
Zivannya menghirup udara perbatasan kota tempat kelahirannya dengan segala kenangan dan ingatan yang tidak sebentar, Zivannya mengabadikan moments dan mengunggahnya ke media sosialnya. Zivannya melihat saat dirinya mengunggah moments sehabis wisuda, moments dengan Aga yang banyak komentar merasakan duka yang mendalam untuk Zivannya. Zivannya tersenyum dan mengunggah jejaknya diperbatasan kota.
"kembali untuk pergi" unggah Zivannya, ponsel Zivannya berdering nyaring.
"kamu dimana" kata Yuda.
"tidak dikasih tau pun kamu juga udah tau kan" senyum Zivannya.
"ketemu di tengah aja" kata Yuda meraih kunci.
"dimana, main tengah aja" sungut Zivannya.
"kampus ku, aku ketemu orang siang ini" kata Yuda. Zivannya menghela nafasnya panjang. "aku baru aja nyampe ini pak, nggak kasihan apa badanku remuk redam lho" kata Zivannya mencoba negosiasi. "nggak pake, aku udah di jalan nih, pake motor. kamu janji dua minggu dari terakhir kita bertemu, lha ini udah sebulan lebih" kata Yuda. "iya... aku kesana, yang terakhir traktir makan" tutup Zivannya tersenyum, masuk melajukan mobilnya lebih cepat. Zivannya sampai diparkiran kampus Yuda yang terlihat untuk kalangan kelas menengah keatas, keluar dari mobil melihat ada mahasiswa yang sedang berolahraga basket. Zivannya segera mendekat untuk duduk dibangku yang tidak jauh dari mereka sambil menunggu kedatangan Yuda dan melihat mereka sedang bermain. penampilan Zivannya yang cenderung tengil dengan jeans sobek, sneakers hitam, t-shirt dan kemeja, menarik perhatian mereka yang bermain di lapangan.
"here we go again.... don't ruin my day boys" gumam Zivannya menghela nafasnya lelah.
"hei, kamu anak mana" seru seseorang, Zivannya memilih untuk segera beranjak dari tempatnya daripada menanggapi mereka yang berujung tidak mengenakkan baginya nanti.
"kenapa memangnya, apa ada aturan harus dari mana kalo melihat permainan basket" berhenti Zivannya tanpa berbalik, "tidak, tapi setidaknya kamu bisa memperkenalkan dirimu jika ingin melihat kami bermain" geleng seseorang. "aku bukan ingin melihat kalian bermain, setidaknya aku nggak harus memperkenalkan diri kan. kalian bisa terusin lagi permainan kalian. aku pergi" kata Zivannya.
"ayolah, kami hanya ingin mengenalmu saja kayaknya kamu bukan dari kampus sini kan nggak pernah aku melihatmu sebelumnya, kamu keberatan kalo kami tau namamu" tanya seseorang. "dia mungkin nggak bisa bilang keberatan. tapi aku yang keberatan" datang Yuda mendekat.
"wooo... bro, maaf kami nggak tau jika dia dekat denganmu" senyum seseorang mengenal Yuda.
"tadi dia melihat kami sedang bermain dan kami ingin berkenalan dengannya hanya itu saja kami tidak melakukan apapun" angkat tangan seseorang, Yuda melambaikan tangannya tersenyum dan berlalu mengikuti langkah Zivannya.
"udah tau gayamu ini bikin laki-laki terpaku, masih aja selalu begini, ganti pake gaun kek, rok kek" jalan Yuda. Zivannya mengangguk. "nanti deh, aku pake rok mini dengan belahan belakang memperlihatkan punggungku, biar langsung ditembak kak dirgantara atau bang Matahari" kata Zivannya terbersit ide jahil.
"aishhh.... nggak usah ngasal idenya" hapus Yuda didepan muka Zivannya, Zivannya tertawa ngakak. "kita mau kemana nih bro, katanya ada janjian dengan teman" tanya Zivannya, "laper nggak Zi, kita lihat dikantin aja" kata Yuda, Zivannya mengikuti langkah Yuda yang lebar menuju salah satu sisi gedung kampus. Zivannya melihat sekeliling yang banyak mahasiswa sedang dikantin, "makan apa bu" toleh Yuda, "hmmmm...." toleh Zivannya, "banyak cowok cakep nih dikampus, Rara pasti seneng banget kalo ngliat beginian" senyum Zivannya. "disebelahnya ini juga cowok cakep lho Zi, kenapa harus jelalatan liat kesana-kesini, fokus aja sama yang disebelahmu" senggol Yuda, "iya... iya... yang disebelah sana lebih menggoda daripada yang disini tau nggak, rumput tetangga lebih menggoda dari rumput disebelah rumah" kata Zivannya memilih makanan kecil.
"nggak juga, sebelah rumah rumputnya lebih terjaga daripada rumput disawah" bayar Yuda, Zivannya mengambil coklat dingin dan meletakkannya dinampan.
__ADS_1
"tumben kamu minum ginian, bukannya jeruk dingin" pandang Yuda, "terkontaminasi Raka dan Riki" senyum Zivannya. Yuda menutup mukanya dengan tangan kiri, Zivannya segera meminumnya.
"kebanyakan dirumah jadi drakor melulu tontonannya" bawa nampan Yuda, Zivannya manggut-manggut.
"jadi magang Zi" tanya Yuda. Zivannya tersenyum lebar menganggukkan kepalanya senang, "bunda Aga mengijinkanmu" tanya Yuda, Zivannya mengangguk. "dengan rayuan maut ayah tentunya" tawa Zivannya, Yuda tertawa melihat tawa Zivannya.
"kapan berangkatnya" tanya Yuda, "seminggu lebih lah. dari Jakarta tapi" hembus nafas Zivannya.
"nggak papa, yang penting kamu bisa belajar kan" tanya Yuda. "sebenarnya itu bukan magang, Yud. Dimas mendapat email untuk mengisi pekerjaan bagi mahasiswa fresh graduate dari perusahaan besar dan kebetulan ketrima, dia ngajak aku untuk ikutan. jadi akhirnya aku ngikut" makan kue Zivannya. "trus kenapa bilang magang" tanya Yuda.
"aku merasa itu buat magang anak kuliahan pak, hanya untuk mengecek dan mengawasi ketepatan bangunan selama tiga bulan, just that" kata Zivannya. "kenapa nggak duduk dirumah dengan manis dan menunggu pangeran datang melamar sih Zi" tanya Yuda penasaran, Zivannya menghela nafas panjang. "takutnya pangeran datang aku udah ubanan lho da, jadi menyia-yiakan masa muda ku kan" angkat bahu Zivannya. Aga tergelak mendengar pembicaraan mereka. "bentar lagi temenku datang, langsung kesini" lihat jam Yuda bersandar di tembok. Zivannya melihat sekeliling, "kenapa kamu memilih kuliah disini yud, kenapa nggak keluar aja. bagimu mudah kan" tanya Zivannya, Yuda menggeleng. "aku terlalu cinta dengan kotaku Zi, ternyata dia mengkhianatiku dengan belajar dikota lain dan menikah dengan orang lain juga" pandang Yuda, Zivannya tergelak. "berarti memang cewek itu brengsek yud, nggak tau terimakasih sudah ditolong, ditungguin malah ditinggal nikah. parah banget tuh cewek" sungut Zivannya. Yuda mengangguk "bener kamu Zi, emang nggak tau terimakasih tuh cewek. nggak ada bagus-bagusnya lagi kalo dipikir-pikir. pakaiannya aja dekil banget, jeans sobek-sobek, t-shirt, kemeja, sneakers mulu. hobinya aja nggak kayak cewek lainnya, naik gunung lho, kan nggak cewek banget. padahal dulu ditinggal pacarnya aja nangis nya kayak dunia nggak ada cowok lain" kata Yuda. Zivannya tersenyum lebar memukul bahu Yuda yang akhirnya tertawa. "yaa.... maaf kalo situ ngerasa begitu banget dah, lain kali kalo ketemu cewek itu bilangin, jangan macem-macem deh jadi cewek, belagu banget. nggak nyadar apa kalo nggak cantik. udah item, ngupil, idup lagi" kata Zivannya, Yuda tertawa ngakak mendengar banyolan Zivannya.
"aahhh... oke, nanti aku bilangin ke dia jika bertemu" angguk-angguk Yuda. Zivannya memakan kue nya dengan tenang.
selama berada dikota kelahirannya, Zivannya mengunjungi tempat peristirahatan terakhir keluarganya, mengurus surat-surat resmi mengenai status barunya, perpindahannya ke Jakarta, mengunjungi om Hadi dan keluarganya. kebanyakan waktu dihabiskan untuk bersama Yuda, teman yang terlalu baik kepadanya.
"Zi, liat kan tuh cewek" kata Yuda, Zivannya melirik sekilas. "nggak asik kalo hanya ngliat yud, samperin dan ajak kenalan. sejak kapan seorang singa jantan takut ama beginian" pandang Zivannya, Yuda tersenyum.
"nggak liat noh, keluarganya taat semua, bisa digeprek aku disitu juga" kata Yuda, "aissshhh... nggak kenal deh sama cowok sebelah" tutup muka Zivannya dengan tangan kanannya menghindari tatapan mereka, Yuda tertawa.
"apa karena dia beda dengan yang lain ya... ngliatnya adem gitu. interaksinya sama cowok nggak intens seperti cewek pada umumnya" kata Yuda. "kamu suka" tanya Zivannya tiba-tiba, Yuda menatap Zivannya. "ada rasa Zi, tapi aku ngerasa nggak bisa untuk sekedar menyapa atau mau mengenalnya" kata Yuda, "liat aja tuh, modelnya keluarganya aja udah taat begitu. lha aku aja begini" perlihatkan Yuda.
"jika kamu bersungguh-sungguh maka akan ada jalannya da, dunia dia dan dunia mu menurutmu berbeda, Tuhan itu satu, nggak pernah beda-beda in manusia, kita yang melabelkan diri kita beda. just get her" geleng Zivannya.
"butuh proses kan, tapi setidaknya kamu sudah mencoba untuk memberikan dirimu yang terbaik untuk mendapatkan dia. hasilnya terserah Tuhan untuk menggerakkan tangan-tangan ajaib dan makhluk-makhluk penebar kebaikannya" gerakkan tangan Zivannya. Yuda terdiam dan akhirnya mengangguk.
"oke, jika ada kesempatan lain maka akan aku coba" angguk Yuda, Zivannya tersenyum.
"ngomong-ngomong nggak ada kabar dari langit atau Regan nih" goda Yuda, Zivannya tersenyum "kayaknya mereka baik-baik aja deh yud, aku nggak tau pasti rapi dari Rara dan bang Matahari mereka menjalani hidup dengan baik" angguk-angguk Zivannya. "kamu nggak ketemu mereka lagi" tanya Yuda, Zivannya menggeleng menghabiskan makan malamnya. "nope and don't mind" senyum Zivannya meminum jeruk dingin kesukaannya.
"aku yang bayar pak, besuk udah pulang kerumah" kata Zivannya, "cepet amat" kerut Yuda.
__ADS_1
"lha udah 4 hari baliknya, 5hari lagi aku harus berangkat. mobil aku paketin ke Jakarta, rumah udah kosong. kalo liburan baru isi lagi" senyum Zivannya.
"nggak dijual aja" tanya Yuda, Zivannya menggeleng.
"rumah itu ayah dan bunda beli waktu dulu pertama kali pindah dinas. jadi katanya kenangan. dulu tanahnya doang yang dibeli, trus anak-anaknya sekolah disana, baru bangun rumah, direnovasi setelah kak Aga selesai pendidikan dan dinas disini. tapi dia milih apartement, nggak ribet katanya" senyum Zivannya.
"kalo Langit seperti Aga kah" tanya Yuda iseng. Zivannya tertawa. "my man is the best" jawab Zivannya.
"setiap laki-laki punya kelebihannya kan, aku tidak tau dengan laki-laki lain yang tidak aku kenal. Langit karena dekat dengan Abang. Regan karena dosen kampus, just it yud, aku nggak mau lebih" jawab Zivannya pelan.
"bisa juga sih, nanti ditempat magang juga ada yang suka lagi" tanya Yuda, Zivannya tertawa.
"yaaahhh... mau gimana lagi pesona janda emang beda" kata Zivannya berbisik pelan, Yuda tertawa ngakak mendengar Zivannya membanggakan dirinya.
"yaa.... yaa... yaaa..... saat gadis aja udah banyak pesonanya, apalagi udah jadi janda diusia yang muda tambah berat timbangannya" kata Yuda, mereka tertawa lebar.
"hati-hati jika pulang nanti Zi, kabari kalo udah mau berangkat. ya walau nggak nganterin sih" kata Yuda. Zhivannya mengangguk, "pasti. nanti kalo aku berangkat sama Dimas juga akan aku kabari teman baikku" senyum Zivannya, Yuda tersenyum.
"Rara emang nggak takut kamu ngambil Dimas darinya" tanya Yuda penasaran, Zivannya mengerutkan keningnya. "aku.... makan teman, isshhh.... lebih berharga persahabatan dari pada kesenangan sesaat da, Dimas lebih berharga untuk disakiti" geleng Zivannya, Yuda menatap Zivannya. "apa Langit melihatku seperti itu" tanya Yuda, Zivannya mengangguk.
"apa Langit satu-satunya pilihan untukmu Zi" tanya Yuda, Zivannya menggeleng.
"aku harap bisa ketemu CEO ganteng kayak di mangatoon yang aku baca sih da, setidaknya aku ada disampingnya, aku tidak ingin mengulang kepahitan ditinggal lagi pak" senyum Zivannya, Yuda tersenyum.
"aku punya janji dengan Langit selama 6 bulan tidak bertemu, dia yang meminta waktu itu untuk aku menyadari perasaanku kepadanya" pandang Zivannya, Yuda menatap Zivannya lekat.
"saat kami menunggu bunda di rumah sakit, dia memilih pulang esok harinya, aku tidak tau dia pulang karena kita mengobrol sampai dinihari" topang dagu Zivannya.
"perasaanku masih sama. jadi aku merasa nyaman jika laki-laki menjauh dariku sejauh-jauhnya daripada aku yang tidak nyaman" kata Zivannya.
hai....hai...hai... all readers, dukung terus karyaku ya... agar selalu update.
__ADS_1
terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
"luv....luv...luv U all readers... terimakasih...