
Langit melajukan motor dibelakang Dimas, mereka melaju ke daerah dataran tinggi, untuk melihat langit yang cerah, "kita berhenti dulu" isyarat Dirgantara dengan tangan saat memasuki kafe yang cukup ramai. mereka memarkir motor ditempat yang sudah ditentukan. helmet mereka lepas dan disandarkan di bodi motor.
"awas ya, jangan ada olahraga malam" ingatkan Valerie menatap keempat pria itu.
"siap ma, nanti kalo ada yang nantangin gimana, kita diem aja ya" rengkuh bahu Dirgantara.
"nggak usah macam-macam pa" pandang Valerie, "siap" senyum Dirgantara. mereka memilih pojok ruangan yang tampak lengang dan tidak terlalu mencolok.
"black" angkat tangan Zivannya memesan minumannya.
"kenapa kopi lagi" pandang Langit, "oh, Ok. kalo begitu ganti dengan lemon squash" lihat menu Zivannya. "dengan roti bakar toping meses" tambah Zivannya, penjaga mengangguk. mereka bergiliran memesan pesanan.
"penerbangan jam berapa besuk kak" tanya Zivannya. "enaknya sih siang Zi, biar ibu bisa melihat suasana terang saat pulang jadi nggak berasa capek" kata Valerie, Zivannya mengangguk mengerti.
"kalo siang emang ada penerbangannya ma" topang dagu Dirgantara.
"ada pa, setiap hari ada banyak penerbangan menuju Surabaya" angguk Valerie.
"kalian berapa hari disana nanti" tanya Mentari.
"pinginnya seminggu kak, tapi nggak mungkin karena bapak satu ini mulutnya nggak berhenti memberi wejangan nantinya" pandang Zivannya menatap Langit. "kamu pergi terus" kata Langit pelan.
"kalo saatnya aku dirumah juga akan selalu dirumah kak. ini karena memang ada kesempatan buat healing aja" kerjap mata Zivannya, Langit tersenyum mengetuk kening Zivannya.
"aku butuh kamu ada disisi ku" jawab Langit. "yaa, yaa, yaa" kata Zivannya.
"setelah nanti kalian menikah dan aku wisuda, Dimas akan menemui orang tuaku untuk memintaku" senyum Rara. Zivannya menepuk kan kedua tangannya saking senang dan terkejut. "aaahhh, congrats for U two. it's wonderful words from U two" berkaca-kaca Zivannya memeluk Rara dan Dimas.
"aku akan full there with U guys" kata Zivannya menatap kedua sahabatnya, Rara memeluk Zivannya erat.
"makasih Zi, aku akan selalu menunggumu, menunggu kehadiran keluarga Triastomo lainnya tentu saja" kata Rara, Valerie dan Mentari tersenyum menganggukkan kepalanya.
"duduk, yang" pandang Langit, Zivannya kembali duduk disamping Langit.
"kita akan datang saat hari pernikahan kalian" pandang Matahari.
"makasih banyak bang, doakan agar perjalanan kami sampai ditujuan yang sama dengan kalian" senyum Dimas. mereka mengangguk mengamini doa dan harapan Dimas dan Rara.
pesanan mereka datang, Zivannya melihat roti bakar yang masih panas menggoda seleranya. 'hmmm, aromanya sangat menggoda" kata Zivannya memotong dengan pisau dan garpu Langit menatap Zivannya setelah menyeruput coklat panasnya, Zivannya mengerti untuk segera menyuapi Langit.
"kita akan menikah kurang dari tiga minggu, kayaknya selama waktu itu kita akan jarang bertemu" pandang Langit lekat, Zivannya mengangguk sambil mengunyah roti bakarnya.
__ADS_1
"itu lebih baik aku rasa, semangat cari duitnya" senyum Zivannya, "kamu juga semangat jalan-jalan sendiri nya" pandang Langit, "udah semangat dari dulu, eagle fly alone" senyum Zivannya, Langit mengetuk kening Zhivannya lagi.
"sekali lagi, aku pulang bawa motor sendiri" pandang Zivannya meringis.
"coba kalo berani, aku tidak akan memberi ijin kamu kemana-mana sampai kita menikah nanti" tatap Langit serius, Zivannya menggeleng menandakan tidak setuju dengan aturan Langit yang membuatnya tidak bisa kemana-mana.
"aku pesen varian lain ya" lihat Valerie tergoda roti bakar Zivannya, Zivannya memotong separuh dan mengirisnya kecil-kecil mendekatkan kepada kak Valerie, "jadi kepingin kalo liat kamu makan dek" tawa Valerie, Zivannya tersenyum mengangguk.
"ada apa tuh didepan" tanya Rara, mereka menoleh melihat beberapa orang yang bergerombol didepan kafe, "nggak usah liatin dan kesana, nanti ujungnya kalian olahraga malam lagi" hembus nafas Mentari, Zivannya sibuk memakan rotinya.
"eh, kak, bang. bukannya itu tempat motor kita parkir tadi" tertegun Zivannya sesaat. mereka sama-sama saling memandang dan setengah berlari menuju kerumunan orang, Dimas menerobos beberapa orang yang sedang melihat sesuatu.
"kenapa" tanya Dimas. "ini, abangnya mau nyalain motornya, tapi kuncinya hilang katanya, baru diotak-atik biar nggak pake kunci" jawab seseorang. "emangnya kuncinya kemana bang" tumpu lutut Dimas melihat preman yang sedang mencoba merusak motor klasik ayah yang dibawanya.
"tadi jatuh entah dimana, makanya aku nyari jalan pintas biar bisa dinyalakan mesinnya" pandangnya galak.
"oohhh, biar ku bantu bang agar lebih cepet start engine nya"angguk Dimas berdiri dan mengeluarkan kuncinya dari dalam saku, memasukkan ke lubang kunci dan menyalakannya. preman itu terkejut dan berdiri dengan cepat, "maksud lu apa, nantangin gua lu" tanya nya keras dan mencengkeram t-shirt Dimas.
"jangan main kasar, bang. kita juga bisa main keras, abang sendiri yang cari gara-gara bukannya tadi ngaku kalo motor ini punya abang" tahan Dimas santai.
"duh, jadi olahraga malam nih" seringai Matahari melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya dengan melakukan pemanasan, Dirgantara dan Langit tersenyum mengangguk melakukan hal yang sama dengan Matahari, beberapa orang mundur kebelakang takut terseret dengan perkelahian yang nantinya pasti akan berujung dengan kericuhan.
Dirgantara menoleh mencari sosok istrinya berdiri tidak jauh darinya mengangguk, Mentari melambaikan tangannya menyetujui jika mereka akan olahraga dan melakukan perekaman melalui ponselnya.
preman itu segera menghubungi teman-temannya.
"bang, jangan bikin onar disini. saya mohon. ini customer saya, bang" kata penjaga yang segera datang ketika diberitahu penjaga kedai yang lain.
"apaan sih lu, gua kagak ngapa-ngapain. mereka nantangin gua" teriaknya marah.
Langit mencari sosok Zivannya saat pria itu sedang memaki-maki penanggung jawab cafe, "yang" tumpu lutut Langit dihadapan Zivannya "hmmmm" pandang Zivannya sayu, "kamu tidak apa-apa" sentuh pipi Langit mengusapnya perlahan
"aku tidak ingin melihat perkelahian lagi" tatap Zivannya, Langit tersenyum. "tutup matamu dan telingamu, ini tidak akan lama" pandang Langit. "aku pulang aja" kata Zivannya menyentuh kedua tangan Langit. "aku tidak mengijinkannya" kata Langit, Zivannya terdiam. Ia mengeluarkan ponsel dan dompetnya untuk diserahkan kepada Zivannya. "jaga" kata Langit meletakkan barang ditangan Zivannya, mengecup keningnya sesaat.
"tunggu aku disitu" ujar Langit menjauh dari Zivannya. "adek kenapa" tanya Dirgantara, "katanya nggak mau lihat perkelahian lagi" toleh Langit kembali ke mode garang.
"hmmm, karena kita kalo ngumpul pasti ada kejadian kayak gini" kata Matahari menatap Dimas, Dimas tertawa pelan. "iya, ya bang. pasti ada kejadian seperti ini" angguk Dimas mengingat semuanya.
"hanya ganti personilnya satu" senyum Dirgantara menatap Langit, Langit menganggukkan kepalanya.
tidak lama kemudian beberapa teman preman itu berdatangan membawa beberapa bilah bambu dan kayu untuk menyerang mereka berempat. Zivannya menghela nafasnya dan mulai menutup matanya tidak mau melihat kejadian seperti itu lagi, sedangkan Rara terlihat antusias menyaksikan perkelahian itu dengan Valerie dan dan Mentari. Zivannya menyandarkan kepalanya didinding pintu.
__ADS_1
Langit dan yang lain sudah terlibat perkelahian yang seru dengan preman-preman tersebut, saling memukul dan saling menyerang, saling menerjang dan saling melindungi agar tidak cedera parah.
jika sudah dalam mode garang tidak ada lagi ketampanan yang terlihat, tidak ada lagi kelembutan yang tampak, tidak ada lagi sifat mengalah yang biasanya mereka perlihatkan kepada keluarga mereka.
kali ini, mode gahar yang sekarang mereka perlihatkan untuk menghadapi lawan, mode lelaki tangguh yang mereka lakukan untuk menghadapi musuh, latihan fisik dan mental yang mereka tempa membuat mereka lebih terbiasa dalam melakukan penyerangan. mode siaga yang mereka pelajari membuat mereka lebih gesit untuk membaca arah lawan yang datang menyerang.
Zivannya membuka matanya melihat Langit dan lainnya menangkis dan menyerang lawan, pertahanan tubuh membuat mereka bergerak dengan cekatan, menyerang musuh dengan gesit, melindungi belakang mereka dengan kekuatan penuh. tampak kekuatan laki-laki keluarga Triastomo tidak bisa dianggap remeh, tidak bisa dipandang sebelah mata, walau musuh terlihat lebih banyak dan berbadan kekar namun serangan dan pertahanan mereka jauh tertinggal dari ketiga anak laki-laki keluarga Triastomo.
ia sedikit menyunggingkan senyum melihat mereka dalam mode garang, dalam mode laki-laki yang melindungi keluarganya. Zivannya mengambil beberapa moments saat mereka bertarung, saat mereka menyalurkan tenaga untuk memukul mundur lawan, saat mereka bergerak bersama untuk melindungi satu sama lain, saat mereka berteriak dengan keras ketika melawan.
terdengar bunyi sirine mobil petugas abdi negara yang melakukan patroli keliling, mereka segera menghentikan pertarungan dan menepi.
penanggung jawab kedai mendekati dan menjelaskan kronologi perkelahian yang baru saja terjadi, beberapa petugas mengamankan para preman yang sudah babak belur, Dirgantara menghampiri mereka dan menunggu kelanjutan pemeriksaan oleh petugas yang sedang berpatroli.
"ma, kita ikut mereka ke Polsek terdekat" kata Dirgantara. "papa ikut mereka atau kita ikuti mereka" tanya Valerie menatap suaminya. "kalian ikuti dari belakang, kita bertiga akan ikut mobil mereka, Dimas akan bersama kalian, karena Rara tidak bisa naik motor" jawab Dirgantara, Valerie mengangguk.
"jangan lupa beresin dulu semuanya" kata Dirgantara. "iya, mau minum dulu nggak, habisin dulu" isyarat dagu Valerie, mereka segera mengambil minum dan menghabiskannya segera untuk ikut dengan abdi negara yang sedang bertugas.
Zivannya memberikan ponsel dan dompet Langit. "jaketnya mau dipake nggak, yang" tanya Zivannya. "nanti aja. masih gerah" geleng Langit, Zivannya duduk melihat mereka sedang berbincang-bincang dengan abdi negara lain. "kak, ini" angsur kartu Zivannya. "tenang dek, kali ini. ayah yang mbayarin" naik turunkan alis Mentari memperlihatkan ayah yang sedang dalam panggilan di ponsel Valerie. Zivannya tersenyum mengangguk melambaikan tangannya pada ayah. "kalian baik-baik aja kan" tanya ayah. "baik yah, mereka yang tidak baik-baik aja. sedikit memar" jawab Valerie. "biasa aja, puas kalian menguras duit ayah, suami kalian utuh duitnya" pandang ayah bercanda, mereka tersenyum lebar.
"kita mau kekantor polisi dulu yah, nanti kita sambung lagi" kata Valerie.
"siap, hati-hati. kabari jika ada apa-apa, ayah kesal. kenapa kalo kalian pergi selalu aja ada kejadian, kalo sama ayah adem ayem aja. ayah kan pingin ikutan olahraga juga" kata ayah.
Mentari tertawa, "kapan-kapan yah. kita akan ajak ayah olahraga bareng" angguk Mentari.
"aku paling belakang kak" kata Dimas, Valerie mengangguk menutup visornya. Valerie, Mentari, Zivannya dan terakhir Dimas berurutan mengikuti mobil dan motor patroli yang membawa laki-laki keluarga Triastomo kekantor abdi negara terdekat.
kantor terlihat ramai oleh para abdi negara yang membawa mereka, motor diparkir ditempat yang diarahkan oleh petugas abdi negara yang sedang piket. Rara menghampiri Zivannya untuk bersama-sama masuk kedalam. para abdi negara melihat mereka berempat masuk dengan sedikit curi-curi pandang, penampilan yang diatas rata-rata memang membuat mereka selalu menjadi daya pikat tersendiri. Zivannya melihat sekeliling dan menyentuh kedua lengan kakaknya agar duduk disebelah sana, Rara dengan setia mengikuti langkah Zivannya.
"Ra, laper" toleh Zivannya duduk bersandar didinding. Rara tertawa pelan, "mau makan apa lagi" tanya Rara. "roti bakar jogja" senyum Zivannya, Rara tergelak. "aku juga kangen mie rebus jogja" angguk-angguk Rara.
"pulang yuk Ra, kesana" senyum lebar Zivannya. "laki mu tuh, posesif nya nggak ketulungan. jauh dikit aja udah kayak nggak bisa hidup, giliran kelahi udah seperti hidup ratusan tahun" kata Rara, Zivannya tertawa pelan, Langit menoleh memastikan kekasihnya baik-baik saja.
dari kejauhan tampak beberapa perempuan datang mengendarai motor masuk kedalam kantor abdi negara setempat, ke empat perempuan itu melihat mereka yang tergesa-gesa masuk dan tidak memperhatikan sekitar.
dari percakapan perempuan-perempuan itu dengan petugas jaga ternyata mereka adalah istri dari para preman yang tadi mencoba mencuri motor yang dipakai Dimas, mereka ingin melihat sendiri suami mereka, dengan tenang dan tertib mereka mendengarkan penjelasan petugas jaga dengan sesekali menatap suami mereka dengan marah dan kesal mendapati mereka berbuat yang harus berurusan dengan polisi lagi.
hai....hai....hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya.
luv.... luv.... luv ... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all