
"dilihat dari hasil rontgennya, ibu besuk bisa rawat inap untuk observasi lebih lanjut penyebarannya, sekarang ibu bisa mengabadikan moment dulu dengan anak ibu" senyum dokter menatap mama Ranti dan Zivannya.
"kenapa harus dirawat dok, tanya Zivannya heran menatap dokter.
"kita harus observasi lebih lanjut, apakah nyerinya dari jantung, atau bagian lainnya" jawab dokter cepat. mama Zivannya menggenggam jemari Zivannya.
"tidak ada yang serius Zi, percaya sama mama" senyum mama menepuk punggung tangan Zivannya. Zivannya merasakan sakit didadanya mendengar perkataan mamanya. padahal dia mendengar dan tau mamanya benar-benar sakit parah, tapi sama sekali tidak mau memberitahunya, Zivannya segera membantu mamanya mendorong kursi roda keluar dari ruang periksa. Aga berdiri dan mengambil alih mendorong kursi roda.
"jadi kita mencari baju untuk mengabadikan moment Zi" toleh mama Ranti, Zivannya mengangguk.
"mama sama kak Aga duluan ngambil mobil, aku urus administrasi sama obatnya dulu" kata Zivannya cepat. Aga mengangguk dan segera mendorong kursi roda mama Ranti menjauh dari rumah sakit.
Zivannya kembali keruang periksa dokter yang menangani mamanya tadi.
"permisi dok" salam Zivannya mengetuk pintu. dokter mengangguk dan tersenyum.
"kamu ingin menanyakan kesehatan mama kamu kan" tanya dokter melihat Zivannya, Zivannya mengangguk.
dokter menghela nafasnya panjang, "sebenarnya paru-paru mamamu sudah tidak berfungsi secara baik. kamu lihat ini" perlihatkan dokter tentang hasil Rontgen dada mama Ranti.
"sebagian besar berwarna gelap, karena cairan sudah menutup paru-paru mamamu, akhir-akhir ini mamamu sering merasakan nyeri yang hebat. sudah tiga tahun mamamu menderita nyeri. tapi tidak dirasakannya setelah dirasa terlalu sering sakitnya mamamu baru datang kerumah sakit untuk pemeriksaan dan sayangnya itu sedikit terlambat dalam menanganinya" jelas dokter.
Zivannya mulai meneteskan airmatanya.
"peluang kesembuhan mama saya dok" tanya Zivannya menyeka air matanya.
"menurut diagnosis mamamu tidak akan bertahan, tapi tidak menutup kemungkinan jika Tuhan menghendaki kesembuhan mamamu" kata dokter.
"bagaimana jika pengobatan diluar dok" tanya Zivannya meminta pertimbangan dokter.
dokter mengangguk, "bisa saja, kita lihat kondisi mamamu besuk. kita lihat apakah mamamu bisa dibawa dalam perjalanan jauh ataukah tidak" senyum dokter menjawab pertanyaan Zivannya.
Zivannya hanya dapat menghela nafas sambil menitikkan airmata tanpa sadar.
"terimakasih dok, terimakasih selama ini membuat mama saya bisa melihat saya hari ini" kata Zivannya menyeka airmatanya yang terus berjatuhan.
"sama-sama, buat mamamu bangga padamu, beliau tidak mau kamu sedih. itu saja pintanya" kata dokter sebelum Zivannya keluar dari ruang prakteknya, Zivannya mengangguk sedikit membungkuk tanda berterimakasih atas perkataannya.
Zivannya membasuh mukanya ditoilet sebelum mengurus administrasi.
"kenapa lama Zi" tanya mama. " isshh... mama, kayak nggak tau Rumkit aja. antri ma, tadi nanya ngambil obat nggak katanya karena besuk rawat jadi obatnya hanya untuk hari ini" serah Zivannya. mama mengambil dan segera meminumnya dengan air mineral botol.
kita kemana nih" tanya Aga.
"nanti biar ku yang didepan kak, biar kakak bisa istirahat selama kita jalan" ingatkan Zivannya sambil memberi petunjuk arah kepada Aga.
"disini kan ma" pandang Zivannya menatap kedepan bangunan mungil minimalis yang terkesan cozy.
mereka turun bersama-sama.
"selamat datang di butik kami, ada yang bisa kami bantu" sapa pegawai tersenyum. Zivannya tersenyum, "bisakah saya melihat baju couple untuk kita bertiga" pandang Zivannya. pegawai itu mengangguk dan membawa mereka untuk melihat kebagian sisi kanan ruangan, mama Ranti duduk sembari melihat Zivannya dan Aga memilih beberapa pakaian untuk mereka kenakan.
"ma" panggil Zivannya memperlihatkan beberapa pakaian yang dipilihnya.
"ini aja Zi dan ini" pegang mama Ranti, Zivannya mengangguk dan meminta pegawai tadi mengambilkan pakaian yang dimaksud oleh mamanya. Aga duduk menunggu dua orang wanita itu mengobrol tentang pakaian yang mereka coba.
"looks good" angguk Aga ketika Zivannya menatap Aga meminta pendapatnya.
"kemejamu kak" tanya Zivannya. pegawai butik memperlihatkan kemeja milik Aga. Zivannya memakaikan kemeja Aga.
"nyaman kak" tanya Zivannya menatap Aga, yang terlihat menganggukkan kepalanya melihat cermin.
"We're not going to wash it first, just use it for a photo shoot" pandang Zivannya, Aga mengangguk.
__ADS_1
"kita ambil dua model Zi" pandang mama, Zivannya mengangguk dan mengambil baju yang satunya.
"this one mom" serah Zivannya. "hmmm" angguk mama.
"jadi, mari kita coba" senyum smirk Zivannya. mama tersenyum.
"agak terbuka Zi" protes Aga melihat bahu Zivannya yang terekspos.
"just for the shoot honey" manyun Zivannya. Aga membelalakkan matanya mendengar ucapan Zivannya yang memanggilnya berbeda.
"Ok" senyum ceria Aga melihat Zivannya yang sedang mencoba gaunnya.
"it looks beautiful mom, you look charming" senyum Zivannya, mama tertawa pelan. "jika mama tidak cantik maka papamu tidak akan mencintai mama dan tidak akan ada kamu yang cantik" naik turunkan alis mama Ranti menggoda Zivannya.
"aigooo...." putar bola mata Zivannya jengah. mama tertawa lebar. Aga terpesona dengan Zivannya yang terlihat mempesona.
setelah yakin memakai dua pakaian couple, Zivannya segera melakukan pembayaran, mama Ranti menyodorkan kartu kepada Zivannya.
"pake ini aja Zi, kasihan Aga sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk biaya hidup kalian nanti" geleng mama Ranti, Zivannya mengangguk.
"kalo begitu kita kestudio sekarang" tanya mama
"Ok ma, Zi kontak dulu EO yang shoot foto kemarin" kata Zivannya mengambil headset sambil mengemudi, Zivannya terlibat percakapan seru dengan seseorang.
Aga berdehem tanda Zivannya terlalu akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya, Zivannya segera menyudahi obrolannya.
"dah beres ma, kita bisa langsung ketempatnya" laju mobil Zivannya pelan.
"belajar dimana mengwmudikan mobil Zi" tanya mama menoleh menatap Zivannya.
"biasa ma, Rara dan Dimas. karena sering bareng jadi diajarin, lama-lama jadi bisa" jawab Zivannya berhenti dilampu merah.
"udah punya SIM belum" tanya Aga, Zivannya nyengir dan menggeleng, Aga menghela nafasnya panjang.
"ogah, ntar aku cari sendiri aja. biar nggak ribet" kata Zivannya menjalankan mobil kembali.
"nggak ribet Zi, justru kalo nggak ada aku tambah panjang urusannya" kata Aga menyandarkan kepalanya di head rest.
"aish ..... nanti dipikirkan lagi aja" gumam Zivannya. Aga tertidur sebentar dalam perjalanan menuju studio.
"siang" senyum Zivannya ketika memasuki studio.
"siang Zi, sudah sampai" senyum fotografer. Zivannya menyalami sang fotografer yang ternyata adalah teman satu sekolah dulu.
"ruang ganti disebelah sana, nanti akan dibantu temen aku untuk mempercantik wajah" kata Samuel tersenyum menatap Zivannya, Zivannya mengangguk dan bersama mama Ranti menuju ruang ganti dan rias.
Aga dengan sabar menunggu pemotretan kedua wanita itu yang dilakukan dengan berbagai pose sebelum dengan dirinya. setelah beberapa saat beberapa moments yang diabadikan diperlihatkan sebelum nanti akan dikirimkan kerumah Zivannya, Zivannya terlibat percakapan dengan Samuel sebentar sebelum berpamitan padanya.
ma, makan yuk. lapar" senyum Zivannya, "kita makan dirumah aja Zi sebelum pulang mampir dulu beli dan makan dirumah" kata mama Zivannya.
"baik" angguk Zivannya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. malam merayap dengan cepat ketika mereka sampai dirumah. Zivannya menghentikan mobil didepan rumah.
"mama kekamar dulu, kalian makan aja nggak usah nunggu mama karena mau istirahat sebentar" kata mama berlalu kekamar. Zivannya segera membersihkan diri bergantian dengan Aga, "kak didepan TV aja sambil selonjoran" pandang Zivannya yang sudah menyiapkan makanan didepan TV. Aga segera duduk dan memulai makannya.
"Zi" panggil Aga pelan. "hmmmm" dehem Zivannya.
"aku tidur sini aja ya, nggak usah nyari hotel" tanya Aga merasa lelah. Zivannya mengangguk pelan.
"tadi nggak nyari makanan kecil" kata Aga, udah ada di box pendingin. mama beli banyak jika keluar takut aku kelaperan kalo malam. suka tiba-tiba bangun dan nonton drakor" kata Zivannya, Aga mengacak rambut Zivannya yang masih basah.
"besuk jam berapa nganter mama kerumkit" tanya Aga, "agak siangan aja kak. mama hari ini kliatan capek banget. kata Zivannya.
"aku tidur denganmu ya" goda Aga.
__ADS_1
"ishhh... nggak usah bercanda kak. nanti aku temenin sebentar disini" kata Zivannya segera menyelesaikan makanannya.
"jika sudah pulang kekota x untuk kuliah kita mulai proses sidang pernikahan Zi" toleh Aga sambil meminum air mineralnya, Zivannya menoleh cepat.
"secepat itu kak, kan nggak harus tahun ini. Zi bilang nunggu selesai kuliah kan" kata Zivannya merasa kesal.
"prosesnya lama Zi, nggak buru-buru juga. jika nanti sudah siap tinggal bilang sah aja" kata Aga tersenyum menang. Zivannya terdiam tanda tidak bisa lagi berdebat dengan Aga kalo sudah diputuskan oleh Aga begitu.
"masih seminggu lagi kamu disini Zi, aku kangen lho" rengkuh Aga mencium leher Zivannya.
"kayaknya aku lebih lama deh kak. karena Rara ngabari kalo belum ada kuliah hingga dua Minggu kedepan. katanya Kamis nanti dia mau kesini sama Dimas, Senin baru pulang" senyum Zivannya menepuk tangan Aga yang melingkar erat diperutnya.
"what" seru Aga menjauhkan dirinya dari Zivannya yang terlihat senang.
"kenapa bisa" gusar Aga, Zivannya mengangkat bahu.
"kebijakan kampus kak, nggak sama setiap fakultas. tahun ajaran baru kan, ada orientasi kampus, pengenalan kampus pada mahasiswa baru. tidak langsung mata kuliah full" senyum Zivannya menang, Aga memandang Zivannya kesal.
"mama udah tau Zi" selidik Aga, Zivannya mengangguk.
Aga menghembuskan nafasnya berat.
"berarti masih panjang aku tidur sendirian" gumam Aga pelan. Zivannya memukul bahu Aga pelan.
"nggak lucu kak" sungut Zivannya beranjak dari duduknya untuk mengambil bantal kekamar.
"mau kemana" dongak Aga melihat Zivannya yang hendak pergi.
"ambil bantal dan cover bed kak" Hela nafas Zivannya melihat tingkah Aga yang melebihi anak kecil ketika ditinggal mamanya, aga mengekori langkah Zivannya kedalam kamar tanpa sepengetahuan Zivannya.
Zivannya membuka lemari pakaiannya untuk mengambil cover bed untuk Aga.
"ahhhh..." seru Zivannya kaget saat dirinya dipeluk dari belakang oleh Aga yang tersenyum dari kaca lemari pakaiannya.
"lepasin kak, ini covernya. bantalnya ambil diranjang Zi" tepuk punggung tangan Zivannya meminta dilepaskan karena susah berjalan, Aga menempel pada Zivannya yang berjalan menuju ranjang mengambil bantal untuk Aga tidur.
Aga mulai menciumi tengkuk Zivannya dan meraba benda kenyal candunya dari luar t-shirt yang dikenakan Zivannya.
"aku tidak melihatmu dua Minggu Zi, kamu nggak kangen nggak liat aku" cium Aga diubun-ubun rambut Zivannya.
"biasa aja kak, setiap saat juga bisa video call kan" hembus nafas Zivannya mencoba melepas rengkuhan Aga yang selalu erat. namun aga belum mau melepasnya malah kian menjadi.
"Bagaskara Triastomo.... lepas nggak" geram Zivannya memukul lengan Aga yang segera melepaskan Zivannya.
"aku mau kamu Zi... " lihat Aga, Zivannya memberi cover bed dan bantal didada Aga.
"istirahatlah dan tidur. masih banyak waktu untuk itu" dorong Zivannya agar Aga keluar dari kamar nya.
Aga menghembuskan nafasnya panjang menatap pintu kamar Zivannya, segera menggelar cover bed dan menata bantal, sambil menonton TV mencoba untuk tidur, sering menatap kamar Zivannya yang tertutup rapat. Aga menghela nafas panjang dan mencoba untuk tidur agar besuk dapat segar saat beraktifitas.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
"
__ADS_1