Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 126


__ADS_3

Zivannya mendorong troli berisi tas bunda dan ayahnya untuk dibawa ke bagasi, setelah menyelesaikan semua prosedur sebelum keberangkatan, Zivannya duduk di samping ayahnya dan meletakkan kepalanya dibahu ayahnya yang masih tampak tegap, ayah mengelus kepala Zivannya. "dek, udah mau berangkat belum" toleh bunda, Zivannya memperhatikan pengumuman yang tertera di layar besar. "udah bund, ayo. tumben kagak delay" berdiri Zivannya meraih tangan bundanya agar berdiri dengan pelan.


"ayah ditolongin dek" rajuk ayah, bunda memutar bola matanya melihat tingkah suaminya yang lebay. Zivannya meraih kedua tangan ayah dan menariknya cepat. "kalo ada Raka, udah disuruh pake kursi roda" kata Zivannya, ayah tertawa berjalan dengan gagah. bunda dan Zivannya tersenyum saling memandang satu sama lain melihat ayah yang sumringah. mereka berjalan menuju gerbang keberangkatan yang akan membawa pesawat mereka terbang lepas landas.


tiba dibandara Jakarta, Zivannya mengambil bagasi. "udah bener dek" tatap bunda melihat bagasi yang diambil Zivannya, "udah bund" angguk Zivannya, "ayah kemana" tanya Zivannya. "biasa udah jalan duluan" kata bunda, Zivannya mengangguk mendorong troli keluar, Langit berdiri melihat Zivannya yang berjalan keluar. "aahhh.... udah dijemput rupanya" senyum bunda menepuk bahu Zivannya lembut, Zivannya menoleh kearah bunda melihat, sosok Langit sudah berdiri tersenyum lebar melihat kedatangan mereka, Zivannya mengangguk memperlambat laju trolinya agar tidak buru-buru bertemu dengan Langit. "cepetan dek, udah ditunggu" kata bunda, Zivannya mengangguk pelan. Langit mencium punggung tangan bunda dan memeluknya pelan. Zivannya yang datang belakangan melihat Langit yang senyum-senyum senang melihat Zivannya pulang,


"inget pulang, yang" pandang Langit, Zivannya nyengir mencium punggung tangan Langit yang mengecup kening dan memeluknya erat. "kebiasaan kalo ketemu jalannya dilambat-lambatin" sentil kening Langit, Zivannya mengusap keningnya menyerahkan troli bagasi ke tangan Langit berjalan beriringan mengikuti langkah ayah dan bundanya yang telah lebih dahulu melangkah. "udah selesai periodenya" tanya Langit, "udah" jawab Zivannya. "nggak sakit lagi kan" toleh Langit, Zivannya menggeleng. "kalo mau dapat periode, apakah bisa diminimalisir sakitnya" tanya Langit menatap Zivannya, "nggak bisa kak" geleng Zivannya.


"apa kamu nggak kangen aku, yang" tanya Langit, Zivannya menoleh mengangguk. "tapi kenapa ketemu aku lesu gitu" tanya Langit, "karena aku tau nanti tubuhku pasti jadi biru-biru" jauh Zivannya mendekati ayah dan bundanya, Langit tergelak pelan menutup mulutnya dengan punggung tangan tidak menyangka jawaban Zivannya membuatnya lebih menginginkannya sekarang. "aishh... kebiasaan anak itu, dasar" kata Langit berjalan cepat agar mengimbangi ketiga orang yang berada didepannya.


"langsung dari kesatuan Lang" tanya ayah duduk disamping bunda, "siap, iya jenderal" angguk Langit start engine mobil. "mau pulang langsung atau mau kemana dulu bund" tanya Zivannya. "enaknya kemana yah, makan dulu aja ato gimana" tanya bunda. "pulang aja lah, mampir kemana lagi" tanya ayah, bunda menggeleng. "pulang kak" tepuk bahu Zivannya pelan. "kerumah dinas atau kerumah ayah" goda Langit. Zivannya menatap Langit kesal. "siap, laksanakan" senyum Langit, Zivannya menurunkan topinya lebih dalam dan merebahkan kepalanya kesamping bodi mobil.


"yaa... anak ini, ada calon suaminya jemput malah tidur lagi, kebanyakan begadang nih kemarin" kata ayah, Zivannya diam tidak menjawab sahutan ayah. "emang kemana yah" tanya Langit penasaran. "rendevous malam lah, sama ayah" jawab ayah spontan, segera menatap bunda dan Langit tersenyum merasa bersalah. "udah tau kan kalo ayah sama anak perempuannya gimana, dulu waktu Mentari masih sendiri juga gitu, sampai sakit karena keseringan keluar malam" tepuk bahu bunda. "mumpung adek masih sendiri bund, kemana aja nggak ada yang ngelarang, walau kalo kemana-mana sudah dipantau" lirik ayah, Langit tersenyum mengangguk.


"dek" panggil bunda, Zivannya sudah tertidur. Langit tersenyum melirik Zivannya. "anak ini kalo ada kesempatan untuk tidur selalu tidak buang-buang waktu" geleng bunda, "biarin aja bund, kalo ada Langit malah aman jika dia tidur ada yang jagain. takutnya kalo pas jalan sama orang lain, dia ketiduran sembarangan gimana" kata ayah, Langit menatap ayah dari kaca reflektor depan. "baru kepikiran kalo nggak diomongin gini, pasti kelupaan" kata Langit, "nah, kan. anak ini suka gitu aja tidur, terkadang ayah suka was-was ngijinin dia pergi. mungkin mamanya dulu juga gitu kali ya" pandang ayah menatap Langit. "dirumah ada makanan nggak ya bund" tanya ayah, bunda menghela nafasnya panjang. "pulang nak Langit" kata bunda, Langit tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"yang, bangun" tepuk pipi Langit disamping sisi pintu mobil Zivannya, Zivannya membuka matanya pelan. "udah sampai" tanya Zivannya menatap kedepan, "dah" jawab Langit melepas seat belt Zivannya. Langit menahan tubuh Zivannya, "makasih kak" kata Zivannya mencengkeram erat kedua lengan Langit karena tubuhnya yang tidak seimbang. "kamu kenapa, yang" kata Langit. "kurang healing" jawab Zivannya santai melepas topinya, Langit mengecup sekilas bibir Zivannya. Zivannya menatap Langit kesal, Langit nyengir mengusap rambutnya "habis kamu, yang" bisik Langit ditelinga Zivannya, Zivannya menggeser badan Langit agar bisa berjalan kedalam rumah.


"non dek, jahe hangat sama coklat panas untuk den Langit" kata Marni ketika melihat Zivannya masuk kedalam rumah, Zivannya mengangguk. "makasih mbak" angguk Zivannya masuk kedalam kamar, Langit menaruh tas jinjing bunda, "Lang" panggil ayah. "siap" toleh Langit berdiri tegak dan mendekat. "kita ke ruang belakang dulu sebentar" isyarat dagu ayah. Langit mengangguk dan mengikuti langkah ayah menuju ruang santai dibelakang. mereka berbicara cukup lama dengan Dirgantara dan Matahari.


"yah, makan" lihat Zivannya dari jauh. mereka menoleh cepat dan mengangguk beranjak dari tempat duduk menghampiri Zivannya. "mau makan dulu atau membersihkan diri dulu" pandang Zivannya, "bersih dulu" senyum Langit mengusap punggung Zivannya, "aku udah lapar" paling Zivannya datar, Langit mengangguk. Zivannya melayani Langit mengambil makanan setelah bunda dan ayah. "buat siapa" tanya Langit menahan tangan Zivannya saat akan mengambil nasi dipiring kembali. "aku" jawab Zivannya, Langit menggeleng. Zivannya menghela nafasnya dan meletakkan kembali piring ditempatnya, duduk dan menerima suapan dari Langit.


"berasa kayak anak TK tau nggak kak" pandang Zivannya mengunyah makanannya. "makan yang bener, kamu kalo makan pasti nggak banyak dan sisa. kasian ayam yang mengais-ngais sisa makan kalo banyak makanan yang terbuang" pandang Langit, Zivannya memutar kepalanya menatap ayah dan bunda yang pura-pura nggak ngliat Zivannya yang kesal. "kan, udah dibilang kalo makan banyakan biar gendut dikit" kata bunda, Zivannya meminum air mineralnya.


"besuk kita pagi-pagi harus ke kantor pusat, yang. jadi tidur cepat" kata Langit menyuapi Zivannya. "ngapain, sama ayah bunda aja. aku nunggu dirumah" kata Zivannya menggeleng, ayah tersedak mendengar ucapan Zivannya yang asal, bunda segera memberi ayah gelas air mineral. "anak ini, kalo ngomong suka se enaknya kalo sama ayah, coba kalo sama bunda, iya-iya aja" pandang ayah.


Langit menatap Zivannya yang sudah dalam mode tidak mau ikut. "dek" panggil bunda, Zivannya menghentikan tangannya untuk membereskan piring ayah dan bunda. "iya, bund" angguk Zivannya patuh, Langit tersenyum menang. Zivannya menaruh piring kotor ke dapur yang diambil alih oleh marni.


"non dek, dibuatin lagi coklat panas nya" tanya Marni. "nggak usah mbak, orangnya mau pulang" geleng Zivannya berbalik, Langit menatap Zivannya lekat. "mau pulang kan" tanya Zivannya nyengir. "buatin" tatap Langit. "mbak" ujar Zivannya belum selesai berbicara, Langit menutup mulut Zivannya dan memutar badannya untuk kembali ke dapur, mbok senyum-senyum melihat kelakuan mereka berdua. Zivannya menahan nafasnya melangkah merebus air dan membuatkan Langit coklat panas. "jadi membersihkan diri nggak kak" pandang Zivannya, Langit mengikuti langkah Zivannya masuk kedalam kamar. "aku bawa tas masih di kendaraan, yang" kata Langit di pintu kamar.


Zivannya keluar menuju garasi mengambil tas ransel Langit berisi pakaiannya, mengeluarkan semua pakaian yang dibawa, memasukkannya ke walk closet. "yang" buka pintu bathroom Langit, Zivannya menunjuk pakaian yang bersih diatas ranjang. "baju dinasnya mau dipake lagi besuk atau ganti" tanya Zivannya menatap Langit. "ganti dengan yang satunya" geleng Langit, Zivannya memasukkan ke box laundry, mempersiapkan pakaian dinas untuk Langit besuk pagi. "yang ini kak" ambil Zivannya dari deretan gantungan baju, Langit mengikuti Zivannya masuk ke walk closet melihat pakaian dinas yang ditangan Zivannya. "yang satunya" geleng Langit, Zivannya mengembalikan dan mengganti dengan yang lain. Langit mengangguk saat Zivannya memperlihatkan pakaian dinasnya yang lain. Zivannya menaruh ditempat yang gampang untuk dilihat Langit.

__ADS_1


"kak, besuk berangkat dinas sendiri atau aku nyusul aja" tanya Zivannya menatap Langit yang meraih pinggang Zivannya agar merapat kepadanya. "pernyataanmu sama aja, yang. sama-sama mengatakan kamu nggak mau berangkat. kita bareng, yang. kita akan memulai sidang pra nikah" kata Langit, Zivannya membulatkan matanya lebar mendengar ucapan Langit. Langit segera mencium lembut bibir Zivannya menahan kepala kekasihnya agar tidak bergerak menjauh. Zivannya mendorong tubuh Langit untuk meminta penjelasan, tapi Langit menahan kedua tangan Zivannya. "kak" terengah-engah Zivannya menjauh dari badan Langit.


"apa maksudnya sidang" pandang Zivannya marah. Langit mendekat dan mencium kembali bibir Zivannya, menahan tubuhnya didinding agar tidak memberontak. "kak" lemas Zivannya tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri, Langit mengangkat tubuh kekasihnya kedalam pelukannya, Zivannya melingkarkan tangannya di leher Langit dan kaki melonggar dipinggang agar tidak jatuh.


"kenapa kak" pandang Zivannya lekat. "apanya" senyum Langit menatap wajah kekasihnya. "kenapa buru-buru dan tidak mengatakannya lebih dulu padaku" kata Zivannya, Langit duduk dengan masih mengangkat Zivannya. "apanya yang buru-buru, semua surat-surat legalitas yang diperlukan sudah sampai di kesatuan pusat, yang. bukan aku yang memutuskan cepat atau lambat, prosedur nya memang begitu" belai rambut Langit, Zivannya menggeleng menghembuskan nafasnya berat.


"aku kira masih dua atau tiga bulan lagi" tatap Zivannya, Langit memberi kecupan di leher Zivannya. "apa aku bisa menunggu selama itu, yang" bisik Langit memberi banyak kecupan dileher Zivannya, "kita bicara dulu" jauhkan tubuh Zivannya. Langit menghela nafas berat. "dalam keadaan begini kamu masih mau bicara, yang. biarkan aku menuntaskannya baru kita bicara. kamu tau berapa lama kamu pergi hampir dua minggu, yang. dua minggu" pandang Langit meradang. "selama itu proses surat-surat aku yang ngurus, mengambil dan memberikan berkas kesetiap tingkatan prosedural. "besuk kita harus menghadap bersama untuk mengurusnya berdua. kamu dengan pakaian dinas yang sama denganku" kata Langit. "kenapa kamu nggak bilang kalo aku harus berpakaian seperti dirimu kak" kaget Zivannya menegakkan duduknya.


"oh... gosh..... kenapa harus ditanyain satu-satu baru ngomong sih, aku belum mempersiapkan semuanya. kenapa kamu nggak memberitahuku dari tadi" panik Zivannya, Langit menahan bahu Zivannya agar tenang. "tarik nafas, yang... keluarkan..." pandang Langit Zivannya menuruti perkataannya. "semuanya udah disiapin sama mbok dan kak Mentari sebelum berangkat, kamu tidak usah kuatir. besuk tinggal berangkat" kata Langit, Zivannya menggigit bibir bawahnya cemas. Langit menarik dagu Zivannya kebawah agar tidak lagi menggigit bibir bawahnya.


"semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang menyeramkan, yang" pandang Langit meraih tubuh Zivannya merapat ketubuhnya. Zivannya mengatur nafasnya agar berdetak normal kembali akibat terlalu cemas, "ada aku yang akan menemanimu besuk, jadi tidak ada yang perlu kamu kuatirkan. Ok..." usap-usap punggung Langit. Zivannya merebahkan kepalanya dipundak Langit hingga tertidur, Langit menoleh dan melihat Zivannya yang terlelap, dengan pelan Langit beranjak membawa Zivannya keranjangnya untuk diletakkan, berjalan keluar menutup pintu setelah memastikan Zivannya masih tidur. "udah tidur lagi" pandang ayah, Langit mengangguk dan mendekat kearah ayah duduk, "bunda kemana yah" tanya Langit tidak melihat keberadaan bunda. "tidurlah, mau kemana lagi" kata ayah, Langit tertawa pelan mengangguk.


hai.... hai.... hai.... all readers, terimakasih karena telah mampir untuk membaca karyaku ini. terimakasih banyak semuanya.


luv....luv....luv... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak.

__ADS_1


stay healthy ...


__ADS_2