Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 159


__ADS_3

Langit mengantar kepergian istrinya kebandara setelah pulang dari dinas, Zivannya mendapat penerbangan paling akhir untuk berangkat ke Jogja "ingat, yang. jangan lebih dari lima hari atau aku akan kesana dan membuatmu susah untuk berjalan esok harinya" tatap Langit menggenggam erat jemari belahan jiwanya "senang dong, kakak jemput dan weekend disana" kata Zivannya menggoda suaminya "nggak lucu, yang. kamu pulang itu hari biasa, aku bisa mati jika lama tidak tidur memelukmu" hembus nafas Langit Zivannya tertawa pelan menyandarkan kepala ke bahu suaminya.


"kamu tahu, yang. aku merasa lemah tanpamu" kecup rambut Langit "hhhmm...."dehem Zivannya memejamkan matanya "kenapa tidur nanti kamu ketinggalan pesawat" tepuk pipi Langit "ada kamu, by.... nggak mungkin telat" lingkar tangan Zivannya dipinggang suaminya "kamu belum berangkat aku sudah nggak rela nih" ujar Langit pelan "aku nggak rela kamu pergi tugas jauh dariku aja kamu tetap saja berangkat" gumam Zivannya "yaangggg" desis Langit Zivannya tersenyum menyembunyikan wajahnya didada suaminya "jangan lupa untuk mengabari setiap saat kalo nggak terima hukumannya didalam kamar ketika pulang" kata Langit sarkas. "kenapa kalau kita pergi yang banyak pesan kakak sih" lepas pelukan Zivannya. Langit meraih tangan istrinya untuk kembali memeluknya. "makanya jangan pergi, yang" kata Langit tidak rela, "kamu manggil suamimu apa" tanya Langit kesal, Zivannya nyengir. "kalo marah-marah terus aku nggak mau pulang nih" pandang Zivannya "jangan, yang. aku nggak marah hanya kesel tau kamu pergi lama" pandang Langit, Zivannya duduk dengan tegak.


"kenapa, yang" pandang Langit bingung "by, aku hanya menemani Rara wisuda bukan pergi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bertugas sepertimu" genggam jemari Zivannya, Langit memandang istrinya lekat. "bagaimana jika kamu harus bertugas dan meninggalkan diriku saat dirimu menjaga perdamaian kemarin apakah aku akan menahan kepergian mu, apakah jika aku tidak rela dan mau ditinggal akan membuatmu tidak jadi berangkat. aku pergi nggak lama by, setelah semuanya selesai aku akan pulang dengan utuh" kata Zivannya menatap Langit


"maafkan aku, yang. entah kenapa aku lepas kendali jika tidak melihatmu" kata Langit. "aaaiishhh.... jika tidak sedang di keramaian akan aku cium by" pandang Zivannya pelan takut terdengar orang lain Langit tertawa lebar mendengar ucapan Zivannya "berarti kamu juga tidak rela kan meninggalkanku" naik turunkan alis mata Langit, Zivannya menggeleng "rela, by agar aku sadar perasaanku saat jauh dari mu apakah hatiku sepenuhnya menginginkan mu atau tidak" jawab Zivannya cepat. "apakah selama ini kamu tidak menyadari rasa itu" tanya Langit.


"sepenuhnya by, aku tidak bisa jauh darimu sudah merasa nyaman saat tidur kamu memelukku, mendengar deru nafasmu membuatku nyenyak dan merasa tenang" angguk Zivannya tersenyum. "olahraga malam membuatmu berteriak...." ujar Langit belum selesai namun Zivannya sudah menutup mulutnya agar diam "iiisshhh..... ngomong nggak ada rem nya" pandang Zivannya tajam. "pesawat ku udah mau berangkat" kata Zivannya memandang layar pemberitahuan. Langit tertawa menganggukkan kepalanya mengikuti langkah istrinya menuju gate keberangkatan, "hati-hati selama disana, yang. kabari aku selalu" senyum Langit memeluk istrinya, Zivannya mengangguk mencium punggung tangan suaminya yang mengecup keningnya lama. Zivannya melambaikan tangan berjalan menuju lorong keberangkatan.


tiba di Jogja, Zivannya menyalakan kembali ponselnya untuk mengecek keberadaan Rara "dimana" tanya Zivannya melihat sekitar. "kanan" pandang Rara, Zivannya segera menoleh kearah kanan tempatnya berdiri berjalan ke arah sahabatnya yang tersenyum lebar "dah dari tadi" peluk Zivannya "lumayan" jawab Rara "kembali kuliah bu" tawa Rara Zivannya tertawa lebar "ya... let's pergi malam Ra" naik turunkan alis mata Zivannya, Rara tertawa ngakak mendengar ucapan sahabatnya "let's ride" angguk Rara Zivannya segera mengangkat tangan kanannya keatas bersemangat mereka beriringan menuju mobil Rara "Ra, aku laporan komandan dulu" kata Zivannya, Rara mengangguk.


"hallo, by" salam Zivannya melambaikan tangan, Langit tersenyum menatap istrinya di layar ponsel. "barusan sampai, yang. ini baru ke parkiran bandara" perlihatkan Zivannya Rara melambaikan tangan Langit menatap mereka berdua yang sedang mengobrol sambil berjalan. "langsung kerumah Rara, yang" tanya Langit, "nyari angin malam dulu, by. nongkrong dicafe makan" jawab Zivannya, Langit menghembuskan nafasnya "baiklah jangan terlalu malam tidak baik untuk kesehatan" jawab Langit Rara dan Zivannya tertawa, "baik ndan di copy" kata Rara. "ntar kita nongkrong komandan bisa ikutan hangout bareng deh" sarkas Rara, Langit mendengus pelan.


"udahan by, mobilnya udah ketemu kita mau pulang dulu, ntar aku chat kalo mo tidur" kata Zivannya, Langit mengangguk mematikan panggilan mereka berdua "waktu kamu berangkat gimana dia" tawa Rara "posesifnya mengalahkan sifatnya yang dingin" tawa Zivannya, "nggak rela ditinggal" tawa mereka. "kalo tau kita ke tempat malam bakalan ngamuk dong" toleh Rara "nggak juga dia lebih takut aku nggak pulang" tawa Zivannya, Rara tertawa lebar. "hanya kita berdua Zi hanya berdua" senyum Rara "dari awal juga kita hanya berdua Ra, kita terlalu nyaman dengan mereka" hembus nafas Zivannya Rara mengemudikan mobil menuju cafe yang ramai dengan anak muda

__ADS_1


"gimana rasanya jadi istri abdi negara" senyum Rara berjalan menuju ke dalam cafe "menyenangkan ketemu dengan istri abdi negara lain yang beragam berasa bocil aku saat ketemu dengan mereka" tawa kecil Zivannya "karena berasa paling muda" tawa Rara "salah satunya mungkin tapi pengalaman mereka jauh lebih banyak saat suami nya tugas lama nggak kebayang gimana rasanya sendirian membesarkan anak-anak sendirian" hela nafas Zivannya, Rara menepuk bahu Zivannya. "aku juga tidak mau membayangkannya" geleng-geleng kepala Rara mereka saling berpandangan dan tersenyum lebar.


"apa ada cerita abdi negara lain" toleh Zivannya duduk "just say hello aja Zi mungkin karena aku terlihat sendiri jadi mereka mencoba untuk mengenalku lebih dekat" jawab Rara melihat menu "apa intens" naik turunkan alis mata Zivannya mencoba mengulik Rara "tidak, aku tidak mau terjebak dalam kekosongan hati dan membuatku malah terperosok terlalu dalam, masih ada kebahagiaan lainnya untuk aku lakukan" geleng Rara Zivannya mengangguk memesan minuman panas dan makanan ringan "kita akan tidur dimana" tanya Rara "rumahku lah Ra lama kita tidak pulang" jawab Zivannya Rara tersenyum "ya.... ya..... ya...." angguk-angguk Rara.


pesanan mereka datang segera makan sembari mengobrol banyak hal sesekali laki-laki yang ada disekitar mereka melirik dan memperhatikan tingkah mereka yang tidak ada jaim-jaimnya saat makan dan mengobrol berdua "kebiasaan kalo berdua lupa dengan sekitar" datang seseorang mereka menoleh dengan cepat "lho disini juga" senyum Rara, "tidak sengaja berkumpul dengan teman disebelah sana" tunjuk Regan ke arah beberapa temannya yang sedang melihat mereka


"menemani Rara wisuda Zi jadi pulang kesini" tanya Regan, Zivannya mengangguk tersenyum. "bagaimana kabarmu apakah baik-baik saja" tanya Regan.


"baik mas, kayaknya mas dosen juga terlihat baik-baik saja" angguk Zivannya, "tidak begitu karena patah hati mendengar kalau ada seseorang yang sudah tidak lagi sendiri" senyum Regan, Zivannya tersenyum "semoga mas dosen segera menemukan pengganti yang lebih baik dari gadis itu mungkin belum jodohnya jadi tidak bertemu di satu tujuan" makan Zivannya.


"besuk ketemu di kampus kalau begitu" senyum Regan. "Ok mas makasih banyak telah menyapa kami" senyum Rara mempersilahkan Regan untuk kembali ketempat teman-temannya berkumpul.


Rara dan Zivannya tersenyum lebar saling bertatapan tanpa bersuara kembali makan "ternyata dia tahu kamu sudah menikah" pandang Rara "mungkin melihat media sosial kita yang kadang heboh sendiri" jawab Zivannya sekenanya, Rara mengangkat bahunya tanda tidak mau memikirkan lebih jauh "habis ini kita kemana" tanya Zivannya "ganti tempat nongkrong aja. kalo udah bosen baru pulang" jawab Rara, "Ok" angguk Zivannya segera menghabiskan makanannya tanpa sisa "tumben makan agak banyak" lihat Rara, "heemmm..... karena menggunakan tangan sendiri untuk makan mungkin" jawab Zivannya cepat Rara tertawa, "gimana traveling mu kemarin" tanya Zivannya menatap sahabatnya.


"biasa aja harusnya ke luar biar dapat pengalaman lebih seru" kata Rara "apa karena bosan sendirian" tanya Zivannya Rara menggeleng "mungkin karena aku terlalu keras pada diri sendiri jadi membuat banyak sekali rasa kesepian" jawab Rara. "kenapa aku merasa kamu malah lebih siap menghadapi kesendirian daripada aku dulu ya" minum Zivannya Rara menggeleng pelan. "justru karena aku melihatmu membuatku tersadar kalo sesuatu yang kita pegang erat pasti suatu saat akan lepas jika itu bukan untuk kita, sekuat apapun kita menahannya ada yang lebih berhak mempertahankannya yaitu pemilik semesta bukan" pandang Rara Zivannya tersenyum "benar, sang maha pencipta yang menentukan apakah kita bisa dengan hati ikhlas menerima semuanya ataukah dengan penolakan menerima semua jalan hidup kita" topang dagu Zivannya.

__ADS_1


"apa kita terlalu percaya bahwa kecantikan kita dapat membuat laki-laki bertekuk lutut kepada kita begitu kah" pandang Rara "mungkin sehingga kita terlena menahan mereka hanya untuk kesenangan sesaat" senyum Zivannya, Rara menghela nafasnya panjang "gimana dengan semua yang telah kita capai kalo pada akhirnya kita hanya sendiri" pandang Rara "belajar dari perjalanan hidup kita sendiri Ra, belajar untuk menjadi manusia yang membuat kita lebih ikhlas dan berserah diri. apapun yang harus terjadi maka akan terjadi bukan" senyum Zivannya Rara menganggukkan kepalanya.


"aku yang mengemudikan deh Ra pingin nongkrong di jalan legendaris nih. healing yang membuat ku kangen untuk selalu kembali kesini, semoga suamiku bisa bertugas disini aja" senyum Zivannya. Rara tertawa kecil "dengan kemampuan suamimu kayaknya lama untuk berpindah ke daerah pasti pusat lebih membutuhkannya" geleng Rara beranjak dari duduknya Zivannya menghela nafasnya panjang mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu. "dulu kak Aga juga akan dipindah tugaskan ke pusat setelah menjaga perbatasan karena akan naik jabatan dan sekarang aku justru mengalaminya dengan kak Langit" angguk Zivannya "jika memang itu yang harus kita jalani sejauh apapun kita melangkah menghindar pasti akan kesana juga Ra walau dengan kejadian apapun sebelumnya" kata Zivannya Rara mengangguk.


Zivannya membayar semua pesanan mereka berdua di kasir "jadi banyak duit nih sekarang" senyum Rara "hhhmmm..... jadi istri yang lebih nurut juga aku sekarang" angguk Zivannya berjalan keluar mereka tersenyum lebar. membuatku lebih menghargai dan mensyukuri apa yang terjadi sekarang Ra" jawab Zivannya Rara mengangguk masuk kedalam kendaraan mereka Zivannya segera melajukan mobil meninggalkan cafe.


pagi hari


"jam berapa" lihat sekitar Rara "10" jawab Zivannya meminum coklat panasnya Rara kembali menaikkan cover bed menutupi seluruh tubuhnya "jam berapa ke kampus" tanya Zivannya mengingatkan Rara "oh iya.... lupa" buka cover Rara dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, Zivannya menggelengkan kepalanya membereskan peralatan tidur sahabatnya itu kemudian bersiap-siap untuk pergi menemaninya ke kampus yang sudah lama tidak dilihatnya itu.


hai..... hai..... hai..... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


luv...... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2