
"justru kita bersyukur masih diberi kesempatan Tuhan untuk bisa menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. mereka harus menikah tanpa persiapan sya... apa yang kamu permasalahkan" tanya Sony membuat Aisya terdiam.
"setelah akad, malamnya Aga segera pulang untuk bekerja" terang mama Zivannya.
"baiklah, tidak apa-apa. jika menurutmu memang itu yang terbaik untuk Zivannya, maka ayah merestuinya. kamu tau pasti yang terbaik untuk cucuku. aku tidak bisa melakukannya lebih baik darimu sebagai mama yang membesarkannya hingga sekarang, apalagi setelah papanya Zivannya pergi mendahului kita. kamu pasti telah memikirkan semuanya dengan matang" senyum kakek memandang mama Ranti dan Zivannya bergantian. nenek hanya dapat menghela nafasnya pelan menurut dengan ucapan kakek.
"jika suamimu pulang menjemputmu, pastikan dia menemui kakek sebelum pulang dinas lagi" tatap kakek, Zivannya mengangguk.
"dua minggu lagi kek, jika tidak ada halangan, bertepatan dengan Zivannya harus masuk kuliah, mundur dari jadwal kuliah yang harusnya mulai minggu depan" jawab Zivannya.
"baiklah, akan kakek tunggu kedatangannya disini. sekalian kakek akan menitipkan dirimu padanya nanti" tawa kakek kemudian, mereka tertawa bersama.
"Zi, boleh dong pinjam mobilnya untuk jalan-jalan sebentar kapan-kapan" tanya Fauzan tiba-tiba, Zivannya mengangguk pelan.
"boleh saja, anytime Zan. ambil aja dirumah, paling juga kebanyakan nganggur dirumah" senyum Zivannya.
"suamimu nggak marah kalo nanti aku pinjam" tanya Fauzan was-was.
"nggak, orangnya asik-asik aja, nggak papa" jawab Zivannya melambaikan tangan tidak masalah.
"tapi kalo make ya... nggak ugal-ugalan juga Zan, udah tau minjem tapi seenaknya. hati-hati kalo make, jika lecet tanggung sendiri akibatnya nggak sedikit uang untuk benerinnya" ingatkan om Hadi. Fauzan menautkan tanda Ok pada jarinya.
"nanti ikut aku aja Zi, ketemu temen-temen kuliahku. daripada tinggal dirumah. bolehkan tante" senyum Fauzan, mama Ranti mengangguk dan tertawa pelan.
"perasaan kalo ada maunya selalu mengajakku deh Zan" kata Zivannya melihat Fauzan yang nyengir.
"males Zi kalo ketemu temen yang bawa ceweknya, kan kamu satu-satunya yang bisa menolongku. kalo sama kak Aisya aku udah nyerah, bawelnya kayak mama. nggak berhenti" minum Fauzan seenaknya.
"karena temenmu pada masih seneng ngumpul bareng tanpa arah. kakak nggak begitu suka" geleng Aisya.
"ya kali kak, kita masih kuliah sesekali ngumpul bareng kan nggak ada salahnya, nggak semua temenku begajulan, yang naksir Zivannya aja banyak lho begitu tau dia sepupuku. nggak main-main, anak-anak orang berduit rata-rata mereka walo kliatan begajulan gitu" kata Fauzan datar.
"emang sering Zivannya kamu ajak kongkow bareng temenmu" tanya Aisya tidak percaya, Fauzan tertawa mengejek.
"tanya aja Zivannya, dua tahun ini dia emang nggak pulang lama. makanya banyak yang nanyain dimana dia" kata Fauzan.
"kok aku nggak tau" kerut kening Aisya.
"kakak sibuk dengan diri kakak sendiri dan kak Sony. mana ada kakak memperhatikan adikmu satu-satunya, kenapa kalo Zivannya yang sering pergi denganku, dia lebih asyik tuh kalo ngobrol bareng" kata Fauzan. Aisya memutar bola matanya merasa sebal.
"kalo begitu Zivannya dan mama pamit dulu kek, nek. semoga dilain waktu kita dapat berkumpul kembali, terimakasih atas segalanya" pamit Zivannya. mereka berdua segera pamit untuk pulang karena hari sudah semakin sore, mama Zivannya perlu beristirahat lebih lama.
tiba dirumah, Zivannya merapikan rumah, mencuci baju yang mereka pakai hari terakhir saat dirumah sakit.
"Zi, jika lelah istirahatlah. jangan terlalu lelah" kata mama Ranti, Zivannya menggeleng mengatakan semuanya baik-baik saja. karena kebanyakan tidur selama menunggu mama dirumah sakit, badannya menjadi kaku dan butuh bergerak lebih lama. mama tertawa mendengar alasan Zivannya agar rumah kembali segar.
"nanti jika pergi sama Fauzan jangan lupa untuk memberitahu Aga, biar dia tidak berpikiran yang bukan-bukan Zi, mama baik-baik saja jadi kamu bisa tenang" kata mama Ranti, Zivannya mengangguk sambil terus merapikan rumah.
"jam berapa nanti pergi Zi", tanya mama. Zivannya menjawab setelah kewajiban sorenya. tak berapa lama Zivannya menyelesaikan pekerjaan membersihkan rumahnya dan segera membersihkan dirinya untuk bersiap-siap pergi dengan Fauzan.
"mama" ketuk Zivannya melihat mamanya didalam kamar. "Zi pergi sebentar ya" pamit Zivannya, mama mengangguk dan tersenyum.
"hati-hati ya Zi, jangan terlalu malam pulangnya" pesan mama, Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya.
"hallo kak" salam Zivannya sambil menyalakan mesin mobil.
"mau kemana Zi" pandang Aga melihat Zivannya memakai kemeja dan t-shirt putih sedang berada dibalik kemudi mobil.
"keluar sebentar sama Fauzan anaknya om Hadi, tadi habis dari rumah sakit mama minta mampir kesana. diajak main sebentar sama Fauzan, dia minta ijin sama mama langsung jadi aku nggak bisa nolak" hembus nafas Zivannya.
"hmmm.... ketemu dengan siapa" pandang Aga dilayar ponselnya.
"teman-temannya kuliah, karena kita seumuran maka sering diajak ketemuan kalo pas lagi dirumah" kata Zivannya berbelok kearah rumah om Hadi.
__ADS_1
Aga tertawa pelan, "karena mobilmu bukan. dia melihatmu memakai mobil yang jarang ada dijalanan kan" tanya Aga menebak dengan cepat, Zivannya mengangguk lemah. Aga tertawa melihat ekspresi Zivannya yang tidak bersemangat.
"baru ngapain kak" lihat sekilas Zivannya berhenti didepan rumah om Hadi.
"habis pulang, mau nunggu video call dari istriku" senyum Aga menatap Zivannya yang memutar bola matanya jengah.
"kita berangkat sekarang Zi" kata Fauzan bergegas masuk setelah Zivannya keluar dari belakang kemudi.
"aku pergi dulu kak, nanti aku hubungi lagi" pandang Zivannya, Aga menghela nafasnya panjang.
"baiklah, jangan matikan ponselmu agar mudah dihubungi" kata Aga mematikan panggilan, Zivannya segera masuk dan duduk disamping Fauzan.
"let's go" senyum Fauzan semangat. "kamu sudah ijin sama suamimu Zi" ingat Fauzan keluar dari halaman rumahnya, Zivannya mengangguk. selama setengah jam mereka mengendarai mobil menuju sebuah cafe yang sudah sangat rame dengan beberapa anak muda.
"waa... Zi... lama tidak bertemu, dimana aja kamu" senyum seseorang yang sudah mengenal Fauzan dan Zivannya. Zivannya tersenyum menyalaminya.
"kuliah lah, emang kamu main aja kerjaannya" goda Zivannya, dia tertawa lebar.
"kalo kerjaannya godain kamu mah nggak apa Zi, ikhlas aku" balasnya. mereka tertawa, Zivannya memesan makanan yang diinginkannya.
"aku ngobrol dulu dengan yang lain ya Zi, nanti aku kemari lagi. nikmati makanmu dulu" tatap Fauzan. Zivannya mengangguk dan menunggu pesanannya datang.
"kapan kita terakhir bertemu ya Zi" duduk seseorang dimeja Zivannya, "lumayan lama" senyum Zivannya.
"aku kira kamu ditelan bumi lama nggak nampak" senyumnya menatap Zivannya. Zivannya mengendikkan bahu malas menjawab candaan teman Fauzan.
"bumi yang mana dulu pak, bu Mila atau bu Misye" kata Zivannya yang membuat mereka tertawa. pesanan makanan Zivannya datang, Zivannya segera memakannya.
"kelaperan Zi" lihatnya. Zivannya mengangguk sambil terus makan.
"dari tadi siang nggak kepikiran makan Yud, mama keluar rumah sakit siang tadi. habis itu kerumah papanya Fauzan ketemu sama kakek dan nenek dan akhirnya ketemu nasi" kata Zivannya lega. Yuda tertawa ngakak mendengar cerita Zivannya.
"makanya nimbun tuh lemak Zi, badan kurus begini makannya pada lari kemana" kata Yuda. "lha itu masalahnya Yud, mereka apa nggak capek ya lari terus kemana-mana, keliling lapangan sekali aja capek kan" kata Zivannya, Yuda tertawa ngakak.
"kelihatannya betah kuliah disana Zi" topang dagu Yuda, Zivannya manggut-manggut.
"mau nggak mau Yud, kamu kan tau sendiri aku pake beasiswa" pandang Zivannya sesaat, Yuda mengangguk mengerti.
"sudah berapa hari kamu disini" tanya Yuda. "hampir 3 mingguan, rencananya Minggu depan udah balik untuk kuliah lagi" jawab Zivannya.
"what.... kamu kenapa nggak ngasih kabar lebih awal, kan kita bisa nongkrong bareng" kaget Yuda.
"mamaku mendadak ngabarin nya Yud, aku kira kak Aisya yang menikah bulan ini jadi disuruh cepat-cepat pulang" minum jeruk hangat Zivannya.
"setidaknya aku bisa jadi tukang ojek yang menjemputmu di stasiun kereta, nganter kamu kemanapun gratis" goda Yuda. Zivannya tersedak dan meminum jeruknya dengan cepat.
"nggak usah gagu gitu juga kali Zi, biasa aja kenapa" tepuk-tepuk punggung Yuda pelan, "udah lama nggak bercanda denganmu yud, terkadang jadi tambah gagu" pandang Zivannya.
"lama amat makannya, noh ditungguin sama anak-anak yang lain, mojok aja kalo sama Zivannya" datang seseorang. Zivannya memberi isyarat Yuda untuk segera pergi, Yuda mendengus kesal melihat temannya yang datang mengganggu.
"nggak liat noh ditungguin seorang gadis disana, bawa anak orang tapi dicuekin aja" katanya lagi. Zivannya membulatkan matanya lebar,
"aishh... keterlaluan kamu yud, anak orang main ditinggalin aja. udah sana samperin, kasihan anak orang di anggurin. tenang aja ... ntar aku ikutan gabung setelah selesai makan" angguk Zivannya menatap mereka berdua.
"bener lho ya, jangan kemana-mana" kata Yuda, Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya sembari melanjutkan makannya dengan tenang. Aga melakukan panggilan, "hallo kak" sapa Zivannya.
"belum pulang Zi" tanya Aga, Zivannya mendesah panjang mendengar pertanyaan Aga.
"kan baru nyampe belum lama, sekarang baru makan pak komandan, dari pulang rumah sakit belum makan. Fauzan sedang bertemu dengan teman-teman nya, aku duduk sendirian makan dengan tenang" kata Zivannya, Aga tertawa pelan.
"86... bu komandan. hanya kuatir jika ada yang lecet saat aku tidak ada disampingmu" kata Aga.
"nggak usah lebay deh kak, biasa aja" jawab Zivannya, Aga tertawa.
__ADS_1
"aku kumpul dulu dengan teman-teman sebentar kak. sudah selesai makan. biar cepat pulang. mama tadi nggak mau makan jadi Zi nggak keluar rumah dari tadi" jawab Zivannya. Aga berdehem mendengar jawaban Zivannya.
"nanti aku kabari jika akan pulang kak, jangan kuatir" kata Zivannya.
"hmmm.." gumam Aga.
"ngasih ijin nggak nih, kalo nggak aku ijin sama Fauzan untuk pulang sekarang" ujar Zivannya.
"iya, ngijinin jangan lupa kalo pulang ngasih kabar" kata Aga.
"siap komandan" jawab Zivannya menutup percakapannya dengan Aga.
"lama amat Zi, makannya kayak siput" pandang Fauzan.
"dinikmati Zan, agar tidak mubazir membuang makanan" kata Zivannya duduk disampingnya.
"ya....ya...ya..." jawab Fauzan, Zivannya mengeluarkan ponselnya untuk selfie dengan Fauzan dan beberapa teman lainnya.
"tumben" pandang Fauzan. Zivannya menunjuk cincin yang melekat dijari manisnya, Fauzan mengangguk paham. Zivannya segera mengirim moments bersama yang lain kepada Aga.
"jangan dekat-dekat dengan cowok lain" peringatkan Aga.
"tentu suamiku. hanya kamu satu-satunya sekarang" chat Zivannya, Aga mengirim emoticon sebagai balasannya.
"Zi, nggak kesana" pandang Fauzan, Zivannya menggeleng. "kamu aja Zan, aku dengerin penyanyi cafenya aja, enjoy your time with others" senyum Zivannya mendorong Fauzan agar merapat bersama teman-teman yang lain.
"makasih banyak Zi, kamu nggak papa pulang sendirian malem-malem" tanya Fauzan.
"masih juga jam 11 an, terkadang kalo lembur ngerjain tugas kuliah juga sampai jam 2 pagi baru pulang. it's oke" senyum Zivannya bertukar posisi dengan Fauzan.
"baiklah, hati-hati dijalan" lambai tangan Fauzan, Zivannya memberi tanda meninggalkan halaman rumah om Hadi.
"ya ma, ini udah perjalanan pulang dari rumah om Hadi" salam Zivannya.
"iya bentar lagi sampai, nggak nyampe 10 menit" jawab Zivannya menutup panggilan mamanya.
"malam banget Zi" buka pintu mama, Zivannya menyalami mamanya.
"namanya juga anak muda ma, kalo Zi minta pulang cepet nggak enak sama Fauzan. dikira Zi nggak mau" lepas sneakers Zivannya dan menaruh dirak sepatu sebelah pintu keluar masuk rumah.
"kalo begitu mama istirahat lagi, Aga jangan lupa dihubungi" kata mama sebelum masuk kamar.
"ya ma, Zi bersih-bersih dulu nanti sebelum tidur Zi kabari kak Aga" angguk Zivannya kekamar mandi.
"Zi dah pulang kak" kata Zivannya ketika Aga muncul dilayar ponselnya.
"barusan" tanya Aga.
"jam 11 an. nganter Fauzan dulu, tadi Zi bersih badan, kewajiban dulu, baru laporan ke kakak" rebahan Zivannya.
"oke, tidur Zi ini sudah larut" senyum Aga, Zivannya mengangguk dan memejamkan matanya sesaat setelah Aga mematikan panggilannya.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1