Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 148


__ADS_3

Zivannya menghela nafasnya beberapa kali sebelum dirinya duduk untuk di beri sentuhan di hari spesialnya hari ini, dihari ini langit akan mempersuntingnya, akan menjadikannya teman mengarungi hidup bersama. ia menatap kaca cermin besar dihadapannya, sosok tubuh yang ia kenali sedang saling bertatapan. ia menatap tubuhnya sendiri, tubuh yang sebentar lagi akan dibalut dengan kebaya dan bersanding dengan Langit untuk berdua diikat kalimat sakral.


semua kakak perempuannya dan Rara sahabatnya sudah berada diruangan yang sama. "rileks dek, nervous kan. tapi semuanya memang harus kamu lalui" genggam jemari Mentari, Zivannya membuka matanya. "udah dong dek, jangan nangis lagi. matanya jadi jelek nanti, ini hari yang indah dan bahagia untukmu, ayo.... senyum" senyum Mentari. "apa kak Aga juga disini ya.... kak" hembus nafas Zivannya pelan menahan airmata yang dari semalam keluar saat kakak-kakak perempuan nya berdatangan dikediaman Triastomo dan segera menuju hotel tempat acara akan dihelat. "udah ah..... biarkan dia sendiri, nanti nggak selesai malah bunda yang akan kesini" tepuk bahu Valerie pelan, Mentari mengangguk. Zivannya menatap kedua kakak perempuan Aga yang tersenyum lebar kepadanya untuk memberi semangat.


sesaat ruangan terasa hening tanpa ada suara yang keluar, Rara sesekali menatap Zivannya melihat sahabatnya sedangkan sepupunya Aisya sesekali melirik kearah kedua kakak perempuan Zivannya yang terlihat bersikap baik padanya. ayah, Dirgantara, Matahari bergantian melihat ketiga perempuan keluarga Triastomo saat di touch. "sekali lagi kesini, awas ya.... aku timpuk pake heels nih" pandang Mentari kesal karena mereka mondar-mandir didepan ruangan aja. Dirgantara nyengir. "tega banget sama kakak sendiri sih dek, aduh.... istriku kenapa bisa cantik banget sih, beruntung banget suaminya" goda Dirgantara menghampiri Valerie dan mengecup pipinya sekilas, Mentari tersenyum melihat perlakuan kakaknya terhadap istrinya "aduh om... aku mau lho digituin" kata stylist kemayu. Dirgantara bergidik ngeri meninggalkan ruangan segera. mereka tersenyum lebar melihat tingkah Dirgantara. "kenapa banyak cowok cakep sih disini" kata stylist melihat sekeliling. "badannya bikin gemes" ujarnya lagi membuat suasana ruangan terlihat lebih ceria karena celutukan-celutukan yang nggak berguna.


sesekali mereka membahas beberapa hal yang sedang hit saat ini, tak lupa Mentari selalu mengabadikan moments yang mereka lewati dari kemarin, "dek, kita disini bersamamu dan akan selalu mendukungmu, kamu berhak untuk bahagia bersama Langit, setelah apa yang kamu lalui dan lewati semuanya. kamu tetaplah Zivannya adek bungsu kami, bagian dari keluarga Triastomo" senyum Mentari, Zivannya menghirup udara dan mengeluarkannya pelan mengangguk, Valerie menggenggam jemari Zivannya.


"siap dek" hela nafas Mentari, Zivannya mengangguk dan berdiri dengan sempurna dibalut kebaya cantik. kelima perempuan itu berjalan keluar dari ruangan menuju tempat akad akan digelar, Valerie dan Mentari berada disisi Zivannya, kedua suaminya ada dibelakang mereka mengiringi Zivannya menuju ke arah Langit yang berdiri tegak menanti Zivannya yang terlihat menawan, Rara dan Aisya berdiri setelahnya bersama Dimas dan Farhan.


semua mata menatap kedatangan putra-putri Triastomo yang terlihat menawan, setiap langkah, setiap helaan nafas membuat Zivannya semakin merasa gugup dan resah, hingga akhirnya dia tiba disamping Langit dan duduk bersamanya, disamping ada Dirgantara dan Matahari yang menjadi saksi, didepannya ada penghulu dan om Hadi yang akan menikahkan nya kembali hari ini, semua mata tertuju pada sepasang calon pengantin ini, acara akan segera dimulai sesuai dengan runutan acara EO. Zivannya menundukkan kepalanya menanti detik-detik Langit mengucapkan kalimat sakral untuk memperistri dirinya.


"sahh...." tanya penghulu kepada para saksi dan tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


"sah" angguk Dirgantara dan Matahari bersamaan. Langit terlihat bernafas lega seakan beban berat yang beberapa hari ini di kepalanya hilang, lenyap. Zivannya bernafas dengan normal kembali setelah mendengar ucapan Langit dengan satu tarikan nafasnya. Zivannya dan Langit menerima kartu kecil tanda mereka sudah resmi menjadi suami istri secara agama dan negara. ia mencium punggung tangan Langit yang tersenyum lebar menatapnya lekat dan segera mengecup keningnya pelan. ayah dan bunda yang melihatnya merasakan kebahagiaan yang membuncah, ibu Danti tersenyum bahagia melihat Langit yang duduk disana dengan Zivannya gadis cantik pilihan hatinya.


prosesi selanjutnya mereka berkumpul untuk mengabadikan moments setelah akad, sebelum acara menerima sahabat dan keluarga menyampaikan ucapan selamat, Zivannya tersenyum saat yang lain menggodanya habis-habisan. Langit tertawa lebar kepada keluarga dan sahabat terdekatnya yang ikut berbahagia di hari spesial dirinya dan Zivannya, "yang" sentuh Langit, Zivannya menoleh segera. "aku ingin minum" senyum Langit, Zivannya mengangguk dan berjalan pelan menuju stand air mineral yang ada di tengah ruangan, Langit segera mengikuti langkah istrinya yang berjalan pelan karena memakai kebaya. "lho, ngapain kesini kak" kaget Zivannya menatap Langit, ia tersenyum segera mengambil air mineral yang ada ditangan istrinya. Langit memeluk pinggang Zivannya erat sambil minum.


"pengantin. mari kita bersiap untuk berganti baju, acara akan segera dimulai dua jam lagi" senyum staf wedding yang mengurusi pernikahan mereka, Langit mengangguk dan meraih jemari Zivannya untuk dibawa keruangan kembali berganti pakaian, Langit memakai pakaian dinasnya karena ada acara kesatuan yang harus dilakukannya bersama teman-temannya. Zivannya tersenyum menatap Langit yang terlihat tampan dan gagah dengan pakaian dinasnya menunggunya siap. stylist tersenyum menatap Zivannya dari kaca cermin besar, "kamu terlihat sangat gorgeous dear... selamat menikmati malam spesial mu hari ini, have big smile" senyum stylist. Zivannya tertawa kecil, "terimakasih banyak" tatap Zivannya. ia tersenyum mengangguk. Langit membantu Zivannya untuk berdiri dan berjalan keluar ruangan untuk menuju tempat acara.


"kamu terlihat sangat cantik, yang" senyum Langit menatap istrinya. Zivannya tertawa kecil, "kamu juga terlihat lebih tampan dan gagah, by" pandang Zivannya, Langit tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang terawat. "aku senang mendengar panggilan itu" tatap Langit, Zivannya mengendikkan bahunya menatap ke depan. prosesi adat dan prosesi kesatuan Langit bergantian dilakukan, kedua keluarga dan sepasang pengantin mengikuti dengan tenang, Raka dan Riki berada di depan kedua orang tuanya selama prosesi berlangsung, para tamu undangan menunggu sesaat saat prosesi acara dilangsungkan, Langit terlihat datar saat pora dilakukan, Zivannya tersenyum menerima ucapan dari para tamu undangan yang hadir, ayah dan bunda menerima kerabat, sahabat, dan handai taulan yang mengucapkan turut berbahagia. Langit dan Zivannya larut dalam perhelatan yang kedua keluarga selenggarakan.


Yuda dan Bima tampak terlihat dideretan para tamu undangan, Zivannya tersenyum menerima ucapan selamat dari mereka, "selamat bang, Zi. semoga kalian selalu bahagia" senyum Yuda tulus, Zivannya mengangguk menggenggam erat jemari Yuda. "terimakasih banyak Da... kamu selalu menjadi teman, saudara laki-laki yang tidak pernah aku miliki. semoga kamu juga segera menyusul" senyum Zivannya, Yuda tertawa pelan. "nikmati hidup dulu Zi, jika waktunya pasti jodoh tidak akan kemana" senyum Yuda. Zivannya tertawa kecil menganggukkan kepalanya, Langit tersenyum menepuk bahu Yuda pelan. Bima dan Yuda bergabung bersama Farhan. "senang, yang" tatap Langit, "tidak terkira, terimakasih banyak sudah membuatku bahagia" senyum Zivannya. Langit tertawa mengelus punggung Zivannya pelan.


tak lama pembawa acara memberi pemberitahuan tentang sesuatu, Zivannya membuka matanya lebar-lebar saat mendengarnya. Langit tertawa mengangguk, ia segera mengantar Zivannya kesamping untuk bermain dengan teman-temannya. Langit memberi kejutan bagi Zivannya untuk bisa bermain dengan yang lain membawakan sebuah lagu. semua tamu undangan antusias melihat pengantin perempuan bermain musik, Zivannya menatap Langit yang selalu menyunggingkan senyum ketika melihatnya, "surprise, yang. jika kamu tahu pasti tidak akan mau" kata Langit, Zivannya memandang suaminya lekat. "terimakasih banyak kak" angguk Zivannya, Langit memeluk Zivannya sesaat dan segera menepi jauh bersama rekan-rekan nya, Valerie dan Mentari mendekat kearah Zivannya. "kita ikutan main dek" kata Mentari, Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya tertawa.


"ide siapa memberikan adek main" tanya Dirgantara dan Matahari mendekat kearah Langit dan teman-temannya, Langit tertawa pelan saat rekan-rekannya mundur satu langkah memberi tanda bahwa dirinya lah yang mengijinkannya. Matahari membawa Langit menuju ketengah mereka bermain. "ayo, kita dukung mereka" tawa Matahari menatap rekan-rekannya yang lain. mereka segera bergabung dan mengikuti irama yang Zivannya dan yang lain mainkan.

__ADS_1


suasana seketika heboh saat mereka main, ayah dan ibu tertawa gembira melihat anak-anak nya larut dalam kegembiraan, bunda menyeka airmata yang tidak sengaja turun, ayah memeluk bunda dari samping dan mengusap bahunya pelan, "Aga juga bahagia disana bund, kita memang tidak akan bisa melihatnya disini, tapi mereka membuat kita bahagia juga" kata ayah pelan, bunda mengangguk mengiyakan. Zivannya tertawa lebar melihat keseruan mereka yang mengikuti irama, banyak yang kemudian turun dan mengikuti irama saling mengenal satu sama lain, Langit menarik tangan Zivannya untuk turun dan menikmati irama, mereka segera mengikuti Zivannya ikut menikmati musik.


"seru, kak" tawa Zivannya menatap Mentari sembari meminum air dingin. "jangan lupa dek, akhir acara kita ambil moments bersama" kata Mentari, Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya, Langit memberi isyarat kepada Zivannya untuk kembali ke tempatnya semula. Zivannya mengangguk dan berjalan menuju tempatnya kembali, Langit seringkali menatap Zivannya yang berada disampingnya, seakan tidak percaya bahwa mereka sekarang telah sah menjadi suami istri.


Zivannya duduk sambil memijit kakinya yang terasa pegal, "sakit, yang" tanya Langit meraba kaki Zivannya. "sedikit kak, seharian memakai heels membuatku sedikit pegal, memang aku tidak bisa memakai sepatu ber hak tinggi untuk waktu yang lama" angguk Zivannya menahan tangan Langit untuk tidak memegang kakinya. "kenapa" tatap Langit tidak suka, "ini didepan banyak orang kak, jika kita cuman berdua tidak apa-apa. tidak pantas" senyum Zivannya, Langit mengangguk. seorang staf memberi mereka air mineral, Langit segera membuka tutup nya menyodorkannya ke istrinya, Zivannya segera meminum air mineral botol kecil itu hingga habis.


waktu semakin beranjak sore, para tamu undangan sudah selesai, Zivannya melepas heelsnya, berjalan tanpa alas kaki. Langit membawa heels istrinya untuk duduk dimeja makan bersama keluarganya. "biar aku bawa keruangan dulu kak" sapa seorang staf wedding. langit mengangguk melepaskan heels agar staf dapat menaruhnya. Zivannya menerima alas kaki yang disodorkan oleh staf, Zivannya tersenyum mengucapkan terimakasih, mereka makan dengan sambil berbincang, makan sore yang menyenangkan setelah lama melakukan perjamuan. "nenek dan kakek telah kembali kedalam kamar terlebih dahulu Zi" kata om Hadi, Zivannya mengangguk. "apa mereka baik-baik saja om" tanya Langit, om Hadi mengangguk.


Zivannya dibantu stylist untuk melepas segala pernik yang menempel ditubuhnya, Zivannya mengucapkan terimakasih karena acara berjalan dengan lancar. ia segera melangkah menuju kamar pengantin yang telah disiapkan sebelumnya. Langit melihat Zivannya yang masuk kedalam kamar, "sudah selesai, yang" tanya Langit, Zivannya mengangguk melepas bagian kebayanya satu persatu, Langit membantu melepaskan bagian kebaya satu persatu. "banyak banget, yang" tawa Langit, Zivannya mengangguk dan melepas kebaya menaruhnya dengan penggantung baju. Langit melepas penahan kain bawah. "lapisannya banyak banget, yang" geleng kepala Langit, Zivannya menahan nafasnya saat Langit membantunya. "cepat sedikit kak, aku tidak kuat ingin kekamar mandi" pandang Zivannya, Langit mengangguk dan mempercepat membuka bagian-bagian lain yang membelit tubuh Zivannya saat memakai kebaya.


Zivannya segera berlari masuk kedalam bathroom, Langit menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya, mengambil dan merapikan kembali bagian-bagian kain yang tadi dipakai Zivannya. Langit menatap Zivannya yang memakai bathrobe dengan keadaan yang lebih segar "merasa segar" pandang Langit, Zivannya mengangguk dan membuka rambut yang tertutup handuk, mengambil pengering untuk rambutnya, Langit beranjak dari ranjang, menghampiri istrinya membantunya mengeringkan rambut. Zivannya memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Langit yang mengelus rambutnya. "udah, yang" kecup rambut Langit, Zivannya membuka matanya dan segera beranjak menuju koper kecil pakaiannya. "bawa pakaian ganti nggak kak" tanya Zivannya menatap suaminya, Langit menunjuk tas ransel kesatuannya. Zivannya mengambil joger dan t-shirt untuk rebahan diranjang sebentar. Langit segera menyusul istrinya untuk berbaring. "yang..." lingkarkan tangan Langit diperut Zivannya, "hmmm..... dehem Zivannya memejamkan matanya yang berat, Langit menopang kepalanya melihat Zivannya yang sudah tertidur dengan lelap. Langit menghela nafasnya panjang dan menyelimuti hingga sampai ke pinggang istrinya, beranjak keluar dari kamar untuk bertemu dengan keluarganya yang lain.


hai..... hai..... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.

__ADS_1


luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2