Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 34


__ADS_3

"Zi, mamamu selalu tidur ya.." tanya Rara menatap kamar mama Zivannya. "iya Ra, semenjak pulang dari rumah sakit, lebih banyak tidur" angguk Zivannya.


"kita udah dua hari disini tapi mamamu lebih banyak dikamar" angguk Dimas. "mungkin karena penyakitnya jadi dikit-dikit capek" kata Rara, Zivannya mengangguk.


"komandanmu nggak kesini Zi" tanya Rara menaik turunkan alisnya menggoda Zivannya.


"katanya sih Jumat sore baru berangkat sehabis ngantor, ini Kamis siang" kata Zivannya.


"kamu udah ngeliat mama belum Zi" ingatkan Rara dari dapur, Zivannya mengangguk.


"baru 15 menit yang lalu bu...." jawab Zivannya.


"takutnya mama butuh apa-apa, minum kek, pijit kek" kata Rara, Zivannya nyengir.


"bentar lagi mama juga keluar menjelang sore, kewajiban sore" kata Dimas.


"tuh... Dimas aja tau. kamu yang bawel Ra, pantes lho kalian segera nikah dan punya anak" senyum-senyum Zivannya.


"ehmmmm... situ bicara diri sendiri bu" pandang Rara menunjuk Zivannya, Zivannya tersadar bahwa dirinya lah yang telah menikah, tertawa lebar menertawakan dirinya sendiri.


"lupa, malam pertama langsung ditinggal pergi soalnya" kata Zivannya. Rara tertawa ngakak. Dimas hanya garuk-garuk kepala cengo'.


"jadi ceritanya masih tersegel nih" sikut tangan Rara menatap Zivannya sambil senyum-senyum.


"masih, rapi pake pita" balas Zivannya. mereka tertawa ngakak, merasa benar-benar seperti anak sekolahan yang pertama kali merasakan jatuh cinta.


"jadi nggak bisa nanya deh, gimana malam pertamanya" pandang Rara.


"hustt ... awas... ada anak dibawah umur, nanti kalo dia minta yang macem-macem emang kamu mau ngabulinnya" bisik Zivannya, Dimas memukul bahu Zivannya pelan.


"kurang asem, dasar kalian berdua kalo udah ketemu nggak kira-kira bercandanya, kalo cuman nyicip doang sih sekali dua kali masih bisalah... walo marah-marah dulu" senyum Dimas, Rara memukul bahu Dimas keras hingga berseru kesakitan.


mama Zivannya keluar dari kamar bersiap untuk melaksanakan kewajiban sore, "kita berangkat ketempat ibadah sekarang yuk" kata mama sudah rapi, mereka segera beranjak dari duduknya dan bergantian menuju kamar mandi.


"ma, nanti mau makan apa" tanya Rara. "nanti aja setelah selesai kewajiban. kalian bertiga aja yang makan. mama udah kenyang, temeni Zivannya sampai selesai urusannya yaa..." senyum mama melihat mereka bertiga.


"urusan apa ma, kan kita belum masuk kuliah. ini aja baru healing lho ma" kerut Rara, mama hanya tersenyum. tiba ditempat ibadah mereka segera menempatkan diri untuk melaksanakan kewajiban sorenya.


"mama pesan apa untuk makan malam" toleh Zivannya, mama menggeleng. Zivannya memijit kaki mama yang terasa dingin.


"Zi ambilin selimut sama minyak kayu putih ya... biar kaki mama nggak dingin gini" anjak Zivannya, mama mengangguk sambil memejamkan mata sambil melafalkan kalimat syahadat.


Zivannya segera kekamar mengambil cover bed dan minyak, Zivannya memijit kaki sebelah kanan sedang Rara disebelah kiri sementara mama terus melafalkan kalimat syahadat berulang kali hingga mama tertidur, Zivannya merapikan selimut mamanya.


"mama tidur disini nih Zi, kita nonton TV lumayan keras suaranya lho" kata Rara, Zivannya mengangguk pelan, Rara mengganti beberapa channel TV karena acaranya dianggap tidak menarik baginya.

__ADS_1


"kita beli pecel lele di ujung desa aja gimana" usul Dimas sambil memakan cemilan, Rara setuju dengan usul Dimas.


"kalian yang beli aja ya... aku pingin nemenin mama aja" angguk Zivannya.


"abis kita kewajiban petang aja, biar tenang keluarnya" kata Rara, Dimas memberi tanda Ok dengan jarinya.


"ma.... mau ikut ketempat ibadah nggak, udah dipanggil tuh. waktunya udah tiba" goyang Zivannya pelan dibahu mamanya yang tidak bergerak sama sekali, terlihat tersenyum dalam tidurnya, tubuh Zivannya seketika membeku, segera meraba dada mamanya yang sama sekali tidak berdetak.


"Rara" teriak Zivannya. Rara tergopoh-gopoh keluar dari kamar, Dimas segera keluar dari kamar mandi. mereka mendekati Zivannya bersamaan. "kenapa Zi" pegang pipi Rara panik. Dimas mengecek tubuh mama Zivannya. Zivannya hanya diam saja memandang mamanya yang sudah benar-benar pergi meninggalkannya.


"Zi.... jangan membuatku takut.... ziiiiiiiiiii..... Zivannya...." teriak Rara histeris. seketika para tetangga berdatangan kerumah Zivannya setelah mendengar teriakan Rara, Dimas segera membuka pintu rumah lebar-lebar dan meminta tolong kepada tetangga untuk membantunya, segera banyak orang berkumpul dirumah Zivannya, untuk membantu segala keperluan untuk merawat tubuh mama Zivannya yang sudah berpulang.


Dimas segera mencari ponsel Zivannya dan segera menghubungi Aga, mencari nomor keluarganya dan segera menghubunginya. Zivannya masih terdiam disamping mamanya. Rara memanggil-manggil nama Zivannya terus menerus sambil menitikkan air mata namun Zivannya sama sekali tidak mendengar dan bergerak. pandangannya terlihat kosong. ibu-ibu tetangga bergerak dengan cepat untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk merawat mama Zivannya yang telah tiada. Zivannya disentuh oleh seorang ibu yang membisikkan sesuatu, membuatnya menoleh sesaat dan mengangguk kemudian memandang mamanya yang terlihat damai.


"saya mau kewajiban petang dulu. tunggu saya sebentar untuk mensucikan mama saya" pandang Zivannya lirih. ibu itu mengangguk segera. Zivannya berdiri dan mensucikan dirinya dikamar mandi dan segera menuju kamarnya untuk melakukan kewajiban petangnya, ditemani oleh Rara kemanapun dia bergerak.


"Ra, tolong pakaikan kemeja ini, tanganku lemas" pinta Zivannya datar. Rara segera membantu Zivannya tanpa kata. mereka keluar kamar, Zivannya segera mengikuti langkah ibu itu untuk segera membantu mensucikan mamanya tanpa berkata apa-apa dan tanpa menangis. untuk terakhir kalinya Zivannya memeluk dan mencium wajah mamanya sebelum disucikan, semua dilakukannya sesuai arahan ibu itu dan beberapa ibu-ibu tetangga.


dia melihat mamanya tampak bahagia, tidak lagi merasa sakit, tubuhnya terlihat bersih dan hangat, seperti orang yang tidur. Zivannya melakukan semuanya seperti orang yang tidak bernyawa, hanya raganya yang ada disana tapi pikirannya entah kemana. dia ingin berteriak kencang tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya, ingin menangis tapi tidak ada airmata yang ingin dikeluarkannya. hatinya terasa kosong, hampa. tidak bisa merasakan apa-apa lagi ketika melihat mamanya terbaring disana untuk dibalut dengan kain putih, baju terakhir yang dipersiapkan mamanya jauh hari sebelum dia pulang.


keluarga papanya yang segera datang terlihat tergesa-gesa untuk masuk, melihat Zivannya yang basah sehabis mensucikan ibunya, membantu membalut kain putih untuk mamanya, melihat mamanya untuk terakhir kalinya dan mencium kedua pipinya dengan khidmat.


"Zi" panggil nenek. Zivannya menoleh memeluk neneknya sesaat bergantian dengan kakeknya, om Hadi, tantenya.


"biar saya saja Om, saya Rara temennya kuliah nginap disini" angguk Rara menuntun Zivannya kedalam kamarnya. Zivannya duduk ditepi ranjang, dengan cekatan Rara mengganti baju Zivannya tanpa kata, karena dia tahu saat ini Zivannya tidak bisa diajak komunikasi tapi masih bisa melakukan semuanya sesuai yang diminta, tanpa ekspresi.


Rara mengikat rambut Zivannya model bun, agar tidak mengganggu geraknya, Rara memakaikan gamis putih yang ada di lemari pakaian Zivannya, setelah selesai Rara membawa Zivannya keluar dan duduk disamping mamanya yang sudah tertutup dan terlihat para tetangga bergiliran untuk melakukan kewajiban terakhir terhadap orang yang sudah tiada, Zivannya didudukkan didepan teras dimana mamanya dibaringkan disitu agar orang dapat dengan mudah memberi penghormatan dan melakukan kewajiban terakhir untuk orang yang sudah tiada.


"maafkan nenek Zi, maafkan nenek" peluk nenek dengan berderai air mata. Zivannya hanya mengangguk pelan. kakek mengusap-usap punggung Zivannya memberi kekuatan. Rara tidak berhenti menitikkan airmata duduk agak jauh dari Zivannya ditemani Dimas yang selalu menguatkannya.


"Zivannya dim" serak Rara, Dimas mengangguk sembari mengusap-usap punggung Rara memberi kehangatan dan kekuatan.


"Zi, kita akan memakamkan mamamu sebelum kewajiban Jum'at besuk" tatap om Hadi yang setengah duduk didepan Zivannya sambil menggenggam tangan Zivannya menguatkan hati Zivannya, Zivannya mengangguk.


"kita nunggu Aga dulu" kata om Hadi lagi, Zivannya hanya mengangguk. Dimas mendekat dan berbicara sebentar dengan om Hadi, mengatakan apa yang telah semua dia lakukan tadi. om Hadi mengangguk mengerti.


para tetangga silih berganti datang untuk memberi penghormatan dan kewajiban terakhir bagi mama Zivannya, bapak-bapak dari tempat ibadah melakukan pengajian untuk mendoakan mama Zivannya, Zivannya hanya menyalami dan mengangguk tanpa ekspresi.


"Zi mau minum dulu, ini teh hangat. tadi dibuat untuk semuanya oleh para tetangga" kata Rara didepan Zivannya, Zivannya mendongak, hanya menggelengkan kepalanya. tatapannya lurus kearah mamanya yang telah berbaring dengan tenang.


"sekarang udah jam 11 malam Zi, mending kamu istirahat dulu, agar besuk bisa mengantar mamamu untuk yang terakhir kalinya bersanding dengan papamu" pandang om Hadi tidak tega melihat Zivannya yang terlihat terpukul karena kehilangan mamanya, Zivannya menggeleng pelan.


"kakek dan nenek akan pulang dulu, besuk pagi mereka akan kesini. om dan Fauzan akan disini menemanimu" kata om Hadi, Zivannya mengangguk.


Rara memeluk Zivannya, "sadar Zi, aku dan Dimas disini menemani mu sampai akhir seperti permintaan mama Ranti" usap bahu Rara. Zivannya lagi-lagi hanya mengangguk tanpa ekspresi. Fauzan kembali datang setelah menjemput Aga distasiun kereta.

__ADS_1


Aga segera menyalami beberapa orang yang menemani Zivannya termasuk om Hadi dan segera menghampiri Zivannya yang terdiam menatap mamanya.


"Zi" usap Aga dikepala Zivannya, Zivannya mendongak menatap Aga yang berdiri tegak dihadapannya,


"aku sudah pulang untuk menemanimu" rengkuh Aga, Zivannya terdiam dan hanya meneteskan airmata tanpa henti dalam pelukan Aga, Aga mengusap punggung istrinya menenangkan. Zivannya terlihat luruh dalam kesedihan, tidak berdaya, terisak-isak hingga tubuhnya terguncang hebat, Aga membisikkan kata-kata yang menenangkan Zivannya, menyuruh Zivannya memohon kepada Tuhan.


"mama nggak akan tenang kalo kamu begini Zi, mama sudah nggak sakit lagi" kata Aga mengusap airmata Zivannya yang terus turun. Zivannya tidak berkata apa-apa. Rara menyerahkan handuk muka kepada Aga yang segera mengusap wajah Zivannya. Aga memeluk Zivannya memberi kekuatan agar Zivannya tenang.


"kamu sudah memberi kewajiban terakhir kepada mama" pandang Aga, Zivannya menggeleng, menutup mukanya dengan handuk wajah.


"setelah kamu tenang, kita lakukan kewajiban terakhir untuk mama, kewajiban malam sudah belum" tanya Aga lagi, Zivannya mengangguk. Aga mengecup ubun-ubun kepala Zivannya berulangkali, mengusap punggung Zivannya untuk memberi kekuatan menerima kepergian mama Ranti dengan ikhlas.


"biarkan mama bertemu dengan papa... Ok Zi... biarkan mereka bertemu setelah sekian lama terpisah, biarkan mereka berdua bahagia bersama dipertemukan kembali" pandang Aga, tubuh Zivannya seperti tersentak mendengar ucapan Aga, kenapa dirinya tidak berpikir sejauh itu. keegoisan telah menguasainya, kenapa dia harus menghalangi kebahagiaan papa, mama dan adiknya untuk bertemu dan bahagia, malah membebani mamanya yang telah merawatnya sendirian tanpa papanya dan adiknya. berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik yang mamanya mampu dan bisa, sekarang ketika saatnya mama, papa dan adiknya berkumpul dia merasa ditinggalkan sendiri, padahal dengan restu mamanya disampingnya ada Aga yang akan menemaninya hingga nanti ajal menjemputnya.


Zivannya menghela nafasnya panjang berulangkali agar dirinya merasa tenang dan ikhlas. Rara mengulurkan segelas teh panas kepada Aga agar memberikannya kepada Zivannya, Aga meminum setengahnya dan menyodorkannya kemulut Zivannya untuk diminum, Zivannya menggeleng pelan.


"honey, minum dulu" senyum Aga, Zivannya meminumnya sedikit, Aga segera menghabiskannya.


"Zi... apa kamu baik-baik saja sekarang" duduk Rara disisi Zivannya yang lain, Zivannya mengangguk pelan.


Aga berbincang-bincang dengan om Hadi, Dimas, Fauzan dan beberapa bapak-bapak lainnya.


Zivannya menghirup udara banyak agar dadanya sedikit merasa longgar.


"Zi... aku turut berdukacita atas kepergian mama Ranti" pandang Rara, Zivannya mengangguk pelan.


"terimakasih Ra, kamu dan Dimas menemani ku disaat mama tidak ada. terimakasih banyak" genggam tangan Zivannya. Rara menangis dan memeluk Zivannya erat.


"kamu seperti saudara perempuanku Zi, karena hanya menjadi anak satu-satunya dikeluarga membuatku terkadang butuh orang untuk bersandar. untungnya aku menemukanmu untuk menjadi teman baikku" Isak Rara berbagi beban dengan Zivannya. Zivannya mengusap punggung Rara mengerti akan semuanya.


Zivannya menatap mamanya yang telah dibalut dengan kain hijau didalam keranda. Zivannya tersenyum menerima dengan ikhlas apapun kehendak Tuhan. memang sudah waktunya mama, papa dan adiknya berkumpul kembali didalam surga tempat yang paling indah. Aga kembali mendekat untuk meminta Zivannya mengganti baju dan menjalankan kewajiban terakhirnya kepada mama, Aga menuntun Zivannya menuju kedalam dan membantu Zivannya untuk berganti pakaian begitu juga dirinya dan segera menunaikan kewajiban terakhir untuk mengantar mama Zivannya menghadap Nya.


chapter yang paling menyedihkan.... kehilangan seseorang yang selalu mensupport apapun keadaan kita....


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2