Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 109


__ADS_3

Zivannya merebahkan dirinya di ranjangnya karena lelah seharian keluar rumah, mereka mengobrol hingga Zivannya tertidur. Langit sesekali mengecek Zivannya yang tertidur dengan nyenyak, mematikan panggilan videonya dan beranjak dari kursi untuk keluar dari kesatuannya. Langit melajukan motornya menuju rumah dinasnya, melihat sekeliling ruangan. dia berencana untuk membeli beberapa perabotan yang akan digunakannya nanti bersama Zivannya. jika dia akan tinggal lebih lama, maka dia akan memerlukan beberapa perabotan yang akan dibutuhkan Zivannya nantinya. Langit membersihkan dirinya dan beranjak tidur agar esok hari bisa bangun lebih awal menunggu Zivannya datang.


pagi hari, Zivannya bangun setelah diketuk beberapa kali oleh ayah, "kenapa, yah" tanya Zivannya membuka pintu kamar dengan menyandarkan tubuhnya di pintu. "pangeranmu sudah kesini pagi-pagi, menghubungimu tapi tidak dijawab-jawab juga, ini udah jam 10 pagi" senyum ayah. Zivannya mengangguk menutup pintu kamar dan kembali tidur. "dia bangun tapi kayaknya tidur lagi coba bangunin sendiri, ayah mau ketemu pak erte sebentar mau bicara mengenai yang kemarin biar cepet selesai" kata ayah, Langit mengangguk hormat. ayah keluar dari rumah dan menaiki motornya menuju rumah pak erte.


"den Langit, mau dibuatin coklat panas sekalian" tanya Marni. "makasih mbak" angguk Langit, Langit membuka pintu kamar Zivannya yang dilihatnya masih tidur. "bangun, yang. ini udah siang" kata Langit menggoyang bahu Zivannya. "aku barusan tidur kak, mataku berat" kata Zivannya. "kamu begadang semalam" tanya Langit. "nggak, bangun jam 3 trus kewajiban dini hari sampai kewajiban pagi tadi belum tidur, jam 8 baru tidur" kata Zivannya meringkuk.


"kamu kan janji mau bawain sarapan, yang. ponselmu juga tidak bisa dihubungi" kata Langit meraih ponsel Zivannya. "kamu matiin ponselnya" kata Langit menyalakannya kembali, puluhan chat dan panggilan segera muncul di notifikasi ponsel Zivannya. Zivannya menutup badannya dengan cover bed. "aishhh... kalo nggak bangun aku bikin banyak tanda merah" ancam Langit meneliti ponsel Zivannya. "ada Yuda, Rara, Dimas, Arka, Regan, Wulan" kata Langit, Zivannya berdehem tanpa bergeming. Langit menelusup kedalam cover bed Zivannya mencium pipi tembem nya. "udah mandi belum, yang" kata Langit meraba perut Zivannya. "aaahhh.... kak, jauhin tangannya aku baru mau tidur" kata Zhivannya.


"Dimas menghubungimu menanyakan projectnya" kata Langit. Zivannya membuka matanya cepat dan membuka cover bed, segera beranjak menggapai laptopnya dan membawanya keluar ruangan menuju taman belakang. Langit tersenyum mengikuti langkah Zhivannya sambil membawakan ponselnya yang ditinggal gitu aja. Langit menyodorkan ponselnya saat Zivannya berpaling untuk kembali ke kamarnya. "makasih kak" senyum Zivannya melakukan panggilan video dengan Dimas, membahas mengenai kerjaan.


Marni meletakkan makanan ringan, coklat panas dan jeruk hangat untuk Zivannya. "makasih mbak" senyum Langit, Marni mengangguk mengundurkan dirinya, saat melihat Zivannya sedang berbicara serius dengan seseorang melalui ponselnya, Langit memerhatikan interaksi Dimas dan Zivannya yang seperti sahabat baik walau saat bekerja.


Zivannya menghembuskan nafasnya menatap Langit yang sedang menatapnya, "kenapa kak" kerut Zivannya mendekat meraih gelas minumannya meneguknya sampai habis. "apa Rara nggak kliatan" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "dia sedang ada dilapangan, sebelum Rara sidang dia sudah pulang untuk mendukungnya juga" jawab Zivannya duduk didekat Langit, memeluknya erat. "hmmm.... nyaman banget" pejam mata Zivannya mendusel ke leher Langit. "yang" tahan Langit. "kenapa" tanya Zivannya, "nanti diliat mbok dan mbak Marni" kata Langit pelan, "justru itu, biar nggak kebablasan. tanganmu biar nggak kemana-mana" kata Zivannya asal. Langit tertawa pelan.


"padahal aku mau ngajak kamu beli alas tidur agak gedean biar muat buat berdua, aku merasa ranjangku kurang besar untuk bergulat" kata Langit asal. Zivannya tersenyum, "makanya kalo main nggak usah kebanyakan gaya, mau berapapun lebarnya nggak akan cukup" jawab Zivannya cepat. Langit menyentil kening Zivannya pelan. "sakit kak, udah tau gampang merah kulitku kalo disentuh" kata Zhivannya mengerucutkan mulutnya, Langit mengecup bibir Zivannya lembut.


"jangan membuat orang lain salah paham dengan tingkahmu, yang" ingatkan Langit, Zivannya melepaskan pelukannya cepat. Langit tersenyum manis mengusap kaki Zhivannya bagian atas. "udah selesai kerjaannya dengan Dimas" tanya Langit, Zivannya mengangguk beranjak membereskan laptop dan ponselnya. "makan kak, ini hampir makan siang" kata Zivannya, "bawa nampannya ato laptopnya" tanya Zivannya memberikan pilihan. Langit menunjuk barang elektronik Zivannya, segera beranjak dan membawa nya. Zivannya membawa nampan yang dibawa mbak Marni tadi.

__ADS_1


"non dek, mau makan sekarang. dari tadi pagi belum makan apa-apa, ibu pesan tadi jangan telat makan" kata mbok mengambil nampan dari tangan Zivannya. "bunda kemana mbok" tanya Zivannya, "tadi bilangnya mau arisan sama ibu-ibu. nggak tau pulangnya jam berapa. bapak baru kerumah pak erte, bisa sampai nanti pulangnya" pandang mbok. Zivannya menghela nafasnya mengelus bahu mbok yang sudah semakin tua. "iya, mbok. nggak usah banyak-banyak ngeluarin makanannya" kata Zivannya, "kan ada den Langit non" ingatkan mbok. "oh, iya. lupa" tepuk kening Zivannya berlalu menuju kamar. "kak, makan" kata Zivannya melihat Langit keluar dari kamar mandi kamar nya.


"yang, bawa baju ganti kalo keluar sama aku nanti" kata Langit. "memang kenapa. mau keluar kemana" tanya Zivannya. "jaga-jaga jika nanti ada apa-apa. entah main kemana kalo ada baju gantinya kan enak" pandang Langit. Zivannya menghela nafasnya berat beranjak menuju walk closetnya dan memilih beberapa pakaian yang jarang digunakannya.


"jangan lupa underwear nya, yang" ingatkan Langit dipintu, Zivannya terkejut dan menjatuhkan beberapa perhiasan. Langit beranjak dan memunguti perhiasan Zivannya yang terjatuh. "kenapa nggak pernah kamu pake, yang" tanya Langit. Zivannya menggeleng. "hanya untuk dimiliki bukan untuk diperlihatkan, hanya disaat tertentu saja kak, itupun harus dengan ancaman dan paksaan. nggak mama, bunda, atau kak Aga" kata Zivannya tanpa sadar, sejenak terdiam menyadari kata-katanya barusan. Langit mengusap kepala Zivannya. "it's Ok, yang. nanti aku yang akan memaksamu juga" rapatkan badan Langit, Zivannya merasa bersalah karena beberapa kali secara tidak sadar menyebut nama Aga didepan Langit. "maafkan aku kak" dongak Zivannya menatap Langit, Langit mencium bibir Zivannya, membuka mulutnya agar dapat mengabsen setiap lekuk yang ada didalamnya, Zivannya melingkarkan kedua tangannya ke leher Langit secara spontan. Langit membawa tubuh Zivannya ke bagian walk closet untuk duduk tanpa melepaskannya. Langit meraba t-shirt Zivannya, menyingkapnya keatas dan beranjak turun untuk memainkan benda kenyal kesukaannya. Zivannya menyugar rambut Langit yang sedang membuatnya terlena, mengerang pelan saat Langit memberinya sesapan.


"yang" serak Langit mengusap bibir Zivannya yang menggigit bagian bawah bibirnya. Zivannya membuka matanya sayu menatap Langit yang segera mengaitkan underwear bra Zivannya dan menurunkan t-shirt nya kembali. Langit memeluk Zivannya erat mengecupnya beberapa kali untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang. Zivannya menyelusupkan mukanya keperut Langit yang memeluknya.


"sudah, yang" belai rambut Langit, Zivannya menggeleng. Langit menghembuskan nafasnya menunggu Zivannya untuk menetralkan badannya.


Langit menyuapi Zivannya bergantian dengannya, "tambah lagi kak" kata Zivannya. Langit mengangguk, Zivannya kembali menambah nasi dan lauk pauk yang ada di meja. "kakak kembali kekesatuan" tanya Zhivannya menatap Langit, Langit mengangguk mengunyah makanannya. "kamu ikut aku bentar kesana" kata Langit, "kenapa" tanya Zivannya, Langit menatap Zivannya. "ya" jawab Zivannya pelan menerima suapan Langit, "ada bang Matahari juga disana baru ngurus perpindahan tugas, kak Mentari juga baru sibukkan" kata Langit, Zivannya mengangguk pelan. memang beberapa hari setelah honeymoon kedua, mereka sedang disibukkan dengan perpindahan tugas sehingga ketemu dengan mereka pun sangat terbatas.


"bentar lagi, kamu juga akan sibuk dengan sidang pra nikah. nantinya akan dikenalkan dengan para istri prajurit dikesatuan" kata Langit. Zivannya menopang dagunya dimeja mendengar ucapan Langit. "nggak usah lebay, yang. nggak seseram yang kamu bayangkan. kamu akan baik-baik saja, ada aku kan" kata Langit melihat raut muka Zivannya yang selalu berubah saat membicarakan mengenai hal itu. Zivannya membawa piring dan gelas kotor ke dapur untuk dicuci. Langit menunggu Zivannya diruang tengah sambil membawa tas hitam dan sneakers Zivannya.


Zivannya pamit kepada mbok dan mbak Marni untuk pergi dengan Langit, "naik mobil kak" tanya Zivannya memakai sneakers nya dan menautkan kedua talinya. "jika pake motor kenapa" tanya Langit. "tidak kenapa-kenapa, aku terserah kakak aja, kan kakak yang didepan" senyum Zivannya Langit memakaikan jaket kulitnya dan helmet Zivannya. memakai jaket kulitnya sendiri dan helmetnya. Zivannya melangkah setengah berdiri untuk naik kebelakang Langit. "apa kamu mau pake mobil kemana-mana" tanya Langit melajukan motornya, "tidak, aku terbiasa dengan motor sejak dulu. tapi karena masuk ke keluarga Triastomo terkadang harus memakai kendaraan roda empat untuk keselamatan, mereka lebih memilih untuk saling menjaga sekarang" geleng Zivannya. "apa kamu ingin beli mobil sekarang untuk kita kemana-mana" tanya Langit menggenggam tangan kiri Zivannya.


"buat apa, mobil sudah ada kak. cukup satu aja, nggak usah berlebihan. jika memang sudah nggak layak baru kita beli yang lain" kata Zivannya, Langit tersenyum. motor Langit segera memasuki kesatuannya. Zivannya segera turun seperti saat dirinya naik. Langit membantunya melepas pengaman helmetnya, menunggu Zivannya untuk bersama berjalan menuju ruangannya. Langit menatap Zivannya penuh dengan cinta saat memperkenalkannya kepada sebagian anggota kesatuannya. Zivannya tersenyum saat diperkenalkan satu persatu dengan anggota kesatuan Langit. Zivannya menatap Langit. "kalo tau gini, nunggu dirumah dinas aja" sungut Zivannya, Langit mencapit mulut Zivannya dengan tangannya.

__ADS_1


"pada akhirnya kamu akan jadi istri abdi negara dan harus melakukan ini, yang" kata Langit, Zivannya mengangguk terpaksa. Langit tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Zivannya.


Langit membuka pintu dan menuju kursinya, Zivannya duduk disofa yang ada disana, mengambil ponselnya dan melihat chat yang sudah mengantri untuk dibuka, Zivannya tersenyum melihat moments yang dibagikan teman-temannya di media sosial, Langit melihatnya secara diam-diam dari belakang Zivannya, Zivannya mengomentari postingan itu dengan mengatakan akan bertemu 2 minggu lagi saat Rara sidang tugas akhir. Langit menggigit pelan kuping Zivannya dari belakang. Zivannya terkejut dan menoleh cepat. "kebiasaan membuat jantungku berdebar kencang" pandang Zivannya menatap Langit kesal. Langit nyengir mencium pipi Zivannya. "Langit" kesal Zivannya, Langit menjulurkan lidahnya. Zivannya menatap Langit yang kembali duduk di kursinya.


"yang" panggil Langit, Zivannya menatap Langit menanyakan ada apa. Langit menggeleng tersenyum. Zivannya menghela nafasnya panjang melihat tingkah Langit yang terlihat seperti anak kecil yang ditungguin ibunya saat pertama sekolah.


"hallo bang, dimana" tanya Zivannya berdiri. "Zi ada diruangan kak Langit, bentar Zi kesana" angguk Zivannya menutup panggilan di ponselnya. Zivannya menoleh cepat menuju meja Langit. "kak, mau nyamperin abang sebentar" minta ijin Zivannya, "kenapa nggak di ruanganku aja sih, yang" kata Langit Zivannya menggeleng pelan. "nggak enak sama yang lain kak, mau ketemu abang sendiri di tempat komandannya saat ini, kita ketemu di kantin depan" kata Zivannya, Langit menghela nafasnya dan mengangguk. Zivannya terlihat senang dan setengah berlari keluar ruangan Langit. menyusuri Selasar menuju keluar kesatuan. "abang disebelah mana" hubungi Zivannya kembali melihat kekanan dan kekiri.


"sebelah kiri" lambai tangan Matahari, Zivannya tersenyum dan menutup ponselnya berjalan cepat ke arah Matahari berada. Zivannya mencium punggung tangan Matahari setelah sampai, Matahari mengusap bahu Zivannya tersenyum. "tumben nggak diantar" goda Matahari, Zivannya tertawa duduk disamping Matahari, "nggak nyampe 15 menit ntar juga nyusul" kata Zivannya lesu, matahari tertawa lebar, "abang nggak pulang" tanya Zivannya, Matahari tersenyum mengusap kepala Zivannya pelan. "abang dirumah dinas dulu sebentar untuk mengurus pindah tugas, nanti jika sudah selesai abang dan kakak pasti pulang, terlalu jauh kalo harus pulang pergi dari rumah ayah, dek. cuman beberapa minggu aja" kata Matahari, "abang berat kan meninggalkan keluarga disini" hembus nafas Zivannya menatap Matahari, Matahari tersenyum mengangguk. "abang tidak tega memisahkan Mentari dengan keluarganya, kemarin sehabis nikah udah ditinggal jaga perdamaian negara. belum ada dua tahun dia sudah kehilangan adik laki-laki satu-satunya, sekarang dia harus meninggalkan keluarganya yang sudah bersatu kembali" kata Matahari. Zivannya mendengarkan abangnya berbicara.


"terkadang dek, saat dia ingat Aga, hanya diam dan melamun, apalagi saat kamu kecelakaan waktu itu. ketakutan akan kehilangan adik lagi membuatnya trauma" kata Matahari. Zivannya mengangguk.


"siapa bang" tanya seseorang yang masuk kedalam kantin. "adik istriku" senyum Matahari. "kenapa nggak bilang kalo punya adik secantik ini sih, bang" tanya nya. "lha kan istriku juga cantik, pasti adiknya cantik juga. kenapa harus bilang-bilang" tawa Matahari menatap Zivannya. "boleh kenalan nggak" tanyanya antusias. Matahari tergelak mendengarnya. "boleh aja, kalo dianya mau. orangnya jutek kalo sama cowok. pawangnya aja lama nembusnya" angguk Matahari.


hai...hai...hai.... all readers, terus dukung karyaku ya. terima kasih atas dukungannya.


luv....luv...luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sebelumnya atas dukungannya selama ini. stay healthy all....

__ADS_1


__ADS_2