Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 132


__ADS_3

Langit menghampiri Zivannya dan duduk disebelahnya, "yang, aku lapar" pandang Langit, Zivannya mengangguk dan berdiri keluar dari bangunan abdi negara yang sedang memeriksa mereka, ia menoleh kekanan dan kekiri mencari penjual makanan, dikanan tempatnya berdiri terdapat penjual makanan yang terlihat sepi. Zivannya melangkah dan melihat penjual yang sedang menahan kantuk karena tidak ada pembeli, Zivannya menyentuh bahunya pelan untuk menyapa.


"pak" sentuh Zivannya dibahunya, bapak itu terkejut dan berdiri segera. "mau pesen neng" tanyanya, Zivannya mengangguk. "mau nasi goreng apa bakmi" tanyanya penuh harap. "semuanya pak, tapi saya minta tolong untuk dibawa ke kantor sebelah, bisa" senyum Zivannya mengangguk. "bisa.... bisa neng. mau berapa porsi" tanya nya senang. "semuanya pak, ada banyak orang disana sekarang. jadi saya mau pesen semuanya" senyum Zivannya yang tidak pernah hilang dari parasnya. bapak itu tersenyum lebar mengangguk dengan cepat dia segera membuatkan makanan yang dipesan Zivannya. "bisakah bakminya ditaruh dipiring saja, sedang nasi gorengnya dibungkus" tanya Zivannya menatap bapak itu. "bisa neng, bisa banget. nanti akan saya antar kesana" angguknya bersemangat. "ini saya bayar dulu, nanti jika kurang akan saya tambah lagi" letak uang Zivannya, "baik neng, saya buatin pesenannya dulu nanti akan saya hitung totalnya" angguk bapak menoleh sebentar sambil membuat pesanan Zivannya.


"baik pak, saya tunggu disebelah ya" senyum Zivannya mengangguk dan berjalan keluar, menuju ke supermarket yang ada disebelah kiri bangunan abdi negara penegak hukum untuk membeli dua kardus air mineral dan teh kemasan. "saya bisa minta tolong nggak, nambah nggak papa asal bisa dibawakan kedepan disitu" tanya Zivannya tersenyum. "dimana kak, dikantor polisi itu" tanya kasir, Zivannya mengangguk. "bisa kak, akan kami bawakan. tidak usah nambah" senyumnya. "aahh... terimakasih" angguk Zivannya membayar pesanananya.


"mari kak" dorong troli barang penjaga supermarket. Zivannya mengangguk dan berjalan disamping, taruh disana aja" tunjuk Zivannya disamping pintu keluar masuk. "ini buat beli minum sendiri" serah Zivannya kepada penjaga supermarket. "tidak usah kak, makasih" gelengnya menolak. Zivannya tersenyum. "bersama teman-teman" jawab Zivannya menaruh ditangannya. "makasih kak, semoga tambah banyak rejekinya" angguknya tersenyum. Zivannya membalas dengan anggukan.


"makanannya mana, yang" dekati Langit, Zivannya mengulurkan air mineral ketangan Langit yang segera meminumnya. "aku pesan disebelah, ada penjual yang sampai tertidur karena tidak ada yang beli. aku minta untuk membawanya kemari" angguk Zivannya, Langit tersenyum. "kayaknya akan membutuhkan waktu lama untuk pemeriksaan, yang" sentuh kepala Langit, "it's oke, selama kamu ada disini bersamaku" senyum Zivannya mengusap dada Langit untuk bersabar, Langit mengangguk tersenyum.


"permisi, ini pesanan makanannya sebagian, sebagian lagi baru dibuatkan" datang seseorang yang membawa bungkusan nasi goreng. "makasih mas, letakkan disana saja" angguk Zivannya menunjuk bangku yang dipakainya duduk tadi bersama dengan saudaranya yang lain. " kak, bagiin yuk. sebagian lagi mie. siapa yang mau mie harus nunggu dulu sebentar" kata Zivannya. Mentari, Valerie dan Rara mengangguk dan beranjak dari tempatnya. mereka membagikan kepada petugas abdi negara yang ada terlebih dahulu. beberapa mie pesanan sudah datang silih berganti, mereka memilih makanan yang mereka inginkan sendiri, preman-preman dan istrinya pun mendapatkan makanan yang dipesan oleh keluarga Triastomo.


Langit menyuapi Zivannya. "kak, nggak papa kah kalo gini, ada tiga komandan disini lho" pandang Zivannya, Langit menggeleng. "aku menyuapi istriku kenapa harus malu, jika aku menyuapi wanita lain, aku malu malahan" datar Langit, Zivannya menatap Langit. "berani melakukannya pada perempuan lain" tanya Zivannya, Langit tersenyum "berani, tapi aku nggak punya niatan untuk dekat dengan perempuan lain selain dirimu" angguk Langit, Zivannya mengendikkan bahu mengalah.

__ADS_1


penjual makanan datang menghampiri Zivannya setelah menyelesaikan pesanan yang dia pesan tadi. "neng" dekati penjual dengan pelan. "yaa... pak, gimana. kurang yaa..." toleh Zivannya segera melihat pak penjual membawa uang yang tadi diberikannya. "bukan neng, ini uangnya malah kelebihan banyak" serahkan bapak penjual.


Zivannya tersenyum dan menyodorkan kembali tangan bapak penjual kearah badannya. "berarti itu rejeki istri dan anak bapak. belikan apa yang mereka suka pasti akan mengalir lebih banyak rejeki yang lewat bapak" senyum Zivannya, Langit menatap kekasihnya dengan penuh rasa yang bertambah sayang. "makasih banyak neng, semoga rejeki neng dan keluarga semakin banyak dan barokah" doa bapak penjual makanan menerima uang yang diberikan Zivannya. Zivannya tersenyum mengamini doa bapak penjual makanan.


mereka meneruskan makan kembali, "kak, anak-anak gimana" tanya Zivannya menatap Valerie. "aman, dek. mereka udah tidur. ada empat orang yang njagain, jadi tenang. ini kenapa malah prosesnya lama yaa... damai aja lah. kasian istri dan anak-anak mereka kalo nggak ada ayahnya" pandang Valerie. "udah kak, ini baru nunggu prosesnya. mereka mengakui salah dan meminta maaf kepada kita" angguk Matahari menerima suapan Mentari. "aisshhh... kalian ini kenapa bikin aku iri aja sih, ma... suapin" kata Dirgantara menatap istrinya. "ishhh... anak udah dua pa, malu" kata Valerie menyuapi Dirgantara. "nggak usah macem-macem" pandang Rara, Dimas nyengir menggelengkan kepalanya menatap Rara. Zivannya tertawa kecil.


"kak, undurin berangkatnya nggak jadi sore" tanya Zivannya. "kasian ibu dek, nanti sampai Malang malam" geleng Dirgantara. "ini udah jam 10 kak, sampai rumah bisa jam 12-1 an" hembus nafas Zivannya. "apa kamu dirumah aja, yang" tanya Langit. "tidak, ikut berangkat" geleng Zivannya. "semangat dek, jalan-jalan sendirinya" senyum Mentari. Zivannya tertawa mengangguk memberi isyarat Ok dengan jemarinya. "ke Bali kalo habis dari rumah kakak disana" kata Zivannya. Mentari tertawa melihat tampang Langit yang susah saat ditinggal Zivannya. "kamu kan bisa nyusul Lang" tepuk-tepuk bahu Matahari. Langit hanya dapat menghela nafasnya panjang, "nggak bisa cuti panjang kan bang. lama-lama aku kurung anak ini" pandang Langit. Matahari tersenyum lebar mendengar Langit. "selamat datang di dunia per suami an Lang, terkadang cinta mengalahkan logika" jawab Matahari.


"lha, udah tau padat jadwalnya. ntar dia juga harus mengadakan pertemuan dengan ibu-ibu anggota yang lain" kata Langit. "aaahhh.... iya. aku lupa kalo ada pertemuan begituan. aahhh.... ribet banget sih, kak... aduh.... diundur dua tahun lagi aja yaa...." ingat Zhivannya tersadar dan berubah menjadi panik mendengar perkataan Langit.


"yang, ayo kita pulang" usap kepala Langit, Zivannya mengangguk dan berdiri. "udah selesai" tanya Zivannya, "he em" angguk Langit melingkarkan tangannya dipinggang Zivannya. "mau didepan nggak" tanya Langit. "kenapa, apa kamu terluka" toleh Zivannya berhenti, "sedikit memar di dada" angguk Langit, Zivannya meraba dada Langit. "dimana kak, apa kita kerumah sakit aja ya... apa terasa sakit" hadap Zivannya didepan Langit. "tidak, yang. hanya sedikit, aku masih baik-baik saja" senyum Langit. Zivannya berjalan kearah motornya dan meraih helmetnya dan naik motor, Langit menatap punggung Zivannya berjalan menjauh meninggalkan nya. "kita yang didepan nih" kata Valerie memastikan suaminya, Dirgantara tersenyum mengangguk.


Mentari segera melakukan start engine. "yang, cepetan naik kita harus pulang" kata Mentari mengingatkan Matahari yang masih mengobrol dengan Dirgantara, Dimas dan Langit. "siap-siap untuk balapan nih" pake helmet Dirgantara dan menguncinya. "apa mereka begitu" buka visor Langit, "welcome to Triastomo girls, jangan lupa untuk berdoa" senyum Matahari menepuk punggung Langit, Dimas tertawa lebar. Langit memeluk Zivannya erat, mereka segera meninggalkan bangunan abdi negara yang sedang bertugas. ketiga perempuan yang berada mengendarai motor melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, Matahari memberi tanda dengan ibu jemarinya ke arah belakang saat mereka saling berurutan melajukan motor dijalan yang cukup ramai. "yang, sering begini" tanya Langit. "ya" angguk Zivannya saat berhenti di lampu merah. "kita kekiri atau ambil yang jalur kanan kak Mentari" toleh Zivannya. "kiri aja, lebih dekat. tapi jalannya agak rusak, harus hati-hati" seru Mentari, Zivannya dan Valerie memberi tanda Ok dengan jemarinya. motor kembali melaju dengan cepat, menambah laju saat kendaraan terasa lengang. ketiga laki-laki yang berada dibelakang mereka lebih banyak diam mengikuti irama laju motor agar tidak mengganggu konsentrasi para perempuan yang membawa kendaraan dengan cepat.

__ADS_1


"jam 11.30" ingatkan Dirgantara saat bertemu lampu merah kembali, Valerie mengangguk membuka visornya. "ya" jawabnya. "nggak sampai satu jam kita sudah sampai rumah" toleh Mentari, "pawang rumah sudah nungguin nih" kata Dirgantara, "iya, sama bodyguard nya" senyum Matahari. Dirgantara melakukan hi five dengan Matahari.


Mentari melajukan motor segera setelah lampu lalulintas berwarna hijau, semakin malam jalanan semakin sepi. beberapa truk, kontainer dan bis melaju dengan kecepatan tinggi. jam 12.15, motor memasuki jalanan kompleks perumahan, Matahari meminta ijin untuk masuk kedalam kompleks. para penjaga segera membukakan gerbang agar mereka semua masuk kedalam kompleks, Zivannya memarkir dengan cepat motor dan melepas helmetnya dengan segera, "mau kebelakang. nggak tahan" lempar helmet Zivannya ke arah Langit. "kenapa" lepas helmet Rara, "kebelet buang air kecil, kebanyakan minum"kata Langit menaruh helmet ditempatnya. Rara mengangguk dan mengikuti yang lain masuk lewat pintu belakang.


"gimana tadi kak" tanya bunda ketika melihat mereka semua masuk berurutan dan memberi salam. "nggak kenapa-kenapa bund, mereka yang kurang kerjaan, udah tau salah malah ngotot" jawab Dirgantara melepas jaketnya. Valerie mengambil jaket Dirgantara untuk diangin-anginkan diruang belakang. Zivannya keluar dari kamar telah berganti dengan joger panjang dan t-shirt gombrong.


Langit memberikan jaketnya. "pakaiannya udah aku taruh disamping ranjang, tolong nanti ambilin alas tidur. kita tidur di ruang tengah" ingatkan Zivannya, Langit mengangguk masuk kedalam untuk membersihkan dirinya. "mana rekaman moments yang kamu abadikan kak" tanya ayah. "tuh diponsel abang, aku bersih-bersih dulu yah" isyarat dagu Mentari, Matahari membukanya dan memperlihatkan kepada ayah untuk segera menyusul istrinya membersihkan dirinya.


Zivannya meluruskan kaki bersandarkan dinding di samping Rara. "kamu nggak papa kan Ra" toleh Zivannya, "he em.... lama nggak ngumpul kayak gini Zi, jadi kangen. di sana cuman sendirian dan melakukan hal-hal yang sama setiap harinya. terkadang bosen tau nggak, kalo dikampus ketemu temen seneng kalo ngobrol lama, jadi nggak usah cepat-cepat pulang" senyum Rara bersemangat. "eaaa.... "pejam mata Zivannya, Rara memukul bahu Zivannya yang tertawa kecil. "jadi inget kalo kita sering keluar malam. hanya untuk nongkrong aja, nggak ngapa-ngapain. sampai tutup atau berpindah tempat nongkrong" hembus nafas Rara, Zivannya membuka matanya pelan.


"semoga kita bisa selalu meluangkan waktu saat bisa ya Ra" pandang Zivannya kedepan. "semoga Zi, dengan ijin Tuhan. setidaknya kita tidak putus menyambung persaudaraan lewat peralatan canggih elektronik" senyum Rara, Zivannya tersenyum mengangguk. "setidaknya besuk kita bisa jalan lagi berdua melepaskan penat" semangat Rara kembali, Zivannya tersenyum, Langit menenteng alas tidur di kanan kiri tangannya., Zivannya meraihnya dan menata alas sesuai dengan urutannya.


hai..... hai.... hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku.

__ADS_1


luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih semuanya.


stay healthy all


__ADS_2