Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 79


__ADS_3

Bunda membantu Zivannya menata baju dikoper. "pake sepatu boot aja dek, sneakers nya ditinggal" kata Mentari, Zivannya mengangguk menata baju-baju nya. "bawa berapa" tanya Zivannya. mentari memberi tanda dua jari tangannya.


"apa komandan abang tau kamu pergi dek" tanya mentari, Zivannya mengerutkan keningnya, "jika yang kakak maksud kak Langit jawabannya tidak, dia tidak berkepentingan untuk tahu. Zi udah pamit ke kak Aga" tutup koper besar Zivannya.


"kak, ini kok kayak eliminasi pertunjukan di TV sih. koper Segede gaban" pandang Zivannya, Mentari tertawa.


"itu buat tiga bulan dek, terkadang bisa lebih dari itu lho. jika cuaca tidak mendukung bisa lebih lama" kata Mentari, "udah anggap aja traveling" tepuk bahu ayah. "kali aja dihutan dek, ketemu binatang buas" kata mentari memperagakan auman singa.


"lumayan sama lho kak, sering ndongeng buat Raka sama Riki kayaknya" pandang Zivannya datar. mentari tertawa berlalu kedapur.


"bawa kendaraan nggak dek kesana" tanya matahari dari ruang makan. "nggak bang. udah disediain disana" jawab Zivannya.


"moga nggak ketemu sama orang cakep" kata matahari. Zivannya mendekat dan duduk untuk minum. "kenapa bang" tanya Zivannya. "kasihan komandanku, cakep-cakep kayak orang gila kalo nyiksa anak buahnya gara-gara nunggu kabar" senyum matahari, Zivannya beranjak dari tempatnya.


"kabari dia, dek kalo mau berangkat. kasihan lho... anak orang kamu gantungin" kata matahari. Zivannya menghela nafas.


"dia laki-laki masih single lagi bang, terserah dia mau ngapain aja" geleng Zivannya. "jangan salahin abang kalo terjadi pembunuhan berdarah" takuti abang, "Abang bund, ngancem Zi tuh" kata Zivannya.


"abang jangan gitu, kurang serem ngancemnya" seru bunda dari dapur, mereka tertawa.


"ayah udah mengundang Langit untuk makan malam, dia kagak bisa nolak jenderal" duduk ayah, mentari tertawa ngakak. "adek, siap-siap jadi kepiting rebus tuh muka" seru mentari, Zivannya mengerucutkan mulutnya.


"kurang maju tuh bibirnya biar bisa dikucir pake cinta" goda Matahari tertawa ngakak.


"abang ih... jahat ma adek sendiri. kagak ada bela-belainnya" duduk Zivannya kembali, bunda duduk di samping ayah, mbok dan mbak Marni membawa makanan yang sudah selesai dimasak.


"hmmm... masakannya enak nih bisa banyak makan" lihat Zivannya memandang masakan mbok.


bel pintu terdengar, "ada yang datang tuh, buka pintu dek. kewajiban ada tamu bukain pintu" pandang ayah, Zivannya beranjak melangkah untuk membuka pintu depan. langit berdiri dengan gagah dan tampan, terkejut saat yang membukakan pintu Zivannya sendiri.


"hai kak. masuk yuk udah ditunggu ayah dan bunda geser Zivannya agar Langit segera masuk. Zivannya membiarkan pintu terbuka dan berjalan mendahului Langit yang menunggunya untuk berjalan bersama. Langit meraih jemari Zivannya, Zivannya menoleh terkejut dan refleks melepas tautan Langit.


"yah, bund. kak Langit udah sampai" kata Zivannya mengambil gelas air putih untuk Langit.


"ehem.... "dehem matahari menatap Zivannya. "abang.... belum saatnya. nanti kalo udah makan baru kita pepet" kata bunda menaik turunkan alisnya. Langit menatap bunda dan menghembuskan nafasnya berat.

__ADS_1


"yah, udah lama Zi mau nanya" kata Zivannya tiba-tiba. ayah mengangguk, "kenapa kebanyakan abdi negara lebih memilih calon istri berprofesi sebagai dokter ato perawat. setidak-tidaknya tenaga medis lah" kata Zivannya santai. Langit batuk-batuk segera meminum air putih, mentari dan matahari saling berpandangan dan tersenyum ditahan.


"nggak semua juga kan dek, keluarga ini nggak" geleng bunda mengambilkan ayah nasi. mentari mengambilkan Matahari setelah bunda selesai, Zivannya refleks meraih piring Langit dan menuangkan nasi untuknya.


"Zi tanya kenapa" geleng Zivannya, Langit menatap Zivannya yang sedang melayaninya.


"mungkin karena jodoh dek, mereka kebanyakan berprofesi itu" kata matahari. Zivannya mengangkat bahunya dan mengambil sayur untuk dirinya sendiri.


"kemarin waktu pulang kerumah mama, aku ditantang Yuda lho bang" kata Zivannya, "apaan" kata matahari ingin tahu.


"kemarin kan aku hanya pake pakaian biasanya, tetep aja ada yang godain. nah Yuda bilang sesekali pake gaun ato rok gitu biar aman. nah aku jawab nih, baiklah nanti aku pake rok mini dan punggungnya kelihatan. biar ada tantangannya gitu" makan Zivannya kalem. Langit dan matahari tersedak bersamaan dan batuk-batuk. mentari mengambilkan matahari minum. bunda tertawa pelan menatap ayah yang hanya senyum aja.


"trus reaksi Yuda gimana dek, apa seperti mereka" tanya ayah ingin tahu. Zivannya menggeleng, "tidak dia hanya tertawa mendengar jawabanku yang diluar perkiraan dia. padahal dia nggak tau aja, kalo clubbing sama Rara. pakaian yang ku pake seperti itu" anjak Zivannya selesai makan.


"adek.... kebiasaan nih" seru Matahari, Zivannya melambaikan tangannya menuju teras belakang, langit meletakkan sendok makannya dan meminum air putihnya hingga habis. "aishhh.... anak itu selalu keras saat ada yang datang" senyum ayah. malah kayak dek Aga ya yah.... pantesan mereka berdua ketemu langsung klop" pandang bunda melihat Langit yang telah pergi menjauh dari meja makan menuju arah Zivannya.


"apa bener dia clubbing kak" tanya ayah. "ihhh ayah, nggak lah, Zi nggak pernah neko-neko. kerjanya memang sampai malam, karena cafe untuk anak muda, pulang trus tidur. kalo nunggu Rara begituan sering. Dimas dan Zivannya nunggu dekat situ sambil ngerjain tugas" geleng mentari. "tau dari mana, yang" toleh matahari.


"tau dong, orang beberapa kali ikut mereka bertiga keluar" senyum mentari. "apa" ulangi matahari tidak percaya. "sama kayak adek, yang. nungguin aja di mall, ngapain begituan" kata Mentari. matahari menatap mentari, mentari nyengir.


"makan, sehabis itu kita jalan aja. biarin dua orang itu jaga rumah" pandang matahari, mentari memberi hormat.


"mbok, diberesin. ditutup aja makanannya, nanti kalo adek sama Langit makan lagi" kata bunda, "baik nyah" angguk mbok.


"mereka dimana mbok" tanya mentari memakai jeans dan jaket kulit. "ditaman belakang non, mereka duduk dikursi taman" jawab mbok, mentari mengangguk dan keluar rumah.


"buatin jahe, mbok. Zivannya nanti masuk angin" kata bunda, mbok mengangguk.


"mbak, kita pergi dulu. biarin aja mereka jangan diganggu. biar dekat, hehehehe...." tawa mentari, Marni mengangguk tersenyum.


Zivannya menatap langit yang terlihat kelam, "ngapain jauh-jauh menatap langit diatas sana, disebelahmu juga ada Langit malah lebih jelas ganteng lagi" kata Langit duduk disamping Zivannya, Zivannya memejamkan matanya tidak menggubris omongan Langit.


"kamu marah karena aku datang" tanya Langit pelan. Zivannya terdiam. "kalo gitu aku pulang dulu, kayaknya mereka sudah pada keluar semua" anjak Langit dari duduknya, Zivannya bangkit mengantar Langit untuk keluar.


"lho non, ibu nyuruh buatin non adek jahe sama den langit, kalo nggak habis nggak boleh pulang katanya, saya suruh laporan" kata mbak Marni terkejut saat ditengah jalan melihat mereka berjalan, Zivannya menghela nafasnya panjang. "taruh diatas aja mbak, kita lihat suasana malam dari balkon aja" kata Zivannya mengajak Langit untuk naik keatas. Marni meletakkan makanan kecil dan jahe panas diatas meja.

__ADS_1


Zivannya duduk di Bean bag tempatnya menghabiskan waktu ditaman balkon. langit duduk di karpet dan tiduran memandang keatas, kaca besar yang dijadikan atap agar terlihat langit diatasnya.


"apa kabarmu Zi" toleh Langit, Zivannya menyesap jahe panasnya sedikit demi sedikit. "baik kak, bagaimana denganmu" angguk Zivannya menatap Langit. Langit menggelengkan kepalanya, "tidak begitu baik setelah pergi tanpa pamit kepadamu. aku tidak tega melihatmu nyenyak tidurnya" jawab Langit pelan. "kenapa tidak chat setelahnya" kerut Zivannya. "aku mengira kamu akan marah jika nanti aku memberitahumu" geleng Langit. Zivannya tersenyum.


"sebegitunya kah diriku kak" tanya Zivannya, "ya" pandang Langit.


"kamu berusaha untuk menarik diri dari ku, sebegitunya berusaha untuk membuatku membencimu dan tidak memilihmu" sahut Langit. "itu membuatku sakit didada, kesal dan lemah" kata Langit pelan, Zivannya tertawa kecil.


"lucu ya kak, ditempa dengan latihan fisik yang begitu beratnya, hanya karena seorang wanita merasa lemah" kata Zivannya tidak suka. Langit bangkit dan mengunci tubuh Zivannya.


"kenapa... tidak suka, merasa kesal... merasa harga dirinya terinjak-injak" tantang Zivannya, Langit menggeleng. "karena cinta, karena sayang...." jawab Langit, Zivannya berdecih tidak suka dengan jawaban Langit, "apa aku salah, apa aku bisa memilih untuk mengatur hatiku ketika bertemu dengan seorang gadis yang tepat denganku" tatap langit dekat, Zivannya memejamkan matanya.


"atau karena kamu merasa tidak pantas karena statusmu" kata langit, Zivannya menghembuskan nafasnya panjang. "salah satunya" angguk Zivannya. "aku tidak bisa membuka hati untuk orang lain kak, tolong untuk mengerti" jawab Zivannya lemah, "Zi" usap kepala Langit, "apa ketakutan terbesarmu adalah aku akan bernasib sama dengan Aga, meninggalkanmu selamanya begitu" bisik Langit, Zivannya meneteskan air mata.


"come on Zi, itu takdir Tuhan" elus bahu Langit. Zivannya semakin deras menangis, tanpa menjawab Langit. Langit mengambil tissue yang terletak dimeja dan membawanya mendekat kearah Zhivannya, menghapus air matanya. "aishhh Zi.... pikiran mu terlalu jauh. percaya dengan Tuhan, percaya dengan tangan-tangan nya yang tidak tampak mengatur kehidupan" peluk Langit.


"kenapa kamu ragu pada Tuhan, kenapa kamu tidak memaafkan dirimu sendiri. bukan salah siapa-siapa jika Aga pergi. semua sudah ditakdirkan Tuhan. kita tidak bisa merubahnya, apalagi kamu" kata Langit mengusap rambut Zivannya menciumnya beberapa kali, Langit merengkuh tubuh Zivannya menyalurkan kekuatan dan kehangatan yang dibutuhkannya.


"sampai kapan kamu akan begini, menutup diri dari dunia, merasa paling bertanggung jawab" kata Langit, Zivannya sesenggukan. Langit mengusap pipi Zivannya yang basah oleh airmata.


"maafkan dirimu sendiri Zi, bisakah" pandang Langit, Zivannya mengangguk.


"lepaskan kepergian Aga, biarkan dia tenang disana, jangan halangi langkahnya" pandang Langit, Zivannya mengangguk mantap.


"ada aku yang akan menemani langkahmu kedepannya. ada keluargamu yang menemanimu dalam suka dan duka" kata Langit. Zivannya mengangguk menghirup udara malam yang gelap.


Langit menyodorkan jahe hangat ke mulut Zivannya yang segera menyesapnya.


"lebih enakan Zi" senyum Langit. Zivannya mengangguk, menempelkan gelas kematanya agar terasa hangat. "berapa usiamu sekarang Zi" tanya Langit. "22" jawab Zivannya, "aku 25" senyum Langit, Zivannya menghembuskan nafas. "kita akan menikah setahun lagi ya" senyum Langit, Zivannya terhenyak sesaat.


"kamu nggak mau hanya jadi kekasihku kan, nggak mau hanya tanpa status kan" elus bahu Langit. Zivannya meminum jahenya hingga habis.


"pulang kak, jaheku sudah habis. tadi mbak Marni bilang kalo belum habis nggak boleh pulang" perlihatkan gelas Zivannya. langit tergelak mengambil gelas Zivannya menaruhnya dimeja dan memeluk Zivannya.


"aku nggak mau pulang, kamu mau ngapain" kecup kening Langit.

__ADS_1


hai....hai...hai.... all readers. terus dukung karyaku ya biar terus update.


luv....luv....luv.... U all readers. terimakasih atas dukungannya selama ini.... terimakasih banyak....


__ADS_2