Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 165


__ADS_3

Langit mengecup kening Zivannya setelah menerima salam sebelum dirinya berangkat kerja "hati-hati dijalan, by. ingat kamu punya istri yang menunggumu pulang" pandang Zivannya, Langit tertawa memeluk Zivannya erat. "iya, aku ingat selalu, terkadang malah kamu yang nggak ingat jika aku suamimu" usap kepala Langit, Zivannya membuka matanya lebar. Langit tergelak melihat paras istrinya yang imut "aku tunggu nanti, yang" senyum Langit memakai helmetnya. "helmet ku biar aku sendiri yang bawa, by" ambil Zivannya. Langit mengangguk dan melajukan motornya keluar dari kediaman Triastomo.


"dek, pake ini aja" keluar bunda dari dalam kamar menenteng gantungan gaun yang minimalis. "baru lagi bund" hela nafas Zivannya meraihnya, bunda tersenyum lebar, cepetan ganti, kita berangkat sekarang" jawab bunda masuk kembali, Zivannya melangkah ke kamar untuk mengganti bajunya. "sneaker nya warna sama dek" senyum ayah, Zivannya nyengir mengangguk. harus punya yah, sekarang wajib" jawab Zivannya, ayah tergelak melihat anak perempuan bungsunya. "ayo berangkat, nanti telat" keluar bunda dari dalam ruangan tidurnya dengan penampilan yang sempurna. Zivannya melangkah mengikuti langkah bundanya.


mobil segera meninggalkan rumah, "nanti ketemu dengan petinggi yang lain dek, karena ada acara antar kesatuan" kata ayah, Zivannya menoleh menatap ayahnya. "acara apa yah" kerut kening Zivannya tidak paham. "hanya mempererat persaudaraan antar lembaga abdi negara saja. kan dulu adek pernah ikut juga kenapa lupa" toleh ayah, "Zi lupa yah, maaf. dulu saat masih ada kak Aga kan" hela nafas Zivannya pelan, "iya, setelah itu kamu sama sekali nggak mau lagi ikut. kalaupun ikut juga dengan terpaksa" tawa ayah, Zivannya mengangguk pelan. "mungkin kamu ketemu dengan Langit nanti" tepuk punggung tangan bunda, "kenapa bisa" tanya ayah. "siapa tau nanti disuruh datang sama komandan tingginya, dengar-dengar dia anak kesayangannya sekarang" senyum bunda, ayah mengangguk, Zivannya menopang dagu menatap keluar jendela kaca mobil.


"berarti benar langkah Matahari meminta pendapat ayah dan Langit saat itu untuk pindah tugas keluar dulu. jika tidak maka dua-duanya tidak akan berkembang lebih tinggi, karena Langit tidak boleh keluar dari Jakarta dulu oleh komandannya maka Matahari memilih untuk menggantikannya" jawab ayah, Zivannya menoleh dengan cepat. "kenapa bisa begitu yah" tanya Zivannya tidak tahu menahu. "biasa dek, rotasi pemimpin akan terjadi, tapi karena Matahari dan Langit sama-sama berprestasi maka harus ada yang bertugas ditempat lain agar tidak membuat keahlian masing-masing menjadi terpusat di satu kesatuan. komandannya harus memilih salah satu dulu dan dia lebih membutuhkan Langit, Matahari lebih banyak berinteraksi dengan bawahannya sedangkan Langit lebih praktis dalam bertindak" kata ayah. "bentar lagi juga Matahari akan pindah ke Surabaya karena keahliannya yang diatas rata-rata seperti Langit. anak-anak ayah memang luar biasa semuanya" senyum ayah bangga, Zivannya menoleh menatap bundanya dan memeluknya dari samping, bunda mengelus lengan tangan anaknya itu. "bunda memang beruntung memiliki enam anak yang semuanya berbakti" senyum bunda. Zivannya mencium punggung tangan bunda, "ayah dan ibu adalah orang tua terbaik untuk kami" senyum Zivannya. ayah tergelak "tapi kalo ketiga orang pemuda itu berkumpul dan diberi latihan fisik sama ayah pada ngeliatin tampang garang" kata ayah, Zivannya tersenyum lebar "namun nggak ada yang berani protes yah" jawab Zivannya, "iya. padahal kalo mereka ngeroyok ayah pasti ayah langsung KO" tawa ayah, Zivannya dan bunda tertawa kecil.


mobil memasuki halaman kesatuan ayah dahulu bertugas, "pagi jenderal, mohon kearah sini" hormat seseorang memberi arahan untuk menuju ketempat yang dipersilahkan. ayah mengangguk dan menoleh kebelakang untuk memastikan bunda dan Zivannya berada disampingnya. "mohon maaf mbak, apakah bisa ke arah sini, biar bapak dan ibu berada dideretan depan" tunduk abdi negara membawa Zivannya untuk duduk disebelah yang berbeda dengan ayah dan bunda, Zivannya mengangguk dan mengikuti langkah abdi negara setelah bunda mengangguk melihat ke arahnya. Zivannya segera duduk dan melihat sekitar yang masih sibuk dengan para tamu dan abdi negara yang sedang mengatur jalannya pertemuan. Zivannya mengeluarkan ponselnya dan segera menyelusuri dunia maya miliknya yang lama tidak dilihatnya.


Zivannya membalas beberapa chat yang tertuju untuk nya tanpa memperhatikan sekitarnya. saat Langit memasuki gedung pertemuan dia segera menyisir pandangan mencari keberadaan istrinya yang datang bersama kedua orang tuanya. Baskara segera membisikkan sesuatu, Langit menoleh dengan cepat ke arah Zivannya dilihatnya istrinya sedang menunduk duduk agak jauh dari kedua orang tuanya yang berada didepan, Langit mengikuti langkah komandannya dengan gagah diikuti oleh ajudan mereka masing-masing.

__ADS_1


tatapan mata Langit selalu menatap istrinya yang sama sekali tidak peduli dengan sekitar hingga membuatnya harus ekstra mengamatinya jika nanti ada apa-apa. Baskara menyerahkan ponsel Langit agar dapat menghubungi Zivannya, Langit segera mengirim chat kepada Zivannya. istrinya sama sekali tidak terlihat menegakkan kepalanya untuk melihatnya, Langit menggeram pelan melakukan panggilan segera, Zivannya mengerutkan keningnya melihat notifikasi panggilan dari Langit.


"lurus depan sebelah kiri" jawab Langit segera setelah nada panggilan terdengar, Zivannya segera menoleh mengikuti arahan suaminya. Zivannya tersenyum memandang suaminya yang terlihat gagah dan tampan, ia segera membalas chat suaminya. Langit terlihat tersenyum selesai membaca chat Zivannya. acara segera akan dimulai, Langit segera berkonsentrasi memperhatikan, sesekali berbincang dengan komandan tertingginya. ayah tersenyum melihat Langit yang tampak sibuk berkoordinasi dengan beberapa orang dari kesatuan lain.


Zivannya sesekali menatap suaminya yang juga melihat ke arahnya. beberapa gadis melihat Langit yang tampak berbeda, hal yang selalu ditemuinya ketika ada dalam acara yang melibatkan keduanya. hanya pandangan dan bukan memiliki yang terkadang Zivannya pikirkan selama ini jika suaminya menarik di mata perempuan lain. "yang, banyak perempuan melihatmu memuja" chat Zivannya, Langit melihat ponselnya tersenyum disudut bibirnya dan membalas pesan dari istrinya. "biarkan mereka hanya bisa melihatku tapi tidak bisa memilikiku ataupun menyentuhku, hanya kamu yang boleh menyentuh ku dan melihat ku seutuhnya, apalagi jika tidak memakai sehelai benangpun" balas Langit, Zivannya menutup mulutnya melihat pesan dari Langit. "tentu, nanti akan aku lihat seutuhnya untuk memastikan semuanya utuh saat pulang" kirim chat Zivannya, Langit tersenyum lebar melihat tulisan istrinya.


Baskara menghela nafasnya melihat Langit yang memegang ponselnya melihat pesan dari istrinya. "ndan dipanggil" bisik Baskara, Langit segera mendekatkan tubuhnya untuk berbincang dengan komandan tertingginya, hingga acara berlangsung sampai akhir, Langit meminta ijin sebentar untuk bertemu dengan istrinya, Zivannya masih duduk dengan tenang melihat kedua orang tuanya sedang berbincang dan mengobrol dengan teman-temannya. "yang" sentuh kepala Langit, Zivannya mendongak dan tersenyum melihat Langit berdiri di belakangnya "mau kembali ke kesatuan kak" tanya Zivannya Langit mengangguk menangkup kedua pipi istrinya "he em, jangan lupa untuk kesana atau kamu mau ikut kesana bersamaku" senyum Langit, seorang gadis mendekat.


"hai, apa bisa berbicara sebentar" katanya pelan. Zivannya dan Langit menoleh menatap gadis itu, "ya, adakah yang bisa kami bantu" senyum Zivannya menegakkan tubuhnya, Langit menaruh tangan kanannya dikepala istrinya menatap Baskara yang memberinya isyarat untuk segera kembali. "apakah saya bisa berkenalan dengan Langit" tanyanya tegas, Langit menatap istrinya dan mengecup keningnya lembut, "aku kekesatuan dulu, yang. jangan lupa untuk kesana sepulang ini" tatap Langit tanpa menanggapi gadis itu, Zivannya menatap Langit dan gadis itu bergantian menghela nafasnya panjang.


"bu" sapa seseorang, bunda menoleh dan tersenyum. "ada apa" tanya bunda. laki-laki muda itu setengah duduk mendekati bunda dan meminta untuk berkenalan dengan Zivannya, "aahh anak saya sudah punya suami" senyum bunda, pemuda itu tampak terkejut dengan jawaban bunda. "suaminya itu disana" tunjuk bunda melihat Langit yang sedang mengobrol dengan Baskara dan asisten komandannya, pemuda itu mengangguk dan tersenyum mengundurkan diri setelah tahu jika Langit adalah suami gadis yang ingin di kenalnya dari tadi.

__ADS_1


bunda tersenyum mengangguk dan mengelus bahu Zivannya lembut "dek, tadi dia ingin mengenalmu, dikira kamu masih sendiri. bunda bilang itu suamimu" kata bunda, Zivannya menghela nafasnya "tadi ada gadis yang juga mau berkenalan dengan kak Langit bund, saat kak Langit mendatangi Zivannya, apa nggak kliatan ya kalo Zi udah nikah" tanya Zivannya, bunda menggeleng. "ahh, pantesan dulu kak Aga juga merasa kesal, kak Langit juga begitu" kata Zivannya, bunda tertawa kecil "karena kamu terlalu imut dek" cubit pipi bunda, Zivannya nyengir mendengar ledekan bunda.


"yah, bund. sampai sini aja" kata Zivannya, pengemudi yang membawa mobil ayah menghentikan laju kendaraan ke tepi. "disini aja dek" tanya bunda, "depan udah penjagaan. mereka udah tahu Zi, apa bunda mau masuk dan ngadem di kantin dulu" tanya Zivannya, bunda mengangguk. ayah tertawa. "bentar aja ya bund" toleh ayah, bunda mengangguk. Zivannya kembali meminta pengemudi untuk melajukan mobil masuk kedalam bangunan kesatuan Langit. penjaga kesatuan menyampaikan salam hormat ketika melihat ayah ada didalam kendaraan.


mobil terparkir sempurna ditempat yang telah disediakan. Langit bergegas keluar dari ruangannya menyambut mertuanya yang datang. "selamat datang jenderal" salam Langit hormat, ayah membalas salam Langit sebelum menepuk pundaknya, Langit menyalami punggung tangan bunda. "kami ingin ke kantin, Lang sekalian menemani Zivannya hang out" kata bunda, Zivannya tersenyum setelah mengambil helmet dari bagasi, ia meraih tangan suaminya untuk mengucap salam. Langit meraih helmet istrinya dan meraih jemari tangannya untuk bersama-sama masuk kedalam bangunan kesatuannya.


"bund, baru kali ini ke ruangan Langit kan" kata Langit, bunda mengangguk memperhatikan lingkungan sekitar, "dulu sesekali ikut kakak menemui abang tapi anehnya bunda tidak melihat kamu lho Lang" tanya bunda, "Langit pindah dari luar jawa kesini dua bulan sebelum Aga nggak ada bund" jawab Langit pelan, bunda menganggukkan kepalanya, Zivannya terlihat diam saja mendengar percakapan mereka berdua. Langit menekan jemari tangan Zivannya seperti bertanya apakah dia baik-baik saja, Zivannya mengangguk tersenyum.


"pesen apa kita" duduk ayah di dalam ruangan Langit, "kalo makan disana aja yah, suasananya lebih adem dibawah pohon mangga" kata Zivannya, ayah tertawa "baiklah jadi pingin kesana" jawab ayah. Zivannya tersenyum.


hai.... hai ..... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini, terimakasih atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


luv ..... luv ...... luv ..... U all readers sekebon pisang goreng.


stay healthy all


__ADS_2