Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 157


__ADS_3

Langit mengobrol dengan bapak-bapak tetangga yang lama tidak ditemuinya karena kesibukan dinasnya, Zivannya merebahkan badannya di tempat tidur tubuhnya meminta untuk beristirahat. Langit sesekali mengedarkan pandangannya ke dalam rumah mencari penampakan istrinya yang tidak dilihatnya dari tadi, keluarga Triastomo sudah tiba dirumah Langit siang hari ibu dan Langit menyambut keluarga Triastomo para laki-laki menurunkan bawaan bunda yang tidak sedikit untuk keperluan acara


"adek mana, Lang" tanya Mentari "mungkin tidur kak karena dari tadi tidak melihatnya" kata Langit, Mentari tersenyum melihat sekeliling rumah yang tampak asri. "onty" sentuh tangan Raka pelan Zivannya membuka matanya menoleh melihat Raka yang menatapnya ia tersenyum mengusap kepala Raka lembut "udah nyampe kak" tanya Zivannya Raka tersenyum menganggukkan kepalanya Zivannya bangun dan memeluk Raka "Uti sama Kakung dimana kak" tanya Zivannya "semuanya didepan onty" jawab Raka mereka melangkah pelan keluar dari kamar.


Zivannya menyalami dan memeluk keluarga besarnya, "apa kabar kak, sehatkan" senyum Zivannya, Mentari tertawa pelan "harus dek, banyak tugas menanti disana kakak lihat kamu juga sama" amati Mentari melihat tubuh Zivannya yang kurang tidur. "hhhmmm.... " angguk Zivannya mengiyakan. "tugas yang mana dulu dek, yang pagi apa yang malam" goda Dirgantara, mereka tertawa. "orang baru dapat periode kak jadi senyap dulu" jawab Langit, Matahari tertawa ngakak mendengar jawaban Langit. "kasihan, semangat Lang untuk penantian panjang mu" tepuk bahu Matahari mengejek Langit yang tersenyum mengangguk.


bunda mengeluarkan kebaya yang akan dipakai saat acara berlangsung sore hari nanti bersama ibu berbicara banyak hal, Raka menempel pada Zivannya membuat Langit juga menempel pada istrinya. "ngapain sih kak" tepuk punggung tangan Zivannya Langit memeluk istrinya dari samping, Dirgantara menarik lengan Langit agar menjauh dari Zivannya. "kita keluar bentar dek" isyarat dagu Dirgantara, Langit mengangguk dan berdiri mengikuti langkah kaki Dirgantara, Matahari menepuk kepala Mentari memberi isyarat bahwa dia akan keluar bersama mereka Mentari menganggukkan kepalanya mengerti.


Zivannya menyuapi Raka dan Riki yang merasa lapar karena tidur sepanjang perjalanan. Rara mendekati Zivannya yang terlihat sudah tidak terlalu sibuk Zivannya tersenyum dan memeluk sahabatnya itu mengusap punggung nya memberi kekuatan "apa aku begitu tidak layak dipertahankan" hela nafas Rara, "apa nggak ada perlawanan ketika dia diperlakukan tidak baik oleh kedua orang tuaku" kat Rara kembali, Zivannya mengusap punggung sahabatnya dan menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.


"terkadang manusia hanya bisa berusaha dan berdoa Ra selebihnya Tuhan yang menggerakkan tangan-tangan ajaibnya jadi jangan menilai dari satu sisi, kamu juga tahu berapa lama kalian berjuang bersama untuk hal itu bukan..... entah itu berhasil atau tidak tapi kalian sudah berusaha hanya sekarang tinggal menunggu bagaimana doa dan usaha kita sampai di tangan ajaib sang pencipta" senyum Zivannya, Rara menghela nafasnya panjang mengangguk.


"ikut ke Jakarta sebelum kamu wisuda minggu depan kita akan bersama pulang ke Jogja nanti" pandang Zivannya, Rara kembali menghela nafasnya panjang "aku ingin traveling sendiri dulu Zi melepas semua kenangan yang masih tersisa jika sudah aku akan kembali nanti kita sama-sama pulang ke Jogja" kata Rara. Zivannya tersenyum mengangguk.


"apa aku harus kembali ke awal dimana kita akan sendiri-sendiri lagi Zi" tanya Rara, Zivannya terdiam menggeleng "apapun yang terjadi kita masih sama-sama berjuang Ra biarkan waktu yang membuat kita belajar untuk ikhlas" jawab Zivannya, Rara menghela nafasnya panjang "benar hanya waktu yang akan membuat kita menjadi lebih kuat karena sejatinya setiap fase kehidupan akan kita lalui dengan porsi kita masing-masing bukan" senyum Rara, Zivannya mengangguk pelan.

__ADS_1


"rejeki..... maut..... jodoh..... adalah hal yang bukan ranah kita dalam mencari tahu hanya tangan-tangan ajaib tuhan yang bergerak sesuai perintahnya kita hanya bisa menerima dan menjalani sesuai kodrat yang digariskan kepada kita, bukan begitu Ra" senyum Zivannya menepuk punggung tangan sahabatnya Rara mengangguk tersenyum.


"Yap..... sejauh apapun kita berusaha, sejauh apapun kita melangkah jika Tuhan menyuruh kita untuk berhenti dan kembali lagi ketitik nol maka kita harus memulai lagi dari awal. dimulai dari nol ya mbak......" senyum lebar Rara teringat slogan pengisian bahan bakar kendaraan, Zivannya tertawa pelan


"biarkan rasa sakit mendominasi hati saat ini mungkin itu healing yang terbaik bagi kita agar masih bisa merasakan apa itu kehilangan dan berganti dengan kebahagiaan yang akan datang dengan rasa syukur telah melewati rasa sakit itu kemarin. tidak usah dilawan, tidak usah dihilangkan cukup dijalani dan pada akhirnya kita akan belajar untuk lebih tangguh" hembus nafas Zivannya panjang. Rara menatap sahabatnya lekat.


"aku harus belajar banyak darimu Zi" ujar Rara, Zivannya menggeleng menepuk punggung tangan sahabatnya kembali. "kita belajar dari diri sendiri Ra, belajar dari cara kita menghadapi saat masalah, ujian, cobaan dalam hidup datang menghampiri dari situ kita harus belajar menyikapi keadaan tidak usah melihat orang lain karena porsi kita sendiri-sendiri dalam menyikapi masalah. tidak akan sama setiap orang" geleng Zivannya Rara mengangguk.


"apa karena sudah jadi istri abdi negara maka kamu menjadi lebih dewasa" sarkas Rara, mereka tertawa saling berpelukan. "mungkin..... kebiasaan baru menemani langit yang dingin saat bertemu dengan anggotanya" jawab Zivannya sekenanya, mereka kembali tertawa kecil.


"apapun yang terjadi kita bertiga adalah orang baik yang saling mengenal satu sama lain saling susah bareng saling berbagi kebahagiaan bareng jadi beri kesempatan untuk waktu memulihkan segalanya, kamu ngerti kan Ra.... ngerti dong..... masa nggak ngerti...." pandang Zivannya, mereka tertawa bersama.


"hhhmmm..... baiklah kalo begitu mau dideketin siapa ada banyak pilihan dan stok yang melimpah" kata Mentari menyebutkan beberapa nama yang familiar dengan mereka hingga mereka bertiga tertawa lebar mengabsen dan membicarakan laki-laki yang disebutkan Mentari tadi.


mereka mulai diberi sentuhan oleh stylist menjelang acara ngunduh mantu yang dilakukan di tempat kediaman ibu Danti di Malang, Langit memakai pakaian adat menyesuaikan dengan kebaya Zivannya. suasana jauh terlihat lebih santai saat ini daripada saat acara akad di Jakarta dimana para perempuan mengobrol dan membuat suasana lebih ceria bercanda dengan para stylist yang membantu mereka agar berpenampilan lebih menarik lagi. semuanya berjalan dan selesai sesuai jadwal. saat ini mereka sudah berada di gedung tempat acara berlangsung para laki-laki berjalan dengan gagah dan terlihat tampan dibalut dengan pakaian adat Jawa sedangkan para perempuan terlihat anggun dan cantik saat berjalan beriringan dengan pasangan mereka masing-masing.

__ADS_1


mereka melakukan sesi pengabadian moments setelah tiba di gedung yang digunakan untuk acara ngunduh mantu berlangsung teman-teman, sanak keluarga, orang-orang yang mengenal mereka dengan baik datang memberikan selamat kepada mereka berdua, suasana yang lebih santai dan nyaman membuat mereka lebih bahagia. Langit terlihat jauh lebih bersahabat karena lebih banyak tersenyum menerima ucapan selamat dari orang-orang yang dikenalnya, Raka dan Riki sesekali duduk bersama mereka menemani dan mengobrol.


"mau makan apa, yang" tatap Langit, Zivannya menggeleng "haus" jawab Zivannya Langit memberi kode kepada Baskara untuk mengambilkan air minum. Baskara segera mendekat menyerahkan air mineral botol kepada Langit. "makasih om, semoga berhasil" senyum Zivannya, Baskara tersenyum mengangguk. "kenapa, yang" kerut Langit, Zivannya mengisyaratkan dengan dagunya ke arah Baskara yang sedang mengobrol dengan Rara, Langit melihatnya sesaat.


"apa dia bisa membuka hatinya sekarang" tanya Langit, Zivannya menggeleng "entah kak, seiring waktu dia akan pulih jika seseorang ada disana menemani jauh lebih baik. setelah ini dia akan traveling sendirian dulu dan akan kembali untuk bersamaku ke Jogja saat wisudanya" kata Zivannya, Langit menatap istrinya lama. "itu berarti aku harus tidur sendirian dong, yang" tanya Langit, Zivannya menoleh mengelus bahu suaminya lembut. "hanya sebentar kak, akan lebih baik kita berjauhan dulu agar badanku tidak remuk redam" senyum Zivannya, Langit mendengus pelan. "aku akan lebih berhati-hati lagi nanti agar kamu hanya mendesah kesenangan" bisik Langit, Zivannya seketika bersemu malu mendengar perkataan suaminya yang tertawa lebar "kebiasaan ngomong nggak ada rem nya satria Langit" kesal Zivannya, Langit tertawa ngakak. "kamu nggak nggak main musik, yang" tanya Langit, emang boleh" tanya Zivannya menatap Langit yang menganggukkan kepalanya. "tuh mereka aja udah siap-siap" perlihatkan Langit, Zivannya segera menoleh dan melihat keluarganya berada dibalik alat musik yang tersedia.


Langit meraih jemari istrinya untuk dibawanya ke dekat mereka, beberapa orang bertepuk tangan saat Zivannya sudah dalam posisinya, ke empat perempuan berkebaya itu berdiskusi ke arah Zivannya untuk menentukan lagi apa yang akan mereka mainkan. Rara membawakan lagu ditemani penyanyi yang ada sebelumnya. para lelaki Triastomo melakukan gerakan yang dipandu oleh staff wedding yang ada hingga menambah keseruan acara. Langit terlihat bergerak sesuai irama hingga membuat Zivannya tertawa lebar melihat tingkah nya yang gokil. ayah juga ikutan untuk bersama anak-anak nya melakukan gerakan mengikuti irama.


"aahhh.... seru banget" tawa Rara melakukan hi five dengan Zivannya yang tertawa lebar. "nggak ada cantik-cantiknya deh kita kalo begini" pandang Mentari, "tapi seru kan kak" senyum Rara, Mentari tertawa menatap Valerie "banget Ra, makasih banyak kak.... sungguh pengalaman yang seru. nanti kita buat album moments aja" canda Mentari mereka tertawa, pasangan mereka segera membantu mereka untuk menuruni anak tangga setelah bermain musik, staff wedding meminta mereka untuk melakukan gerakan bersama-sama dengan keluarga diiringi dengan musik.


Langit tersenyum menatap istrinya yang membuatnya bahagia menjadi laki-laki yang beruntung. mereka mulai dengan dipandu oleh staff wedding, suasana jauh lebih ceria dan hidup lagi beberapa kerabat juga turut serta melakukan gerakan yang sama hingga acara berakhir. "makan yang bener, yang" pandang Langit menyuapi istrinya Zivannya memutar bola matanya jengah. "ini udah bener kak masak nggak boleh liat yang lain" kerucut bibir Zivannya, Langit menatap istrinya lama.


"perutku nggak mau lagi" kata Zivannya menggeleng "ini baru tujuh suapan, yang" pandang Langit Zivannya menggeleng pelan, Langit menghela nafasnya dan segera menghabiskan makanan mereka, "onty" datang Riki Zivannya membawa Riki ke dalam pelukannya "kenapa kak" tanya Zivannya, Riki menggeleng "onty mau ice cream nggak" tanya Riki akhirnya, Zivannya tersenyum mengangguk. "ambilin onty sana kak" tepuk pantat Zivannya pelan. Riki mengangguk dan segera berlari mendekati ice cream. Langit mengusap kaki Zivannya bagian atas "kenapa kak" tanya Zivannya, "semoga kita segera diberi baby, yang" pandang Langit, Zivannya mengamini doa suaminya.


hai..... hai..... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


luv..... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng.


stay healthy all


__ADS_2