Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 38


__ADS_3

"Zi, kamu belum menyentuh ponselmu dari kemarin ya" pandang Aga menyeruput kopinya, Zivannya menggeleng. "aku belum butuh ponsel sekarang" geleng Zivannya, Aga mengangguk. mereka berdua mengobrol beberapa hal yang serius walau terkadang Zivannya terlihat lebih banyak diam mendengarkan.


"Zi, denger nggak" kata Aga menyentil kening Zivannya. "hmmm..." angguk Zivannya beranjak dari duduknya.


"aku mandi bentar by" lalu Zivannya tanpa melihat Aga lagi, Aga menatap Zivannya yang berlalu dalam diam, menghela nafasnya panjang.


"sabar ga.... sabar.... umurnya masih 20an, jika cari yang lebih dari dia cari noh yang umurnya 40an keatas" kata Aga pada dirinya sendiri sambil mengusap dadanya.


"kenapa nggak cari yang umur segitu kak" datang Dimas tiba-tiba, Aga berjenggit kaget menatap Dimas tajam.


"Zivannya pas takarannya" jawab Aga pedas. Dimas menatap Aga dengan tatapan datar.


"bilang aja udah bucin" kata Dimas meminum teh panas yang ada dimeja.


"emang situ nggak bucin" pandang Aga, Dimas nyengir.


"mau mandi dulu ah" anjak Dimas. "Zivannya baru mandi" geleng Aga. Dimas kembali duduk menemani Aga yang sedang melihat media sosial.


"anak ini namanya siapa dim" tanya Aga menunjuk Yuda yang memposting saat memberikan penghormatan terakhir untuk mama Zivannya, Dimas memperjelas penglihatannya.


"namanya Yuda, temannya Fauzan sepupu Zivannya. tapi karena Fauzan sering ngajak nongkrong Zivannya dari dulu jaman sekolah jadi kayak temen sendiri aja, memang naksir Zivannya dari dulu, saat dengan Bima juga sudah beberapa kali dia berusaha mendapatkan Zivannya apalagi ketika tahu Zivannya dikhianati Bima, dihajar habis-habisan tuh Bima didepan Zivannya. Fauzan yang cerita. mana mau Zivannya ngomong" pandang Dimas.


"trus kenapa Zivannya nggak menerima dia" pandang Aga.


"karena Zivannya dari awal memang ingin berteman, dia sudah punya Bima saat itu" jawab Dimas.


"Yuda memang selalu mencari Zivannya setelah Bima berkhianat, sebenarnya nggak hanya dia yang mengejar Zivannya saat itu tapi yang paling dominan memang Yuda, karena anak orang terpandang, hingga akhirnya Zivannya dapat beasiswa kuliah dikampus kita" cerita Dimas.


"Yuda menghargai keputusan Zivannya, tidak pernah memaksa Zivannya untuk menerima cintanya. dia sering berkunjung kekampus saat Zivannya ada waktu" kata Dimas.


"sebegitunya..." pandang Aga.


"Zivannya tidak pernah menunjukkan sikap yang berbeda dengan Yuda, sama kayak yang lain. Yuda aja baru ketemu dengan Zivannya ketika mamanya keluar dari rumah sakit, Fauzan mengajaknya keluar bertemu dengan teman-temannya" kata Dimas, Aga mengangguk.


"mereka bertemu pertama kali setelah lama tidak berjumpa. Zi masih bersikap biasa aja" kata Dimas.


"apa dia menemui Zivannya saat kalian disini" tanya Aga, Dimas menggeleng. Aga mengangguk mengerti.


"lagi ngobrol apaan, serius amat... mandi sana dim.. nggak lembur tugas juga, mandi susah amat" topang dagu Zivannya dimeja menatap mereka berdua, Dimas beranjak menuju kamar mandi, Zivannya menatap Rara yang masih tertidur nyenyak.

__ADS_1


"sarapan apa by" pandang Zivannya, kamu mau makan apa, ini udah jam 11" jawab Aga, Zivannya melihat jam yang berada didinding rumah.


"sebenarnya malas makan, perutku terasa tegang belum bisa kemasukan makanan" pandang Zivannya menggeleng, Aga menggenggam jemari Zivannya.


"apa kamu sedang isi Zi" kata Aga asal, Zivannya memandang Aga sedikit kesal.


"hmmm.... mungkin" anjak Zivannya mengangkat bahunya, Aga malah bengong mendengar jawaban Zivannya.


"Zivannya Fritscha Triastomo" panggil Aga. Zivannya melambaikan tangan tak mau menggubris Aga. "apa maksudnya mungkin" susul Aga, Zivannya berbalik memandang Aga. "terus... ada masalah dengan jawabanku Bagaskara Triastomo... hmmm..." kata Zivannya menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya, Aga menggeleng pelan melihat sikap Zivannya yang dingin. Zivannya melanjutkan langkahnya, Aga segera mendekap tubuh Zivannya dari belakang, "maaf" kata Aga lirih, Zivannya berhenti. "kenapa memang kamu salah apa" tanya Zivannya. "karena aku asal ngomong" kata Aga, "nggak juga kak, memang perutku ada isinya mie rebus tadi malam, ini juga akan cari sarapan sekalian makan siang" usap tangan Zivannya.


"kamu nggak marah kan" tanya Aga, Zivannya menggeleng, "nggak segampang itu aku sakit hati kak, aku tau kamu tidak bermaksud apa-apa. jika aku pun isi seperti wanita hamil pada umumnya pasti kamu yang menanam benihnya bukan. kamu tahu kapan menanamnya" naik turunkan alis Zivannya. Aga tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan istrinya yang menang telak.


"kamu memang benar-benar wanitaku... luv U" angkat badan Aga keatas.


"aaahhh by... turunkan" seru Zivannya kaget.


"kalian ngapain sih pagi-pagi ribut aja" kata Rara bangun.


"pagi gimana, ini udah siang Ra, hampir jam 12 siang" kata Dimas, Rara membulatkan matanya.


"kesiangan aku" lari Rara kekamar mandi.


"kita makan mie ayam aja" kata Dimas, "tadi malam kan udah mie rebus" kata Aga.


"bakso" kata Dimas memberi pilihan.


"dimsum aja, nanti malam kan makan nasi" datang Rara selesai mandi, Zivannya mengangguk.


"siiip... aku siap-siap dulu nggak lama, kita pulangnya biar nggak terlalu sore kan, pengajian setelah kewajiban petang" seru Rara bersemangat.


"anak gadis kok teriak-teriak nggak dapet jodoh cepet lho" kata Aga, "disini kak, sudah menanti lama. ditolak mulu, tapi kalo nggak kliatan dicariin" hembus nafas Dimas. Zivannya menepuk bahu Dimas bersimpati.


"ishhh... kamu sedih apa senang melihatku seperti itu" kata Dimas, "dua-duanya" cengir Zivannya berlalu kedalam kamarnya dimana Rara sedang ganti baju.


"nggak Rara nggak Zivannya suka-suka aja" gerutu Dimas.


"he em... aku memahami perasaanmu. hanya cowok yang merasakan penindasan cewek nya. saking bucin seperti orang yang kosong pikirannya" kata Aga, Dimas menatap Aga dan mengangguk. mereka menghela nafas panjang bersamaan.


"cari dimana Zi" kata Rara, Zivannya hanya diam segera melajukan mobil Rara kesuatu tempat. mobil diparkir Zivannya disamping sebuah mobil yang dikenalnya. Zivannya mengkerutkan keningnya sesaat, mereka masuk kedalam.

__ADS_1


"pesennya beda aja, biar saling nyicip" kata Zivannya berlalu, Aga melihat langkah Zivannya yang menuju kesebuah meja. Zivannya sedikit menundukkan kepalanya menyapa kedua orang tua Yuda yang membelakangi mereka, Yuda menoleh kearah tangan Zivannya. berdiri menuju meja Zivannya dan Aga.


"hallo, maaf dari kemarin belum memperkenalkan diri, aku Yuda. teman Zivannya" senyum Yuda ramah menyalami Aga, Dimas dan Rara.


"maaf, Zi belum cerita jika dia sudah menikah. jadi saya baru bisa memberi selamat kepada kalian berdua" senyum Yuda tulus, Aga tersenyum menerima permintaan Yuda.


"dia sering main kekampus by, jika ada kegiatan. teman Fauzan tapi jadi teman baikku selama ini. dia yang membantuku ketika terjadi masalah dengan Bima waktu itu, memang Yuda pernah menyukai ku, tapi pada akhirnya kita memilih untuk menjadi teman baik saja, bukan begitu da" kata Zivannya menjelaskan secara singkat.


"tentu saja Zi, aku akan selalu menjadi sahabat baik mu" angguk Yuda tersenyum lebar.


"tadi aku ketemu dengan kedua orang tua Yuda, mereka ada makan malam karena mengenalkan Yuda dengan anak gadis teman baik kedua orangtuanya" senyum Zivannya, Yuda tertawa pelan.


"iya, nggak bosan-bosannya kedua orang tua itu mengenalkan anak gadis orang" garuk-garuk kepala Yuda, Zivannya mengangguk mengerti.


"hari ini dan besuk ada pengajian dirumah da, mendoakan kepergian mama, jika ada waktu luang ikut ya" pandang Zivannya, Yuda memandang Aga sejenak. "ikut aja, rumah terbuka lebar untuk teman baik Zi" angguk Aga mengerti. Yuda tersenyum mengangguk dan mengatakan jika nanti tidak ada kegiatan pasti akan datang. Yuda segera mengundurkan diri untuk menemani kedua orangtuanya lagi. Aga mempersilahkan Yuda untuk kembali ke mejanya.


"memang benar kata Fauzan, anak itu benar-benar berbeda" gumam Dimas.


"apa yang kamu katakan dim" toleh Rara, Dimas menggeleng.


"Yuda memang begitu, terkadang dia mengabaikan orang lain jika sudah ngobrol denganku, teman yang dulu memberiku semangat untuk melangkah maju, nggak stuck disatu tempat" kata Zivannya.


"ngomongin dia panjang banget Zi" kata Aga, Zivannya menatap Aga sesaat. "pertemanan kita nggak hanya setahun dua tahun by dan aku juga nggak mau kamu nanti salah paham dan menebak-nebak bagaimana perasaan ku kepadanya" geleng Zivannya, Rara memberi tanda hebat dengan ibu jarinya.


"aku juga akan berkata lebih banyak lagi mengenai dirimu by, satu-satunya cowok yang membuatku harus merasakan sakit dihati saat melihatmu bersama perempuan lain. padahal kita baru dua hari bertemu" kata Zivannya, Aga memandang Zivannya, Rara tertawa.


"aku saksinya saat kita tidur hingga larut malam hanya membahas kalian berdua, lelaki yang waktu itu kami pikir cowok yang menyebalkan" senyum Rara. Dimas dan Aga saling pandang.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2