Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 23


__ADS_3

"apa kamu semengerikan itu ga" pandang Zivannya menangkup kedua pipi Aga. Aga mengangguk pelan.


"hanya denganmu, selain keluargaku. selama ini aku bukan orang yang aware dengan orang lain. tapi denganmu entah mengapa aku tidak bisa menahan" pandang Aga sayu. Zivannya tersenyum.


"kamu sangat mencintaiku kan komandan" pandang Zivannya lembut.


"sangat, terkadang aku tidak habis pikir kenapa bisa... kenapa dirimu yang keras kepala.... kenapa saat aku melihatmu badanku serasa tidak mempunyai tulang untuk berdiri tegak" hembus nafas Aga panjang.


"bahkan saat kamu menjauh dariku, tanpa aku tau kenapa, tanpa mendengar penjelasanku... membuatku begitu marah, kehilangan akal sehatku" kata Aga.


"sebenarnya kita sama, aku juga tidak bisa mengendalikan jantungku yang berdetak keras saat didekatmu" senyum Zivannya, Aga membelalakkan bola matanya lebar.


"what... jadi kenapa kamu berusaha keras menjauh bahkan menghilang dariku" pandang Aga lekat.


"because.... I don't want to be hurt anymore" geleng kepala Zivannya.


"oh c'mon Zi, you even know me. bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu" seru Aga, Zivannya bangun namun dengan tangannya Aga menahan tubuh Zivannya.


"ahh... kak, c'mon kita harus pulang, end this conversation" kesal Zivannya, Aga memeluk Zivannya erat.


"apa kamu mempercayaiku sekarang Zi, aku takut kamu meninggalkanku lagi" kata Aga pelan, Zivannya menghela nafasnya panjang.


"ya, aku benar-benar mempercayaimu. aku benar-benar menyayangimu" angguk Zivannya pelan.


"so.... beri aku waktu untuk merencanakan pernikahan, kita akan bersama-sama belajar untuk menjadi orang yang lebih baik" kata Aga menatap Zivannya yang mengangguk pelan.


"ah ya kak, kartu yang kamu beri tadi untuk belanja" kata Zivannya menepuk keningnya setelah teringat sesuatu, seketika Aga mencium bibir Zivannya, ******* dengan intens, memberikan sentuhan memabukkan bagi Zivannya yang membalas perlakuan Aga, mereka saling menyentuh satu sama lain. Aga memberikan tanda dibagian benda kenyal candunya, Zivannya meremas rambut Aga dan mendesah pelan.


"kak... stop..." kata Zivannya serak. Aga memeluk tubuh Zivannya, "aku terlalu banyak memberimu kissmark" kecup bibir Aga, Zivannya melenguh pelan.


"remuk badanku" lemas Zivannya. Aga tertawa terbahak-bahak, "nggak lucu kak" pukul Zivannya dibahu Aga yang tambah tertawa.


"aku tau, tapi membuat kenikmatan berdua sungguh menyenangkan" senyum smirk Aga. Zivannya bangun dan merapikan pakaiannya.


"kita pulang sekarang kak" toleh Zivannya menatap Aga yang sepertinya enggan untuk meninggalkan dirinya. Aga menghela nafasnya berat, bangun dan merengkuh tubuh Zivannya dari belakang.


"pulang sama aku aja ya Zi" kata Aga menciumi tengkuk Zivannya.


"aku ingin menemani mama kak, rasanya hatiku enggan pulang untuk kuliah" kata Zivannya mengelus paha kaki Aga.


"hmmm...." dehem Aga menelusupkan tangannya kedalam blouse Zivannya dan meremas benda kenyal candunya, membuat Zivannya mengerang pelan.


"aku hampir tidak menyentuh wanita seperti aku menyentuhmu Zi, punyamu ini serasa pas ditanganku" bisik Aga menggigit telinga Zivannya lembut, Zivannya menggigit bibirnya pelan karena sentuhan Aga yang intens.


"kamu membuatku harus mandi wajib Zi" kata Aga sayu, Zivannya menahan kedua tangan Aga agar berhenti menggodanya.


"jadi jangan teruskan, kita harus pulang" kata Zivannya akhirnya.


"bisakah" senyum Aga melepas underwear Zivannya dari belakang sehingga dia bebas untuk meremas benda kenyal kesukaannya yang terasa pas di tangkupan kedua tangannya, Zivannya benar-benar terbuai dengan sentuhan Aga dan mendesis pelan.


Aga membalikkan tubuh Zivannya yang segera melingkarkan tangannya keleher Aga dan membiarkan Aga menyesap benda kenyal kesukaannya, menahan setengah badannya dengan kedua lututnya. menggesek pelan bagian sensitif Aga yang hanya memakai jeans saja. Aga mendesis pelan menahan sesuatu yang ingin segera keluar dengan cepat menenggelamkan kepalanya diantara dua buah benda kenyal Zivannya, hingga berteriak meluapkan sesuatu yang ditahannya.


"aahhh.... shut.... " hempas tubuh Aga lemas tergeletak diranjang. Zivannya menahan tubuhnya dengan kedua tangannya menatap Aga, mengelus dadanya yang bidang dan proporsi. Aga menatap Zivannya sayu dan memainkan benda kenyal yang menggantung sempurna didepannya.


"hmmm... Zi, bener nggak mau pulang denganku" pandang Aga menatap Zivannya serius, Zivannya mengangguk. beranjak dari atas tubuh Aga, merapikan kembali pakaian bagian atasnya yang berantakan. Aga segera bangun dan berjalan pelan menuju kamar mandi, Zivannya sedikit menyunggingkan senyum dibibirnya ketika melihat langkah Aga yang sedikit aneh, butuh waktu yang agak lama bagi Aga untuk membersihkan dirinya. Zivannya duduk disofa sambil menonton TV dan melihat media sosialnya, dilihatnya Aga memposting mereka berdua yang sedang keliling kota tadi dengan wajahnya yang diberi stiker, Zivannya tertawa pelan melihat moment yang dibagikan Aga di media sosialnya, sebagian berupa langit saat dia sedang bertugas. Aga keluar dari kamar mandi, dan meraih paperbag berisi pakaian barunya.


"lho kakak beli pakaian baru tadi" tanya Zivannya melihat Aga mengenakan celana kain dan kemeja yang sedikit digulung keatas.


"jaga-jaga jika aku khilaf" cengir Aga, Zivannya menatap Aga sesaat.


"pakaian kotorku Zi" tunjuk Aga, Zivannya mengangguk mengerti, mereka segera check out dari hotel dan pulang menuju rumah Zivannya.


"udah pulang ma" peluk Zivannya erat. mama menepuk-nepuk punggung Zivannya.

__ADS_1


"sesak Zi, ahhh kebiasaan nih anak, bikin mamanya nggak bisa nafas" pegang dada mama Zivannya. Zivannya nyengir masuk kedalam kamarnya, membersihkan diri.


"jadi pulang hari ini ga" pandang mama Zivannya.


"jadi ma, ini mau ketempat Aris dulu sebentar mengambil berkas syarat nikah. Aga bawa buat diurus dulu, karena prosesnya lumayan lama" kata Aga mengangguk.


"titip Zi ya ga, anaknya terkadang keras kepala. tapi dia anak yang baik" senyum mama Zivannya, Aga tertawa kecil.


"itu buah tangan untuk keluarga Aris kan" pandang mama Zivannya ke beberapa paperbag diatas sofa, Aga menoleh dan mengangguk.


"iya ma, tadi Zivannya yang memilih" jawab Aga.


Zivannya dan Aga segera kerumah Aris untuk mengambil berkas dan mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas bantuannya kali ini.


mama Zivannya menunggu mereka berdua untuk makan siang bersama. "mama masak" tanya Zivannya duduk dimeja makan.


"iya, mbak Marni tadi. mama cuman tinggal bawa pulang" angguk mama, Zivannya tertawa kecil.


"heem... baik banget ya mbak Marni, masakin orang. besuk-besuk bungkus lagi dong ma, yang lain" balas Zivannya dan mama tertawa bersama.


"mbak Marni, penjual gado-gado dibelakang rumah, agak jauh dikit" terang Zivannya membuka bungkusan gado-gado Aga dan meletakkannya didepan Aga, mengambil air putih diletakkan disisi Aga.


mereka santap siang dengan ngobrol sesekali, akhirnya Aga pamit pulang diantar oleh Zivannya ke stasiun kereta api, atas permintaan Aga, Zivannya hanya bisa menuruti dan menghela nafasnya panjang.


"lumayan lho kak jaraknya" pandang Zivannya, Aga mengelus rambut Zivannya mengangguk dan duduk diruang tunggu.


"hati-hati nanti pulangnya" genggam jemari Aga, Zivannya diam.


"kabari aku jika ada apa-apa, kapanpun itu. kamu punya aku sekarang" kata Aga.


"kartu yang aku berikan padamu, bawa aja. itu pemasukan resmi sebagai abdi negara, aku memang memberikannya untukmu karena kau calon istriku. apapun yang kamu mau pakai aja kartu itu" pandang Aga.


"nggak gini juga kali kak" kata Zivannya.


"kakak kok tau jadwal keretanya" pandang Zivannya.


"nanya ke resepsionis hotel, dan dipesankan juga" kata Aga. Zivannya manggut-manggut.


"jangan keseringan ketemu Bima Zi" pandang Aga tajam.


"nggak sengaja kak" jawab Zivannya, "kamu mungkin nggak sengaja, tapi mungkin dia sengaja untuk bertemu denganmu saat kamu keluar" kata Aga tidak suka.


"iya, Zi nggak akan sembarangan keluar, nyaman dirumah kalo udah gini" sungut Zivannya, Aga menarik mulut Zivannya yang spontan segera memukul jemari Aga yang menarik mulutnya.


"lama lho Zi, satu bulan lebih kamu dirumah" hembus nafas Aga.


"3 Minggu lagi kak, kan udah hampir seminggu disini. semoga bisa diperpanjang lagi, kampus bisa diperpanjang lagi" doa Zivannya. Aga menyentil kening Zivannya pelan.


"aishhh..." refleks Zivannya mengelus keningnya sambil meringis.


"doamu itu lho Zi, mau aku jadi duda dan solo karir terus" goda Aga, Zivannya menatap Aga dan memukul bahunya pelan. Aga tergelak karena Zivannya memerah mukanya.


"ciee.... cewekku bisa blushing juga" towel pipi Aga menggoda Zivannya yang terlihat malu.


"nanti kabari kak kalo udah sampai" kata Zivannya akhirnya.


"pasti, tanpa kamu perintahpun aku pasti akan memberimu kabar dimanapun aku berada, kamu berhak tau tentang keseharian ku, ada beberapa hal yang memang kamu harus tau untuk kebaikan kita berdua" kata Aga.


"Zi, nanti aku minta ijin untuk memindahkan barang mu dikost-an kerumah. karena kemungkinan kamu lama disini, jika aku ada waktu longgar akan mengambilnya" kata Aga.


"lho kan kita belum resmi kak, nggak enak kan kalo tinggal bersama" kata Zivannya.


"makanya aku segera mengurusnya ini Zi, lagian rumah itu hanya kamu yang menempati sekarang, aku masih di apartement karena kita masih seperti sekarang" jawab Aga melihat Zivannya.

__ADS_1


pengumuman kereta tujuan Aga terdengar. Aga dan Zivannya beranjak dari tempat duduknya.


"aku pulang duluan Zi, jangan lupa selalu memberiku kabar" pandang Aga memeluk Zivannya dan mencium ubun-ubun kepalanya, keningnya. Zivannya mencium punggung tangan Aga.


"jaga kesehatan kak, jangan lupa tidur" senyum Zivannya melambaikan tangan kearah Aga yang berjalan menjauh menuju keretanya, Aga tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan Zivannya, berjalan keluar dari stasiun kereta.


Zivannya mampir di supermarket membeli beberapa cemilan dan kue basah di toko roti dalam perjalanan pulang kerumah.


"Zivannya kan" panggil seseorang di toko roti, Zivannya menoleh memperhatikan sejenak orang itu.


"ya ampun Zi, aku Dewi. masak lupa, temen satu kelas" senyum Dewi, Zivannya mengingatnya.


"ahhh... apa kabar wi, bagaimana kabarmu" tanya Zivannya menyalami dewi.


"baik, kamu makin cantik aja, dirumah sekarang" tanya Dewi, Zivannya mengangguk.


"iya, kamu dimana tinggalnya" tanya Zivannya.


"masih ditempat yang lama. aku udah menikah lho, punya anak satu. setelah lulus aku kursus menjahit, dapat suami tetangga kampung" senyum Dewi, Zivannya tersenyum kecil.


"wah, selamat ya... malah aku yang belum menyusul. senangnya punya anak lucu gini" elus kepala Zivannya.


"kamu gimana dengan Bima, masih lanjut" tanya Dewi, Zivannya menggeleng tersenyum.


"belum jodohnya wi, dia malah menikah dengan Sita, sahabatku" jawab Zivannya.


"ahh... aku tidak tahu Zi, maafkan aku" kata Dewi menyesal. Zivannya melambaikan tangannya tanda nggak papa, jangan kuatir.


"aku baik-baik aja Wi, nggak papa. Tuhan lebih mengerti yang terbaik untukku" geleng Zivannya.


"aahhh.... kamu mau beli kue juga" tanya Zivannya.


"iya, ini anakku pingin beli" perlihatkan Dewi.


"kalo gitu ayo, sekalian. aku juga udah selesai" senyum Zivannya mendekati kasir bersama dengan Dewi. Zivannya membayar semuanya.


"makasih Zi, malah ngrepotin. jadi nggak enak hati lho aku" kata Dewi.


"nggak papa Wi, untuk anakmu yang lucu ini" senyum Zivannya keluar dari toko.


"aahh... tadi aku juga beli cemilan sebentar" kata Zivannya mengambil paperbag cemilannya.


"aduh Zi, banyak banget ini" kata Dewi merasa nggak enak hati.


"ini untuk si kecil lucu ini. kapan-kapan main kerumah Tante dong" senyum Zivannya.


"aku duluan ya wi, mama nunggu aku dari tadi, abis nganter teman ke stasiun kereta" kata Zivannya. Dewi mengangguk dan berterima kasih atas pemberian Zivannya.


Zivannya bergegas pulang kerumah, "kenapa ma" lihat Zivannya saat melihat mamanya meringis memegang dadanya, segera mengambil air mineral dalam gelas, memberikan pada mamanya untuk diminum.


"nggak tau nih Zi, kok tiba-tiba agak sakit" senyum mama Zivannya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2