
"onty" teriak Raka senang sekali melihat Zivannya sudah sampai dipintu rumah. Zivannya memeluk Raka dan mengangkatnya. "apa kabar kak, tambah ganteng aja" dusel kepala Zivannya, Raka tergelak. "onty" lambai Riki, Zivannya menoleh menurunkan Raka dan bergantian mengangkat Riki "hhmmm, bau asem nggak" pandang Zivannya, Riki menggeleng mengangkat kedua tangannya keatas agar Zivannya mencium kedua keteknya, Riki tergelak kegelian. Mereka segera masuk kerumah.
"eemmm, Kayaknya ada coklat dan susu deh di ransel onty, mana ya tadi" ingat-ingat Zivannya mengetuk ujung hidungnya dengan jari telunjuk.
"mau" seru Raka dan Riki, mereka tertawa dan saling berpelukan.
Zivannya mengeluarkan sekantong makanan ringan dari dalam ranselnya, mereka segera mengambilnya dan duduk tenang sambil menonton TV, Zivannya berbaring disampingnya.
"dek, alas dan cover nya" letakkan Valerie, Zivannya menoleh menyalami Valerie. "makan nggak dek" tawari Valerie, "nggak lapar kak, udah tegang aja ini perut. Baru sampai Jogja di hubungi kalo besuk udah sampai. Alamat kayak orang kesurupan, lari sana lari sini" hembus nafas Zivannya, Valerie tertawa menyeruput teh panasnya.
"kakak dulu juga sepertimu dek, kita memang harus selalu siaga" jawab Valerie, Zivannya berdehem pelan, Valerie tergelak.
"mama, jangan keras-keras. Kita baru nonton" pandang Riki, Valerie mengangguk dan mengunci mulutnya dengan tangan. Zivannya tertawa kecil melihat tingkah kakak perempuan nya itu, Zivannya mencium pipi Riki yang berada di sebelahnya. "onty" hapus Riki tidak suka di bekas ciuman Zivannya. Zivannya dan Valerie tertawa ngakak.
"apaan sih, kalo udah ketemu kayak yang lain ilang" datang Dirgantara, "hhmmm, karena kakak laki-laki nya selalu sibuk sendiri" gerutu Valerie, Dirgantara tersenyum memeluk istrinya. "maaf ma" kecup pipi Dirgantara. Zivannya menutup kepalanya dibalik cover.
"besuk mau jemput jam berapa" tanya Dirgantara memakan makanan kecil.
"katanya siang jam 10" jawab Zivannya.
"bentar lagi juga bisa dek" buka cover Dirgantara, Zivannya tersenyum lebar.
"alamat nggak bisa bergerak beberapa minggu kak" ceplos Zivannya, mereka tertawa ngakak bertiga.
"enak dong, nggak usah ngapa-ngapain" senyum-senyum Valerie. Dirgantara tertawa ngakak. "papa, jangan keras-keras ketawanya" kesal Riki, Dirgantara menutup mulutnya rapat-rapat.
"Arka sering ketemu dengan Rara, dek" kata Dirgantara. "lumayan kak, om Baskara juga ingin mengenal Rara juga. Tapi Zi tidak berani untuk membantu siapapun" pandang Zivannya. "hati Rara menuju ke Yuda dan Yuda kemarin cerita jika dia menyukai seorang gadis yang berbeda darinya dan masih sekolah" hembus nafas Zivannya.
"dia sudah move on darimu dek" tanya Valerie cepat.
"iiishh ma, kalimatnya kurang tepat. Berarti dia sudah nggak mengharapkan mu, dek" ulang Dirgantara.
Zivannya tersenyum lebar. "aku tidak ada rasa selain teman baik, kak. Baik sebelum ada kak Aga atau kak Langit, entah mengapa, rasa itu tidak pernah muncul. Dulu memang sempat berpikir untuk bersama Yuda saja saat kak Aga telah pergi agar tidak melibatkan perasaan terlalu dalam. Tapi ternyata kak Langit yang mengisi kekosongan hatiku" kata Zivannya. Dirgantara terdiam mendengarkan.
__ADS_1
"kamu tahu dek, setelah keluarga Arka tahu kamu dan keluarga kita. Mereka menyesal tidak mengenalmu lebih dekat, karena mereka hanya tahu statusmu tanpa melihat latar belakangmu. Untungnya Langit yang menjadi suamimu" ucap Dirgantara pelan.
"darimana papa tau" toleh Valerie. "aku bertemu dengan mereka saat ada acara dikesatuan. Aku hanya memperkenalkan diri sebagai kakak laki-laki tertua Zivannya Triastomo, mereka menampakkan keterkejutan di parasnya, padahal Arka mengenalkan ku sebagai komandannya" jawab Dirgantara senang.
"kak, kenapa jadi bahagia gitu" tanya Zivannya, "iya ikh, papa suka gitu. Nggak enak sama Arka dan orangtuanya jika ketemu mereka nanti" pukul bahu Valerie pelan.
"bukan papa yang memiliki sifat meremehkan duluan. Mereka belum mengenal adikku tapi udah berpikir yang tidak-tidak" jawab Dirgantara kesal.
"bukan salah mereka juga kak, kan memang statusku tidak sendiri. Itu hak mereka menilai ku seperti apa, aku tidak merasa sedih atau tidak suka. Justru aku berterimakasih karena dengan begitu aku terhindar dari hal-hal yang tidak baik jika masih sendiri, aku merasa beruntung memiliki ibu dan kak Langit yang menyayangi ku selain keluarga Triastomo. Aku benar-benar berterimakasih untuk hal itu kak" kata Zivannya duduk.
"iya, kakak tau. Terkadang seorang kakak akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya, apa kamu tau dek. Bang Matahari juga melakukan hal yang sama saat bertemu dengan kedua orang tua Arka" senyum Dirgantara, Valerie dan Zivannya menatap Dirgantara bersamaan dan tidak percaya atas perkataan Dirgantara barusan.
"beneran, saat kami berdua bertemu dengan kedua orang tua Arka tidak sengaja, dia juga melakukan hal yang sama dengan ku. statusmu juga tidak semua orang harapkan, jika boleh memilih maka Aga akan menjagamu selamanya, tapi Tuhan memang berkehendak lain dan memilih Langit untuk menjagamu sekarang" minum Dirgantara. Zivannya tersenyum memeluk kakak laki-laki nya itu sekarang.
"terimakasih kak, terimakasih banyak" ujar Zivannya. "tentu dek, kita memang tidak terikat oleh darah tapi setidaknya kamu tetap adek perempuanku sama dengan Mentari" senyum Dirgantara.
"dan kamu juga harus tau, saat Langit mendekatimu juga menerima petuah dari keluarga Triastomo dulu. Nggak hanya latihan fisik tapi mental juga" pandang Dirgantara. Zivannya membuka matanya tidak percaya.
"Kebiasaan" kata Valerie, Dirgantara memeluk istrinya dan mengecup pipinya berulangkali.
pagi hari
"onty antar kesekolah ya" datang Zivannya. Raka mengangguk memakai sepatunya. Zivannya keluar untuk memanasi motor matic besar Valerie. "beli apa kak" tanya Zivannya, "yang ada aja" jawab Valerie, Zivannya mengangguk. Raka dan Riki segera naik motor diantar Zivannya kesekolah, ia mampir di penjual sarapan pagi yang berada disekitar jalan di luar rumah dinas Dirgantara.
Mereka bertiga sarapan bareng diruang tengah sambil mengobrol dan bercanda, "udah jam 9 dek" ingatkan Valerie, Zivannya mengangguk beranjak untuk berganti pakaian.
"kak, naik motor aja ya" kata Zivannya, Valerie menggeleng menyerahkan kunci mobil. "nanti parkirnya jauh, padat pasti banyak yang menunggu juga" kata Zivannya, Valerie menggeleng. Zivannya menghela nafas meraih kunci dan mengganti pakaiannya kembali dengan gaun yang panjang Valerie tersenyum melihat Zivannya yang terlihat cantik.
Zivannya melajukan mobil dengan sedikit lebih cepat agar tidak ketinggalan waktu, ia memarkir mobil agak jauh dari area penjemputan.
Belum tampak tanda-tanda kapal berlabuh di pelabuhan, ia memilih menatap laut dari dalam mobil karena cuaca yang sedikit terik membuatnya untuk tetap didalam agar lebih adem. tidak berapa lama tampak kapal akan merapat. Zivannya tersenyum kecil melihat keluarga para abdi negara terlihat bersiap-siap menyambut kepulangan suami mereka, ayah mereka dengan gembira. Penantian yang lama membuat mereka terlihat sukacita, tidak tampak wajah lelah untuk menunggu kepulangan orang yang mereka rindukan.
Zivannya segera keluar dan berjalan pelan untuk berada didekat dengan keluarga abdi negara lain. Kapal berbunyi panjang menandakan mereka pulang dengan selamat tidak kurang suatu apapun. Anak-anak kecil terlihat bersorak dan berteriak mendengar bunyi kapal yang merapat. Semua abdi negara terlihat bersandar disepanjang tepian kapal melambaikan tangan ke arah keluarga mereka yang telah menunggu di pelabuhan.
__ADS_1
Zivannya segera menjauh agar tidak berdesakan karena euforia kepulangan anggota keluarga mereka kembali, ponselnya bergetar terdapat panggilan dari suaminya. "disebelah mana, yang" tanya Langit segera.
"Agak jauh kak, aku memakai kemeja kuning" jawab Zivannya, Langit melihat istrinya dari atas kapal.
"jangan kemana-mana, aku yang akan menghampirimu nanti. Tidak usah ikut berdesakkan disana, biar aku yang akan mendekat" lihat Langit.
"aku tidak melihatmu kak, terlalu jauh dari tempatku berdiri" lihat Zivannya.
"yang penting aku melihatmu, jangan kemana-mana" ingatkan Langit, Zivannya berdehem menutup ponselnya.
Setelah kapal menepi, semua abdi negara melakukan apel kepulangan sebelum benar-benar kembali ke pelukan keluarga mereka. Zivannya menanti Langit dalam diam melihat keluarga abdi negara sedikit banyak telah saling bertemu dan saling melepas rindu terhadap orang-orang tercinta mereka. Zivannya menoleh ke kiri dan ke kanan melihat apakah Langit sudah dekat ataukah belum. Ia menanti dengan rasa yang campur aduk, ia seperti anak kucing yang kehilangan induknya hanya berdiri sambil melihat kanan kiri dimana sebagian besar abdi negara sudah bertemu dengan keluarga mereka, belahan jiwa mereka.
Langit tersenyum melihat Zivannya yang terlihat sangat cantik, ia meletakkan kedua tas jinjingnya dibawah, "yang" seru Langit, Zivannya menoleh mencari asal suara Langit ia segera berlari memeluk suaminya yang tersenyum ceria menatapnya. Langit memeluk istrinya dan mengangkat tubuhnya, menciumi rambutnya berulangkali. "aku pulang, yang" tatap Langit menekan kedua pipi istrinya hingga bibirnya mengerucut, Zivannya mengangguk.
"ayo pulang" kata Langit menatap Zivannya lekat, istrinya hanya mengangguk menuruti. Langit meraih jemari Zivannya, mereka berjalan pelan meninggalkan kerumunan orang-orang yang masih belum beranjak dari sana.
"apa kamu memakai mobil kak Dirgantara" toleh Langit, Zivannya mengangguk menatap suaminya. "dimana kamu parkir" tanya Langit, Zivannya berhenti sesaat. "aku lupa" tatap Zivannya.
Langit menatap istrinya dan tersenyum, "apa kamu tidak percaya aku sudah pulang, yang. Aku sudah disini bersamamu sekarang jadi buang jauh-jauh pikiran yang tidak benar di kepalamu ini" sentil kening Langit pelan, Zivannya mengusap keningnya refleks memajukan bibirnya. Langit menatap istrinya gemas karena menggodanya.
"aku makan itu bibir kalo begitu, ingat baik-baik jangan sampai lupa" kata Langit, Zivannya segera menoleh ke kiri dan ke kanan mengingat sebelah mana dia memarkirkan mobilnya, ia menunjuk kearah kanan tempat mereka sekarang. "agak jauh sih kak, karena sudah penuh tadi, Zi mepet berangkatnya. Tadi sebenarnya mau naik motor aja agar tidak terlambat tapi kak Valerie tidak memperbolehkan" tatap Zivannya Langit merengkuh bahu istrinya dan berjalan pelan menuju sebelah kanan jalan mereka berhenti tadi.
"apa kamu sehat-sehat saja selama aku pergi, yang" usap kepala Langit, Zhivannya mengangguk pelan. "kamu meninggalkan mobil di bandara Jogja" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "apa kamu merindukan ku" senyum Langit, Zivannya mengangguk beberapa kali. Langit tersenyum lebar melihat istrinya yang imut.
Mereka segera masuk kedalam mobil setelah menemukannya ditempat parkir. Zivannya menghela nafas dan menyeka peluh yang keluar karena terik matahari. Langit meletakkan tas jinjing dibelakang, ia segera menjalankan mobil keluar dari parkiran.
"yang, mau langsung ke tempatnya kak Dirgantara atau mau kemana dulu" tanya Langit menatap istrinya, "pulang aja langsung, minta antar kebandara sekalian. Mumpung masih terang, aku masih ninggalin mobil dibandara Jogja. Liburanku di Jogja belum terpenuhi" pandang Zivannya, Langit mengusap rambut istrinya mengangguk. Langit membelokkan mobil kearah hotel yang terdapat disekitar jalan mereka pulang. "lha, kenapa kesini kak" terkejut Zivannya saat mengetahui kelakuan Langit. "aku sudah nggak tahan, yang" pandang Langit lekat, Zivannya terdiam menghela nafasnya panjang, Langit tersenyum memarkir di basement hotel.
Hai .... Hai .... Hai .... All readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini.
Luv .... Luv .... Luv .... U all readers sekebon pisang goreng. Terimakasih banyak semuanya.
Stay healthy all
__ADS_1