Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 75


__ADS_3

matahari menghela nafasnya panjang "susah dek kalo sudah gini, ibu negara tidak pernah salah" kata matahari mengusap wajahnya.


"yap" angguk Zivannya tanpa bisa berkata-kata apa-apa.


"tidak, walau aku ingin berkata ya" jawab matahari pada akhirnya. bunda memberi finger heart pada kedua anak laki-lakinya, mereka mengambil dan meletakkannya didadanya.


"mau ke penghulu nggak dek, udah lengkap gitu" goda Dirgantara, Zivannya menggeleng. "nggak mau lagi" jawab Zivannya cepat dan tegas, mereka menoleh dengan cepat memandang Zivannya.


"kenapa dek, umurmu masih 22 lho, jalani hidup dengan bahagia" kata Dirgantara.


"ini udah hidup dengan bahagia lho kak, mau yang bahagia gimana" tanya Zivannya menatap mereka.


"yang bisa menjagamu jika kami tidak ada" kata Ayah pelan, Zivannya berdiri seketika. "pulang sekarang kak" pandang Zivannya menatap Langit sesaat dan berjalan keluar menuju mobil.


bunda menepuk bahu ayah pelan, "ayah kan tau, adek masih sensitif terhadap lawan jenis, tolong temani dia sebentar Lang, nanti kita pulang bareng Yuda, dia baru tidak bisa diganggu. biarkan tenang dulu. dia sekarang sering lupa jika ada laki-laki yang bukan dari keluarganya berada disekitarnya, makanya bunda tidak mau Zivannya pergi jauh dulu" senyum bunda, langit mengangguk dan segera menyusul Zivannya yang hampir sampai di mobil.


"maafkan Zi, Yuda. ketika hatinya sudah bilang tidak maka dia akan berjalan sendiri jika tidak dituruti" pandang Mentari, Yuda mengangguk tersenyum, memahami Zivannya yang memang keras kepala dan sekarang kehilangan Aga membuatnya lebih gampang terluka.


Langit membuka alarm mobil membiarkan Zivannya masuk dan duduk disampingnya, Langit memandang Zivannya yang memejamkan matanya.


"punya t-shirt cadangan nggak kak dimobil" tanya Zivannya, langit mengangguk dan menunjuk kekursi penumpang paling belakang. "ada celana joger dan Hoodie juga" kata Langit menatap Zivannya.


"ada pom didepan, masuk kesana dan kakak keluar, aku mau ganti baju dulu" ucap Zivannya cepat.


"86" kata Langit cepat. Zivannya membuka matanya dan menatap langsung Langit setelah mendengar kalimatnya. "apa kamu abdi negara" kata Zivannya meradang, Langit menganggukkan kepalanya.


"aaahhhh..... sh*it... turunkan aku disini. aku tidak mau" seru Zivannya. Langit seketika membelokkan mobilnya masuk kedalam parkir kendaraan di basement mall yang kebetulan dilewatinya, membiarkan Zivannya menangis tanpa suara, Langit menatap Zivannya dan menghapus airmata Zivannya yang terus turun dengan tissue.


"antar aku pulang kak, aku mau pulang. maafkan aku tadi memintamu untuk mengantarku pulang" kata Zivannya mengambil tissue dari tangan langit, menghapus airmatanya cepat.


"tidak, aku tidak mau kita pulang jika kamu tidak bisa melepaskan bayang-bayang Aga dari hati dan pikiranmu hingga membuatmu seperti ini, dia juga akan merasa sedih jika melihatmu seperti ini" kata langit tegas, Zivannya semakin dalam menangis. "apa kamu berusaha menyiksa diri dan keluargamu sekarang" tanya Langit, Zivannya menghapus airmatanya. "antar aku pulang sekarang kak" kata Zivannya. langit menggeleng dan mengunci semua pintu. "melarikan diri ketika ada masalah nggak akan menyelesaikan masalah hatimu Zi" kata Langit lembut. Zivannya menutup mukanya dan melihat keluar jendela.


"kelamaan didalam mobil gini, kita nanti akan keracunan dan kemungkinan tidak bangun lho Zi" kata Langit. "pulang kak" kata Zivannya pelan.


"apapun yang kamu rasakan tentang Aga, dia sudah bahagia disana tidak merasakan kesakitan lagi Zi. kenapa kamu yang sekarang menyakiti dirimu sendiri. sebanyak apapun kamu menginginkan Aga, dia tidak akan kembali. kamu sendiri yang melihatnya terakhir kalinya. lepaskan apa yang harus kau lepaskan" kata Langit, Zivannya menghapus airmatanya.

__ADS_1


"tinggalkan aku sendiri, jangan mendekatiku lagi" kata Zivannya sesenggukan. Langit menyentuh bahu Zivannya pelan, Zivannya menggeser tubuhnya merapat kepintu.


"apa aku tidak layak untukmu Zi" tanya Langit pelan.


"tidak" geleng Zivannya tegas.


"apa aku bukan orang yang tepat untukmu" tanya Langit. Zivannya menggeleng "bukan" tutup mata Zivannya.


"apa Yuda atau Regan yang kamu inginkan" tanya Langit pasrah.


"aku tidak menginginkan siapa-siapa. baik itu kamu, Yuda atau siapapun" kata Zivannya lemah.


"aku hanya ingin sendiri, jalani hidup masing-masing sesuai dengan porsi hidup kita" tatap Zivannya.


"namaku Satria langit Dewantara, abdi negara dari kesatuan yang sama dengan bang Matahari yaitu laut. sekarang sedang bertugas di Jakarta dan sedang meminta ijin untuk mengejar gadis yang sangat dicintainya saat pertama kali bertemu dibandara, diapartement teman dan saat mengantar kepergian suaminya untuk selama-lamanya" ucap Langit tegas, Zivannya menoleh dengan cepat mendengar perkataan Langit barusan.


"aku tidak mengijinkanmu untuk mencintaiku. aku sudah mempunyai suami dan aku tidak ingin menikah kembali. jadi jangan paksa aku untuk menerima apapun itu, terutama darimu" kata Zivannya lemah.


"antar aku pulang kak" sandar kepala Zivannya memejamkan matanya. "aku tau semua tentangmu Zivannya Fritscha dan aku sangat mencintaimu" kata Langit menatap Zivannya dengan berat.


"Zi" sergah Langit mendengar penolakan Zivannya, Zivannya membuka matanya dan menoleh menatap Langit dengan kemarahan yang menyala dimatanya.


"Lang Lang" seru Zivannya kesal, Langit tersenyum mendengar panggilan Zivannya. "aku mencintaimu Zivannya Fritscha dan aku tidak peduli orang lain berkata apa mengenai dirimu maupun diriku. jadi biarkan aku menemanimu sekarang" kata Langit menatap wajah Zivannya. Zivannya menghela nafasnya panjang.


"hallo bang" salam Langit mengangkat panggilan dari Matahari.


"iya, dia tadi nangis terus, sekarang kami ada di parkiran basement mall" kata Langit.


"siap bang, tercopy" angguk Langit start engine dan melajukan mobil keluar dari parkir basement. Zivannya tertidur dalam perjalanan, Langit menyentuh pelan wajah Zivannya yang terlihat letih mengelus pelan pipinya yang putih pucat. "kamu memang istimewa Zi, beruntung Aga telah bertemu denganmu dan sekarang aku yang akan menjagamu dan melindungimu" usap kepala Langit pelan.


setiba dirumah Langit menghentikan mobilnya didepan garasi rumah Zivannya. Langit segera turun dan memberitahu jika Zivannya sedang tidur selama dalam perjalanan. bunda dan mentari melihat Zivannya yang wajahnya kusut terlihat tenang dalam tidurnya.


"merepotkan mu nak Langit, biarkan Zivannya istirahat dulu disana, bunda tidak tega melihatnya kurang tidur belakangan ini. apakah tidak apa-apa" tanya bunda masuk kembali kedalam rumah. langit tersenyum dan menggeleng.


"apakah tadi Zi menangis, ndan" tanya Mentari, Langit mengangguk.

__ADS_1


"jangan memanggilku begitu kak, kita tidak di kesatuan sekarang" kata Langit tersenyum, Mentari tersenyum dan mengangguk.


"Yuda kemana kak" tanya Langit melihat sekeliling. "apa kamu mencari saingan cintamu Ndan" goda Valerie tiba-tiba dari arah dalam, langit tertawa mendengar Valerie.


"apakah jelas terlihat kak" kerut Langit, mentari dan Valerie saling berpandangan kemudian mengangguk bersamaan.


"jika dirimu bersabar lebih lama maka Zivannya akan luluh" kata mentari. "Yuda adalah teman Zivannya dari masa sekolah dulu. dia yang membantunya saat dikhianati cinta pertamanya, hingga Zivannya bertemu dengan adek kami Aga, mereka masih berteman baik. selama ini Zivannya selalu menganggapnya teman baik tidak lebih, bukannya dia tidak tahu Yuda menyukainya. Aga juga mengetahuinya, tapi Zivannya tidak pernah melihat Yuda lebih dari seorang sahabat. sama seperti Dimas dan Rara" kata Mentari.


"apakah saat ini Yuda mau mengejar Zivannya lagi" tanya Langit terus terang, mentari mengangguk.


"dilihat dari sikapnya sih iya, mungkin juga Zivannya menerima cintanya" minum Mentari.


"bisa jadi sih, kayaknya Zivannya lebih bisa menerima Yuda yang sudah lama dikenalnya dari pada orang baru" goda Valerie.


"wowww..... wooo.... tunggu dulu kakak berdua, jangan berandai-andai, hal itu tidak akan terjadi. oke..." tatap Langit tersenyum, mentari dan Valerie tertawa. "kamu mendapat restu kami berdua Ndan" kata Valerie, mentari menganggukkan kepala.


"aahhh... terimakasih kak Valerie dan kak Mentari. dukungan kalian sangat berarti bagiku" kata langit tersenyum lebar.


"dukungan apa" kerut bunda melihat ekspresi mereka bertiga. komandan Langit mau mengejar adek bund" kata mentari, bunda menatap Langit sesaat.


"apa Zivannya menolakmu" tanya bunda, Langit mengangguk mantap.


"apakah kamu benar-benar menyayangi anak bunda" tanya bunda memastikan. langit mengangguk kembali.


"jika di ijinkan maka akan selalu melindungi dan menjaganya sampai tiba waktunya kembali kepada Tuhan, bund" kata Langit tegas. bunda mengangguk.


"lanjutkan, tapi dapatkan restu orang tuamu dulu. terutama ibumu, jika mereka merestui untuk mendapatkan Zivannya, maka dapatkan dia dengan usahamu. terangkan keadaan Zivannya yang sebenarnya kepada orangtuamu, baru bunda akan memberi restu untukmu mendekati putriku" senyum bunda, Langit mengangguk dan tersenyum.


terimakasih bund atas dukungannya, terimakasih kak sudah memperbolehkan untuk memperjuangkan cinta Zivannya" kata Langit bersemangat, mereka tersenyum lebar.


"semangat Ndan menghadapi kak Dirgantara dan bang Matahari" senyum mentari, Langit tersenyum dan mengangguk.


hai...hai...hai... all readers. dukung terus karyaku ya, terimakasih banyak sudah memberi dukungannya selama ini..


luv....luv....luv U all readers... terimakasih semua...

__ADS_1


__ADS_2