Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 182


__ADS_3

mereka telah sampai ditempat tujuan, Langit bergegas menuju ke tempat yang telah ditentukan, Indira menemani Zivannya ke tempatnya. "disini bu" perlihatkan Indira kepada Zivannya, ia segera memberi salam kepada istri abdi negara lain.


Langit melihat istrinya dari kejauhan dan tidak bisa memalingkan parasnya lama-lama dari paras istrinya yang mempesona itu. Zivannya memberikan tanda kecupan bibir sedikit saat bertatapan dengannya, yang membuatnya menyunggingkan senyum disudut bibirnya, merasa senang saat Zivannya melakukannya spontan. Zivannya melihat kedepan layar yang terpampang didepannya prosesi pengangkatan kepala tertinggi abdi negara, ia melihat sosok Langit yang terlihat tampan dan gagah. ia tersenyum menunduk sesaat.


"yang" hampiri Langit, Zivannya berbalik dan tersenyum. "kita ketemu dengan yang lain" raih pinggang Langit agar istrinya mengikuti langkahnya. Langit menyapa semua yang berada didekatnya dan memperkenalkan Zivannya kepada mereka.


"sampai jam berapa, yang" bisik Zivannya duduk karena kakinya pegal memakai sepatu berhak rendah, "bentar lagi karena acaranya masih berlangsung" tatap Langit. "apa kamu lelah" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "kakiku rasanya mau copot karena memakai sepatu berhak gini. hanya itu yang membuatku tidak kuat" bisik Zivannya pelan, Langit melihat kaki istrinya. "lebih nggak kuat mana, yang. saat kita berolahraga bersama atau sakit kaki ini" goda Langit, Zivannya menghela nafasnya dan menutup matanya sesaat.


"sama-sama nggak kuat, yang. satunya benar-benar sakit dan satunya benar-benar enak" balas Zivannya pelan tanpa sadar, Langit menahan senyum mendengar jawaban Zivannya.


"aku belum memberimu balasan ciuman jarak jauh tadi" bisik Langit, Zivannya tersenyum. "begitu, perasaan tadi hanya menggerakkan bibir karena bosan" angkat bahu Zivannya, Langit mengangguk.


"kamu terlihat berbeda tadi saat terlihat dilayar, sangat ganteng jadi pingin bawa tidur" ujar Zivannya tiba-tiba. Langit berdehem sambil melihat tamu yang lain. "boleh, akan aku buat kamu nanti nggak bisa tidur, yang. rasakan pembalasanku nanti" jawab Langit tanpa menoleh, "hhmmm, aku tunggu nanti. semoga acaranya tidak lama lagi agar aku bisa melepas sepatu ini" angguk Zivannya pelan.


Langit tersenyum lebar mendengar jawaban istrinya, ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tersenyum. "kamu semakin berani kalo ada banyak orang gini" toleh Langit, Zivannya tersenyum menoleh menatap Langit lekat.


"karena saat-saat seperti ini kamu tidak akan berbuat apapun kepadaku, sayangku dan itu membuatku merasa senang sekali" kata Zivannya merasa lega. Langit menggeretakkan gigi mendengar jawaban Zivannya.


"habis kamu, yang. nanti kalo kita pulang" bisik Langit kesal, Zivannya mengangguk. "tentu, cintaku. akan aku tunggu nanti malam, berarti besuk aku bisa absen untuk tidak hadir di acara ibu ketua" jawab Zivannya tenang.


Langit menegakkan punggungnya merasakan tantangan yang berat karena jawaban istrinya membuatnya tidak bisa menelan bulat-bulat istrinya nanti, ia segera meraih jemari Zivannya dan memainkan jemarinya, "jangan membuatku semakin nggak kuat begini" kata Langit pelan, Zivannya tersenyum lebar mengangguk.


"ngumpul sana, yang. nggak usah dekat-dekat aku dulu, ntar kebanyakan ngomong yang nggak jelas kayak gini kita" dengus Zivannya, Langit tertawa pelan. "itu kesukaanku untuk melihatmu agar tidak ada yang mendekat" jawab Langit, Zivannya menatap suaminya, Langit segera beranjak dari samping istrinya duduk.


"aku akan menemui yang lain, jika kamu akan kemana-mana bilang sama Indira untuk memberitahu Baskara atau yang lain agar menyampaikan kepadaku supaya aku tahu kemana kamu pergi" tatap Langit, Zivannya mengangguk mengerti.


"tolong aku untuk berdiri, by" raih jemari Zivannya. Langit segera meraih kedua bahu istrinya membantunya untuk berdiri, Zivannya mengecup sekilas bibir Langit. "satu sama, yang. balasan saat di sekolah ibu kemarin" bisik Zivannya dengan santai meninggalkan Langit yang terpaku. ia menyunggingkan senyum menggelengkan kepalanya pelan menyadari kelakuan Zivannya yang membuatnya speechless. Zivannya meminta tolong Indira untuk membawanya berkeliling tempat itu sambil menunggu Langit.


"bu, apakah ibu lapar" tanya Indira setelah lama menunggu Langit yang belum menampakkan tanda-tanda selesai, Zivannya mengangguk lesu. melihat keluar jendela kendaraan. "apakah ibu bisa menunggu sebentar disini, akan saya usahakan untuk mencari sesuatu" tatap Indira, Zivannya mengangguk menutup matanya.


"hello" salam Zivannya tanpa melihat layarnya.


"dimana, yang" tanya Langit, Zivannya melihat layar ponselnya.


"di dalam kendaraan. mbak Indira baru nyariin makanan buat aku karena kelamaan nunggu" hembus nafas Zivannya pelan. "aku akan segera kesana" senyum Langit, Zivannya mematikan panggilan secara sepihak, Langit menatap layar ponselnya yang segera meredup, ia menatap tidak percaya jika istrinya mematikan panggilannya secara sepihak.


"benar-benar anak ini" gumam Langit melangkah dengan cepat menuju kendaraan yang ada istrinya didalam.


"ngapain, yang" buka pintu kendaraan Langit, Zivannya menoleh lemas menatap suaminya. "lama banget sih, by. kita bertiga nunggu lama" tanya Zivannya pelan.

__ADS_1


"tadi koordinasi dengan petinggi kesatuan lainnya, yang" senyum Langit menyentuh dahi Zivannya. Indira menyodorkan bungkusan makanan kepada Zivannya.


"kenapa cepat dapat mbak, tempatnya kan luas banget ini" tanya Zivannya membuka box makanan.


"didalam masih banyak bu, tadi saya meminta ijin untuk komandan" jawab Indira menunduk.


"dapat berapa" tanya Langit menatap Zivannya yang menyodorkan suapan kepadanya.


"sesuai dengan semua personel, ndan dilebihkan 2" jawab Indira.


"kalian bagi sama rata" angguk Langit. "siap ndan" jawab Indira dan Baskara cepat. Zivannya mengobrol sambil makan makanan dengan Langit.


"ndan, kita langsung pulang atau mampir ke kesatuan dulu" tanya Baskara.


"mau langsung pulang apa mampir dulu, yang" tatap Langit meminta persetujuan istrinya yang tengah menyuapi dirinya. "ke kesatuan aja dulu, nanti jika ada hal yang harus dilakukan oleh bapak, bisa segera dilakukan" kata Zivannya, Baskara mengangguk


"ibu, mau dibelikan apa selama perjalanan" tanya Indira. "nggak mbak, sudah. makasih banyak tadi nyariin makanan buat saya, ada air mineral dan makanan ini" geleng Zivannya.


"kak Bas, gimana dengan Rara" naik turunkan alis mata Zivannya menggoda Baskara.


"apa Dimas ingin kembali" tanya Baskara pelan, Zivannya menggeleng pelan. "sedikit harapan untuk itu, tapi tidak menutup kemungkinan untuk kembali, tapi setidaknya Rara tidak menaruh harapan kepadanya, siapa tau om Bas bisa meluluhkan hatinya dengan perhatian-perhatian kecil dan membuatnya selalu merasa nyaman" topang dagu Zivannya menatap Baskara.


"tentu, Zi. aku akan berusaha melakukan yang membuatnya nyaman" senyum Baskara, Zivannya mengangguk.


"kalau saat awal-awal berjuang selalu tidak dianggap gimana, yang" tanya Langit ikut mengobrol. Zivannya menoleh menatap suaminya.


"setiap perjuangan untuk mendapatkan orang yang terkasih memang harus jatuh bangun kan, by. tapi jika memang dihati tidak layak untuk diperjuangkan maka jangan jadi pahlawan kesiangan untuk mempertahankan hal yang memang tidak ada ujungnya" jawab Zivannya tenang.


"jika Rara memang yang terbaik untuk kak Baskara, aku akan sangat senang, karena setidaknya kita masih bisa bersama, tapi jika tidak bukan berarti perjuangan harus berhenti disini kan" senyum Zivannya menatap Baskara, Langit memalingkan paras istrinya agar menatapnya.


"aku udah bilang, jangan tersenyum pada laki-laki lain" tatap Langit, ketiga orang lainnya tersenyum melihat keposesifan Langit.


"by" pandang Zivannya, Langit tersenyum mengangguk. "apa Arka masih sering jalan dengan Rara" tanya Langit, Zivannya menggeleng.


"mereka tidak sering bertemu karena kesibukan, kak Bas yang selalu memberi perhatian lebih" jawab Zivannya, Langit menoleh menatap Baskara.


"langsung lamar kenapa sih, Bas. jadi laki harus gerak cepat" kata Langit, Baskara menghela nafasnya panjang. "bu, bolehkah saya mengatakan bagaimana dulu komandan mengejar-ngejar ibu sampai segitu nya" tatap Baskara, Langit tergelak mendengar perkataan Baskara yang tahu pasti bagaimana dirinya dulu memperjuangkan perhatian Zivannya.


"tentu kak, aku juga ingin tahu gimana dia dulu mencoba masuk didalam kehidupanku" jawab Zivannya menyilang kan kedua tangannya di dadanya. Langit semakin tertawa lebar. yang lain hanya senyum-senyum melihat Langit, tidak berani untuk menyampaikan sesuatu.

__ADS_1


"kamu lebih tahu, yang. bagaimana aku mengejarmu agar kamu melihatku sedikit saja, mereka yang sering melihatku ketika aku harus menahan rindu tidak bertemu denganmu dengan memberi latihan dan perintah" tatap Langit tegas, Zivannya menatap suaminya yang tersenyum lebar.


"segitunya, by. sampai-sampai mereka kamu beri latihan" kata Zivannya, Langit mengangguk.


"biar mereka merasakan dengan latihan akan membuat badan sehat dan bagus juga bisa merasakan bagaimana penderitaan komandannya" jawab Langit cepat.


"maafkan aku jika membuat kalian merasakan keganasan kak Langit" tatap Zivannya kepada tiga orang yang menemani mereka.


"tidak bu, setelah itu komandan akan mentraktir makan kepada kami semua. karena beliau tahu bagaimana kondisi anak buahnya setelah melakukan latihan fisik" senyum Indira. Baskara membenarkan Indira, Langit tertawa pelan melihat keluar jendela mengingat bagaimana dulu dia berjuang agar Zivannya melihatnya ada didekatnya.


"semangat berjuang kak, karena hati adalah misteri yang tidak akan pernah usai untuk diperjuangkan, beri perhatian terus jangan kasih kendor. biarkan Rara tau masih ada Baskara yang mampu membuat hatinya dan hari-hari nya menjadi hari biru penuh cinta" senyum Zivannya, Baskara tersenyum mengangguk saat Zivannya memberinya semangat untuk terus maju menaklukkan hati Rara sahabat baiknya.


"kita akan datang kapan mbak" tanya Zivannya memastikan jadwal melakukan kegiatan di kedinasan Langit.


"waktunya pagi, bu. jam 8 seperti biasanya, jadi nanti saya jemput ibu sekitar 7 pagian. dengan ibu-ibu dari semua angkatan mendampingi ibu ketua, nanti juga akan ada kunjungan ke rumah sakit yang terletak dipusat" jelaskan Indira. Zivannya mengangguk memejamkan matanya. Langit mengusap pipi Zivannya pelan, Zivannya bergerak pelan membuka matanya. "udah sampai, yang" ujar Langit pelan, Zivannya mengangguk dan mengikuti langkah Langit keluar dari kendaraan. mereka segera mengundurkan diri dan meninggalkan rumah dinas Langit untuk kembali ke kesatuan.


"apakah tadi tidurku lama" tanya Zivannya melepas pakaian dinas pendamping suaminya, Langit mengangguk, Zivannya bergegas ke bathroom membersihkan dirinya.


ia segera memakai pakaian rumahan dan menuju pantry untuk meminum jahe hangat.


"hello, bund" senyum Zivannya melihat paras bunda dan ayah yang sedang berada di dalam kendaraan bersama dengan yang lain.


Langit menghampiri istrinya dan meminum jahe hangat yang terletak di meja pantry dan memeluk istrinya, "siapa" tanya Langit menciumi ubun-ubun rambut Zivannya. "ayah dan bunda, mereka akan pulang ke hotel" senyum Zivannya beranjak dari tempat duduknya, Langit mengekor kemana Zivannya pergi.


"kenapa sih, yang" toleh Zivannya, Langit mencium pipi istrinya. "aku mau bayar lunas utangmu dari tadi pagi" senyum smirk Langit, Zivannya tertawa lebar mendengar perkataan Langit.


"tutup pintu rumah dulu, ntar baru asik ada yang datang" goda Zivannya menaik turunkan alis matanya, Langit segera mengecek semua keadaan rumah sebelum mereka beraktivitas malam. Zivannya menanti kedatangan suaminya ditepi ranjang dengan memakai pakaian yang menggoda. Langit membuka pintu dan menatap Zivannya dengan pandangan terkejut, terpesona, tidak percaya apa yang dia lihat saat ini hingga tidak sadar jika mulutnya menganga menatap Zivannya dengan perasaan campur aduk. Zivannya tertawa kecil melihat tingkah Langit. "wow, yang" hampiri Langit menatap istrinya tanpa berkedip. "kenapa, cantik kah" senyum Zivannya, Langit mengangguk beberapa kali, "suka" tanya Zivannya, Langit kembali menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. "suka yang kayak gini atau tanpa pake apa-apa" senyum Zivannya, Langit menatap istrinya seperti dicucuk hidungnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Zivannya menjerit kaget, saat Langit segera melakukan sentuhan yang tiba-tiba. "aku suka keduanya, yang. pake ini atau tidak pake apapun dua-duanya sangat membuatku melayang" kecup kening Langit, Zivannya tersenyum menatap Langit, melingkarkan tangannya ke leher suaminya itu untuk memulai pertempuran yang tertunda mereka, Zivannya menahan hasrat saat Langit dengan gencar memberinya sentuhan demi sentuhan di area sensitifnya, ia sesekali menggeram pelan, menggigit bibir bawahnya pelan saat Langit memberinya sesapan yang membuatnya melayang, Langit memberikan sentuhan yang membuat Zivannya mengerang. mereka melakukan dengan lembut, penuh dengan hasrat yang menggebu dan saling menggoda satu sama lain. Zivannya sering mencengkeram rambut Langit karena sentuhannya yang memabukkan.


"yang" desah Zivannya mengatur nafasnya yang terdengar tidak teratur, Langit mengusap pipi istrinya tersenyum kembali memberikan sentuhan yang membuat Zivannya menggeram. Langit melepaskan hasrat yang terpendam, mereka bersama-sama melepaskan kenikmatan dunia berdua.


"lelah, yang" toleh Langit mengusap benda kenyal candunya yang terjangkau tangannya. Zivannya menutup matanya merasakan sentuhan suaminya. "laper" ujar Zivannya pelan, Langit tertawa pelan mendengar Zivannya, "kita bersih-bersih dulu baru nyari makan" kata Langit, Zivannya membuka matanya, Langit duduk dan menoleh menatap istrinya.


"mau diangkat apa jalan sendiri" goda Langit, Zivannya tersenyum segera duduk. "angkat depan"tatap Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya bergerak melingkarkan tubuhnya seperti koala, Langit tergelak menyadari kelakuan Zivannya yang sedang manja.


"kalo gini, bangun lagi nanti, yang" kecup bibir Langit, Zivannya memeluk erat tubuh suaminya, Langit segera beranjak dengan Zivannya berada di pelukannya. dinyalakannya shower air hangat agar istrinya segera membersihkan tubuhnya.


Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku.

__ADS_1


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2