
"ishh... dikira kita kagak bisa apa ya Zi... belum belah duren nih" lirik Aga, matahari melirik Mentari, "adek sekarang ada partnernya belagu banget yang, kemarin-kemarin dideketin cewek aja kayak cacing kepanasan nggak inget Ama uler keket" ledek matahari. "kak Aga dulu suka sama siapa bang" tanya Zivannya pingin tahu. Aga beranjak menutup kedua telinga Zivannya cepat.
"segera bayar kak, Abang biar cepetan pulang gih. nggak baik malam-malam kena angin, tulangnya udah tua" kata Aga memberi isyarat mengusir mereka, mentari dan matahari saling berpandangan dan tertawa. Dimas mendekat dan duduk bersama mereka dibantu Rara. "aku lupa kalo Dimas belum kelihatan" pandang Matahari. pemilik cafe mendatangi mereka dan membicarakan kejadian dan kerusakan akibat perkelahian barusan. matahari dan Aga meminta para pemuda yang tadi dihajar mereka juga ikut mendengarkan dan menanggung biaya ganti rugi, Zivannya kembali menaikkan tudung hoodienya saat Aga sedang menyelesaikan masalah tadi.
"Zi, jika ada waktu nginap tempat Abang dan kakak, jangan sungkan" kata mentari, Zivannya mengangguk.
"tentu kak, untuk semester ini agak sedikit penuh jadwal kuliahnya. semoga bisa main kemana-mana" angguk Zivannya, Aga berjalan mendekat. "minta uang buat bayar kerugian" cengir Aga, matahari menganggukkan kepalanya ke Mentari.
"berapa by" pandang Zivannya. " satu" jawab Aga, matahari menganggukkan kepalanya lagi.
"berapa yang mereka tanggung" tanya mentari mengeluarkan kartu.
"sama. karena mereka yang memulai lebih dulu dan berjumlah banyak" kata Matahari. Dimas mengeluarkan sejumlah uang yang sama. "nih kak, bang. ikutan nyumbang" sodor Dimas. "emang kamu bawa uang" kata Aga, Dimas menunjuk Rara. "dia kasihan melihat para pemuda itu membayar sama dengan kita, udah babak belur gitu suruh bayar lagi" dengus Dimas.
"dia nggak kasihan sama aku yang juga banyak luka" pandang Dimas kesal. Rara memukul pipi Dimas yang lebam. Dimas berteriak kesakitan. "cengeng, gitu aja teriak. gimana mau melindungi aku dan anakmu kelak kalo gini aja nggak kuat" pandang Rara. Dimas duduk tegak dan membulatkan matanya mendengar ucapan Rara. "nggak sakit Ra, aku akan menjagamu dan anak kita" semangat Dimas. Aga dan matahari menggoda Dimas dengan memukuli pelan tubuhnya yang cedera. Zivannya dan mentari menuju kasir untuk melakukan pembayaran. "kalian dari mana" tanya Zivannya menoleh melihat para pemuda yang tadi berkelahi dengan suaminya. seseorang menjawab dengan pelan karena kesakitan dipipinya.
"ooh... berarti dekat dengan Yuda" tanya Zivannya, seseorang bertanya bagaimana dia mengenal Yuda. Zivannya melakukan chat video dengan Yuda.
"hallo Zi, ada apa malam-malam gini. kangen aku" tawa Yuda melihat Zivannya.
"mereka teman-temanmu" perlihatkan Zivannya dilayar ponselnya. Yuda menajamkan penglihatannya.
"dimana kamu sekarang" tanya Yuda berjalan keluar menaiki mobil. Zivannya menyebut sebuah cafe. Yuda segera melaju kearah sana.
"kenapa lama" tanya Aga mendekat menutup mata Zivannya dengan tangan kirinya.
"mereka bilang temen-temen Yuda by, aku tadi hubungi dia, dalam perjalanan kesini" kata Zivannya, Aga terdiam. "aku nggak pernah liat mereka selama berteman dengan Yuda" jawab Zivannya pelan.
mentari melihat Aga yang terlalu posesif kepada Zivannya, jika Zivannya berhadapan dengan laki-laki lain. "kalian mau minum apa" tanya mentari melihat para pemuda itu. mereka memesan beberapa minuman. mentari segera melakukan pembayaran terlebih dahulu.
"aku nggak ditawari makan yang" tanya matahari menunjuk dirinya sendiri. "mau makan apa" angguk mentari, Matahari menunjukkan sebuah menu dan segera memesannya.
"kamu mau makan apa Zi" tanya Aga melepaskan tangannya dari mata Zivannya.
"aku nggak begitu lapar by, apa kamu lapar lagi" pandang Zivannya, Aga mengangguk. Zivannya memperlihatkan daftar menu dan menunjuk sebuah menu, Aga mengangguk tersenyum.
"kalian ada yang mau makan" tanya Aga, mereka menggelengkan kepala.
"nggak papa, nggak ada yang perlu disalahkan. makan dulu sebelum pulang" angguk Zivannya, mereka terdiam. Yuda menghampiri mereka. "Zi, apa kamu terluka" tanya Yuda melihat Zivannya yang menggeleng. "mereka berkelahi dengan teman, Abang dan suamiku" senyum Zivannya. Yuda menatap Aga dan menundukkan kepala pelan, Aga mengangguk tersenyum. Yuda melihat Matahari dan Dimas yang terluka paling parah.
"maafkan saya bang. tidak bisa menjaga Abang selama disini" kata Yuda, matahari tersenyum. "bukan masalah besar da, mumpung disini dapat olahraga malam" tawa matahari menepuk bahu Yuda pelan, Yuda menatap mereka yang mengeroyok Aga dan yang lain.
__ADS_1
"aku tidak kenal dengan mereka Zi, mungkin pimpinan mereka yang mengenalku" tatap Yuda meneliti wajah mereka. Yuda menghampiri mereka dan berbincang sebentar. Yuda menghampiri Aga dan Zivannya. "bisa kesini sebentar za, dicafe xx" hubungi Yuda melalui ponselnya.
"kalian kenapa bisa berkelahi" tanya Yuda menatap Dimas dan Aga. Dimas menceritakan semuanya. Yuda mengangguk.
"tadi aku baru dirumah. aku kira bang Aga sudah kembali dinas dan kamu sendirian malam-malam begini. maafkan aku bang, aku tidak bermaksud apa-apa" kata Yuda, Aga tersenyum dan mengangguk. "Zivannya akan tetap disini beberapa hari ini. besuk pagi aku harus pulang" kata Aga.
"aku mau nyelesain urusan disini dulu da" ujar Zivannya.
"ada yang bisa dibantu Zi " tanya Yuda.
"banyak, cabutin rumput, mbenerin genteng, nguras kolam milik pak Jono noh" angguk Zivannya, Yuda tertawa nyengir.
"aku belum sempat kerumah lagi Zi, maaf baru banyak urusan" kata Yuda. Zivannya mengangguk.
"aahhh... pesanan ku datang, mari kita habiskan" lihat matahari menatap makanannya yang terlihat enak. Aga mengambil piringnya, "makan Yuda" tatap Aga, "silahkan bang" angguk Yuda. Aga menyantap makanannya.
seseorang berhenti didepan cafe dan bergegas menuju tempat Yuda berkumpul dengan yang lain. "da" panggilnya setelah mendekat dengan nafas yang ngos-ngosan.
"minum dulu za, nggak usah tegang begitu" senyum Yuda menyodorkan air mineral botol. pemuda itu duduk didepan Aga dan Zivannya, disamping Yuda.
"kenal dengan mereka nggak" isyarat dagu Yuda, pemuda itu memiringkan tubuhnya dan melihat dengan teliti beberapa pemuda yang menundukkan kepalanya dan terlihat banyak menderita luka lebam.
"maafkan saya, tidak bisa mendidik anak-anak muda ini untuk lebih baik" tunduk Reza hormat, matahari menepuk pundak Reza pelan. "namanya juga anak muda bang, biasa itu. kita senang malah jadi olahraga malam. jarang-jarang lho begini. kakak kita aja tadi kesel nggak bisa olahraga malam" tawa matahari. Reza menunduk, "maafkan kami bang" kata Reza. matahari mengibaskan tangannya.
"kita juga minta maaf bang, membuat mereka agak berantakan. tapi kita tadi udah damai kok, jadi tenang aja" kata matahari.
"maafkan mereka Zi, aku nggak tau kalo mereka membuatmu tidak nyaman, habis dari basecamp tadi mereka cuman bilang mau nongkrong aja disini, nggak taunya bikin masalah" pandang Reza. Zivannya tersenyum.
"nggak papa za, maaf jika mereka seperti itu" toleh Zivannya melihat para pemuda tanggung yang berkumpul disebelah kanannya, Reza mengangguk.
"biarkan mereka menyelesaikan makan dan minumnya dulu, setelah itu baru pulang, besuk kan sekolah" kata matahari, Reza mengangguk.
"ganti ruginya gimana bang" tanya Reza, matahari mengangguk "udah selesai, beres. tinggal ngumpul bareng aja sambil makan. tambah saudara dikotanya Zivannya nih" tawa Matahari, mereka tertawa pelan. banyak obrolan yang mereka perbincangkan, beberapa kali tawa meledak saat mereka ngobrol seru, hingga tidak terasa jam menunjukkan jam 2 dinihari.
matahari meminta ijin untuk kembali ke hotel karena Mentari sudah terlihat lelah dan butuh istirahat, mereka semua segera beranjak untuk kembali kekediaman masing-masing.
Aga melajukan mobilnya kencang agar segera sampai rumah, Zivannya sudah harus tidur. "by, dah sampai" kerjap mata Zivannya. Aga mengangguk dan membantu Zivannya melepas seat belt nya.
"aku tidur diruang tengah aja kak, nemenin Dimas. kasihan kalo nanti kena nyamuk" kata Rara, Aga tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya tanda Ok.
Zivannya melepas Hoodie, jeans dan bra nya, meletakkan disudut ruang. segera merebahkan diri tanpa memikirkan apa-apa lagi. Aga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zivannya.
__ADS_1
"aku berangkat jam 7 pagi Zi" kecup Aga memeluk Zivannya dari belakang. "hmmmm" dehem Zivannya segera terbang ke alam mimpi, Aga menatap Zivannya yang tidak bergerak lagi dan tersenyum. memeluknya erat ikut tidur
pagi hari
Aga mematikan alarm ponselnya, mengusap mukanya, menoleh menatap Zivannya yang tidur memeluk tubuhnya erat, Aga mengecup rambut Zivannya,
"jam berapa by" gerak Zivannya memicingkan matanya, "jam 5.30" kata Aga, Zivannya menggeliat bangun dari tidurnya.
"telat nih" jalan Zivannya hendak keluar dari kamar. "Zi, pake celana dulu" kata Aga teringat, Zivannya menoleh dan melihat dirinya sendiri, berbalik menuju lemari memakai celana pendek, Aga menggelengkan kepalanya. segera beranjak turun menyusul Zivannya. mereka menunaikan kewajiban paginya yang terlambat
"Zi, beneran mau nganter, aku naik taksi aja ya" kata Aga, Zivannya menggeleng. "aku antar by, nggak usah pake drama" pandang Zivannya. Aga menyerah, membiarkan Zivannya. mereka segera keluar rumah untuk segera menuju stasiun.
"mereka tetap belum bangun" tanya Aga melajukan mobilnya cepat, Zivannya menggeleng, mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Aga menoleh melihat istrinya sesaat. "pake kacamata yang ada didalam dashboard" kata Aga, Zivannya membuka dan mengambil kacamata yang ada disana. Zivannya memakainya sesaat. "nggak biasa by" kata Zivannya menggeleng.
"agar tidak terlihat kurang tidur Zi" kata Aga, Zivannya memakainya dan memperlihatkannya pada Aga, Aga tersenyum mengusap leher Zivannya.
"Miss u already" hembus nafas Aga. Zivannya menoleh dan menggenggam tangan Aga erat, menciumnya pelan.
"hmmm... rindu itu berat ternyata" senyum Aga.
"kapan pulang Zi" tanya Aga akhirnya. "setelah semuanya selesai by, semoga segera" senyum Zivannya. Aga menatap lurus kedepan.
"jangan lama-lama" kata Aga, Zivannya mengangguk.
tiba distasiun kereta Aga memarkir mobilnya, Zivannya keluar dari pintu samping.
"temenin" kata Aga, Zivannya mengangguk dan meraih jemari Aga yang menunggunya. Aga menyerahkan kunci mobil kepada Zivannya. "by, kartu ATM nya masih diaku lho" kata Zivannya.
"itu hakmu Zi, jangan mengatakannya lagi. jangan lama-lama pulangnya, kita masih harus ke dinas" sentil kening Aga. Zivannya mengerucutkan bibirnya sambil mengusap keningnya.
"isshhh... Zi..." geram Aga, Zivannya menoleh. "kenapa kak" dekat Zivannya panik. Aga tersenyum. "luv U Zi..." kata Aga mencium pipi Zivannya. Zivannya memandang Aga kesal melangkah mendahului Aga yang tertawa lebar.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku. love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1