Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 65


__ADS_3

"Ra, bangun. jadi nganter nggak. aku tinggal nih" ketuk kamar Zivannya. dari luar kamar terdengar Rara tergesa-gesa turun dari ranjang , sekian detik kemudian terdengar suara gedebum, Rara terjatuh. Zivannya menggelengkan kepalanya bersandar didinding luar kamar.


"kamu nggak papa Ra" datang Dimas setelah mendengar suara terjatuh dari dalam kamar Rara, Rara membuka pintu kamar sambil meringis.


"ishhh, sakit nih, aku jatuh" kata Rara. dilihatnya Aga mengeluarkan tas jinjing besar dari dalam kamarnya.


"beri waktu 10 menit, aku akan selesai" tutup pintu Rara. Dimas menghela nafasnya panjang. "gimana ya dia nanti kalo kita nggak ada" kata Dimas.


"gimana apanya dim" tanya Zivannya. Dimas menoleh, "aku nggak bisa bayangin gimana anak itu kuliah sendirian nanti, biasanya selalu dibantu kita berdua, kalo kita nggak ada, apa dia bisa ngerjain tugas atau hadir di mata kuliah pagi" minum Dimas, Aga menyesap kopi hitamnya.


"pasti bisa, dia akan menyesuaikan dengan keadaan. sebenarnya jika dia melakukan apapun sendiri maka akan lebih mandiri, jadi tidak tergantung sama orang lain nantinya" tatap Zivannya, Dimas mengangguk. Aga mendekatkan kemulut Zivannya roti panggang dengan coklat diatasnya.


"makasih by" senyum Zivannya menguyah, Aga mengangguk. "sebenarnya Zi, ada perusahaan yang ingin merekrut mahasiswa baru dalam project membuat tempat perindustrian. kemarin mereka mengirim mail kepadaku dan aku ingin merekomendasikan padamu mengenai projects ini, tapi tampaknya kamu akan sulit untuk memilih antara ikut atau tidak mengingat kak Aga akan bertugas diperbatasan" kata Dimas, Zivannya mengangguk. "kamu bisa mencobanya dim, pasti bisa. jangan menyerah, cari duit yang banyak" tawa Zivannya, Dimas tersenyum.


Rara sudah rapi dan segera bergabung dengan mereka bertiga untuk sarapan, mobil Aga keluar dari garasi. "ingat untuk memberi kabar jika mau pulang. kalian cuma 5 hari disana. jangan lupa untuk pulang bawa ponakan" goda Rara, Zivannya tersenyum menatap keluar jendela mobil.


"titip rumah ya Ra, jika ada apa-apa kabari ya dim" pesan Zivannya.


"siap" jawab Rara dan Dimas barengan, mereka tertawa ngakak.


"jaga diri kak, Zi. aku tunggu kabar baiknya" salam Dimas, Aga tersenyum.


Aga dan Zivannya bergerak menjauh menuju tempat check in dan penukaran tiket. Aga menautkan jemarinya erat. agar Zivannya tidak jalan kemana-mana, kebiasaannya yang nggak bisa diam disatu tempat membuatnya terkadang harus ekstra melihatnya dari jauh.


"by nggak harus selalu gini lho" angkat tangan Zivannya memperlihatkan kedua tangan mereka yang bertautan.


"kenapa memangnya nggak boleh, malu atau nggak mau orang liat kamu udah punya laki" tanya Aga, Zivannya menggeleng. Aga duduk tanpa melepas tautan jemari mereka. "asal kamu nggak kemana-mana aku lepas nih yang, kebiasaannya kalo nunggu gini nggak bisa duduk tenang. aku kayak orang yang nyari anaknya. aku penasaran anak kita nanti bisa tenang nggak ya atau ikut mamanya yang suka jalan" tatap Aga, Zivannya tersenyum lebar dan mengangguk.


Aga melepaskan tangannya dan menaruhnya di bagian kaki atas Zivannya. "by, ini dihitung honeymoon nggak ya tanya Zivannya pelan. "setiap hari kan kita honeymoon, yang" kata Aga. Zivannya memukul bahu Aga pelan. "ishhh, by.. kita menikah udah setahun lebih lho, ini pertama kali kita pergi jauh berdua. tanpa sibuk kerja dan kuliah" rebah kepala Zivannya dibahu Aga. "maaf ya Zi, aku baru membawamu pergi jalan-jalan setelah lama kita menikah" kecup rambut Aga. "maafkan aku juga by, kita menikah juga dalam keadaan yang di luar rencana dan dugaan, terkesan terburu-buru. mama sakit, pergi selama-lamanya, ngurus pernikahan di kesatuanmu, ngurus peringatan kepergian mama. kuliah, KKN, sekarang mau tugas akhir dan kamu mau pindah tugas" hembus nafas Zivannya berat. "satu tahun yang berat diawal pernikahan bukan" kata Zivannya pelan, Aga menautkan jemarinya erat. "tapi aku sangat-sangat bersyukur Tuhan memberiku kesempatan bertemu denganmu disaat yang tepat, dengan orang yang tepat untuk menjagaku" kata Zivannya.


"terimakasih by, terimakasih atas segala yang kau bagi bersamaku. apapun itu aku bahagia bersamamu. semoga setelah ini kita bisa berkumpul bersama dan membuat anak lebih giat lagi" tatap Zivannya lekat. Aga tergelak mencium punggung tangan istrinya yang selalu membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"aku tersentuh lho dengan ucapan mu, yang. tapi pasti ujungnya bikin aku speechless" kata Aga. Zivannya mengerucutkan mulutnya.


"terimakasih juga sayangku telah menerima kekurangan dan kelebihanku, aku mencintai dan menyayangimu tanpa syarat. terus menjadi istri yang nurut sama suaminya dan menjadi mama yang baik bagi anak-anak kita kelak dan satu lagi, tentu saja aku akan terus kerja keras membuatmu mengerang keenakan" senyum Aga. mereka tertawa berdua.


"ishh... ujungnya kesana juga emangnya cuman aku doang yang enak" kata Zivannya, Aga tergelak. "aku lebih enak, yang" angguk-angguk Aga. Zivannya menjauh dari kursinya, Aga tersenyum dan memberi isyarat dengan tangan agar Zivannya merapat kembali. Zivannya menggeleng, Aga menggeram pelan, Zivannya nyengir bergeser kembali kesamping Aga.


pesawat yang membawa mereka untuk transit kejakarta sudah siap berangkat. mereka berjalan pelan dan mantap untuk berangkat liburan. tiba di Jakarta mereka menunggu dibandara selama dua jam untuk menuju bandara Osok Papua. Aga berkeliling bersama Zivannya selama menunggu, dua jam lebih mereka akhirnya berangkat ke Sorong Papua untuk berdestinasi wisata di Raja Ampat. perjalanan yang memakan waktu seharian terbayar dengan memandang keindahan pulau-pulau yang ada di Raja Ampat, waktu untuk snorkling, berpindah bermain pasir, menikmati keindahan pulau pianemo, batu pensil yang hanya ada satu, air terjun Batanta yang mengagumkan yang tak kalah indahnya diantara keindahan pulau-pulau yang ada di Raja Ampat. 5 hari yang sangat melelahkan untuk melakukan semuanya tapi terbayar dengan pandangan mata keindahan alami Raja Ampat, ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan, tiada duanya.


kulit Zivannya kembali terbakar matahari, sedangkan Aga hanya biasa saja. "nggak adil nih, padahal kita liburan bareng, tapi yang kliatan gelap aku doang" manyun Zivannya menanti kedatangan pesawat setelah perjalanan menggunakan kapal feri ekspres yang berjam-jam, Aga menoleh dan menoel pipi gembul Zivannya.

__ADS_1


"aku kan udah biasa, kalo kulitmu kan lebih putih dariku yang, masak aku nyari yang sama kulitnya. nggak seru dong" sandar kepala Aga dibahu Zivannya. Zivannya menghela nafas panjang.


"kembali lagi ke kehidupan normal dong by, pingin liburan lagi" terawang langit-langit Zivannya.


"yaaa.... berarti harus nyari duit yang banyak lagi dong untuk liburan" kata Aga. Zivannya tergelak.


"iya ya, kasian dong yang nyari duit sendirian. besuk aku bantu nyariin deh" kata Zivannya, Aga menyentil leher Zivannya. Zivannya mengelus lehernya.


"aku nggak butuh dibantuin untuk nyari duit..yang, kamu ada di sisiku dan saat aku membutuhkanmu itu sudah lebih dari cukup" kata Aga, Zivannya menoleh dan mengangguk.


"aku tau by, tapi terkadang aku merasa menjadi bebanmu tambah berat" kata Zivannya,


"yaa... terkadang bebanmu berat sih yang, kalo banyak gerak diatas" jawab Aga sekenanya, Zivannya tergelak memukul bahu Aga pelan.


"besuk-besuk aku nggak akan banyak gerak deh by, biar nggak berat" jawab Zivannya balik. Aga menutup mulut Zivannya cepat sebelum menyelesaikan kalimatnya.


"masih lama pesawatnya datang tanya Zivannya.


"nggak lama lagi, banyak yang pulang juga dari liburan, itu pasangan yang kemarin kita ketemu juga disana" isyarat Aga, Zivannya memejamkan matanya.


"badanku remuk by" kata Zivannya pelan. "tapi sebanding dengan panorama alam yang mengesankan" kata Aga, Zivannya mengangguk.


"aku lelah luar dalam by" kata Zivannya, Aga tertawa.


pesawat mereka mendarat dibandara Jakarta setelah menempuh perjalanan panjang.


"yang, mau kerumah ayah dan bunda dulu nggak" tanya Aga.


"mampir lah by, udah sampai sini juga, sekalian istirahat dirumah" angguk Zivannya. mereka segera masuk ke dalam taksi yang menunggu dibandara.


Zivannya membunyikan bel rumah, mbak Marni membukakan pintu, tersenyum melihat majikannya.


"selamat datang mbak, mas. ibu dan bapak baru keluar dari tadi pagi" lapor mbak Marni. Zivannya mengangguk dan tersenyum.


"makasih mbak, kita kekamar dulu" kata Zivannya.


"saya buatkan apa mbak" tanya Marni sebelum Zivannya masuk kedalam kamar.


"saya mandi dulu mbak, buatkan kopi dan jahe hangat buatan mbok untukku, nanti masakin mie kuah yang pedas, oke" senyum Zivannya senang. Marni memberi tanda Ok dengan jarinya. Zivannya masuk dan mendapati Aga sudah membersihkan dirinya lebih dulu, Zivannya menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya diwalk closet.


Aga keluar hanya mengenakan handuk yang memperlihatkan dadanya yang berisi. Zivannya membantunya mengeringkan punggungnya yang basah oleh air.

__ADS_1


"by, mbak Marni tadi aku mintain tolong membuat kopi item sama wedang jahe mbok" kata Zivannya, Aga memakai t-shirt dan celana pendek.


"aku mandi dulu, hubby minum dulu jahe nya" ingatkan Zivannya, Aga mengangguk dan mencharge ponselnya dan Zivannya. mengeluarkan semua pakaian yang ada didalam tas jinjing yang mereka bawa selama di Raja Ampat untuk dimasukkan ke box laundry, menunggu Zivannya selama mandi.


"lho by, kenapa masih disini, kan aku bilang buat minum jahe dulu, biar badanmu enakan" keluar Zivannya terkejut melihat keberadaan Aga yang masih didalam kamar. Zhivannya berjalan mengambil pakaiannya dan membungkus rambutnya dengan handuk kecil.


"ayo by" sentuh kepala Zivannya, Aga memeluk pinggang Zivannya dan membenamkan wajahnya diperut Zhivannya. "kenapa" sugar rambut Zhivannya. Aga membuka t-shirt istrinya dan menciuminya lembut.


"cepatlah tumbuh diperut mama anak-anak ku. biarkan papamu melihatmu tumbuh" doa Aga, Zhivannya mencium rambut Aga mengamini permintaan Aga.


"apa kamu mau aku untuk periksa ke dokter kandungan by, kenapa belum diberi anugerah itu walau kita berdua selalu bekerja keras untuk mewujudkannya" senyum Zhivannya. Aga mendongak dan menggeleng menatap wajah istrinya.


"mungkin emosi kita belum stabil untuk tahun-tahun ini, yang. makanya Tuhan belum memberi kita anugerah itu. karena kita sibuk dengan urusan lain. mungkin jika kita sudah lebih mapan dalam emosi dan keadaan maka itu akan datang dengan cepat" kata Aga, Zhivannya mencium bibir Aga lembut.


"Tuhan pasti memberi pada saat yang tepat" angguk Zhivannya mengusap bibir suaminya, Aga menekan kepala Zhivannya, menciumnya dengan tekanan yang besar, mengangkat kedua kaki istrinya untuk duduk dipangkuannya, Zhivannya melingkarkan kedua lengannya ke leher Aga dan membalas ciuman suaminya dengan cepat. Aga melepas underwear bra Zhivannya dan menyesapnya dengan kuat. Zhivannya memejamkan matanya mengerang dengan pelan, Aga meninggalkan banyak tanda disekitarnya. Zhivannya memandang Aga dengan berkabut asmara. Aga mengusap wajah Zhivannya mencium bibir istrinya yang sedikit bengkak.


Aga sudah meloloskan semua pakaian nya dan Zhivannya. permainan semakin panas, mereka saling memberi, saling menerima, saling berbagi. beberapa kali terdengar ******* dan erangan dari keduanya. setiap kali mereka melakukannya selalu dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"non, ini jahenya" sodor mbok saat Zhivannya keluar dari kamar. Zhivannya tersenyum dan duduk untuk minum. "the best nih buatan mbok" puji Zhivannya memberi tanda Ok. mbok tersenyum.


"darimana non" tanya mbok duduk dikursi depan Zhivannya, "habis dari Papua, liburan sebelum kak Aga tugas lagi" senyum Zhivannya.


"jauh banget non" kaget mbok.


"jauh aja mbok, nggak usah pake banget ishh... " tawa Zhivannya. Aga keluar dan duduk disebelah istrinya meminum jahe yang diminum Zhivannya tadi.


"hmmm... " minum Aga sampai habis, mbok segera mengambil teko kecil seduhan jahe yang dibuatnya.


"ini den, ditambah lagi" sodor mbok. mbak Marni datang membawa semangkuk mie instan kuah bertabur irisan cabe rawit merah dan dua telur pesanan Zhivannya. meletakkannya didepan Zhivannya. Zhivannya segera menggeser kedepan Aga, "hmmm" senyum Aga ceria segera memakannya dengan lahap.


"laper komandan" lihat Zhivannya, Aga mengangguk mantap. mbok dan mbak Marni tersenyum menatap kedua pasangan muda itu.


"mau saya buatkan lagi mbak" tanya Mbak Marni, Zhivannya menggeleng.


"nggak mbak makasih" senyum Zhivannya meminum jahe hangatnya setelah menuangnya lagi.


"bun-bun sama ayah kemana mbok" pandang Zhivannya.


"katanya ada pertemuan dengan teman apa gitu non" kata mbok, Zhivannya mengangguk.


"hai.... hai... hai.... all readers, dukung terus karyaku ya... jadiin favorit kalian... beri dukungannya.... terima kasih semuanya.

__ADS_1


luv......luv...luv... U all readers sekebon pisang goreng....


terimakasih semuanya


__ADS_2