Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 107


__ADS_3

"kak, dapat selama dari Arka. aku lupa memberitahu saat sampai" pakai helmet Zivannya. "ya" jawab Langit pendek.


"salam buat Sita, kak" kata Zivannya. "ya" jawab Langit tidak sadar. Zivannya duduk dibelakang Langit. "yang, apa yang kamu katakan barusan" toleh Langit melepas helmetnya.


"salam buat kak Sita" ulang Zivannya.


"aku nggak tau rumahnya dimana, tapi aku bisa menghubunginya agar kau menyampaikan salam mu langsung kepadanya" tatap Langit mengeluarkan ponselnya. Zivannya meraih ponsel Langit dan menaruh di saku celananya.


"jalan, yang" kata Zivannya menutup visor helmetnya, Langit nyengir dan memakai helmetnya kembali, menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Zivannya merapatkan tubuhnya agar pergerakan motor lebih stabil. "mau kemana dulu, yang. kita masih punya banyak waktu" tanya Langit, "aku bawa carrier gede kak. pulang aja" jawab Zivannya, Langit memberi tanda Ok dengan jarinya menambah laju motornya.


tiba di lampu merah, mereka melihat pemandangan yang tidak biasa, "yang". "kak" kata mereka bersamaan dan mengangguk mengerti, Bayu dan sita sedang bermesraan di atas motor, mereka tidak memperhatikan sekeliling, dimana ada dua pasang mata yang melihat kelakuan mereka. Langit menggelengkan kepalanya tidak percaya. "kasihan kekasihnya yang menemaninya selama ini jika perbuatan mereka seperti itu" kata Langit menatap Zhivannya yang terlihat mengangguk membenarkan pendapat Langit.


"apa kamu akan seperti itu kak, jika sudah bersamaku" tanya Zivannya membuka visornya.


"buat apa, bikin hidup nggak bahagia. kamu memang pernah berumah tangga. tapi kamu jauh lebih terhormat dan cantik daripada seorang gadis yang mau ditiduri oleh sembarangan laki-laki seperti itu" kata Langit melajukan motornya setelah lampu pengatur lalu lintas berganti berwarna hijau. tanpa sengaja Sita melihat ke arah Langit dan Zivannya yang tidak berada jauh dari motor yang dikendarai Bayu dan dirinya. sedang menatap mereka berdua, seketika Sita tidak lagi tau harus bersembunyi dimana. melihat Langit yang memergokinya sedang berduaan dengan Bayu. Langit dan Zivannya tidak mau melihat mereka berdua agar tidak membuat mereka merasa salah tingkah. "kak, apa kamu tau kelakuan Bayu seperti itu" tanya Zivannya. "tau, tapi selama tidak menggangguku apalagi dirimu aku tidak ambil peduli, lagi pula dia masih memilih pasangan yang cocok" kata Langit. Zivannya terdiam.


"kenapa, yang. kamu merasa nggak terima kalo laki-laki begitu" tanya Langit melihat Zivannya yang diam saja, Zivannya menggeleng.


"aku kan udah pernah bilang sama kakak, laki-laki cenderung memilih yang baru daripada mempertahankan yang lama, jadi aku tidak heran lagi dengan sikap laki-laki yang tidak menghargai perempuan" kata Zivannya, Langit tertawa lebar, "justru laki-laki sangat menghargai perempuan menurutku, yang. makanya dimana-mana ada perempuan yang menemani. tapi... tidak semua laki-laki seperti itu. lebih banyak yang hanya memiliki satu perempuan untuk menemani sepanjang hidupnya, kamu dikelilingi laki-laki yang baik kan, Ayah, kak Dirgantara, bang Matahari, Dimas, Yuda. tentu saja calon suamimu ini" kata Langit, Zivannya terdiam.


"yang, kamu denger nggak aku bilang apa" toleh Langit, "dengar, yang" sahut Zivannya keras. Langit tergelak mendengar jawaban Zivannya yang terdengar nggak ikhlas.


"makasih kak, mau bersamaku" kata Zivannya tiba-tiba. Langit tersenyum dibalik helmetnya. "makasih Zi, mau menerimaku jadi imammu" buka visor Langit, Zivannya membuka visor helmetnya menganggukkan kepalanya.


"ajari aku untuk menjadi istri yang lebih baik lagi kak" kata Zivannya. "pasti, kita berdua akan terus belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita" kata Langit. Zivannya tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"besuk sudah harus mencari legalitas surat-surat, yang" ingatkan Langit. Zivannya menghela nafasnya berat, "bolehkah dipending aja" kata Zivannya. "tidak bisa, kamu sudah bilang iya, bersedia, mau, Ok, tentu" kata Langit kesal. "iya, besuk mulai" seru Zivannya, Langit tersenyum lebar.


motor memasuki halaman rumah Triastomo. Langit membantu membuka pengaman helmet Zivannya, membukanya dan menaruhnya ditempat helmet yang ada digarasi. Zivannya melangkah menuju pintu garasi yang terhubung dengan ruang belakang di ikuti Langit yang melepas jaket kulitnya. Zivannya menaruh carrier di kamar dan membersihkan dirinya berganti dengan celana joger rumahannya. "yah, bund" salam Zivannya mencium punggung tangan keduanya dan memeluk bundanya erat.


"tambah kurus dan item sih dek" elus punggung bunda, Zivannya nyengir duduk disamping ayah dan bundanya, ayah mengusap rambut Zivannya yang tergerai panjang. " gimana dek, Semeru. asik nggak" tanya ayah.


"kapan-kapan kesana yuk yah, liat Ranu Kumbolo. dekat, jalannya nggak lama. kesananya sama Raka dan Riki" kata Zivannya, ayah menatap bunda. "ya.... abis adek menikah kita semua kesana" kata bunda, Zivannya tersedak mendengar ultimatum bundanya. "iya bund, besuk Zi jalan ke aparatur pemerintahan dari yang terendah sampai selesai" angguk-angguk Zivannya. bunda tersenyum lebar memberi tanda Ok.


"besuk ayah temenin kemana-mana. jangan kuatir, beres kalo sama ayah" senyum ayah semangat. "ishhh... pasti cuman mau ngerumpi indah dengan bapak-bapak kompleks" pandang bunda. ayah tertawa mengangguk membenarkan ucapan bunda, Langit tersenyum melihat mereka bertiga yang kompak. "trus, kamu mau berperan yang dibagian mana Lang" tanya bunda, "siap bund jadi sopir nya jika diperbolehkan" kata Langit tegak duduknya.


"aahhh.... nggak... nggak usah. nanti tergesa-gesa kalo ngapa-ngapain. berdua aja. kalo udah mau diajukan ke kesatuannya baru sama dia" kata ayah mengibaskan tangannya menolak. Zivannya menahan senyumnya yang melihat ketidak relaan seorang ayah ketika anak gadisnya akan dinikahi seorang pemuda.


"hmmmm... mulai lagi nih drama punya anak perempuan mau menikah" kata bunda pelan melihat ayah, Zivannya tersenyum mengusap bahu bundanya. mbok membawa makan malam ke meja makan. "aahhh.... akhirnya kita makan nih bund" lihat ayah kearah makanan yang dibawa mbok dan Marni, Zivannya mengambil air mineral dan meminumnya hingga habis, mengisinya kembali dan meletakkannya didekat duduknya.


"habis naik ini udah stop dulu kan dek" tanya bunda, Zivannya mengangguk. "tetap dirumah aja kan, ikut kemana ayah sama bunda pergi kan" tanya bunda, Zivannya mengangguk. "jadi tidak menolak kalo bunda ajak ngumpul bareng sama teman-teman angkatan ayah atau acara lainnya" naik turunkan alis bunda menggoda Zivannya, Zivannya menatap bundanya cepat dan mengangguk lemas. "tapi jangan nerima kalo ada yang minta dijodohin sama anaknya bund" kata Zivannya menggeleng. Langit tersedak, ayah menyodorkan gelas Zivannya tadi dan segera meminumnya sampai habis, bunda tersenyum tertahan melihat tingkah Langit.


"ya... tergantung dek. kalo lebih tinggi di keaatuannya nggak papa" kata bunda pelan. Langit batuk-batuk, Zivannya tertawa pelan. "nggak usah grogi gitu kak, bunda bercanda aja. kalo betulan juga nggak papa" sodor gelas air mineral Zivannya. mereka bertiga tertawa pelan melihat Langit yang kebakaran jenggot. "siap bund, semoga dua tahun lagi bisa naik pangkat kembali, tapi harus keluar dari Jakarta" lapor Langit. "yaa... sepi lagi rumah, yah" kata bunda lesu.


"tenang bund, kita kan bisa muter ke wilayah mereka setiap saat. malah enak kan melancong terus" naik turunkan alis ayah. "apa nggak bisa nyari yang satu daerah kalian bertiga. jadi nggak jauh banget kalo ketemuan" pandang bunda. "semoga bund, jika diatas lima tahun mungkin kita akan menetap" angguk Langit. "semoga" angguk ayah meminum air mineralnya.


"jangan lama-lama kalo punya anak ya dek, biar bunda dan ayah bisa gendong cucu lagi, kak Mentari terlalu capek kesana kemari dengan bang Matahari jadi belum tenang pikirannya. semoga nanti ditempat tugasnya yang baru mereka segera dapet momongan" pandang bunda. Zivannya mengamini doa bunda.


Langit mengelus-elus kaki Zivannya, memijit kaki bagian belakang agar tidak capek. Zivannya tersenyum merasakan kakinya enakan, tangan Langit bergerak pelan menuju keatas hingga tepat ditengah-tengah kedua kaki Zivannya, Zivannya mencubit keras punggung tangan Langit yang terlihat menahan sakit. Zivannya segera menghabiskan makanannya dan meminum minumannya dengan cepat.


"yah, bund. aku bongkar tas dulu. temani kak Langit makan dulu, nanti kalo mau pulang. pulang aja kak, nggak usah pamit. mungkin aku sudah tidur" kata Zivannya beranjak dari duduknya dan bergegas membawa piring kotor kedapur untuk dicucinya sendiri. masuk kedalam kamar untuk membereskan peralatannya didalam carrier. Zivannya mengunci pintu kamarnya sesaat setelah masuk, merebahkan tubuhnya diranjang yang nyaman. Langit keluar dari kamar mandi, melihat Zivannya yang tertelungkup di atas ranjang. Langit menghempaskan badannya diatas Zivannya yang terkejut.

__ADS_1


"turun satria Langit Dewantara" desis Zivannya marah. Langit menciumi pipi kiri Zivannya berulangkali. "turunkan nada suaramu. aku tidak suka calon ibu dari anak-anakku bernada tinggi" bisik Langit ditelinga Zivannya. "jika tidak ingin aku bernada tinggi. jangan berbuat yang membuatku merasa tidak dihargai Satria Langit" tahan amarah Zivannya. "tidak mau, aku selalu menghargai mu, yang. aku menginginkanmu, hingga membuatku sengsara, tapi kamu selalu melihatku dengan tidak percaya dan selalu menjauh. itu menyiksaku, yang" kata Langit mencium tengkuk Zivannya berulang kali. "Langit, aku kesakitan jika begini terus, dadaku sakit" kata Zivannya pelan. Langit segera bergeser kesamping, Zivannya membalik badannya dan memegang kedua bagian tubuhnya yang menonjol, "kamu kebiasaan seenaknya tau nggak" kesal Zivannya menahan amarahnya.


"maaf, yang.... maaf" pegang kedua nya dengan tangannya. Zivannya memukul dada Langit keras. "aku membencimu Satria Langit"pandang Zivannya kesal.


"maaf, yang.... maaf" ulang Langit tidak berdaya melihat Zivannya yang benar-benar marah. Langit mengusap kedua benda yang menonjol itu dengan lembut. "singkirkan tanganmu" kata Zivannya menatap Langit tajam. Langit segera mengangkat tangannya cepat mendengar perintah Zivannya. "tapi aku masih ingin, yang" kata Langit menatap Zivannya meminta persetujuan, Zivannya menatap Langit kesal. ponsel Langit berdering, meraih dari samping ranjang Zivannya, melihat siapa yang menghubunginya, memperlihatkan nya pada Zivannya. "hallo" salam Langit mengaktifkan fitur loud speaker.


"dimana Lang" tanya Bayu tanpa basa-basi.


"baru dirumah Zivannya, nganter pulang abis naik ke Semeru. ada apa" toleh Langit menatap Zhivannya yang memejamkan matanya.


"bisakah nanti kita bertemu, ada yang ingin aku bicarakan" kata Bayu menghela nafasnya panjang. Langit menoel pipi Zivannya meminta persetujuan, Zivannya membuka mata dan mengangguk. Langit mengusap perut Zivannya, "baiklah, kapan dan dimana" tanya Langit akhirnya.


"setelah kamu dari rumah Zivannya aja. aku tunggu dicafe y" kata Bayu.


"copy" kata Langit menutup panggilan.


"yang, jangan tidur jika aku nanti menghubungimu jika aku bertemu dengan Bayu nanti" kata Langit mengelus perut Zivannya dan bergerak ke atas meremas sesuatu yang menjadi kesenangannya. Zivannya mengangguk dan meringkuk membelakangi Langit, Langit merengkuh tubuh Zivannya dari belakang dengan erat. "jangan tidur, yang. kamu harus mendengar obrolan kita" kata Langit. "hmmm" gumam Zivannya. "tidak akan ada apa-apa. aku bisa menjaga diriku dengan baik" kata Langit. Zivannya membuka matanya pelan. "justru itu yang aku takutkan, jika ujungnya hanya adu fisik" kata Zivannya pelan, Langit mengusapkan wajahnya ditengkuk Zivannya .


"tidak akan, yang. kamu harus percaya pada suamimu" kata Langit, "hmmmm" jawab Zivannya. Langit melepas pelukannya dan segera beranjak dari ranjang Zivannya. "aku pergi dulu yang, nggak usah mengantarku keluar. nanti jika aku sudah sampai akan memberitahu mu" usap kepala Langit, Zivannya membenarkan posisi tidurnya dan mengangguk. "hati-hati, kak" angguk Zivannya. Langit mengangguk dan meraih ponsel Zivannya dan mendekatkannya disamping Zivannya, "jangan dimatikan, yang" usap pipi Langit. Zivannya mengangguk dan memejamkan matanya, Langit mengecup kening Zivannya dan berjalan keluar dari kamar Zivannya setelah membuka kunci pintu kamar Zivannya. Langit segera berpamitan kepada kedua orangtua Zivannya untuk segera menemui Bayu.


hai....hai...hai... all readers, terus dukung karya ku, terimakasih banyak sebelumnya.


luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


stay healthy all...

__ADS_1


__ADS_2