
"kenapa aku merasa seperti membawa adik kecil kalo begini" pandang Langit melihat penampilan Zivannya yang girly seperti anak baru gede. Zivannya mengikat tali sneakersnya. "karena aku jarang berdandan dan hanya memakai jeans" dongak Zivannya menjawab Langit yang menatapnya tajam. "jika mau aku bisa mengganti dengan pakaian yang biasa, lebih simple menurutku, asal kakak tidak malu ketika yang lain terlihat cantik atau aku harus lebih fashionable lagi dari ini" lipat tangan Zivannya didada. Langit mendorong bahu Zivannya agar masuk mobil. "aku tidak akan protes lagi, semakin kamu dandan semakin aku kuatir" bisik Langit mengecup pipi Zivannya.
"setiap perempuan ingin selalu tampil cantik di depan orang yang dia sayangi, apalagi ketika dia diajak ke acara teman-temannya, maka dia akan berdandan agar tidak mempermalukan dirinya sendiri dan pasangannya kak" senyum Zivannya, Langit mengangguk dan tersenyum.
"apapun yang kamu pakai terlihat cantik bagiku. semakin kamu terlihat cantik aku semakin cemas jika ada yang lebih dariku melihatmu dan kamu berpaling" kata Langit melajukan mobil. Zivannya tertawa lebar, "padahal kakak terlihat lebih tampan saat ini" lihat Zivannya, Langit tertawa dan mengangguk.
"aku memang ganteng dari sananya, yang. makanya aku mau kamu jadi istriku" kata Langit percaya diri, Zivannya mengangguk.
"hallo yah" salam Zivannya.
"gimana kabarmu dek, masih bersama Rara disana" tanya ayah menatap ponselnya.
"tidak yah, kemarin kak Langit menjemput Zivannya kesana. senin pagi sampai sini, sekarang mau ke acara kak Langit dan teman-temannya di xx" jawab Zivannya memperlihatkan Langit yang sedang mengemudikan mobilnya.
"malam jenderal" sapa Langit hormat, ayah tertawa lebar "ternyata dia sudah nggak tahan melihat mu dek, nggak ada kabar darimu membuat Langit frustasi" kata ayah senyum-senyum.
"masa sih, yah. kelihatan biasa-biasa saja tuh kak Langit nya" pandang Zivannya, Langit tersenyum.
"tanya, berapa lama dia melakukan olahraga setiap pagi dengan anak buahnya selama kamu nggak memberi kabar" tawa ayah. Zivannya menoleh menatap Langit sesaat. "setiap hari jenderal" kata Langit tegas. Zivannya membelalakkan matanya lebar mendengar perkataan Langit.
"kamu denger sendiri kan, dek" senyum ayah, Zivannya mengangguk lemas.
"bunda baru mandi, kita abis jalan bersama yang lain" minum air mineral ayah. Zivannya mengangguk.
"jadi naik gunung dek" tanya ayah.
"nunggu ijin dari komandan Langit, jenderal" jawab Zivannya cepat, ayah dan Langit tertawa lebar.
"kembali seperti dulu lagi kan dek, harus ijin komandan" senyum ayah, Zivannya mengangguk pelan meneteskan air mata.
"aishhh dek, ayah tidak mau melihatmu begitu. sudah cukup. ayah off dulu" tutup ayah cepat. Langit mengelus tengkuk Zivannya yang menghapus airmatanya dengan tissue.
"selalu berakhir dengan airmata kalo ngobrol sama ayah, kak" senyum kecil Zivannya. "karena kamu anak perempuan yang dirindukannya selama ini" senyum Langit menatap sekilas Zivannya.
"mungkin benar, karena kak Mentari terlalu cepat besar dan menjadi istri abdi negara" angguk-angguk Zivannya.
"jadi biarkan aku menjadi anak gadis mereka dulu ya kak" senyum Zivannya. Langit menatap Zivannya sesaat, "selama ini kamu juga anak gadis mereka, yang. siapa bilang tidak, walaupun kita telah menikah. kamu tetap anak gadis mereka" kata Langit, Zivannya menghela nafasnya berat.
"nggak ada alasan untuk menunda pernikahan Zi, semakin cepat semakin baik. kita akan segera memberikan mereka cucu" senyum Langit.
"ya ya ya" gumam Zivannya menatap keluar jendela. Langit tersenyum simpul melihat reaksi Zivannya yang terlihat lebih kalem sekarang.
"kita udah sampai, yang" kata Langit, Zivannya membuka seat belt nya. "kak, lepasin ini. selama ini jika aku duduk disini, belt ini nggak mau aku buka sendiri. jika aku berada di kemudi dengan mudah aku lepaskan" hembus nafas Zivannya menatap Langit.
__ADS_1
"apa dengan Aga juga begitu" lepaskan Langit, "ya" angguk Zivannya.
"dan anehnya lagi hanya jika dengan kalian berdua, jika bersama yang lain tidak ada masalah" kata Zivannya.
"seriously" kerut Langit tidak percaya. "Yap, dan aku tidak tau kenapa. awalnya aku hanya menganggap kebetulan saja, tapi hal itu terus terjadi jika pergi dengan kak Aga dan hal itu kembali ketika itu pergi denganmu saat ini" angguk Zivannya.
"pergi dengan yang lain, dengan siapa" pandang Langit.
"ishhh hanya dengan keluarga dan teman" kata Zhivannya keluar mobil.
"termasuk Yuda" keluar Langit, Zivannya mengangguk. Langit meraih jemari Zivannya dan membawa mereka masuk kedalam ruangan.
"aku tidak akan membatasi dengan siapa kamu akan berteman, karena aku tau kamu tidak akan berpaling dariku" senyum Langit, "kita liat aja nanti, kak" angkat bahu Zhivannya.
Langit memandang Zivannya lekat. "kakak udah tau aku tidak bisa melihat laki-laki lain saat aku sudah mempunyai seorang laki-laki yang hebat bukan" senyum Zivannya, Langit tersenyum lebar.
"Langit" seru seorang pria yang melambaikan tangannya ketika melihat Langit masuk lewat pintu. mereka menoleh dan tersenyum melihat siapa yang memanggil. "hai, aku kira kamu tidak datang lagi kali ini" salamnya menjabat tangan Langit. "aku baru bisa keluar. waktu itu sering pas dinas diluar" senyumnya menyambut jabatan tangan temannya. "kenalkan ini calon ibunya anak-anakku, Zivannya namanya" toleh Langit. pria itu tertawa lebar.
"akhirnya, kamu punya pendamping juga, aku kira kamu masih betah menjomblo dan akhirnya malah dengan Sita teman kita yang naksir berat dari dulu" kata nya, Langit menoleh. "temanku yang kemarin ketemu waktu kita di mall" jelaskan Langit.
"aaahhh" angguk Zivannya tersenyum.
"hai, aku Bayu teman Langit satu angkatan dan ini kekasihku Rani" senyum Bayu.
Zivannya tersenyum menyalami mereka berdua, "kalian juga baru datang" tanya Langit.
"apakah kekasihmu masih sekolah makanya kamu nggak pernah membawanya saat kita ketemuan" toleh Bayu.
Langit tertawa, "begitu kah, dia sudah selesai kuliah tahun ini dan untuk mendapatkannya harus bolak-balik menemuinya, menyakinkan dirinya mau denganku" kata Langit menatap Zhivannya yang tersenyum tipis mendengar perkataan Langit.
Bayu tertawa lebar, "kenapa, apa kamu pikir mendapatkan perempuan yang spesial itu tidak butuh perjuangan dan kerja keras" tepuk bahu Bayu. Langit tertawa, "memang beda kalo sudah ketemu yang pas takarannya" angguk Langit, mereka tertawa terbahak-bahak.
"aku kira kamu masih sekolah, Zi" kata Rani. "aahhh, begitu kah" senyum Zivannya malu.
"umur berapa tahun ini" tanya Rani, "22" jawab Zivannya, Rani membuka mulutnya lebar, "benarkah, kita sama dong, aku belum lulus kuliah" pandang Rani. Zivannya tersenyum.
"aahhh, jadi malu banget aku nya" tawa Rani, Zivannya menggeleng. "aku kuliah saat umur 18" jawab Zivannya.
"aahhh begitu rupanya, aku mengerti. apakah kesehatan juga" tanya Rani, Zivannya tertawa pelan. "bukan aku anak sipil" kata Zivannya pelan. "waaw, cewek badas rupanya" tawa Rani, Zivannya tersenyum lebar, "yaa begitulah. panggilan hati kalo kak Langit bilang" angguk-angguk Zivannya, "ketemu dimana sama Langit" tanya Rani.
"dirumah saat masih kuliah, dikenalin sama abang. kebetulan dikesatuan yang sama dengan kak Langit" jawab Zivannya. Rani manggut-manggut.
"yang" isyarat Langit, Zivannya mengangguk mendekat setelah berpamitan dengan Rani sebelumnya. "kak, acaranya kliatan resmi" kata Zivannya pelan, "benarkah. aku jarang datang sebenarnya, yang. karena sering di daerah konflik" bisik Langit meraih jemari Zivannya, Zhivannya menoleh cepat. "apakah nanti akan ditugaskan disana kembali, kak" tanya Zivannya, "mungkin. kita harus siap ditempatkan dimanapun bukan" angguk Langit,
__ADS_1
"bisakah tidak" cemas Zivannya. Langit memandang Zivannya lekat. "aku takut kenapa-kenapa lagi" pucat Zivannya. Langit membawa Zivannya duduk dikursi tidak jauh dari situ meraih air mineral kemasan dan menyodorkannya kemulut kekasihnya itu. "tarik nafas, keluarkan" pandang Langit setelah Zivannya minum.
"aku disini dan kita akan bersama selamanya, tidak akan ada yang terjadi, baby. kita berdua dan anak-anak kita" genggam tangan Langit erat menatap Zivannya, Zivannya mengangguk dan mengeluarkan nafasnya hingga dirinya tenang. "jika kita hanya berdua, aku akan memelukmu erat dan memberimu nafas buatan" goda Langit, Zivannya nyengir.
"apakah dia baik-baik saja Lang" datang seseorang, Langit menoleh. "baik, hanya sedikit cemas karena sesuatu hal. selebihnya tidak masalah" angguk Langit mengecup kedua tangan Zivannya yang dipegangnya erat.
"kalo begitu, ayo kita temui teman-temanku, akan aku kenalkan dengan yang lain" senyum Langit menatap Zhivannya. "ah iya, yang. kenalkan ini Sita. kemarin saat kita berjumpa belum aku perkenalkan bukan" pandang Langit, "hallo kak, Zivannya" salam Zivannya tersenyum ramah, "Sita" senyum kecil Sita. mereka beranjak ke arah teman-teman yang lain.
Langit memperkenalkan Zivannya kepada teman-temannya yang datang bersama pasangannya masing-masing.
"kak, aku duduk disana ya, capek berdiri terus. laper" bisik Zivannya.
"ahh kenapa dari tadi nggak bilang sih, yang. maafkan aku, ayo kita makan dulu" raih pinggang Langit mengajak Zivannya mendekat ke arah meja yang penuh dengan sajian makanan ditengah ruangan.
"mau yang mana, yang" pandang Langit. "anything kak, aku ambil minum dan duduk disana" kata Zivannya. Langit menatap kearah yang ditunjuk Zivannya mengangguk tanda mengerti.
Zivannya meraih kemasan air mineral dan berjalan kearah kursi yang masih kosong, sambil melihat keadaan sekitar dimana banyak teman-teman Langit yang datang membawa pasangannya, memperhatikan dekorasi ruangan tempat perjamuan saat ini.
Langit berjalan menghampiri Zivannya namun dipanggil oleh seseorang, Langit memberikan piring yang telah diisi makanan kepada Zivannya. "tunggu bentar, yang. aku akan segera kembali" usap kepala Langit, Zivannya mengangguk mengerti.
setelah 15 menit, Langit kembali dan segera menyuapi Zivannya dengan makanan yang telah diambilnya. "laper banget, yang" senyum Langit, Zivannya mengangguk memperlihatkan waktu yang menunjukkan pukul 9 malam lebih. Langit membuka matanya lebar. "nggak terasa udah jam 9, yang" siap Langit.
"tadinya pingin keluar trus beli makanan yang seger dipinggir jalan, kalo lebih lama lagi ngobrolnya" pandang Zivannya, Langit tertawa pelan. "maaf, yang. aku keasikan ngobrol" angguk Langit mengerti, "tau kan kalo ketemu temen terkadang nggak inget waktu. jadi nanti kalo Zi ketemu temen, kakak udah ngerti kan" tatap Zivannya.
Langit menggeleng, "nggak boleh terlalu lama kalo kamu ngobrol dengan teman" jawab Langit. Zivannya meminum air mineral kemasan, "terserah kakak mau ngomong apa" jawab Zivannya pelan.
Langit kembali menyuapi Zivannya bergantian dengan dirinya, terkadang teman-temannya yang melintas tersenyum simpul melihat kemesraan mereka berdua.
"yang bucin parah" datang Bayu dan duduk disamping Langit. "anak ini makannya pasti nggak habis, jadinya harus berdua. biar banyak" tawa Langit.
"bukannya kamu yang posesif banget sama dia, nggak mau kehilangan" goda Bayu, Langit tertawa pelan. "itu benar banget, susah dapetinnya harus berjuang berbulan-bulan. itupun terkadang dicuekin habis-habisan" minum Langit. Bayu tertawa lebar, "dikira kamu bawa adik sepupumu oleh yang lain. mereka mau kenalan tadinya sebelum kamu memperkenalkan bahwa Zivannya adalah calon istrimu" kata Bayu, Langit tersenyum lebar, "nggak kaget lagi kalo mereka berpikir begitu, mau dapetin dia aja juga harus menyisihkan beberapa pria lain" pandang Langit menatap Zhivannya.
"berarti keberuntungan berada di pihakmu bukan" tepuk bahu Bayu. "ya, karena restu dan doa kedua wanita hebat dibelakang kami. ibuku dan bundanya, yang memberi jalan agar kami selalu bertemu" senyum Langit, Bayu tersenyum mengangguk.
"jika sudah fix, jangan lupa mengabari kami" kata Bayu. "tentu saja, jangan kuatir bay. setelah proses pengajuannya selesai pasti akan aku kabari" senyum Langit.
"iya, prosesnya panjang" tawa Bayu dibenarkan Langit. Zivannya berdiri di gerombolan perempuan lainnya yang mendampingi lelaki mereka, Zivannya sesekali menjawab obrolan gadis-gadis yang lebih suka bergosip tanpa tahu siapa yang digosipkan jika tidak ada yang menjelaskan secara detail siapa bahan gosipan mereka.
Langit menyentuh bahu Zivannya, "yang, kita pulang" senyum Langit, Zivannya menoleh dan mengangguk. "sudah hampir tengah malam, sebaiknya kita pulang dulu. mereka akan ke klub setelah ini" kata Langit meraih jemari Zivannya. Zivannya segera pamit dan beranjak mengikuti langkah Langit.
"nggak ikut kak" tanya Zivannya, Langit menggeleng. "aku lebih baik sujud di sepertiga malam dari pada kesana. kasihan ibuku yang bangun tengah malam untuk memohon agar aku bisa hidup lebih baik" jawab Langit tegas.
hai....hai....hai.... all readers terus dukung karyaku ya... terimakasih banyak atas dukungannya selama ini....
__ADS_1
luv....luv....luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih atas dukungannya selama ini..
stay healthy all....