
tiba hari dimana Aga harus berangkat tugas diperbatasan. Zhivannya berangkat kembali ke Jakarta mengantar Aga ke kantor pusat, bersama dengan istri anggota yang lain mereka melepas kepergian suaminya untuk bertugas.
Zhivannya lebih banyak diam, meneteskan airmata tanpa suara menatap Aga yang sedang apel.
Aga segera memeluk Zivannya setelah selesai upacara pemberangkatan keperbatasan, mengusap air mata istrinya yang terus turun, mengecup rambut Zhivannya berulangkali.
"doakan agar aku cepat pulang dan menemanimu setiap saat" pandang Aga menghapus airmata Zhivannya, Zhivannya mengangguk mantap.
"kita akan bertemu dua atau tiga bulan lagi. bisa kan kamu kesana" tangkup pipi Aga. Zivannya mengangguk kembali.
"jangan nangis,yang, lepas aku dengan senyuman. kamu harus kuat menjadi seorang istri pengabdi negara, ini pilihan ku untuk membela negara" senyum Aga, Zhivannya tersenyum sambil menghapus airmatanya. Aga tersenyum memeluk istrinya dan mencium keningnya lama.
"aku akan selalu berdoa dimanapun dirimu berada akan selalu selamat dan dilindungi oleh Tuhan, cintaku" kata Zhivannya terbata-bata. Aga tersenyum memeluk dan mengusap punggung Zivannya.
"jaga diri baik-baik by, selalu berusaha untuk selamat by" kata Zhivannya, Aga mengangguk.
"aku selalu menyayangimu dan mencintaimu. aku akan menunggumu pulang, jangan kuatir aku bisa menjaga diriku sendiri. tidak akan terjadi apa-apa denganku. jadi kamu juga harus melakukan hal yang sama untukku" usap pipi Zivannya, Aga mengangguk mencium telapak tangan Zivannya.
"tunggu kabar dariku, yang. aku tau kamu adalah istriku yang setia, jaga dirimu saat aku pergi nanti" senyum Aga. Zhivannya menutup mukanya dan mengangguk. Aga tertawa sumbang memeluk tubuh istrinya yang menangis tersedu-sedu.
"yang, aku hanya tugas negara lho, nyari duit buat kita liburan" goda Aga, Zhivannya tertawa menangis.
"sudah, aku akan baik-baik saja dan menemuimu segera, jadi hapus air matamu" lihat Aga, Zivannya mengambil tissue dan mengusap airmata yang terus turun.
__ADS_1
tak lama terdengar tanda agar para anggota untuk masuk ke badan pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tugas yang baru. Zhivannya mencium bibir Aga lembut, menyatukan kening mereka sesaat, melambaikan tangan melepas kepergian suaminya dengan senyuman. Zivannya menghembuskan nafasnya panjang sebelum melangkah pergi dari tempat itu.
Zhivannya menghubungi bunda dan mengatakan bahwa Aga baru saja berangkat dan dia juga akan menunggu pesawatnya membawanya pulang kerumah Aga dan dirinya untuk kuliah. bunda memberi pesan agar berhati-hati dijalan dan sering pulang ke Jakarta, Zivannya mengerti. pesawat yang membawa Zhivannya pulang mendarat dengan selamat, Rara melambaikan tangannya dan memeluk Zhivannya yang terlihat sedih dan berantakan. "ada aku Zi dan Dimas kita akan selalu ada untukmu, jadi ceria sedikit. kasihan kak Aga memikirkanmu disana jika kamu selalu sedih saat dia sedang bertugas" usap punggung Rara, Zhivannya mengangguk dan memakai kacamata cokelat untuk menyembunyikan matanya yang sembab. mereka segera melangkah keluar bandara. menuju rumah Zhivannya dan Aga. Zhivannya duduk diruang tengah sambil memejamkan mata menahan kesedihan ditinggal suaminya. Rara memberi kesempata Zhivannya yang sedang meluapkan kesedihannya.
pintu rumah diketuk oleh seseorang. Rara segera membuka pintu dan berbincang sebentar dengan seseorang.
"Zi, tadi ada orang yang datang memberi undangan untuk datang ketetangga" serah kertas Rara, Zhivannya meraihnya dan membacanya sesaat dan mengangguk.
"berat ternyata jauh dari orang yang kita cintai Ra, apa aku sanggup" pandang Zhivannya menghapus air bening yang keluar dari matanya tanpa diminta. Rara tersenyum "tidak ada yang sanggup Zi, ingat nggak betapa tersiksanya dirimu kala menjauh dari Aga tanpa mendengar penjelasannya saat dia bersama dengan perempuan lain waktu itu" genggam tangan Rara, Zivannya memejamkan matanya dan tersenyum.
"mungkin Aga juga merasakan hal yang sama saat ini, remuk redam meninggalkanmu saat kalian masih baru saja menikah. bayangkan juga bagaimana kak mentari ditinggal bang Matahari berada lebih jauh dinegara orang menjaga perdamaian dunia. ribuan kilo jarak yang menghalangi dan waktu yang tidak sebentar membuat mereka makin mengerti arti cinta bukan" ucap Rara pelan. Zivannya mengangguk.
"kamu juga melihatkan tadi saat aga berangkat bersama ratusan orang anggota lainnya, bagaimana sedihnya mereka yang meninggalkan orang-orang tercinta nya, ada yang mempunyai keluarga juga, anak istri bahkan yang masih jadi kekasih pun ikut mengantar. jadi kamu nggak sendirian Zi. ada banyak istri-istri prajurit lainnya yang juga merasakan kesedihan ditinggal belahan hatinya" hibur Rara, Zivannya menghela nafasnya dan tersenyum.
"aku akan disini menemanimu, seperti saat-saat sebelum negara api menyerang" kata Rara, Zivannya tertawa lebar tanpa suara. Rara tersenyum melihat sahabat baiknya sudah bisa melepaskan beban dihati.
"kak Aga disana hidup dengan keras Ra, aku disini hidup dengan nyaman" kata Zivannya menatap kelangit-langit rumah. Rara menoleh, "dia akan merasa tenang meninggalkanmu disini dengan nyaman Zi dikelilingi orang-orang yang baik dan peduli padamu. apa kamu kira dia tidak akan kuatir saat kamu disana dengan keadaan yang jauh dari hidupmu sekarang. justru dia lebih kuatir kalo kamu disana, beban pikirannya menjadi dua kali lipat lebih banyak memikirkanmu disana sendirian Zi" kata Rara.
"jangan siksa dirimu dengan pikiran negatif tentang kamu nyaman dia tidak, kamu hidup enak dia tidak. justru Aga berpikir kamu harus hidup nyaman saat dia tidak ada maka beban pikirannya akan jauh berkurang, dia hanya harus memikirkan dirinya sendiri saja disana. hanya doa dan doa yang kamu panjatkan ke Tuhan yang akan membawanya pulang dengan selamat" sarkas Rara. Zivannya mengangguk dan memejamkan matanya tertidur.
pagi hari, Zivannya dan Rara bersiap-siap untuk berangkat kuliah pagi, Zivannya membuka pintu pagar dan berpapasan dengan Dimas yang segera memasukkan motor kegarasi, Zivannya bertegur sapa dengan tetangga yang melintas didepan rumah yang letaknya didepan komplek. tak lama Zivannya segera masuk dikursi penumpang dan merebahkan kepalanya kebelakang melihat Dimas yang mengendarai mobil Zivannya.
"Zi, mau bolos nggak" goda Rara, Dimas menoleh. "apaan sih Ra, nggak usah yang aneh-aneh deh. bentar lagi juga udah nggak kuliah. menikmati saat-saat terakhir dikampus" senyum Dimas. Rara manyun melipat kedua tangannya didepan. Zivannya memakai kacamata cokelat nya.
__ADS_1
"matamu masih terlihat Zi" kata Dimas, Zivannya berdehem. tiba dikampus Zivannya hanya duduk terdiam menunggu dosen masuk dan nanti akan ada janji dengan dosen pembimbingnya untuk memulai sesi pendampingan tugas akhir nya.dia berusaha agar waktunya tidak terbuang sia-sia, berusaha tepar waktu untuk mengajukan tugasnya agar dapat segera melihat suaminya
waktu tidak terasa sudah 2,5 bulan berlalu, Zivannya sedang bersiap-siap untuk
"Ra, aku akan pergi dulu selama seminggu bertemu kak Aga" tata baju Zivannya kedalam tas ranselnya, Rara menoleh.
"kapan kamu berangkat" tanya Rara menatap Zivannya yang mengepak baju-baju Aga. "nanti sore. jadwal penerbangan jam 4 sore, langsung menuju kesana tanpa transit. dari bandara make mobil dinas" jawab Zivannya, Rara menatap Zivannya yang terlihat cekatan dan mantap.
"aku tinggal dirumah yang ditinggal penduduk setempat saat dihutan. kak Aga sudah mengirim anak buahnya untuk menjemputku" kata Zivannya, Rara mengangguk.
"aku akan mengantarmu" jawab Rara, Zivannya mengangguk dan segera merapikan bawaannya di tas gunung yang biasa dia bawa saat naik, menyiapkan sepatu gunung dan sandal gunung dimasukkan disamping tas. jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Zivannya bersiap untuk membersihkan dirinya. Zivannya meminum kopi hitamnya yang masih panas. Rara melihat Zivannya yang sudah bersiap.
"berangkat sekarang bu" senyum Rara, Zivannya menoleh dan beranjak dari tempatnya. memeriksa semua lampu dan keadaan rumah sebelum dia pergi. mengunci rumah dan menaruhnya di sudut ruangan yang jarang orang memperhatikan. Zivannya menyerahkan kunci cadangan kepada Rara jika mau kerumah. mobil Zivannya berada di garasi, mereka berangkat dengan menggunakan mobil Rara yang akan pulang kerumahnya juga.
Zivannya melambaikan tangan saat Rara langsung meninggalkan bandara, Zivannya segera melakukan check in dan menunggu diruang tunggu pemberangkatan. waktu berlalu sangat lama, Zivannya melihat sekitar yang penuh dengan para penumpang yang akan berangkat. Zivannya memejamkan matanya menahan detak jantungnya yang kencang karena akan berjumpa dengan suaminya. Zivannya menurunkan topinya sedikit lebih rendah saat seorang pemuda duduk disampingnya. tempat duduk banyak yang penuh membuat orang-orang banyak yang duduk dilantai. hari yang sibuk karena hari ini hari Jumat. jadi banyak yang melakukan perjalanan entah untuk liburan atau untuk pulang menemui orang terkasih atau keluarganya, Zivannya melihat seorang wanita paruh baya berjalan mencari tempat duduk yang masih kosong, Zivannya segera beranjak, bersamaan dengan pemuda yang duduk disampingnya, Zivannya segera menghampiri perempuan itu dan membawanya untuk duduk ditempat yang tadi didudukinya tanpa melihat atau menghiraukan pemuda yang akan melakukan hal yang sama dengannya, Zivannya meraih ranselnya berjalan ketempat yang dekat dengan pintu masuk keberangkatan.
akhirnya saat yang dinanti Zivannya tiba, pesawat yang membawanya untuk menemui suaminya sudah siap untuk lepas landas. Zivannya menghembuskan nafas dan berjalan pelan menuju lorong pesawat. beberapa orang berjalan dengan tergesa-gesa untuk masuk ke pesawat, ia segera sedikit menepi agar tidak ikut terkena imbas tersenggol tubuhnya.
tiba dibandara yang dituju, Zivannya meraih tas ranselnya yang sudah keluar dari bagasi, melihat sekeliling jalan keluar bandara, menunggu dikursi tunggu diluar pintu keluar penumpang, anak buah suaminya yang belum tampak untuk menjemputnya, dari kejauhan terdengar suara sepatu berat tengah berlari menuju kearahnya seperti mencari seseorang, Zivannya menoleh untuk melihat apakah yang datang itu adalah anak buah suaminya yang datang untuk menjemputnya. Aga melihat sosok istrinya sedang duduk menunggu anak buahnya untuk menjemputnya. dilihatnya istrinya yang memakai jeans belel favoritnya, sepatu gunung coklat yang sudah lusuh, kemeja coklat yang digulung hingga siku dan topi yang menyembunyikan ikatan ekor kudanya. Aga berhenti sesaat untuk mengatur detak jantungnya yang seakan mau melompat keluar melihat sosok yang dirindukannya sedang duduk memandang dirinya seperti tidak percaya. Zivannya segera berdiri ketika menyadari sosok pemuda yang berada agak jauh itu adalah suaminya. mereka sama-sama membuka topi yang menutupi muka mereka berdua. Aga tersenyum lebar dan bergegas menghampiri Zivannya yang segera berlari ke arahnya. Aga memeluk Zivannya erat, mengangkat sedikit tubuhnya keudara. "kamu baik-baik saja kan, yang" lihat Aga meraba kedua pipinya, Zivannya mengangguk meneteskan air mata, aga tersenyum lebar memeluk Zivannya kembali mencium lehernya berulangkali. "hmmm, bau tubuhmu sangat kurindukan" bisik Aga, Zivannya menghapus airmatanya melihat suaminya baik-baik saja.
Aga mengecup kening Zivannya dan menautkan jemari mereka, mengambil alih ransel Zivannya. mereka pergi meninggalkan ruang tunggu bandara.
hai... hai.... hai..... all readers, jangan lupa untuk terus mendukung karyaku ya... tanpa dukungan kalian semua, apa jadinya karyaku ini.. jadi dukung terus yaaa.. terimakasih...
__ADS_1
luv...luv...luv U all.... terimakasih...