Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 17


__ADS_3

"bukan salahmu Zi, kita makan siang bersama yuk" ajak Om sembari beranjak dari tempat duduknya.


"maaf om, tadi ada janji sama mama mau nemenin ketetangga, nggak tau ada urusan apa" kata Zivannya juga ikutan berdiri.


om menatap Zivannya sedih, Zivannya tidak pernah mau ikut makan bersama keluarga dari papanya. om nya paham bagaimana tidak nyamannya Zivannya jika berada ditengah-tengah mereka, terkadang hanya bisa menemui Zivannya saat sedang berada diluar rumah, agar dirinya merasa nyaman.


"baiklah Zi, sampaikan salamku pada mamamu, kami tunggu acaranya besuk" kata om memegang pundak Zivannya lembut. Zivannya mengangguk dan menyalami semua orang yang ada di situ. buru-buru keluar dari rumah om nya. mengendarai motor mamanya cepat. setelah agak jauh, Zivannya melepaskan nafasnya panjang.


"aahhh.... " seru Zivannya senang terbebas dari rasa sesak di dada saat dirumah om nya. dirinya bersenandung riang sepanjang jalan.


"ma, dimana" cari Zivannya disekitar rumah namun mamanya tidak tampak. segera Zivannya berjalan keluar mencari dirumah tetangga keberadaan mamanya saat ini.


"disini Zi" lambai mama melihat Zivannya yang tengok kanan-kiri mencari dirinya. Zivannya tersenyum dan mendekati mamanya yang sedang mengobrol dengan beberapa orang tetangganya.


"pada ngumpul disini" senyum Zivannya menyalami tetangga yang seumuran dengan mamanya.


"kalo nggak ngumpul disini, dimana lagi Zi, tempatnya adem dibawah pohon nangka, sekalian ngaso" kata salah satu tetangganya. Zivannya tersenyum mengangguk.


"kapan pulang Zi, kok nggak liat" tanya seseorang lagi.


"kemarin siang bu, begitu pulang langsung tepar. lama nggak pulang, sekali pulang langsung yang dicari kasurnya buat tidur" kata mama Zivannya. mereka tertawa bersama.


"kangen sama kasur ya Zi, kalo dirumah sendiri bebas mau ngapain aja" kata seseorang. Zivannya tersenyum mengangguk membenarkan ucapan tadi.


"udah dari tempat om kan Zi, ketemu nenek" kata mama Zivannya mengusap punggung Zivannya lembut.


Zivannya hanya mengangguk pelan.


"pagi disuruh kesana, berias diri dengan kak Aisya, acaranya siang jam 10 kan" tanya Zivannya menatap mamanya yang mengangguk mengiyakan.


"kenapa kak Aisya tadi nggak bilang apa-apa ya ma, padahal besuk kan acaranya dia" tanya Zivannya heran.


mama mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"kalo begitu, kita pulang dulu ibu-ibu, ketemu besuk disana" senyum mama Zivannya kepada para tetangga yang disambanginya.


Zivannya melangkah ringan menggandeng lengan tangan mamanya kembali kerumah.


"ma, makan apa. Zi laper, tadi ditawari makan sama si om, tapi Zi beralasan jika harus mengantar mama kebeberapa orang tetangga. jadi harus cepat pulang" kata Zivannya mencari alasan.


"ish kamu, bilang aja nggak bisa nelan makanan jika mereka melotot saat kamu mencoba mengambil lauk pauk" tawa mama menoyor kening Zivannya, Zivannya tertawa lebar manggut-manggut melihat mamanya yang tau isi hatinya.


"bisa ae mamaku sayang. mending makan dirumah dengan mama, walau beli makanan juga. daripada disana seperti boneka Barbie" angguk Zivannya.


"kalo gitu kita kembal Marni aja Zi, jalan kebelakang, beli gado-gado sekalian" pandang mama semangat.


"ok ma, lama nggak beli juga" angguk Zivannya menarik tangan mamanya kekanan ketempat tetangganya yang jualan gado-gado ditengah kampung


"pelan aja kenapa sih Zi, nggak usah buru-buru " tepuk punggung tangan mamanya setengah tertarik.


"hehehehe... laper ma, efeknya jadi kemana-mana" cengir Zivannya.


"pake motor aja biar cepet" kata mama, Zivannya segera berlari menuju rumah untuk mengambil sepeda motor mamanya.


"ayo ma kita berangkat" hampiri Zivannya agar mama segera memboncengnya.


"bawa duit nggak Zi, nggak lucu kalo sampai sana nggak bawa uang" tepuk bahu mama sambil membonceng Zivannya.

__ADS_1


"ada, tadi masih ada sisa beli bunga tabur" jalan Zivannya pelan.


"motormu sama motor mama dijual aja ya Zi" kata mama tiba-tiba.


"lha kenapa ma, nanti Zi pake apa disana" tanya Zivannya heran.


"beli baru, dijual dua-duanya buat beli yang baru. mama capek kalo naik motor sendirian. mending naik angkot mang sopir kamu waktu sekolah. mama udah sering naik itu sekarang. cuman pulang pergi sekolah aja Zi" alasan mama.


"kalo mama mau kemana-mana gimana ma, kan angkot nggak setiap waktu" toleh Zivannya.


"mama juga nggak kemana-mana Zi, terkadang ada anak yang minta belajar datang kerumah, bukan mama sekarang yang kesana. anak-anak yang datang kerumah, biar rumah rame Zi, sepi kalo nggak ada kamu" kata mama.


"maafin Zi ma, meninggalkan mama sendirian dirumah" kata Zivannya sedih.


"aisshh.... apaan sih Zi, jika kamu nggak ngambil beasiswa itu justru mama yang merasa sedih. mama nggak bisa bertemu dan berkata sama orang dengan bangga, walau tidak ada papa kita masih bisa berdiri dengan tegak walau banyak cobaan. kita masih memegang iman kan Zi" tepuk bahu mama pelan. mata Zivannya berkaca-kaca mendengar mamanya berbicara.


"tidak usah nangis, kita harus tegar. jangan jadi anak cengeng, boleh menangis tapi hanya dihamparan sajadah saat kita sujud menghadapnya" usap punggung mama kembali. Zivannya mengangguk dan mengusap airmata yang menetes dengan punggung tangan.


"kamu adalah harta mama dan papa yang paling berharga Zi, jangan merasa rendah dihadapan orang lain, jangan balas kebencian dengan kebencian, keburukan dengan keburukan. balaslah dengan kebaikan dan keikhlasan. karena jalan Tuhan itu misterius dan akan selalu baik" nasehat mamanya. Zivannya mengangguk.


"ngomong-ngomong kenapa nggak pake rok atau gaun sih Zi, kenapa jeans dan t-shirt melulu" pandang mamanya kesal.


Zivannya tertawa kecil, "lebih nyaman gini ma, jika kesibak angin tidak harus tersingkap memperlihatkan aurat kan" jawab Zivannya beralasan.


"alasan aja, padahal memang paling suka pake beginian" tepuk bahu mama sedikit keras. Zivannya tertawa lebar dan mengaduh kesakitan.


"dah sampai Zi, mau makan disini ato dirumah aja" tanya mama menunjuk warung gado-gado milik Mbak Marni.


"sini aja ma, biar nggak usah nyuci piring, sekalian ngobrol dengan yang punya warung. lama nggak ketemu kan" senyum Zivannya.


"ishhh anak gadis kok malas cuci piring, nggak takut nanti suaminya yang cuci piring" cubit pipi mama. Zivannya tertawa kecil.


"ayo ah ma, keburu laper" kata Zivannya meraih lengan mamanya untuk segera ke warung mbak Marni.


"anak kok nggak sabaran sih Zi" gerutu mama segera masuk kedalam dan memesan gado-gado untuk Zivannya.


"mama nggak makan" tanya Zivannya menatap meja yang hanya satu piring gado-gado.


mama menggeleng.


"kalo begitu kita berdua aja ma, Zi juga nggak abis kalo porsinya segini" berdiri Zivannya meminta sendok lagi.


"jeruk panas dua" pesan Zivannya sambil mengambil sendok.


"Zi, agak lama ya disini, kamu lama nggak pulang" pandang mama memakan gado-gado.


"siap ma, memang rencananya Zi pulang sampai mau masuk aja. mepet yang pulang kesana" angguk Zivannya.


"kamu nggak kangen sama si Aga itu" goda mama, Zivannya menatap mamanya dan tersenyum.


"Zi lebih kangen mama daripada dia. jika nanti balik kuliah lagi juga akan ketemu kan ma, malah kalo kuliah ketemu mama lagi lebih lama" kata Zivannya. mama mengangguk.


"iya sih, setidaknya setahun lagi kamu baru pulang kerumah, karena liburnya paling lama. seperti ini liburan ajaran baru" kata mama Zivannya manggut-manggut sambil menguyah makanannya.


"kapan-kapan kita jalan wisata yuk Zi, lama kita tidak jalan berdua" kata mama, Zivannya mengacungkan ibu jarinya tanda Ok.


"ma, kapan-kapan main kekostan Zi ya, kalo mama waktunya longgar nggak ngajar, datang kesana nanti Zi jemput dan kenalin temen baik Zi, si Rara dan Dimas" kata Zivannya, mama terdiam kemudian mengangguk pelan.

__ADS_1


"makanya belajar yang rajin Zi, biar cepat lulus dan membuat papa dan mama bangga" sentil mama dikening Zivannya. Zivannya nyengir dan mengangguk.


"pasti ma, makanya kemarin Zi ngambil semester pendek untuk mengambil mata kuliah yang memperpendek kuliah Zi. jadi bisa segera menemani mama dirumah, kerja apa aja nggak papa asal dekat mama aja" jawab Zivannya mantap. mama tersenyum mengusap kepala Zivannya.


"neng Zivannya pulang Tho" datang mbak Marni dari dalam, mama dan Zivannya menoleh.


"eh mbak Marni, iya mbak. anaknya Badung, udah keasikan belajar lupa pulang. sekali pulang malah kangen sama kasurnya yang lama tidak dipakai" senyum mama. Mbak Marni tertawa lebar.


"iya ya Bu, kasurnya ngangenin. kalo dikost-an sana kasurnya beda" tawa mbak Marni.


"lha kalo disini kasurnya dibersihin, dibikinin teh panas, dimasakin, dicuciin bajunya. kalo diperantauan apa-apa sendiri" senyum mama, Zivannya nyengir menganggukkan kepalanya. mbak Marni dan mama tertawa lebar.


"pingin makan gado-gado katanya disini aja, biar nggak usah cuci piring. ini nih anak gadis jaman sekarang, males aja. dikit-dikit main ponsel" elus kepala mama. Mbak Marni tersenyum melihat kedekatan Zivannya dan mamanya.


"beruntung ya neng Zi punya papa dan mama yang selalu ada dan sedia" lihat mbak Marni. Zivannya dan mamanya saling pandang dan tersenyum lebar.


"iya mbak, terkadang harta tidak menjamin hati bahagia kan" angguk Zivannya meminum jeruk panasnya.


"karena nggak ada lawannya kalo berantem mbak Marni, makanya yang dilawan mamanya" tawa mama menoyor kening Zivannya yang tertawa.


"iya Bu, terkadang hati lapang adalah jawaban dari segala doa dan ikhtiar" angguk mbak Marni.


"cie... mbak Marni jadi curcol nih sama kita, mumpung gratis nih mbak, banyakin dikit curhatnya" naik turunkan alis Zivannya menggoda. mbak Marni tertawa lebar melihat kekonyolan Zivannya yang selalu membuat orang disekitarnya merasa bahagia dengan banyolannya.


"ma, tidur Ama Zi aja ya" masuk rumah Zivannya.


"nggak ah, kamu kalo tidur nggak bisa anteng, malah mama yang nggak bisa tidur nanti. besuk ada acara, mama nggak kliatan cantik membahana nanti kalo kurang tidur" geleng mama cepat. Zivannya tertawa pelan.


"kayak artis pake dandan paripurna" maju bibir Zivannya. "sekali-kali Zi, mama pingin tampil mempesona" senyum mama.


"iya deh" lalu Zi kekamar mandi untuk membersihkan badannya.


mama segera memegang dadanya yang terasa nyeri serasa ditusuk-tusuk. terhuyung-huyung menuju kamarnya agar Zivannya tidak melihatnya saat ini. dia tidak mau anaknya akan menerima keputusannya karena dia sedang sakit dan terpaksa, biar dia menentukan arah masa depannya sendiri.


Zivannya melihat sekeliling, mamanya sudah istirahat dikamarnya. Zivannya keluar halaman dan memasukkan motor kedalam garasi. menyalakan lampu rumah agar terlihat terang benderang. suasana yang sedikit sunyi membuat Zivannya merasa damai, ketenangan batin yang membuatnya tersenyum menatap rumah masa kecil dengan berbagai rasa campur aduk diolah didalam rumah mungil hasil jerih payah kedua orangtuanya.


pagi hari


"Zi bangun udah waktu kewajiban pagi" ketuk mama, Zivannya membuka matanya dan beranjak menuju pintu.


"ya ma" lalu Zivannya untuk mengambil air suci melaksanakan kewajiban paginya.


"mama punya kebaya yang bagus Zi, mau kembaran sama mama nggak" tanya mama memperlihatkan dua kotak berisi kebaya yang anggun. Zivannya duduk sambil mengusap rambut sehabis dibersihkan.


"tumben mama pake ginian" tanya Zivannya membuka kotak bungkusan kebaya.


"sekali-kali Zi, pingin kliatan cantik, lagian mama bosen kalo pake sendirian" senyum mama.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2