
Zivannya menghela nafasnya mendengar pembicaraan Matahari dan temannya. "masih sekolah atau sudah kuliah, bang" tanyanya. "sudah selesai sekolah dan kuliah" jawab Matahari. "masa sih bang, abang bercanda. masih kayak kuliah semester awal lho" tanyanya terkejut. "beneran, masak aku bohong" angguk Matahari mantap, Zivannya ikut menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan abangnya.
"pesen apa dek" tatap Matahari, "abis makan siang dimasakin mbok. bunda udah ngasih titah kalo aku nggak makan nggak boleh keluar rumah, tadi pagi nggak sarapan karena tidur abis ngerjain project dari dimas" jawab Zivannya cepat. "abang udah makan belum, kakak nggak kemari" tanya Zivannya. "abang baru aja makan. Mentari baru ada acara sama teman-teman nya" angguk Matahari.
"bang, jadi dikenalin nggak nih sama adiknya" katanya menyela pembicaraan mereka berdua, Matahari menepuk keningnya pelan, "lupa. dek kenalin nih teman satu kesatuan disini" kata Matahari, Zivannya nyengir mendengar ucapan Matahari. "hai, namaku Deni" senyumnya mengangsurkan tangannya untuk menyalami Zivannya. "hai, Langit" jabat tangan Langit yang tiba-tiba datang. Zivannya tersenyum tertahan. "siap ndan" berdiri tegak Deni. "kamu tau siapa dia" tanya Langit tajam. "siap ndan, adiknya bang Matahari" jawab Deni cepat. Langit menatap Zivannya, "kenapa kamu nggak bilang, yang" tanya Langit pelan. "bilang apaan, kakak udah tiba-tiba datang" jawab Zivannya, Langit menghela nafasnya mengusap punggung Zivannya. "dia adalah calon ibu dari anak-anakku" kata Langit dingin. "siap ndan" jawab Deni. Langit menyuruh Deni untuk pergi dari situ, Deni segera melesat pergi keluar dari kantin. Matahari menahan senyumnya melihat kelakuan Langit. "minum apa kak" senyum Zivannya, Langit menatap Zhivannya lama. "kita baru ngobrol saat dia datang, bukan salah adek, dia aja nggak ngomong apa-apa sama Deni. tiba-tiba kamu datang" pandang Matahari. "iya, aku tau bang. aku liat semuanya tadi" angguk Langit duduk disamping Zivannya. Zivannya memutar bola matanya malas, penjaga warung memberikan jeruk hangat kepada Zivannya. Langit segera meminumnya, Zivannya menatapnya sesaat, Langit melihat ponselnya mendengar panggilan. "hallo bu" salam Langit.
"apa kamu sehat-sehat saja nak, bisakah pulang saat akhir pekan anakku, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu" kata ibu Danti.
"sehat ibu, baik Bu, Jum'at siang Langit pulang" angguk Langit.
"jika bisa ajaklah Zivannya sekalian" kata ibu, Langit memandang Zivannya lama yang sedang mengobrol dengan Matahari.
"baik bu" jawab Langit cepat, Zivannya tertawa lebar saat bercanda dengan abangnya, Langit tersenyum menatap keduanya, tidak terikat dengan darah tapi terikat dengan rasa. Zivannya mengangguk saat melihat Mentari diponsel Matahari. "Ndan, cewek yang kemarin datang, ngamuk-ngamuk. nyari komandan" hormat Deni. Langit menoleh cepat menghela nafasnya berat meminum jeruk hangat Zivannya cepat. Matahari dan Zivannya menoleh melihat mereka berdua yang segera melangkah pergi keluar dari kantin.
Zivannya membayar semua pesanan abang dan minumannya tadi serta membeli minuman coklat kemasan dingin beberapa buah. Matahari menunggu Zivannya selesai membayar di luar kantin. "kenapa bang, rame banget" kata Zivannya menatap dari kejauhan, Matahari tertawa pelan. "calon suamimu tebar pesona" kata Matahari, Zivannya tertawa kecil. "kirain aku aja sama kak Mentari yang tebar pesona" jawab Zivannya, Matahari tertawa mengelus kepala Zivannya. mereka melihat beberapa prajurit yang berjaga tengah menenangkan seorang gadis, Langit hanya menatap perempuan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "kenapa kak" tanya Zivannya mendekat kesalah satu penjaga pos kesatuan. "dari kemarin gadis ini mencari komandan Langit, dia ingin menjadi istri dari komandan Langit" geleng kepala penjaga.
"bang, pulang yuk. nggak nyaman kalo begini" bisik Zivannya, Langit menoleh melihat kekasihnya sudah berada disana bersama abangnya. Langit menatap Zivannya memintanya untuk mendekat, Zivannya menggeleng dan bersembunyi dibelakang Matahari, Matahari menggenggam jemari Zivannya untuk mendekat kearah Langit, "salah satu penggemarmu menjadi maniak" pandang Matahari, Langit menyilangkan tangannya di depan dada mengangguk mantap.
Langit menarik bahu Zivannya agar berdiri didepannya menonton gadis itu selesai berbicara dengan suara keras. gadis itu melihat Langit dan Zivannya yang berdiri terlalu dekat. Matahari dan Langit segera menyembunyikan Zivannya dibalik badan mereka saat gadis itu mendekat.
"kenapa mbak" tanya Matahari menatap tajam kearah gadis itu. "apa dia wanita yang menggoda Langit ku" tanya nya marah. Matahari tersenyum. "dia adalah adikku, jika terjadi sesuatu padanya maka aku yang akan melindunginya" pandang Matahari. "kenapa dia dekat sekali dengan Langit ku. apa dia tidak tau jika Langit sudah mempunyai calon istri, yaitu aku" katanya menantang.
__ADS_1
"tentu, aku mengerti. akan aku bawa adikku jauh dari Langit mu. bukan begitu komandan" senyum Matahari, Langit tersenyum. "sayangnya, adik komandan Matahari adalah istriku" jawab Langit tegas, teman-teman kesatuan yang berada disana bergantian memandang Langit dan Matahari, segera bersiaga menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
Zivannya beringsut kebelakang dan duduk di ruang jaga memandang para lelaki yang sedang menenangkan gadis itu. sebuah mobil dengan kecepatan sedang masuk ke parkiran, Mentari tergesa-gesa keluar dari mobil dan setengah berlari menuju ke arah mereka. "adik mana, yang" tanya Mentari mencari sosok Zivannya. Matahari tersenyum menunjuk kebelakang. Mentari melihat kebelakang, Zivannya melambaikan tangannya tersenyum menatap kakak perempuannya. Mentari memberi tanda Ok dengan jarinya segera memutar tubuhnya menghadap gadis yang sepertinya lagi depresi. "mbak, mau ngobrol dengan saya dan adik saya nggak. malu kalo harus teriak-teriak di liatin banyak orang begini. sambil duduk, kita ngobrol lebih enak dan lebih elegan dari pada teriak-teriak nggak jelas" bujuk Mentari sembari tersenyum. gadis itu menggeram pelan.
"kamu sama saja, mau merebut Langit ku" tunjuknya galak. Mentari tersenyum. "suamiku jauh lebih tampan dari Langit. jadi aku tidak tertarik dengannya. tapi sayangnya adikku memilihnya untuk jadi suaminya. jadi aku mengakui bahwa dia juga tampan. nggak mungkin kan adikku memilih laki-laki yang jelek" kata Mentari, Matahari tertawa tertahan mendengar perkataan istrinya.
"jadi, kapan Langit akan ke rumahmu untuk melamarmu" tanya mentari menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya. "minggu ini" jawabnya mantap. "terus dimana rumahmu, apa Langit tau dimana" tanya Mentari melirik suaminya yang segera mengangguk mengerti. "di jalan xx, no 123" jawabnya. "apa Langit tau nomer ponselmu" tanya Mentari menaikkan nada suaranya seperti menantang gadis itu segera menyerahkan ponselnya, Mentari menerimanya dan menyerahkannya pada Matahari. dengan senyap Langit dan Matahari menghubungi kedua orang tua gadis itu, Zivannya tersenyum melihat negoisasi kakaknya yang cerdik.
Langit memandang Zivannya dan mengisyaratkan untuknya mendekat Zivannya menghela nafasnya panjang beranjak dari tempatnya menuju keberadaan mereka. "kebiasaan kamu, yang. kalo begini ngilang" kata Langit mengelus punggung Zivannya. "aku disitu lho kak, nggak kemana-mana. kenapa harus ngilang" jawab Zivannya menatap Langit. "masih berani berkilah" tanya Langit, Zivannya nyengir menyerahkan coklat dingin kemasan kepada Langit yang tersenyum meraihnya. menatap kak Mentari yang mengajak gadis itu mengobrol menunggu orang tuanya datang.
"kamu..... jauh-jauh dari Langit ku" tunjuk nya galak. Zivannya mengangkat kedua tangannya bergeser menjauh dari Langit menuju Matahari, Langit menatap Zhivannya lama. Zivannya mengangkat bahunya tanda tidak bisa berbuat apa-apa, teman-temannya sedang bersiaga jika terjadi apa-apa. Zivannya sedang berbisik-bisik dengan Matahari, tak lama sebuah mobil masuk, dari dalam keluar seorang perempuan setengah baya dan pemuda yang tergesa-gesa menuju kerumunan mereka.
Zivannya menatap pemuda itu terlalu lama sehingga membuat Langit mendekat dan menutup matanya, "jangan memandang laki-laki lain terlalu lama, yang" bisik Langit ditelinga Zivannya. "aku memastikan cowok itu beneran teman naik Semeru kemarin nggak, yang. hanya itu, ternyata memang benar. itu teman naik Semeru kemarin anak Jakarta" kata Zivannya pelan. Langit membuka tangannya yang menutupi mata kekasihnya.
"Zivannya" kata pemuda itu tertegun, Zivannya tersenyum mendekati Sean, pemuda yang kemarin naik ke Semeru dengannya.
"Sean" senyum Zivannya mengulurkan tangannya, Sean menerima salam Zivannya, "apa dia kakakmu" tanya Sean menatap Zivannya, Zivannya mengangguk. "ini kakak perempuanku, kak Mentari dan suaminya abang Matahari dan ini kak Langit" kata Zivannya. Sean menyalami mereka bertiga dan meminta maaf karena kelakuan adiknya yang diluar kendali.
"dia merasa depresi saat ditinggal menikah oleh kekasihnya yang seorang abdi negara, dan kebetulan wajahnya mirip dengan kak Langit, maafkan adik saya jika merepotkan kalian. dia akan dibawa ke kejiwaan setelah ini agar mendapatkan pertolongan yang tepat oleh ahlinya" kata Sean menundukkan kepalanya.
"maafkan aku Zi. aku tidak tahu jika adikku kemari, dia kabur dari perawatnya dirumah dan membuat kalian tidak nyaman" pandang Sean.
__ADS_1
Zivannya tersenyum mengangguk. "it's Ok Sean. kami meminta maaf jika adikmu harus pulang dengan tertidur" kata Zivannya. Sean tersenyum meminta maaf dan mengundurkan dirinya untuk mengurus adiknya dulu. mobilnya segera meninggalkan institusi kesatuan Langit.
"siapa tadi yang ngumpet dibelakang" gumam Langit, "he em, pingin minta pulang aja. karena nggak mau ngliat kejadian penuh drama" angguk Matahari mengiyakan perkataan Langit.
Zivannya berbalik menatap kakak perempuannya, "kak, pulang" kata Zivannya cepat berjalan menjauh dari mereka berdua, "Ok" angguk Mentari membuka alarm mobilnya. Langit dan Matahari mengejar mereka berdua.
"yang" teriak mereka berdua bersamaan. kedua perempuan itu tidak menggubris tetap berjalan menuju mobil Mentari. Langit mengangkat tubuh Zivannya dari belakang dan membawanya ke dalam ruangannya. Mentari dibawa masuk kedalam mobil oleh Matahari.
"duduk, yang" buka pintu Langit menatap Zivannya, Zivannya menatap Langit lama. "aku hanya ingin berduaan saja hari ini, itu aja. jadi jangan pergi dengan kak Mentari" kata Langit, Zivannya menyilangkan tangannya didepan dadanya.
"udah cukup melihat perempuan yang seperti tadi Zi, jadi biarkan aku melihatmu dengan tenang" pandang Langit lekat, Zivannya mengangguk pelan mendengar perintah Langit, Zivannya bersandar di dinding memejamkan matanya sesaat.
"kita pulang, yang" kata Langit beranjak dari kursinya, Zivannya membuka matanya dan mengangguk. Langit meraih jemari Zivannya dan menggenggamnya erat sepanjang Selasar keluar dari kesatuan. tidak ada yang berani melihat Langit saat dia meninggalkan kesatuan, akan lebih mengerikan akibatnya jika mereka mengatakan sesuatu atau menahan Langit saat ini.
Zivannya menyentuh lengan langit pelan, Langit menoleh menatap Zivannya. "langkahmu terlalu lebar, yang. aku tidak bisa mengimbanginya" kata Zivannya merajuk. Langit melambatkan jalannya mengimbangi langkah Zivannya. "teman-teman kesatuanmu menghindar saat melihatmu melintas bersamaku" senyum Zivannya. Langit menghembuskan nafasnya sebentar mengatur moodnya, menganggukkan kepalanya. Langit berjalan pelan, Zivannya tiba-tiba melepas tautan jemarinya dengan Langit, "sampai jumpa diparkiran kak" kata Zivannya tertawa setengah berlari meninggalkan Langit, Langit tersenyum lebar melihat tingkah Zivannya yang membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Zivannya memakai jaket kulitnya dan helmetnya saat Langit sampai diparkiran, menjulurkan lidahnya mengejek Langit yang telat datangnya, Langit tersenyum lebar dan mengaitkan pengaman helmet Zivannya sebelum dia memakai helmetnya. "pegang jaketku, yang. aku gerah" serahkan Langit. Zivannya meraihnya dan membawanya ke tengah-tengah mereka. Langit melajukan motornya pelan menuju rumah dinasnya.
hai....hai...hai.... all readers terus dukung karyaku ya...
luv...luv...luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini. tiada kata yang dapat menggambarkan betapa berartinya kalian bagiku...
__ADS_1
terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all.....