Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 29


__ADS_3

Zivannya menghabiskan burger segera, Aga mengulurkan botol air mineralnya. Zivannya segera meminum habis air mineral.


"mau makan lagi" tanya Aga melihat Zivannya yang menyandarkan punggungnya didinding, Zivannya menggeleng merasa kenyang.


"Zi, nanti sore kami akan kembali kekota masing-masing, kak Mentari belum kembali kerumahnya. kak Dirgantara juga harus bertugas kembali" pandang Aga, Zivannya mengangguk.


"jam berapa nanti pulang" tanya Zivannya. "mereka akan kembali sore nanti naik kereta" kata Aga, Zivannya mengangguk.


"terimakasih banyak kakak dan abang, Zivannya tidak tahu harus membalas apa" senyum Zivannya menatap ketiga saudara Aga.


"nggak dek, kakak senang akhirnya ada yang mau sama dek Aga yang terkenal tidak bereaksi terhadap gadis" tawa ngakak Dirgantara, Mentari memandang Matahari tajam, mengingatkan agar Matahari tidak ikutan menertawakan Bagaskara.


"papa..." teriak Valerie. Dirgantara seketika berhenti, mendengar suara istrinya yang membahana.


"iya ma, kebiasaan kalo bertiga suka ngerjain adek. ishh... lupa kalo ibu negara masih ada" cengir Dirgantara, mereka tertawa ngakak. Zivannya melambaikan tangan kearah ponsel Dirgantara.


"hai kak Val, mana si tampan Raka dan Riki" senyum Zivannya. Raka melihat layar ponsel Valerie. Zivannya tersenyum lebar melihat muka Raka yang lucu, "hai gantengnya aunty, mau lihat nenek nggak. nenek lagi sakit lho" perlihatkan Zivannya kearah bed pasien mama Ranti.


"sakit apa onty" tanya Raka melihat layar dengan serius.


"kecapekan ngurus aunty. jadi jangan bikin capek mama ya, biar mama nggak sakit ya handsome nya aunty" senyum Zivannya. Raka manggut-manggut. "cepet sembuh nek, main sama Raka nanti" lambai Raka dilayar ponsel Dirgantara.


"papa pulang kapan" tanya Raka, Zivannya menyerahkan ponsel Dirgantara kembali.


"nanti malam papa sudah sampai rumah lagi kak" senyum Dirgantara, Raka mengangguk.


"aahhh... aunty nggak disapa nih kak" manyun Mentari memeluk Dirgantara.


"aunty... jangan peluk-peluk papa, papa itu punya mama. sama om Matahari aja" kata Raka menatap tajam Mentari, Dirgantara tertawa lebar. "onty Mentari kan adik papa. nggak papa kalo onty peluk papa kan kak" goda Dirgantara.


"kalo om Aga boleh peluk aunty Mentari nggak" tanya Aga memeluk Mentari, Dirgantara segera memeluk Mentari disisi yang lain. Raka tertawa lucu melihat mereka bertiga berpelukan. Matahari segera mengabadikan moment Istri dengan kedua penjaganya.


"nanti aku kirim ke kalian" senyum matahari memperlihatkan layar ponselnya.


"kok kayak Teletubbies sih pa" lihat Raka, mereka tertawa lebar.


"bapak-bapak yang pada narsis" geleng Mentari, Zivannya mengangguk menyandarkan kepalanya dibahu sofa.


"ganti baju dulu Zi, baru tidur" kata Aga, Zivannya mengangguk segera beranjak kedalam kamar mandi berganti baju.


"jangan lupa siapin mental dan badan jika sudah masuk sidang pranikah Zi" kata Mentari setelah melihat Zivannya keluar dari kamar mandi.


"dan.... lupakan pakaian kebesaran mu saat kuliah" angguk Mentari tersenyum senang. Zivannya membelalakkan mata menatap Mentari, yang mengangguk tersenyum smirk.


"sebegitunya kah kak" tanya Zivannya tidak percaya, Mentari mengangguk sekali lagi. Zivannya terduduk lemas mendengar penjelasan Mentari.


"tidak begitu mengerikan dek, tapi ya begitulah" kata Valerie di sambungan ponsel.


"can it be repeated" tanya Zivannya memelas. Aga menoleh, "apanya yang diulang" tanya Aga menatap Zivannya.


"nggak jadi nikah aja, terlalu ribet kak" geleng Zivannya pelan, Aga menyentil kening Zivannya pelan, Zivannya memejamkan matanya mengantuk.


"dia tidur lagi" lihat Mentari menggelengkan kepala. "tadi malam kurang tidur" jawab Aga.

__ADS_1


"kamu yakin meninggalkannya sendiri disini dek" tanya Mentari, Aga mengangguk.


"mereka selalu berdua setelah papanya meninggal saat bertugas" jawab Aga.


"Zivannya anak tentara juga" tanya Matahari, Aga mengangguk.


"pantesan garang" lirik Matahari kearah Mentari, yang menatapnya tajam.


"nggak yang... bukan kamu..." senyum Matahari memeluk Mentari.


"aku antar ke hotel dan stasiun kereta nggak kak" tanya Aga, Mentari menggeleng.


"kamu pulang juga nanti dek" tanya Dirgantara, Aga mengangguk.


"nggak bisa lama meninggalkan kesatuan kak, kakak dan abang juga sama kan.." tatap Aga, mereka berdua mengangguk.


"jika ada apa-apa kabari secepatnya, kita akan selalu siap. jangan sungkan kapanpun waktunya kita pasti datang. Ayah belum tentu bisa jadi hanya kita bertiga yang bisa saling menguatkan" pandang Dirgantara. Mentari dan Aga mengangguk mengerti.


"abang masih cuti berapa lama sebelum kembali kejakarta" tanya Aga. "masih sekitar dua minggu lagi dek, aman jika akan menyelenggarakan pesta" angkat ibu jari Matahari.


"kayaknya tidak bisa dalam waktu dekat bang, kondisi mama Zivannya mengkhawatirkan. penyakitnya sudah menyebar, takutnya kakak dan abang akan balik kesini dalam waktu dekat" pandang Aga berbicara pelan. Dirgantara dan Matahari saling berpandangan dan mengangguk pelan mengerti arah pembicaraan Aga.


"kalo begitu manfaatkan waktu untuk mama Zivannya dek, kami akan pulang dulu" kata Dirgantara seraya beranjak dari tempat duduknya, diikuti Matahari dan Mentari. Aga mengangguk mengantar kepergian dua saudaranya keluar dari Rumkit. Aga kembali keruangan mama Ranti, berpapasan dengan para perawat yang berjaga didepan bangsal mama Ranti, yang menggodanya sembunyi-sembunyi.


"jam berapa kak" tanya Zivannya setelah tidur cukup lama, Aga menjawabnya, Zivannya segera duduk sambil menyandarkan kepalanya didinding. Aga meraih kepala Zivannya agar bersandar dibahunya.


"mama belum bangun juga kak" tanya Zivannya membuka matanya.


"kakak pulang jam berapa nanti" tanya Zivannya. "sebenarnya tidak mau pulang Zi, nemenin kamu aja disini" jawab Aga pelan.


"mau dikasih makan apa aku kak jika kamu nggak kerja" senyum Zivannya, Aga mengecup bibir Zivannya lembut.


"pulang segera Zi, aku nggak tahan jika berjauhan" kata Aga, Zivannya mengangguk.


"doakan mama segera sembuh dan pulang kak, maka aku akan pulang" jawab Zivannya, Aga mengamini permintaan Zivannya.


"kak semester depan aku harus KKN" kata Zivannya menatap Aga. "kapan" tanya Aga terlihat tidak berdaya.


"sekitar pertengahan semester baru akan dilakukan, selama satu bulanan. sebelum itu akan dilakukan briefing dan seminar tentang materi yang akan dibawa ditempat kita KKN nanti" jawab Zivannya.


"jauh nggak" tanya Aga, kemarin kita dapat yang lumayan sih kak, kemungkinan diluar Jawa" angguk Zivannya, Aga menghela nafasnya panjang.


"kenapa harus beruntun gini sih Zi, nggak bisa apa kita honeymoon dengan tenang" tanya Aga menatap Zivannya yang tersenyum lebar.


"anytime kita bisa lakukan kak, setiap waktu luang akan menjadi moment yang berharga" jawab Zivannya menepuk dada Aga.


"kan kakak yang bilang harus menghadapi apapun dengan tenang dan ikhlas" senyum smirk Zivannya mengulang omongan Aga. Aga menggeram pelan saat Zivannya beranjak untuk kekamar mandi.


"ma..." tepuk punggung tangan Zivannya pelan. mama ingin membuka mata namun berat, Zivannya membisikkan bahwa Aga akan kembali pulang untuk bekerja malam ini. mama hanya mengerjapkan matanya tanda mengerti. Aga mencium punggung tangan mertuanya.


"pake mobil kan kak" keluarkan kunci Zivannya dari dalam nakas.


"aku naik kereta aja Zi, lebih nyaman dan aku bisa istirahat sebentar" kata Aga.

__ADS_1


"oh ya, sampai lupa. tadi penghulu dan ayahnya Aris sudah selesai urusannya. jadi kamu fokus ke mama aja. jika ingin pulang mengambil baju ganti, pamit mama. titipkan ke perawat sebentar" pandang Aga, Zivannya mengangguk dan menyalami punggung tangan Aga. Aga mencium kening Zivannya, kedua pipinya dan bibirnya dengan lembut.


"hati-hati dan jaga kondisi Zi, jangan sampai sakit dan membuatku kuatir saat jauh" kata Aga. Zivannya mengangguk memeluk Aga erat sebelum keluar dari ruang rawat inap pasien. Zivannya menutup pintu setelah Aga tidak terlihat dilorong bangsal.


"hidupkan ponselmu terus Zi" kata Aga sesaat setelah Zivannya mengangkat panggilannya.


"iya" jawab Zivannya cepat, Aga tersenyum lebar mematikan panggilannya. belum jauh meninggalkan Zivannya, Aga sudah merindukannya.


Zivannya berbaring di sofa panjang, sesekali menatap mamanya yang terlihat tenang dan damai, melihat banyak chat yang masuk menanyakan status yang dibagikannya kemarin sore. Zivannya hanya tersenyum melihat chat teman-teman yang memberi dukungan untuk kesembuhan mamanya. Zivannya mengambil moment mamanya saat ini untuk meminta doa kesembuhan penyakit mamanya, yang segera diunggahnya ke media sosial miliknya, hingga Aga kembali melakukan panggilan video kepadanya.


"ya kak, sudah sampai di stasiun kereta" lihat Zivannya dari layar ponselnya, Aga mengangguk.


"rame nggak" tanya Zivannya, Aga memperlihatkan suasana stasiun kereta yang terlihat lumayan rame.


"banyak cewek cantik tuh pada liatin" senyum Zivannya, Aga memperlihatkan cincin yang melingkar dijari manis kirinya. Zivannya tertawa pelan.


"kenapa emangnya" tanya Zivannya, Aga tertawa pelan.


"nggak papa, aku sudah punya istri yang jauh lebih cantik menungguku" jawab Aga. Zivannya manyun.


"keretaku datang" dengar Aga melihat kedepan. "mau dimatikan" tanya Zivannya, Aga menggeleng.


"nanti aja jika kereta sudah akan berangkat, temani aku hingga nanti" jawab Aga. "baik kak" jawab Zivannya.


"mama masih tidur" tanya Aga, Zivannya memindah kamera ponsel ke kamera belakang.


"apa suster sudah mengganti cairan infus mama" tanya Aga berjalan pelan menuju kereta yang sudah memperbolehkan untuk dinaiki penumpang.


"belum, masih tersisa sedikit. nanti akan Zi ingatkan" angguk Zivannya. Aga mencari nomor kursi penumpangnya di gerbong kereta, hingga tampak nomor tempatnya untuk duduk, disebelahnya telah duduk seorang perempuan yang memandangnya sambil tersenyum. Aga melihat sekelilingnya yang terlihat agak padat.


"aku duduk bersebelahan dengan seorang perempuan, honey" kata Aga, Zivannya tertawa kecil.


"it's oke kak, jika kamu merasa tidak nyaman cari tempat duduk yang kosong. senyaman mu aja" jawab Zivannya. Aga tersenyum menatap layar ponselnya.


"nanti aku kabari jika sudah sampai apartement" kata Aga. Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya.


"kereta kayaknya akan berangkat" dengar Aga.


"ok, hati-hati dijalan. selamat sampai apartement nanti" lambai tangan Zivannya. Aga tersenyum menganggukkan kepalanya.


"see U sweety" lambai tangan Aga melihat Zivannya yang mematikan panggilan videonya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2