
Langit mencium pipi Zivannya dan berlari kebelakang untuk membersihkan dirinya. "Satria Langit" seru Zivannya kesal dan seketika tersadar bahwa ibu Langit ada di dekatnya, ibu tertawa kecil melihat tingkah laku mereka. "maaf bu, kak Langit selalu mencari kesempatan" kata Zivannya menundukkan kepalanya, ibu tersenyum lebar menepuk bahu Zivannya. "tidak apa Zi, ibu paham" senyum ibu Danti, Zivannya tersenyum mengangguk. "bunda nitip salam buat ibu" kata Zivannya, "salam kembali buat bundamu, pada waktunya ibu akan berkunjung ke sana" senyum ibu, Zivannya kembali tersenyum menganggukkan kepalanya.
"sana bersihkan dirimu, yang. baunya dah sampai sini" tutup hidung Langit. "nggak mau, biar pada jauh dariku. jadi aku aman tidak didekati orang, termasuk kak Langit" julurkan lidah Zivannya mengejek Langit. "mau mencobanya, yang" angkat badan Langit dari belakang. Zivannya tertawa lebar. "aku mau mandi" geli Zivannya, Langit menduselkan wajahnya dipunggung Zivannya. Zivannya tertawa geli. "turunin kak, aku lemas" pegang tangan Zivannya. Langit membawa Zivannya menuju kamar mandi. "aku tungguin" kata Langit menyilangkan kedua tangan didadanya menanti Zivannya. "bathrobe ku ada dikamar kak" pandang Zivannya, Langit beranjak menuju kamarnya mengambil bathrobe Zivannya. "makasih kak" senyum Zivannya menutup pintu kamar mandi.
"bu, kita mau jalan sebentar" kata Langit mendekati ibunya, "baik, ibu mau beristirahat dirumah saja. besuk kita ada acara pagi" kata ibu Danti. Langit mengangguk, Zivannya keluar dari kamar mandi menuju kamar Langit untuk memakai pakaian. "jalan, yang" kata Langit, Zivannya menoleh "mau kemana kak" tanya Zivannya mengerutkan kedua alisnya. "aku liatin tempat ku dibesarkan" raih jemari Langit. Zivannya mengikuti langkah Langit. "pake alas kaki dulu kak" ingatkan Zivannya, "ah iya. lupa" tepuk kening Langit duduk disamping Zivannya yang memakai sneakers nya. "yang, kamu bawa pakaian untuk acara besuk pagi" tanya Langit.
"nggak kak, mau beli sekarang" tanya Zivannya, Langit mengangguk. mereka mengendarai motor melaju keluar halaman. "makan dulu, yang. lapar" kata Langit, Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya. Langit membawa mereka menuju tukang soto depan sekolah tempat ibu Danti mengajar.
"jangan kemana-mana. tunggu aku bentar" lepas helmet Langit. Zivannya menyerahkan helmetnya pada Langit. "aku bisa jaga diri" kata Zivannya, Langit mengangguk. "copy, hanya berjaga-jaga" jalan Langit mengikuti Zivannya. "satu" kata Langit. "jeruk panas dan teh panas" kata Langit lagi. tukang soto mengangguk memberi tanda Ok dengan jempolnya.
Langit menatap Zivannya yang berada didepannya. "kak, gimana dengan Santi" tanya Zivannya tiba-tiba, Langit mengerutkan dahinya. "kenapa dengan dia" tanya Langit tidak peduli. "ayolah kak, aku tau semuanya" kata Zivannya, Langit menggeleng. "aku tidak peduli dengan gadis lain selain dirimu, yang. nggak usah mikirin yang nggak penting, aku tidak menjanjikan apa-apa kepada gadis manapun kecuali kamu. itu urusan dia jika memang memiliki rasa kepadaku yang penting aku tidak membuatnya salah paham mengenai rasa itu" jawab Langit tegas.
"semua orang tau nya kamu akan menikah dengannya lho kak" kata Zivannya. tukang soto datang membawa pesanan Langit. "terimakasih mas" angguk Langit, "nggak usah ditanggapi, itu hanya karena orang-orang tidak tahu kamu" kata Langit setelah tukang soto berlalu pergi.
"aku jarang pulang, yang. karena padatnya aktivitas. jika aku pulang itu biasanya hanya sehari. pagi sampai, malamnya aku harus balik lagi" makan Langit.
"aku jarang bertegur sapa dengan perempuan, bukan karena tidak ada waktu tapi aku belum menemukan seseorang yang bisa ku ajak bicara lebih banyak" suapi Langit, Zivannya mengunyah dengan pelan.
"apa kamu melihat aku banyak ngobrol dengan gadis selain kamu, yang" tanya Langit, Zivannya mengangkat bahunya. "ishhh... aku makan kamu bulat-bulat" pandang Langit lekat, Zivannya nyengir. "jika ada yang beranggapan aku dekat dengan Santi, mungkin itu karena dia selalu tau dan datang saat aku pulang, entah dari mana dia mengetahui jika aku pulang" kata Langit menyuapi Zivannya kembali.
"jika dia merasa pasti dia tau jika aku tidak ada rasa padanya, toh aku juga tidak pernah berkata untuk menungguku. jadi jangan berpikir yang macam-macam. biarkan saja, aku tidak peduli dan tidak ingin membahasnya lagi" makan Langit, Zivannya mengangguk meminum jeruk panasnya.
__ADS_1
"aku bayar bentar, kak" anjak Zivannya, Langit menahan tangan Zivannya. "bentar, aku temani. duduk dulu biar makanannya turun" pandang Langit, Zivannya kembali duduk disamping Langit. "kamu terlalu berlebihan kak" kata Zivannya menopang dagunya menatap Langit yang terlihat terlalu protektif semenjak dirinya kecelakaan di sini.
"aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. jadi jangan coba-coba untuk menawar hal itu lagi denganku" kata Langit menatap tajam Zivannya. "hmmmm" dehem Zivannya mengarahkan pandangan kesekitar daripada melihat Langit yang sedang memarahinya. "yang, bisakah jangan memanggilku kakak lagi" topang dagu Langit, Zivannya terdiam. "baik" jawab Zivannya. ponsel Zivannya berdering pelan, Zivannya tersenyum melihat Rara di seberang sana, melambaikan tangan nya menyapa Rara. "hai, bu" lihat Zivannya. "kenapa kamu belum kesini Zi, aku sedang menunggumu" kata Rara. Langit menampakkan kepalanya di layar ponsel Zivannya.
"Zi sedang bersamaku Ra, ada acara di rumah ibuku" jawab Langit, Rara tersedak dan menepuk dadanya beberapa kali, "aahhh.... ngagetin aja sih ndan" kata Rara menghapus minuman yang tumpah dari mulutnya. Zivannya tersenyum lebar, "besuk malam aku ke sana. sekarang baru ada di Malang tempatnya kak Langit" jawab Zivannya. "ya....ya....ya...." jalan Rara ke belakang.
"sendirian Ra" lihat Zivannya, Rara mengangguk. "kapan ada orang dirumah Zi, kalo nggak kamu dan Dimas yang menemani" kata Langit, Zivannya mengangguk. "ayah dan bunda nanti juga mau berangkat ke Jogja, bersama Raka dan Riki" kata Zivannya. "beneran, waaahhhh..... seneng banget ketemu keluargamu Zi, pasti seru nih" kata Rara antusias.
"tapi ngomong-ngomong komandan Langit nggak ikut" tanya Rara mengerutkan keningnya, Zivannya menggeleng, "kan harus dinas Ra, mau dikasih makan apa nanti istrinya jika dia nggak kerja" kata Zivannya, Langit mengelus punggung Zivannya dan mengecup bahunya. Rara tertawa lebar, "duh.... komandan Langit bucin banget" kata Rara melihat adegan romantis sahabatnya. "selamat jika kalian selangkah lebih maju, aku sangat senang. doain juga biar cepat nyusul, selesai sidang biar segera dipinang" senyum Rara, Zivannya mengamini ucapan Rara.
"kabari aku jika sampai dibandara, ntar aku jemput. Dimas pulang hari ini" kata Rara. "siap bu" senyum Zivannya melambaikan tangan. Langit berdiri menunggu Zivannya menyelesaikan video call dengan Rara, "udahan, yang" toleh Langit, Zivannya mengangguk berdiri disamping Langit, Zivannya membayar pesanan mereka. Langit membawa Zivannya ke mata air yang dulu tidak bisa mereka datangi akibat Zivannya yang terluka.
Zivannya menyentuh bahu Langit "kemana lagi kita kak" tanya Zivannya. Langit mengangguk, mereka menjauh dari sana dan melanjutkan perjalanan kembali. Zivannya tersenyum lebar sepanjang perjalanan yang membawa mereka berkeliling menuju destinasi yang Langit rekomendasikan. Zivannya mengabadikan moments bersama Langit saat berada dibeberapa destinasi yang mereka datangi. "makasih banyak kak, ini pengalaman baru yang menyenangkan" kata Zivannya yang terlihat ceria setelah berkeliling ke beberapa tempat.
"sebelum pulang, kita mampir beli pakaian bentar buat besuk pagi" angguk Langit tersenyum melihat wajah Zivannya yang senang, Zivannya mengangguk tersenyum. mereka berhenti di sebuah store pakaian, Langit menunggu Zivannya yang sedang melihat pakaian penutup seluruh badan. Zivannya melihat sehelai pakaian yang berada di ujung deretan, tidak banyak aksesoris yang melekat dan terkesan sederhana mengambil dan memperlihatkannya pada Langit yang mengangguk mengiyakan.
Zivannya menanyakan pakaian pria kepada penjaga store yang mendampinginya, mereka melangkah kebagian dalam ruangan lain, Langit mengikuti langkah mereka. Zivannya memperlihatkan pakaian biru senada dengan pakaiannya tadi, Langit mengangguk tersenyum, ia meminta Langit untuk mencobanya, agar bisa tahu ukuran yang pas dibadannya. Langit meraih pakaian itu dari tangan kekasihnya, mencobanya. Zivannya mengangguk dan meminta penjaga untuk membungkusnya. "lupa kak, ibu belum" berhenti Zivannya tiba-tiba. Langit menyentil kening Zivannya pelan, "ibu lebih kecil ukurannya" kata Langit, Zivannya mengangguk. "apa mau model yang sama denganku, bagi orang tua itu pantas juga" pandang Zivannya. "tanya dulu apakah masih ada ukuran yang lebih kecil" pandang Langit, penjaga mengangguk dan mengambilkan dari dalam persediaan di gudang. "apakah ada yang dapat memotongnya bagian bawah" tanya Zivannya menatap penjaga. penjaga store menggelengkan kepalanya, tapi dia memberi tahu jika ada penjahit dekat dari sana yang dapat membantunya. Zivannya mengangguk tersenyum berterimakasih. Zivannya segera membayar semuanya.
"pulang, yang. aku kelaperan" kata Langit, Zivannya segera naik dibelakang Langit motor melaju dengan kecepatan sedang. Langit menunjuk pedagang makanan dan segera menepikan motornya, Zivannya memesan untuk dibawa pulang. tiba dirumah Langit melihat ada sebuah mobil parkir didepan halaman rumah ibunya. mereka turun dan beranjak masuk agar segera mengetahui siapa yang berkunjung.
Dirgantara dan Valerie tersenyum melihat Langit dan Zivannya datang, Zivannya memeluk Valerie erat. "kapan datang kak" senyum Zhivannya mencium punggung tangan kedua kakaknya. "belum lama, bunda mengirim kami kesini agar menemanimu besuk" jawab Dirgantara, Zivannya mengangguk tersenyum. ibu datang dari dalam membawa minuman, Zivannya dan Valerie membantu meletakkannya dimeja ruang tamu.
__ADS_1
"Zi beli makanan tadi waktu arah pulang, abis dari keliling" letak bungkusan makanan Zivannya diatas meja. Valerie mengeluarkan nya, Zivannya meletakkan bawaannya berjalan kedapur untuk mengambil peralatan makan. "dek, bunda bawain pakaian untuk besuk" kata Valerie, "baik kak, tadi Zi dan kak Langit juga mencari pakaian buat besuk. itu bisa dipakai lain kali" angguk Zivannya, Valerie mengangguk tersenyum, "kakak tidur disini kan" kata Zivannya. Valerie mengangguk, "besuk juga harus dinas kan kak Dirgantara" kata Valerie, Zivannya tersenyum mengangguk. "bu, kak. makanannya udah siap" kata Zivannya mendekat, mereka semua beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tengah.
"maafkan nak Dirgantara, kita makan dengan lesehan" kata ibu Danti, Dirgantara tertawa pelan. "tidak apa ibu, kita juga kalo makan selalu begini, tidak ada yang berbeda. jika kita semua ngumpul akan tidur dan makan begini" senyum Dirgantara mengangguk, Valerie dan Zivannya mengambilkan makanan untuk laki-laki mereka. Zivannya mengambilkan nasi ibu Langit. "maafkan Zi, bu. tadi hanya membeli ini saja untuk makan malam, kakak tidak memberi kabar jika akan kesini" kata Zivannya, ibu tersenyum mengangguk. "bunda ngasih kabarnya tadi pagi dek jadi kakak buru-buru kesini" jawab Dirgantara, Zivannya tersenyum mengangguk. "ceria banget kalo kakaknya ngumpul" kata Langit, Zivannya tertawa lebar. "tentu kak, sangat senang banget" angguk-angguk Zivannya mantap. Langit menyuapi Zivannya yang selalu tersenyum lebar, pintu rumah diketuk seseorang, Langit beranjak membukakan pintu.
"masuk bang, kak Dirgantara baru saja makan" kata Langit tersenyum menyalami Matahari dan Mentari, mereka berjalan masuk ke dalam, Zivannya tertawa lebar melihat kedua saudaranya yang lain datang. ibu Langit tertawa senang melihat semuanya berkumpul, "senang banget ibu kalo anak-anak ngumpul gini, jadi rame. rumah lebih ceria" kata ibu Langit menatap ke enam orang anaknya.
Matahari dan Mentari mencium punggung tangan ibu Langit. "bunda titip salam bu, maaf belum bisa mampir. jaga dua krucil yang dititipin orang tua yang asik berdua" senyum Mentari melirik kakaknya. mereka tertawa mendengar candaan Mentari, "kan kesempatan dek, bisa berduaan lagi" raih leher Dirgantara dan memiting kepala Mentari. Matahari tersenyum melihat mereka. "yang, balasin" kerucut mulut Mentari, Matahari menggeleng mengangkat tangannya.
"yang lainnya aja, yang. itu udah tidak bisa diganggu gugat" hela nafas Matahari menatap istrinya, Dirgantara tergelak mengacak rambut Mentari, "kakak" seru Mentari mengatur kembali rambutnya. "apa... apa...." tantang Dirgantara, Mentari nyengir "nggak, kak Dirgantara ganteng banget, makanya kak Val nggak bisa berpaling" senyum kecut Mentari, mereka tertawa bersama. ibu terpingkal-pingkal melihat mereka berkumpul dan saling mengejek. Langit melihat ibunya terlihat gembira saat ini berkumpul bersama dengan keluarga Zivannya, ia tersenyum lebar bisa memberi ibunya kesempatan untuk memiliki keluarga yang besar selain dirinya, bertemu dengan keluarga yang baik dan menyayanginya seperti keluarga mereka sendiri.
"kenapa nggak bareng dengan kami kemarin kak" tanya Zivannya menata alas tidur. "tuh abang harus menunggu berkas yang ketinggalan" gerutu Mentari, "iya, maaf, yang. kan langsung kesini. tapi kita mampir-mampir dulu melihat destinasi wisata baru kesini" senyum Matahari, Zivannya memeluk Mentari. "senangnya ngumpul gini. jadi kangen kak Aga" tangis Zivannya sesenggukan.
Mentari memeluk adiknya mengusap punggung nya."udah dek, kamu sudah mau punya Langit. nggak enak sama dia jika kamu begini, dek Aga juga nggak mau kamu sendirian terus. kamu harus jalani hidup lebih baik" pandang Mentari, Zivannya menutup matanya dengan kedua tangannya. Dirgantara tergesa-gesa datang dari kamar mandi. "kenapa" tanya Dirgantara memandang Matahari dan Mentari. "teringat Aga" jawab Matahari pelan, Dirgantara menghembuskan nafasnya panjang.
"ishhh.... udah gede gini masih suka kayak Riki, masih cengeng aja. jangan-jangan nanti Riki jadi menantu mu" usap kepala Dirgantara. Mentari menepuk bahu kakaknya sedikit keras. "apa, kan bagus kalo dia punya anak perempuan, jodohnya udah tau" kata Dirgantara tanpa merasa bersalah. Zivannya menghapus airmatanya dan tersenyum, "siap kak, semoga anak-anak kita saling terkait, kak Mentari juga agar keluarga selalu bersama" kata Zivannya, Mentari tertawa mendengar perkataan kedua nya dan mengangguk gembira.
hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...
__ADS_1