanda malu karena tidak mau orang rumah tahu aktifitasnya, "iya om, ngikut kegiatan sama temen-temen yang lain, dan kebetulan selalu diajak" jawab Zivannya pelan.
"itu kegiatan bagus lho. jarang kan anak perempuan naik gunung. aktifitas yang mempunyai manfaat banyak" puji om.
"sudah lama kamu nggak pulang kan Zi, selama kuliah kamu baru kali ini pulang saat libur semester" tanya Aisya.
"iya kak, karena selalu ada kegiatan semester pendek dikampus saat jeda semester. Zi harus mengambilnya jika ingin selesai satu tahun lagi" angguk Zivannya.
"masuk kuliah tahun ketiga kek" jawab Zivannya pelan.
"wah, tidak terasa ya, kamu sudah ditengah masa kuliah" senyum om menatap Zivannya yang mengangguk pelan.
"diminum Zi, jangan didiemin aja" lihat Tante, Zivannya tersenyum dan mengambil gelas berisi minuman teh dan meneguknya sedikit.
"kak Aisya juga tahun depan lulus kuliah" kata Tante menyombongkan anak gadisnya dihadapan Zivannya yang tersenyum mengangguk.
"langsung kerja setelah lulus ato melanjutkan sekolah lagi Zi" tanya kakek lagi.
"belum tahu kek, masih ada satu tahun ini untuk melihat nilai akademik, apakah bisa dapat beasiswa lagi atau nggak dengan itu kita bisa memilih beasiswa mana yang sesuai, pinginnya bisa lanjut sekolah lagi jika dapat beasiswa" geleng kepala Zivannya. kakek manggut-manggut.
"apa kamu sudah menemukan seseorang yang cocok Zi" tanya nenek tiba-tiba, Zivannya terkejut dengan pertanyaan itu, namun hanya menampilkan muka datar.
"belum Nek, Zivannya masih ingin membahagiakan mama dulu" geleng Zivannya pelan.
"mama mu tentu saja akan bahagia jika melihatmu sudah menemukan tambatan hati" kata nenek. Zivannya terdiam mendengarkan pembicaraan nenek yang hanya membandingkan hidupnya dengan kehidupan Aisya cucu kesayangannya, putri dari om nya.
"Aisya setelah lulus akan segera menikah, tahun kemarin kan dia sudah dilamar, jadi tinggal menunggu saja. cucu perempuan nenek tinggal kamu yang masih sendiri, makanya nenek tanya padamu" minum nenek sambil melirik Zivannya.
"Zi, belum berpikir kesana nek" jawab Zivannya pelan dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"tidak apa Zi, nenek hanya tidak ingin kamu sendiri dalam jangka waktu yang lama, takut nenek tidak menemani" kata kakek mengerti tekanan yang dirasakan Zivannya yang hanya bisa mengangguk pelan. selama berkunjung, Zivannya lebih banyak diam mendengar obrolan mereka, sesekali menimpali percakapan jika dirinya ditanya.
"besuk siang kesini Zi, ada acara. kamu harus datang pagi untuk berdandan bersama Aisya" kata nenek, Zivannya mengangguk.
"nomor ponselmu ganti ya Zi, aku chat nggak bisa" tanya Aisya mengeluarkan ponselnya. Zivannya teringat dirinya tidak hapal dengan nomor ponsel Aisya makanya dia tidak menambah kontak ponselnya.
"maaf kak, ponsel Zi hilang terjatuh sebulan yang lalu. jadi Zi ganti nomor baru" jawab Zivannya mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan barcode nomor ponselnya. Aisya mengerutkan kening sesaat melihat ponsel Zivannya yang masih tergolong baru saja dirilis itupun lebih bagus daripada miliknya.
"wah, ponselmu bagus banget Zi, mahal banget lho ini" lihat-lihat Aisya, Zivannya hanya diam.
"ponsel Zivannya kemarin sempat jatuh dan hilang, ada teman yang baik mau meminjamkan ponselnya yang tidak dipakai dirumahnya. Zivannya berusaha mengembalikan atau mencicil uangnya dia tidak mau kak, jika Zivannya sudah bisa beli ponsel sendiri, itu akan Zi kembalikan" jawab Zivannya lirih.
"sayang dong, ponsel sebagus ini kamu kembalikan, mending jual ke aku separuh harga trus duitnya kamu balikin keorangnya" kata Aisya seenaknya.
"kakak ngomong aja sama orangnya langsung jika nanti Zivannya sudah mengembalikan ponsel ini ke orangnya, Zi tidak enak hati karena sudah dipinjami malah dijual ke orang lain" geleng Zivannya. Aisya hanya berdesis mendengar jawaban Zivannya.
"sombong, hanya dipinjemin aja belagu" kata Aisya meletakkan ponsel Zivannya dengan sedikit kasar.
"sya" pandang om tidak suka dengan kelakuan Aisya yang keterlaluan.
"apa, papa mau membela keponakan papa, Aisya cuman nanya aja. jawabannya gitu banget" pandang Aisya kesal.
"dia juga dipinjemin kak, kalo kamu beli apalagi dengan setengah harga. bagaimana dia mengembalikan uangnya" pandang Fauzan, adiknya. Aisya memanyunkan bibirnya tidak suka jika Zivannya memiliki sesuatu yang lebih baik darinya.
"om juga bagi nomormu yang baru Zi, jika terjadi sesuatu om bisa bertukar kabar denganmu" sodor ponsel om. Zivannya membagi barcode nomornya.
"dah om, maaf malah buat ribut gara-gara ponsel pinjeman teman Zivannya" pandang Zivannya tidak enak hati.
"bukan salahmu Zi, kita makan siang bersama yuk" ajak Om sembari beranjak dari tempat duduknya.
"maaf om, tadi ada janji sama mama mau nemenin ketetangga, nggak tau ada urusan apa" kata Zivannya juga ikutan berdiri.
om menatap Zivannya sedih, Zivannya tidak pernah mau ikut makan bersama keluarga dari papanya. om nya paham bagaimana tidak nyamannya Zivannya jika berada ditengah-tengah mereka.
aku aja jadi ikutan sedih lho, mendengar kisah hidup Zivannya dan mamanya, hmmm... semoga hidupnya jadi lebih indah ya genkkksss....
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1